Thursday, January 29, 2026

Harry Harlow : The Rhesus Monkey Attachment Theory


THE RHESUS MONKEY 



Penulis : Jovanka Nartawijaya dan Reyfan Setio 

Biografi Harry Harlow 


Harry Harlow adalah seorang psikolog Amerika yang terkenal karena penelitian kontroversial mengenai kasih sayang dan ikatan emosional pada seekor monyet, khususnya monyet rhesus. Ia lahir pada tahun 1905 dan menjadi tokoh penting dalam psikologi perkembangan. Melalui eksperimen yang dilakukan pada tahun 1950-an dan 1960-an, Harlow menunjukkan bahwa kebutuhan akan kehangatan, sentuhan, dan rasa aman jauh lebih penting daripada sekadar pemenuhan kebutuhan fisik seperti makanan. Penelitiannya dengan "ibu tiruan" dari kawat dan kain memperlihatkan bahwa anak monyet lebih memilih mendekat pada boneka berbulu lembut meskipun tidak memberikan makanan, dibandingkan dengan boneka kawat yang menyediakan susu. Temuan ini mengguncang pandangan tradisional tentang ikatan ibu-anak dan menegaskan pentingnya kasih sayang dalam perkembangan psikologis. Meskipun metode eksperimennya sering menuai kritik karena dianggap kejam, kontribusi Harlow tetap berpengaruh besar dalam memahami peran cinta, afeksi, dan hubungan sosial dalam kehidupan manusia.

Teori Eksperimen Harry 

Harry Harlow mengembangkan teori tentang pentingnya kasih sayang (affection) dan ikatan emosional (attachment) dalam perkembangan psikologis anak. Penelitiannya pada monyet rhesus menghasilkan beberapa poin utama:

  • Kebutuhan akan Sentuhan dan Kehangatan
    Harlow menunjukkan bahwa bayi monyet lebih memilih "ibu tiruan" dari kain lembut meskipun tidak memberi makanan, dibandingkan "ibu tiruan" dari kawat yang menyediakan susu. Hal ini membuktikan bahwa kebutuhan emosional (rasa aman, kenyamanan) lebih mendasar daripada kebutuhan biologis semata.

  • Teori Attachment (Ikatan Emosional)
    Dari eksperimen tersebut, Harlow menegaskan bahwa ikatan anak dengan ibu bukan hanya karena pemberian makanan, tetapi karena adanya kontak fisik, rasa aman, dan kasih sayang. Inilah yang kemudian menjadi dasar teori attachment dalam psikologi perkembangan.

  • Dampak Kekurangan Kasih Sayang
    Anak monyet yang tumbuh tanpa kehangatan dan interaksi sosial menunjukkan perilaku abnormal: menarik diri, sulit berinteraksi, bahkan mengalami gangguan emosional. Ini menegaskan bahwa kasih sayang adalah faktor krusial dalam perkembangan sosial dan mental.

  • Implikasi pada Manusia
    Teori Harlow mengubah cara pandang psikologi dan pendidikan anak. Ia menekankan bahwa cinta, pelukan, dan perhatian adalah kebutuhan dasar manusia, sama pentingnya dengan makanan dan tempat tinggal.


Prosedur Eksperimen Harry Harlow 

Eksperimen Harlow dimulai dengan anak monyet yang diberikan sebuah “Ibu pengganti” (Surrogate mother), dimana Harlow menyiapkan dua jenis ibu pengganti:

  1. Ibu pengganti yang terbuat dari kawat logam.

  2. Ibu pengganti yang terbuat dari pakaian kain dengan lampu penghangat.

Setelah menyiapkan kedua ibu pengganti tersebut, Harlow akan mengambil beberapa anak monyet rhesus dari ibu biologisnya setelah dilahirkan. Harlow sengaja menggunakan ibu pengganti yang terbuat dari benda tidak hidup untuk mencegah faktor seperti perilaku ibu yang mungkin dapat mempengaruhi anak monyet dalam eksperimen ini, Harlow menyatakan bahwa dalam eksperimen ini, kedua ibu pengganti tersebut sepenuhnya sama, namun dengan satu perbedaan yaitu kualitas kontak kenyamanan dengan anak monyet tersebut.

Eksperimen ini dibagi menjadi dua percobaan dimana Harlow menggunakan sebanyak 8 anak monyet rhesus dengan masing-masing percobaan menggunakan 4 anak monyet. Eksperimen dimulai saat Harlow meletakkan kedua ibu pengganti bersama 4 anak monyet pertama di sebuah kandang dimana mereka akan menghabiskan waktu bersama ibu pengganti tersebut. Dalam percobaan pertama, botol susu yang akan memberi makan anak-anak monyet dipasangkan pada ibu pengganti yang terbuat dari kain, dan percobaan kedua menukar posisi botol susu dengan ibu pengganti yang terbuat dari kawat logam. Harlow meneliti banyak hal dalam eksperimen ini seperti Ibu pengganti mana yang paling disukai oleh anak-anak monyet berdasarkan waktu yang mereka habiskan dan seberapa kuat hubungan anak-anak monyet dengan ibu pengganti yang disukai.


Hasil Eksperimen

Dalam eksperimennya, Harlow menemukan bahwa dalam kedua percobaan utama dengan ibu pengganti tersebut, anak-anak monyet cenderung memilih untuk menetap dan menghabiskan mayoritas waktunya bersama dengan ibu pengganti yang terbuat dari kain yang menghasilkan hangat karena mereka melihat kehangatan yang selalu ada dari ibu pengganti tersebut memberikan sebuah sensasi keamanan dan proteksi. Hal ini terjadi di kedua percobaan, bahkan saat botol susu dipasangkan pada ibu pengganti kawat, anak-anak monyet hanya akan menghampiri untuk makan dan akhirnya kembali kepada ibu pengganti kain. 

