Tuesday, April 21, 2026

MARSHMALLOW TEST

 Edisi April 2026

Marshmallow Test

sumber : https://www.facebook.com/drrozanizam/posts/marshmallow-experiment-apa-yang-setiap-ibu-bapa-perlu-tahu-pada-tahun-1970-seora/625335432372611/


Penulis : Chelsea Christy Setiawan & Yonatan Stevano T


Biografi

Walter Mischel (lahir 22 Februari 1930, Wina , Austria—meninggal 12 September 2018, New York , New York, AS) adalah seorang psikolog Amerika yang terkenal karena penelitiannya yang inovatif tentang penundaan kepuasan yang dikenal sebagai “tes marshmallow.” Mischel lahir sebagai anak bungsu dari dua bersaudara. Ayahnya adalah seorang pengusaha. Setelah pendudukan Nazi di Wina (1938), ia dan keluarganya berimigrasi ke Amerika Serikat, dan menetap pada tahun 1940 di Brooklyn, New York. Orang tua Mischel membuka toko serba ada, di mana ia bertugas mengantar barang sambil melakukan berbagai pekerjaan paruh waktu. Ia menjadi lulusan terbaik di kelasnya di sekolah menengah dan menerima beasiswa ke Universitas New York .

Meskipun awalnya ia mendaftar di program studi pra-kedokteran, Mischel mengalihkan fokusnya ke psikologi dan memperoleh gelar sarjana pada tahun 1951. Dengan spesialisasi di bidang psikologi klinis , ia memperoleh gelar master dari City College of New York (1953) dan gelar Ph.D. dari Ohio State University (1956). Setelah itu, ia memegang jabatan profesor di University of Colorado (1956–58), Harvard University (1958–62), dan Stanford University (1962–82).


Penjelasan Eksperimen

Eksperimen ini dirancang untuk memahami bagaimana anak-anak usia prasekolah mengelola kemampuan menunda kepuasan (delay of gratification) ketika dihadapkan pada pilihan antara imbalan kecil yang segera didapatkan versus imbalan yang lebih besar namun harus ditunggu. Mischel dan koleganya tertarik untuk mengidentifikasi mekanisme kognitif dan atensional (perhatian) apa yang membuat beberapa anak mampu menunggu lebih lama dibandingkan anak lainnya.


Penelitian ini didasarkan pada perpanjangan dari teori frustrative nonreward—bahwa kehadiran objek imbalan secara fisik dapat menimbulkan frustrasi yang membuat penundaan menjadi sulit. Oleh karena itu, peneliti berhipotesis bahwa mengalihkan perhatian dari imbalan akan membantu anak menunggu lebih lama, sementara memikirkan atau melihat imbalan justru akan memperpendek durasi penundaan. Eksperimen ini melibatkan total 92 anak berusia 3 hingga 5 tahun.


Prosedur Eksperimen

  1. Eksperimen I: Distraksi Eksternal vs. Tanpa Distraksi

Anak-anak ditempatkan di sebuah ruangan. Di depan mereka tersedia objek imbalan (makanan ringan yang telah dipilih sebelumnya oleh anak sebagai favorit mereka). Peneliti memberikan instruksi bahwa anak boleh memanggil peneliti kapan saja untuk mendapatkan imbalan yang kurang disukai (less preferred reward), tetapi jika mereka bersedia menunggu sampai peneliti kembali, mereka akan mendapatkan imbalan yang lebih disukai (preferred reward). Durasi menunggu diukur. Dalam kondisi distraksi eksternal, anak-anak diminta untuk mengalihkan perhatian mereka dari imbalan. Dalam kondisi tanpa distraksi, imbalan tetap terlihat oleh anak selama periode menunggu.


  1. Eksperimen II: Distraksi Kognitif (Pikiran)

Eksperimen ini menguji apakah jenis pikiran yang dijalani anak selama menunggu mempengaruhi durasi penundaan. Anak-anak diinstruksikan untuk memikirkan hal-hal yang "menyenangkan" (fun things), hal-hal yang "menyedihkan" (sad thoughts), atau memikirkan imbalan itu sendiri. Peneliti kemudian mengukur berapa lama anak mampu menahan diri sebelum akhirnya memanggil peneliti.


  1. Eksperimen III: Ketidaktersediaan Fisik Imbalan

Pada eksperimen ini, imbalan yang ditunda (delayed rewards) tidak tersedia secara fisik untuk dilihat anak selama periode menunggu. Anak-anak diberikan instruksi awal yang memanipulasi perhatian kognitif mereka—misalnya, diminta untuk membayangkan imbalan tersebut atau mengalihkan pikiran ke hal lain. Prosedur ini dirancang untuk mengisolasi efek dari representasi mental imbalan, terlepas dari kehadiran fisiknya.