Selanjutnya, Harlow pun melakukan eksperimen tambahan untuk melihat seberapa erat hubungan anak-anak monyet tersebut dengan ibu penggantinya saat dihadapi dengan kondisi baru seperti dibebaskan dalam ruang terbuka atau objek yang tidak mereka ketahui. Anak-anak monyet yang diberikan ibu pengganti kain awalnya ketakutan dan berlindung di belakang ibu pengganti tersebut sebagai lokasi aman mereka, namun perlahan anak-anak monyet tersebut menumbuhkan rasa penasaran dan mulai berinteraksi dengan objek di sekitarnya. Hal ini berbanding terbalik dengan anak-anak monyet yang diberikan ibu pengganti kawat dimana anak-anak monyet hanya menunduk ketakutan di kaki ibu penggantinya dan tidak menumbuhkan sedikitpun keberanian untuk berinteraksi dengan objek di sekitarnya.

Hasil akhir dalam semua eksperimen Harlow menyatakan bahwa kasih sayang didapatkan lewat kontak dari kenyamanan dan keamanan yang terikat antara anak dan ibunya, dimana hasil ini membantah ide di masa tersebut dimana kasih sayang adalah respons terpelajar yang didapatkan anak oleh ibu karena mereka menyediakan kebutuhan biologis anaknya.


REFERENSI

Vicedo, M.(2010). The evolution of Harry Harlow: from the nature to the nurture of love. DOI L10.1177/0957154X10370909





Friday, January 23, 2026

SKINNER BOX

Edisi Januari 2026

SKINNER BOX




Penulis : Chelsea Christy Setiawan & Austin Vinsen

PENJELASAN TOKOH

        Burrhus Frederic Skinner atau B.F. Skinner adalah salah satu tokoh psikologi yang lahir pada 20 Maret 1904, di kota kecil bernama Susquehanna, Pennsytvania, Amerika Serikat. B.F. Skinner tumbuh di sebuah kota kecil di keluarga yang terbilang nyaman, hangat dan bahagia. Di Perguruan Tinggi Hamilton, yakni sebuah sekolah kesenian Liberaldi Cliton, New York, dan memperoleh gelar sarjananya. Tahun 1926 ia melanjutkan pendidikannya untuk program graduate di bidang psikologi yang terbilang cukup sulit di Harvard.

        Skinner berhasil menerbitkan buku pertamanya yang diberi judul The Behavior of Organisms pada tahun 1938. Skinner kembali ke Harvard pada tahun 1948, dan memulai eksperimen burung dara yang diberi nama Project Pigeon dan kemudian eksperimen yang bernama Baby-Tender meskipun akhirnya tidak dapat dilanjutkan. Skinner menjadi tokoh utama psikologi behavioral Amerika. Ia berhasil menggagas program mengontrol perilaku masyarakat, kiat-kiat modifikasi perilaku serta membuat penemuan Baby-Tender. pada 18 Agustus 1990 ia meninggal dunia dan dimakamkan di Cambridge, Massachusetts, akibat penyakit leukemia.

      Di dunia psikologi, B.F. Skinner merupakan seorang psikolog terkenal dari aliran behaviorisme, dengan pemikirannya yang terkenal yakni teori Operant Conditioning. Teori operant conditioning adalah teori yang sudah mencapai tahap penyempurnaan dari beberapa teori psikologi Behaviorisme. Kesimpulan-kesimpulan yang dicanangkan Skinner dalam teorinya didapatkan dari hasil pengamatan dan uji coba terhadap tikus dan burung dara yang dimasukkan ke dalam kotak yang dimodifikasi. Skinner adalah satu-satunya psikolog yang mendapat pujian sebagai Outstanding Lifetime Constribution To Psycology, artinya adalah Skinner telah memberikan kontribusi yang besar bagi dunia psikologi.

PENJELASAN EKSPERIMEN SKINNER BOX

    Eksperimen Skinner menggunakan kotak yang berisikan tikus dan dirancang dengan beberapa bagian untuk bahan percobaannya. Skinner menamai kotak tersebut dengan nama ‘Skinner Box’. Skinner box difungsikan untuk mengamati perilaku yang diperkuat dengan stimulus.

    Skinner box memiliki komponen yaitu tuas kecil yang dapat memberikan makanan kepada tikus apabila ditekan, juga terdapat lantai yang dapat dialiri listrik. Hal tersebut digunakan oleh Skinner untuk mengamati teori operant conditioning.

EKSPERIMEN

    Seekor tikus lapar akan dimasukkan ke dalam skinner box. Tikus tersebut akan belajar bagaimana untuk menemukan makanan, yaitu dengan menekan tuas. Ketika tikus mulai belajar apabila tuas ditekan maka makanan akan keluar, mereka akan terbiasa dan paham apabila tuas ditekan maka akan muncul makanan. Hal ini dapat disebut dengan penguatan positif dimana frekuensi perilaku akan meningkat yang dipengaruhi oleh stimulus yang menyenangkan.

    Dalam percobaan lain, seekor tikus ditempatkan di dalam kandang di mana mereka dikenai arus listrik yang tidak nyaman. Saat bergerak di kotak yang dialiri arus listrik, tikus akan segera menekan tuas yang akan mematikan arus listrik. Tikus tersebut belajar apabila menekan tuas maka arus listrik akan berhenti. Hal ini dapat disebut sebagai penguatan negatif, dimana frekuensi perilaku akan meningkat akibat stimulus yang tidak menyenangkan.

HASIL EKSPERIMEN

    Kotak tersebut memungkinkan Skinner untuk menyampaikan keempat kemungkinan hasil yang diinginkannya, yaitu:

    Penguatan positif : peningkatan perilaku akibat stimulus yang menyenangkan. Misalnya, tikus dapat diberi hadiah berupa makanan karena menekan tuas.

    Hukuman Positif : Bentuk pemberian stimulus yang tidak menyenangkan untuk mengurangi perilaku tertentu. Misalnya, setelah tikus diajari untuk menekan tuas, Skinner melatihnya untuk menghentikan perilaku ini dengan menyetrum lantai setiap kali tuas ditekan.

    Penguatan Negatif : peningkatan perilaku akibat penghilangan kondisi yang tidak menyenangkan. Misalnya, arus listrik ringan dialirkan melalui lantai kandang dan dihilangkan ketika perilaku yang diinginkan terbentuk.

    Hukuman Negatif : melibatkan pengambilan atau penghapusan situasi yang menyenangkan untuk mengurangi perilaku tertentu. Misalnya, dalam kotak Skinner, tikus dapat dilatih untuk berhenti menekan tuas dengan melepaskan pelet makanan secara berkala dan kemudian menahannya ketika tuas ditekan.

REFERENSI

Fitriyani, N., Komalasari, S., & Hairina, Y. (2021). Konsep punishment dalam pengasuhan: Studi komparatif pemikiran B. F. Skinner dan Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Al-Husna: Jurnal Studi Islam dan Humaniora, 2(3), 240–259. https://doi.org/10.18592/jah.v2vi3i.4677

Nickerson, C. (2024, February 2). Skinner box: What is an operant conditioning chamber? Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/what-is-a-skinner-box.html

Martin, G. N., & Carlson, N. R. (2018). Psychology (6th ed.). Pearson

Wednesday, December 24, 2025

Hermann Ebbinghaus: The Forgetting Curve and Its Intervention

Edisi Desember 2025

Hermann Ebbinghaus: The Forgetting Curve and Its Intervention


Sumber : https://www.growthengineering.co.uk/wp-content/uploads/2020/11/Social-Learning-Units_Forgetting-Curve.png

Penulis : Michelle Dipa Revata & Reyfan Setio


Biografi Hermann Ebbinghaus

    Hermann Ebbinghaus lahir di kota Barmen, Jerman pada tanggal Januari 24 tahun 1850, sebagai anak dari seorang pedagang, dimana ia mendapatkan edukasi dari sebuah gimnasium lokal di kota ia lahir. Di umur 17, Ebbinghaus berhasil memasuki Universitas Bonn di kota Bonn, di mana ia mempelajari sejarah, filologi, dan filosofi sebelum bermigrasi ke Halle, lalu Berlin. Edukasinya sempat terganggu oleh perang Prussian, membuatnya terpaksa kembali ke kota Bonn, melanjutkan edukasinya selama 2 tahun dan mendapatkan gelar Doctor of Philosophy di tahun 1873. Meski sepanjang edukasinya ia selalu berorientasi pada sejarah dan filologi, namun orientasinya perlahan bergeser ke filosofi, dengan topik disertasi doktoralnya, yaitu "Hartmann's Philosophy of the Unconscious".

    Dengan ketertarikan baru Ebbinghaus pada psikologi yang dipengaruhi Gustav Fechner, Ebbinghaus pun memulai studi independennya mengenai eksperimen pembelajaran dan memori yang dimulai di tahun 1878. Pada akhirnya, ia pun menerbitkan bukunya yang berjudul "On Memory" di tahun 1885 di mana ia mempopulerkan konsep kurva pelupaan. Sepanjang hidupnya, Ebbinghaus telah mengajar di banyak universitas di Jerman seperti the University of Berlin (1883), the University of Breslau (1894–1905), and the University of Halle (1905–1908). Ebbinghaus meninggal di usianya yang ke 59 tahun pada tanggal 24 Februari 1909 yang diakibatkan oleh Pneumonia.


Eksperimen: Kurva Pelupaan

    Pada masa itu, Wilhelm Wundt sebagai seorang psikolog eksperimental berpendapat bahwa riset eksperimentalnya tidak dapat dikaitkan dengan konsep memori dari psikologi fisiologis Ebbinghaus. Oleh karena hal itu, Ebbinghaus mengembangkan ketertarikannya dalam mempelajari memori manusia, secara khusus mengenai pelupaan memori untuk membantah pendapat Wundt tersebut. Dengan menggunakan komponen matematis dalam studinya yang dipengaruhi oleh Gustav Fechner, Ebbinghaus pun mengembangkan teori kurva pelupaan.

    Eksperimen Ebbinghaus berjalan sebagai single-researching eksperiment, dimana ia berperan sebagai peneliti sekaligus sebagai subjek penelitian dalam eksperimennya. Hal ini dapat terjadi karena pada masa itu, bidang sains memori dan pembelajaran merupakan hal yang baru diperkenalkan dalam dunia edukasi, menyebabkan kurangnya peminat di kalangan awam. Karena hal tersebut, banyak eksperimen yang berkaitan dengan memori dan pembelajaran dilakukan sebagai eksperimen single-researching.

   Metode penelitian Ebbinghaus dimulai dengan membuat sebuah daftar yang terdiri dari 2,300 nonsense syllable atau kata tidak bermakna dalam struktur CVC (Consonant-Vowel-Consonant) seperti WAK, SIB, KEH, CUD, dan lainnya. Ia sengaja menggunakan nonsense syllable karena ia ingin melihat bagaimana pembelajaran terjadi dengan informasi baru tanpa bantuan makna atau familiaritas.

    Pada akhirnya, Ebbinghaus mengembangkan kurva pelupaan sebagai ilustrasi mengenai bagaimana ingatan manusia menurun setelah mempelajari informasi baru di mana Ebbinghaus juga menciptakan rumus pelupaan yang direpresentasikan sebagai berikut:

R=e⁽⁻ᵗ/ᔆ⁾

R sebagai penyimpanan memori
s sebagai kekuatan memori
t sebagai waktu
e sebagai peningkatan pelupaan seiring waktu

    Dalam kurva pelupaan Ebbinghaus, dapat dilihat bahwa ingatan menurun dengan sangat drastis dalam 20 menit setelah pembelajaran. Dalam 1 jam, sekitar setengah dari pembelajaran akan terlupakan tanpa penguatan, dan setelah 24 jam, kurva akan mendatar. Ebbinghaus menambahkan bahwa proses pelupaan juga dipengaruhi oleh beberapa aspek luar seperti kesulitan material, relevansi, stres, dan tidur.


Intervensi Pelupaan Warisan Ebbinghaus

    Setelah melakukan eksperimen kurva pelupaan, yang menjadi salah satu tombak dalam studi memori, penelitian Ebbinghaus mewariskan dua metode yang bisa membantu melawan kecenderungan lupa tersebut, yakni savings method dan spaced repetition.

   Savings method, yang juga dikenal sebagai relearning method, merupakan metode temuan yang langsung diperkenalkan Ebbinghaus sebagai metode pengukuran kuantitatif untuk menentukan seberapa banyak materi yang tetap diingat tanpa bergantung pada ingatan sadar suatu individu. Alih-alih hanya mencari tahu apakah seseorang mampu mengingat atau tidak, Ebbinghaus menghitung berapa banyak waktu atau jumlah pengulangan yang “dihemat” ketika pembelajaran dilakukan berulang dan membandingkannya dengan waktu yang diperlukan saat pertama kali belajar dalam penelitiannya yang melibatkan nonsense syllables dalam pengukuran memori. Metode ini menunjukkan bahwa meskipun detail materi sangat mungkin untuk hilang atau terlupakan, proses pembelajaran ulang selalu lebih cepat dan meningkatkan sisa memori yang tersimpan meski tidak bisa diingat secara sadar.
    
    Metode berikutnya merupakan metode spaced repetition. Pada dasarnya, metode ini tidak secara eksplisit disebutkan dalam penelitian Ebbinghaus. Meski begitu, metode ini hadir sebagai turunan modern dari hasil penelitiannya. Metode spaced repetition ini merupakan metode belajar di mana materi dipelajari kembali pada interval waktu yang semakin panjang dengan mengganggu kurva pelupaan, terutama tepat sebelum informasi hilang dari memori. Setiap kali informasi diingat kembali, otak akan berusaha memperkuat jalur memori sehingga lebih tahan lama. Hal ini menyebabkan memori informasi lebih stabil, lebih mudah untuk diakses, dan bertahan dalam jangka waktu yang panjang.

   Meski terlihat berbeda, kedua metode ini saling melengkapi sebagai strategi praktis untuk memperkuat retensi memori dan meningkatkan efektivitas intervensi pelupaan berdasarkan pada temuan Ebbinghaus. Kedua metode ini juga menunjukkan bahwa pelupaan bukan merupakan proses acak, melainkan sebuah proses yang dapat diprediksi dan diintervensi kejadiannya. 


REFERENSI

Cepeda, N. J., Vul, E., Rohrer, D., Wixted, J. T., & Pashler, H. (2008). Spacing effects in learning: A temporal ridgeline of optimal retention. Psychological Science, 19(11), 1095–1102.

Ebbinghaus, H. (1885/1913). Memory: A contribution to experimental psychology. New York: Teachers College, Columbia University.

StudySmarter. (n.d.). Hermann Ebbinghaus: Famous psychologists explained. Diakses pada 21 Desember, 2025 dari https://www.studysmarter.co.uk/explanations/psychology/famous-psychologists/hermann-ebbinghaus/ 

Woodworth, R. S. (1909). Hermann Ebbinghaus. The Journal of Philosophy Psychology and Scientific Methods, 6(10), 253-256.

Friday, December 5, 2025

How Thorndike's Cat Experiment Proved the Law of Effect

Edisi Desember 2025

How Thorndike's Cat Experiment Proved the Law of Effect

Sumber : https://pin.it/4Cbg14hiC

Penulis : Reyfan Setio & Austin Vinsen

 

PENJELASAN TOKOH

    Edward Lee Thorndike atau yang lebih dikenal sebagai Edward Thorndike, merupakan seorang psikolog asal Amerika Serikat. Ia lahir di Massachusetts pada tahun 1874. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 Thorndike menjadi seorang pelopor di bidang psikologi pendidikan.

    Edukasi pertama Thorndike dimulai dari Wesleyan University dan Harvard University di mana ia mengambil program studi filosofi dan psikologi. Ia kemudian mendapatkan gelar PhD di Columbia University, di mana ia dipengaruhi oleh James McKeen Cattell dan John Dewey. Hasil dari pengaruh dua tokoh tersebut memberikan fondasi dasar yang kuat dalam perkembangan psikologi behaviorisme.

 Thorndike dikenal luas karena penelitiannya yang inovatif mengenai proses pembelajaran. Penelitiannya berfokus pada hubungan antara stimulus dan respons, yang umumnya dikenal sebagai teori psikologi S-R. Ia melakukan eksperimennya pada hewan sebagai objek, terutama anjing dan kucing, untuk mempelajari perilaku dan proses pembelajaran. Tujuan dari eksperimen Thorndike terhadap hewan adalah untuk memahami bagaimana hewan belajar dan bagaimana pembelajaran yang dilakukan hewan tersebut dapat diterapkan pada manusia, terutama pada bidang pendidikan. 

    Law of Effect atau hukum akibat merupakan teori pembelajaran dari Thorndike. Melalui hukum akibat Thorndike menyatakan bahwa perilaku yang diikuti konsekuensi positif lebih mungkin untuk diulang, namun sebaliknya perilaku yang mendapat konsekuensi negatif lebih kecil kemungkinannya untuk diulang. Teori ini didasarkan pada gagasan bahwa pembelajaran adalah proses yang terjadi secara bertahap, dan terjadi melalui coba-coba. Thorndike percaya bahwa pembelajaran terjadi ketika ada hubungan antara stimulus dan respons, hubungan ini dapat menjadi lebih kuat apabila dilakukan pengulangan.

 

PENJELASAN EKSPERIMEN

    Salah satu eksperimen Thorndike yang dikenal luas adalah eksperimen kotak puzzle dengan menggunakan kucing sebagai objek. Kucing tersebut akan dimasukkan ke dalam sebuah kotak dengan mekanisme pengunci, kucing yang dimasukkan ke dalam kotak puzzle sedang dalam kondisi kelaparan. Mekanisme pengunci kotak tersebut berupa sebuah grendel yang mengunci pintu kotak, dan tali di langit-langit kotak yang harus ditarik untuk akhirnya membuka pintu kotak tersebut. Di depan kotak tersebut diletakkan sebuah tempat makanan berisikan ikan yang disukai kucing tersebut, membuat kucing tersebut harus mencari cara untuk keluar dari kotak agar dapat memakan ikan itu.

    Saat kucing baru dimasukkan dan dikunci di kotak tersebut, kucing tersebut hanya mencoba meraih ikan dari sela-sela kotak puzzle, berharap dapat meraih ikan yang disediakan agar bisa dimakan, namun tetap gagal. Kucing tersebut akhirnya mulai mencoba-coba dengan mencakar dan bermain di kotak tersebut sebelum akhirnya menemukan mekanisme yang bisa di gerakan dan menemukan grendel yang mengunci pintu tersebut. Grendel tersebut akhirnya berhasil dibuka, menyisakan tali yang membuka pintu tersebut, namun kucing tersebut tidak langsung menarik tali di langit-langit karena awalnya hanya dimainkan seperti dicakar-cakar. Pada akhirnya kucing tersebut berhasil menarik tali tersebut, membuka kotak puzzle yang mengunci kucing itu dan berhasil keluar dan memakan ikannya.

 

PEMBUKTIAN LAW OF EFFECT

    Berdasarkan penjelasan dari subjudul sebelumnya, hukum akibat bisa dijelaskan secara singkat sebagai pembentukan perilaku berdasarkan konsekuensi. Dalam eksperimen ini, kucing yang pada awalnya hanya mencakar-cakar kotak puzzle dan mencoba untuk meraih ikan tersebut perlahan mulai mengurangi aksinya karena tidak menghasilkan konsekuensi yang diinginkan. Setelah kucing tersebut mulai mengoperasikan mekanisme pengunci kotak tersebut dan melihat pintu mulai bisa dibuka, maka kucing tersebut berhenti mencakar cakar kotak dan mulai bereksperimen dengan mekanisme yang ada di kotak tersebut, menunjukkan perubahan perilaku dari hasil coba-coba (trial and error).

    Setelah kucing tersebut menyelesaikan kotak puzzle pertama, Thorndike menguji ulang kucing tersebut dengan beberapa kotak puzzle lainnya dengan mekanisme yang berbeda. Kucing tersebut menunjukkan hilangnya ketertarikan untuk mencakar kotak puzzle dan lebih mengarah pada mencoba mekanisme di kotak tersebut. Hasilnya, semakin kucing tersebut diuji dengan kotak puzzle lainnya, waktu yang diperlukan kucing tersebut untuk memecahkan puzzle box tersebut semakin berkurang, menunjukkan perubahan yang signifikan.


REFERENSI

Main, P (2023, June 08). Thorndikes Theory. Retrieved from https://www.structural-learning.com/post/thorndikes-theory

Chance, P. (1999). Thorndike's puzzle boxes and the origins of the experimental analysis of behavior. Journal of the experimental analysis of behavior, 72(3), 433-440. https://doi.org/10.1901/jeab.1999.72-433


Friday, November 21, 2025

Albert Bandura: The Bobo Doll Experiment

 Edisi November 2025

The Bobo Doll Experiment

Sumber : https://techofcomm.wordpress.com/2019/07/18/observational-learning-the-bobo-doll-experience-or-experiment/

Penulis : Jovanka Nartawijaya & Chelsea Christy Setiawan

PENJELASAN TOKOH

Albert Bandura lahir pada tanggal (4 Desember 1925 - 26 Juli 2021) di Mundare, sebuah kota kecil di dataran utara Alberta. Bandura memulai pendidikannya di sekolah dasar dan menengah yang sederhana dengan fasilitas pendidikan yang sangat terbatas. Namun Bandura yang terlahir jenius berhasil menyelesaikan sekolahnya dengan nilai rata-rata yang sangat memuaskan. Pada tahun 1949 Bandura memperoleh gelar sarjana psikologi dari University of British of Colombia. Setelah itu, pendidikannya dilanjutkan di University of Iowa. Di sana, ia meraih gelar Ph.D. pada tahun 1952. Ia kemudian muncul sebagai tokoh sentral dalam behaviorisme masa kini dengan teori-teori pembelajaran yang berhasil ia rumuskan. 



EKSPERIMEN

Albert Bandura adalah seorang psikolog yang percaya bahwa manusia bisa belajar hanya dengan mengamati orang lain, bukan hanya lewat hadiah atau hukuman.

Pada tahun 1960-an, banyak psikolog berpikir bahwa perilaku hanya bisa dipelajari lewat pengalaman langsung. Bandura tidak setuju. Ia mengatakan bahwa kita juga bisa belajar dengan menonton orang lain, terutama orang yang dianggap sebagai panutan—seperti orang tua, guru, atau tokoh di TV.

Untuk membuktikan teorinya, Bandura membuat eksperimen dengan boneka Bobo. Ia ingin tahu apakah anak-anak bisa belajar bersikap agresif hanya dengan melihat orang dewasa bersikap agresif?

Eksperimen ini jadi penting karena saat itu banyak orang mulai khawatir tentang dampak acara TV yang penuh kekerasan terhadap anak-anak.


PROSES EKSPERIMEN

1. Partisipan

  • Terdiri dari 72 anak (36 laki-laki dan 36 perempuan), berusia 3 hingga 6 tahun.
  • Dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing berisi 24 anak.

2. Pembagian Kelompok

    • Kelompok 1: Melihat orang dewasa bersikap agresif terhadap boneka Bobo.

    • Kelompok 2: Melihat orang dewasa bermain dengan tenang dan tidak agresif.
    • Kelompok 3: Tidak melihat model sama sekali (kelompok kontrol).

    Setiap kelompok juga dibagi dua: separuh melihat model laki-laki, separuh melihat model perempuan.

    3. Tahap Pemodelan

    • Anak-anak dibawa satu per satu ke ruangan untuk menyaksikan model dewasa bermain.
    • Dalam kondisi agresif, model memukul, menendang, dan berteriak pada boneka Bobo (contoh: “Hajar hidungnya!”).
    • Dalam kondisi tidak agresif, model bermain tenang dengan mainan lain dan4mengabaikan boneka Bobo.

    4. Tahap Frustasi

        • Setelah mengamati model, anak-anak dibawa ke ruangan lain dengan mainan menarik.
        • Mereka diberi tahu bahwa mereka hanya bisa bermain sebentar—tujuannya untuk memunculkan sedikit rasa frustrasi.

        5. Tes Peniruan

        • Anak-anak kemudian ditempatkan di ruangan dengan boneka Bobo dan mainan lainnya.
        • Pengamat mencatat perilaku anak selama 20 menit, termasuk:

          • Agresi fisik (memukul, menendang)

          • Agresi verbal (berteriak dengan kata-kata mirip model)

          • Perilaku tidak agresif



        HASIL EKSPERIMEN

        • Anak-anak yang melihat model agresif menunjukkan perilaku agresif yang jauh lebih tinggi.

        • Anak laki-laki lebih sering meniru model laki-laki; anak perempuan lebih banyak menunjukkan agresi verbal saat melihat model perempuan.

        • Anak-anak di kelompok tidak agresif dan kontrol menunjukkan sedikit agresi.


        Referensi

        Bandura, A. (n.d.). Influence of models” reinforcement contingencies on the acquisition of imitative responses. Journal of personality and social psychology, 1(6), 589.

        Shalma, N. A. (2023). Implementation of Albert Bandura's modeling learning theory in  Sholat Khusyu Ikhlas learning at MI Mumtaza Islamic School Pamulang. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

        Saturday, November 8, 2025

        Martin Seligman: Learned Helplessness


        Penulis: Gabriel Tiara Chandra Kusuma & Yonatan Stevano Tedjolaksono

        Latar Belakang 
            Teori Learned Helplessness dikembangkan oleh Martin E.P. Seligman dan rekan-rekannya melalui serangkaian eksperimen psikologis yang dimulai pada akhir 1960-an. Latar belakang teoritisnya dapat dibagi menjadi dua fase utama: 1) Model Awal yang Berbasis Behaviorisme, dan 2) Reformulasi Kognitif yang menghubungkannya dengan depresi pada manusia.

            A. Pondasi Awal : Eksperimen dan Model Behaviorisme
            Eksperimen Paradigma Triadik: Seligman & Maier (1967) merancang eksperimen dengan 3 kelompok anjing. Eksperimen ini dilakukan untuk mencari tahu tentang bagaimana hewan, terutama anjing, merespons stres yang tidak dapat dikendalikan dan apakah respons tersebut bisa diterapkan pada situasi lain. Penelitian ini berlangsung di Universitas Pennsylvania oleh Martin Seligman dan Steven Maier pada tahun 1967. Subjek penelitian yang digunakan adalah anjing dewasa yang dipilih berdasarkan kemampuan mereka dilatih dan kesesuaian untuk eksperimen perilaku. Anjing-anjing tersebut dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: 
        a. Escapable Shock Group: Anjing ini menerima kejutan listrik yang dapat mereka hentikan dengan menekan panel dengan hidung mereka.
        b. Unescapable Shock/Yoked Group: Anjing dalam grup ini menerima kejutan yang sama persis dengan Grup Escape, tetapi mereka tidak memiliki kendali untuk menghentikannya. Kejutan akan berhenti hanya jika anjing di Grup Escape menekan panel.
        c. Control Group: Anjing yang tidak menerima kejutan sama sekali. Kemudian, semua anjing ditempatkan dalam sebuah kandang baru dengan pembatas rendah yang dapat mereka lompati untuk menghindari kejutan. Hasilnya mengejutkan (Seligman & Maier, 1967):

            • Prosedur  
            Pada tahap pertama, anjing dari kelompok pertama diberikan kejutan listrik yang dapat dihentikan dengan cara menekan panel menggunakan hidung (escapable shock group). Anjing di kelompok kedua juga menerima kejutan dengan durasi dan intensitas yang sama, namun tidak memiliki kendali apa pun untuk menghentikannya, karena sistem kejutan mereka dihubungkan secara langsung dengan anjing dari kelompok pertama (inescapable shock/yoked group). Sementara itu, kelompok ketiga hanya ditempatkan dalam harness tanpa menerima kejutan listrik (control group).
            Setelah sesi perlakuan selesai, semua anjing dipindahkan ke alat uji berupa kotak dua ruang (shuttle box) yang dipisahkan oleh penghalang rendah. Pada tahap ini, anjing diberikan kesempatan untuk menghindari kejutan listrik dengan melompati penghalang ke sisi lain setelah mendengar atau melihat sinyal peringatan yang menandakan kejutan akan diberikan.
            Hasil pengujian menunjukkan bahwa anjing dari kelompok pertama dan kelompok kontrol mampu belajar untuk melarikan diri atau menghindari kejutan, sedangkan anjing dari kelompok kedua tidak berusaha melakukan apapun, meskipun sebenarnya mereka dapat melompat untuk menghindar. Mereka cenderung diam dan pasif, seolah telah menerima bahwa upaya mereka tidak akan menghasilkan perubahan. Temuan ini menjadi dasar munculnya konsep learned helplessness, yaitu kondisi ketika individu belajar untuk tidak berdaya karena pengalaman sebelumnya yang membuat mereka meyakini bahwa tindakan mereka tidak memiliki pengaruh terhadap hasil yang diperoleh.

        Kesimpulan
            Seligman menyimpulkan bahwa anjing tersebut telah belajar bahwa hasil dari suatu situasi tidak bergantung pada respons mereka. Mereka membentuk harapan bahwa "tindakan apa pun yang saya lakukan adalah sia-sia." Harapan yang dipelajari inilah yang kemudian digeneralisasikan ke situasi baru, bahkan yang sebenarnya dapat dikendalikan, sehingga menghasilkan tiga defisit utama:
        Defisit Motivasi :Keengganan untuk memulai tindakan baru.
        Defisit Kognitif :Kesulitan untuk mempelajari bahwa tindakan mereka dapat efektif di kemudian hari.
        Defisit Emosional :Gejala mirip depresi (seperti kepasifan dan afek negatif).

             B. Reformulasi Kognitif : Teori Atribusi dan Gaya Penjelasan
            Teori awal dikritik karena dianggap terlalu mekanistik untuk menjelaskan kompleksitas manusia. Oleh karena itu, Abramson, Seligman, dan Teasdale (1978) melakukan reformulasi kognitif terhadap teori ini, yang menjadi landasan teoritis utama hingga kini. Latar belakang reformulasi ini adalah untuk menjawab pertanyaan: "Mengapa orang bereaksi berbeda terhadap peristiwa yang tidak terkendali? Mengapa ada yang menjadi putus asa, sementara yang lain tidak?" Jawabannya terletak pada gaya penjelasan (explanatory style) cara seseorang menjelaskan penyebab suatu peristiwa.
            Teori yang direformulasi menyatakan bahwa ketika seseorang menghadapi peristiwa negatif yang tidak terkendali, mereka akan membuat atribusi kausal. Konsekuensi dari ketidakberdayaan (seperti depresi) ditentukan oleh sifat dari atribusi-atribusi ini, yang terbagi dalam tiga dimensi:
        a. Internal vs. Eksternal:
        Internal: Menyalahkan diri sendiri. "Ini terjadi karena saya tidak mampu."
        Eksternal: Menyalahkan faktor luar. "Ini terjadi karena situasinya memang sulit."
        b. Stabil vs. Tidak Stabil:
        Stabil: Percaya penyebabnya bersifat permanen. "Penyebab ini akan selalu hadir."
        Tidak Stabil: Percaya penyebabnya bersifat sementara. "Penyebab ini hanya untuk kali ini saja."
        c. Global vs. Spesifik:
        Global: Percaya penyebabnya mempengaruhi banyak area kehidupan. "Ini akan merusak segala hal yang saya lakukan."
        Spesifik: Percaya penyebabnya terbatas pada situasi tertentu. "Ini hanya berlaku untuk situasi ini saja."

            • Kaitan dengan depresi
            Menurut teori ini, individu yang memiliki gaya penjelasan pesimistis yaitu, mereka yang cenderung menjelaskan peristiwa negatif dengan atribusi yang Internal, Stabil, dan Global (misal: "Saya gagal karena saya bodoh [internal] dan kebodohan saya ini permanen [stabil], serta akan merusak semua yang saya kerjakan [global]") akan paling rentan mengalami learned helplessness dan depresi klinis. Atribusi semacam ini menyebabkan seseorang merasa:
        - Tidak berharga (karena internal),
        - Putus asa (karena stabil),
        - Tidak berdaya secara menyeluruh (karena global).


        REFERENSI

        Seligman, M. E. P., & Maier, S. F. (1967). Failure to escape traumatic shock. Journal of Experimental Psychology, 74(1), 1–9.
        Maier, S. F., & Seligman, M. E. P. (1976). Learned helplessness: Theory and evidence. Journal of Experimental Psychology: General, 105(1), 3–46.
        Zimbardo, P. G. (n.d.). The Seligman's learned helplessness experiment: Setup, results, and psychological insights. Diakses pada 6 November, 2025 dari https://www.zimbardo.com/the-seligmans-learned-helplessness-experiment-setup-results-and-psychological-insights  


        Sunday, October 19, 2025

        J.B.Watson : Little Albert Experiment

         Edisi Oktober 2025

        LITTLE ALBERT

        Sumber : https://www.newscientist.com/article/dn26307-baby-used-in-notorious-fear-experiment-is-lost-no-more/

        Penulis : Jovanka Nartawijaya & Chelsea Christy Setiawan


        PENJELASAN TOKOH

        John Broadus Watson (lahir 9 Januari 1878, Travelers Rest, dekat Greenville, Carolina Selatan, AS—meninggal 25 September 1958, New York, New York) lahir sebagai anak laki-laki desa miskin dari Traveler's Rest, Carolina Selatan, dibesarkan oleh ibunya di Greenville, di masa ketika Progresivisme Amerika menjadikan pendidikan universitas dan spesialisasi pascasarjana sebagai sarana untuk kemajuan individu, sosial, dan budaya. Ia meraih gelar magister filsafat dari Furman University (1899) dan meraih gelar doktor pertama di bidang psikologi dari Universitas Chicago (1903). Ia kemudian menjadi instruktur di Chicago (1903–1908) dan profesor di Johns Hopkins University (1908–1920), tetapi sebuah skandal memaksanya meninggalkan dunia akademis. Tanpa gentar, ia menjadi psikolog "pop" pertama dan eksekutif periklanan yang sukses di New York City (1921–1945).

        Watson memulai kariernya sebagai psikolog hewan dan komparatif, di mana beberapa penelitiannya merupakan karya paling awal dan terbaik dalam bidang etologi. Untuk itu, psikologi eksperimental harus menjadi studi dan ilmu perilaku, bukan introspeksi standar terhadap isi kesadaran ("Psychology as the Behaviorist Views It," 1913). Yang pertama menjadi behaviorisme klasik Watson, yang dianggap serius karena penghargaan tinggi yang diberikan pada penelitiannya. Bahkan, statusnya sedemikian rupa sehingga ia menjadi editor dan pendiri jurnal-jurnal bergengsi (misalnya, Psychological Review, Journal of Experimental Psychology) dan presiden American Psychological Association.

        Sebagai seorang sistematis, Watson berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah merumuskan hukum dan prinsip perilaku manusia melalui observasi dan eksperimen sistematis (Psychology from the Standpoint of a Behaviorist, 1919, 1929). Untuk itu, ia memajukan prediksi dan kontrol sebagai sarana untuk memahami perilaku, mendorong behaviorisme, dan memajukan perubahan budaya. Ia mengadopsi refleks terkondisi sebagai prinsip dasar perilaku. Ia menganalisis berpikir, merasakan, dan membayangkan sebagai respons implisit, bukan sebagai proses mental yang independen. Dan, ia memandang anatomi dan fisiologi, bukan naluri, sebagai dasar biologis perilaku manusia (Behaviorisme, 1924, 1930).


        PENJELASAN EKSPERIMEN 

        J.B Watson dikenal dalam Eksperimen Little Albert yang dilakukan pada tahun 1920. Eksperimen tersebut merupakan salah satu studi paling terkenal—dan kontroversial—dalam sejarah psikologi. Tujuan utama dari eksperimen ini adalah untuk menunjukkan bahwa emosi seperti rasa takut bukanlah bawaan sejak lahir, melainkan bisa dipelajari melalui proses pengkondisian klasik.

        Subjek eksperimen adalah seorang bayi laki-laki berusia sembilan bulan yang dikenal sebagai "Albert." Pada awalnya, Albert tidak menunjukkan rasa takut terhadap berbagai objek seperti tikus putih, kelinci, anjing, atau bahkan topeng Santa Claus. Namun, ia bereaksi dengan ketakutan terhadap suara keras yang tiba-tiba, seperti bunyi palu yang memukul batang baja di belakangnya. Watson dan Rayner melihat ini sebagai peluang untuk menghubungkan stimulus netral (tikus putih) dengan stimulus tak terkondisi (suara keras) untuk menciptakan respons emosional yang baru.


        EKSPERIMEN 

        Dalam sesi pengkondisian, setiap kali Albert melihat tikus putih, suara keras langsung diperdengarkan. Setelah beberapa kali pengulangan, Albert mulai menangis dan menunjukkan tanda-tanda ketakutan hanya dengan melihat tikus putih, bahkan tanpa suara. Ini menunjukkan bahwa rasa takut terhadap tikus telah menjadi respon terkondisi. Lebih jauh lagi, Albert mulai menunjukkan ketakutan terhadap objek lain yang berbulu dan mirip dengan tikus, seperti kelinci, anjing, mantel bulu, dan topeng Santa Claus. Fenomena ini dikenal sebagai generalisasi stimulus, dan respons emosional menyebar ke objek lain yang memiliki karakteristik serupa.

        Meski eksperimen ini memberikan bukti kuat bahwa emosi bisa dipelajari, ia juga menuai kritik tajam dari segi etika. Albert tidak pernah dikondisikan, artinya rasa takut yang ditanamkan tidak pernah dihilangkan. Tidak ada persetujuan yang diinformasikan dari wali Albert, dan kesejahteraan emosional anak tidak menjadi prioritas dalam desain eksperimen. Dalam konteks etika penelitian modern, eksperimen ini dianggap melanggar prinsip-prinsip dasar perlindungan subjek manusia.


        HASIL EKSPERIMEN

        Eksperimen Little Albert menjadi titik penting dalam perkembangan behaviorisme dan membuka diskusi luas tentang bagaimana pengalaman awal dapat membentuk respons emosional seseorang. Namun, ia juga menjadi pengingat penting bahwa ilmu pengetahuan harus dijalankan dengan tanggung jawab dan empati, terutama ketika melibatkan individu yang rentan seperti anak-anak.



        REFERENSI

        Cherry, K. (2023, August 21). Taste Aversion and Classic Conditioning. Verywell Mind. Retrieved October 16, 2025, from https://www.verywellmind.com/what-is-a-taste-aversion-2794991

        McLeod, S. (2025, September 9). Little Albert Experiment (Watson & Rayner). Simply Psychology. Retrieved October 16, 2025, from https://www.simplypsychology.org/little-albert.html

        Salkind, N. J. (Ed.). (n.d.). Watson, John B. (1876–1958). In Encyclopedia of Human Development. Sage. https://doi.org/10.4135/9781412952484.n635

        The Editors of Encyclopaedia Britannica. (2025). John B. Watson. In Encyclopaedia Britannica. https://www.britannica.com/biography/John-B-Watson


        Harry Harlow : The Rhesus Monkey Attachment Theory

        THE RHESUS MONKEY   Sumber :  https://artsandculture.google.com/entity/m03fx0g?hl=pl Penulis : Jovanka Nartawijaya dan Reyfan Setio  Biograf...