Hasil Eksperimen

Hasil dari ketiga eksperimen secara konsisten mendukung hipotesis bahwa mekanisme perhatian dan kognitif memainkan peran kunci dalam kemampuan menunda kepuasan.

  1. Eksperimen I:

Anak-anak yang dialihkan perhatiannya dari objek imbalan (distraksi eksternal) mampu menunggu *jauh lebih lama* dibandingkan anak-anak yang harus menatap imbalan secara langsung selama periode menunggu.

  1. Eksperimen II:

Tidak semua distraksi kognitif efektif. Anak-anak yang memikirkan "hal-hal menyenangkan" mampu menunda lebih lama, sementara mereka yang memikirkan "hal-hal menyedihkan" menunjukkan durasi penundaan yang pendek, sama halnya dengan anak-anak yang memikirkan imbalan itu sendiri.

  1. Eksperimen III: 

Ketika imbalan tidak tersedia secara fisik, anak-anak yang secara kognitif memikirkan imbalan justru mengalami ‘penurunan’ durasi penundaan secara signifikan, bukannya peningkatan. Dengan kata lain, membayangkan imbalan yang menggiurkan sama buruknya dengan melihatnya secara langsung.


Kesimpulan

Secara keseluruhan eksperimen Marshmallow Test  menyimpulkan bahwa:

  1. Mekanisme atensional dan kognitif yang meningkatkan menonjolnya imbalan memperpendek durasi penundaan sukarela.

  2. Sebaliknya, distraksi dari imbalan baik secara eksternal (mengalihkan pandangan) maupun secara kognitif (memikirkan hal-hal menyenangkan) memfasilitasi kemampuan menunda.

Dengan kata lain, kunci keberhasilan dalam marshmallow test bukanlah "menahan diri" secara mental dengan terus mengingat imbalan, melainkan mengalihkan pikiran sepenuhnya dari imbalan tersebut ke hal-hal lain yang lebih netral atau menyenangkan.


Referensi

Mischel, W., Ebbesen, E. B., & Raskoff Zeiss, A. (1972). Cognitive and attentional mechanisms in delay of gratification. Journal of Personality and Social Psychology, 21(2), 204–218. https://doi.org/10.1037/h0032198 

Nolen, J. L. (2026, February 18). Walter Mischel. Encyclopaedia Britannica. https://www.britannica.com/biography/Walter-Mischel

Saturday, April 18, 2026

Solomon Asch: Conformity Experiment

 Edisi April 2026

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Asch_conformity_experiments

Penulis: Austin Vinsen & Michelle Dipa Revata


Mengenal Solomon Asch

    Solomon Asch merupakan seorang psikolog yang lahir pada tanggal 14 September 1907 di Warsawa, Polandia. Pada usia tujuh tahun, Asch memperhatikan keluarganya yang berlatar belakang Yahudi mempersiapkan perayaan Paskah. Seorang paman Asch menjelaskan bahwa mereka menuangkan segelas anggur ekstra yang diperuntukkan bagi nabi Elia kuno. Pamannya meminta Asch untuk memperhatikan gelas tersebut hingga suatu malam, Asch yakin ia melihat sebagian anggur menghilang. Sebagai orang dewasa, Asch melihat peristiwa tersebut bukanlah sebuah mukjizat, melainkan sebagai demonstrasi kekuatan persuasi bagi pikiran manusia. Konsep ini mendorong ketertarikan Asch untuk menjalankan studi di bidang psikologi.

    Asch berimigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1920. Ia berkuliah di City College of New York dan lulus pada tahun 1928. Ia kemudian melanjutkan studi magister ke Universitas Columbia, dan lulus pada tahun 1930 serta gelar doktor pada 1932. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Asch mengajar dan melakukan penelitian di Swarthmore dan Brooklyn Colleges. Selama periode ini, ia bertemu dan bekerja dengan beberapa psikolog paling berpengaruh di abad ke-20 seperti Wolfgang Köhler yang membawa pendekatan baru ke dalam studi tentang bagaimana pikiran mempersepsikan, mempelajari, menghubungkan, dan menggunakan gagasan tentang realitas.

  Sepanjang tahun 1930-an ketika Asch sedang membangun reputasi sebagai psikolog, banyak pemimpin yang menggunakan taktik seperti propaganda dan indoktrinasi untuk memaksa orang-orang agar patuh, bahkan dalam banyak kasus, melakukan kekejaman yang mengerikan. Asch mempelajari beberapa propaganda tersebut dan dampaknya terhadap masyarakat. Ia menemukan bahwa orang-orang yang takut dan kekurangan wawasan merupakan kelompok yang paling rentan untuk mempercayai kebohongan dan kebenaran yang diputarbalikkan oleh propaganda. Meski demikian, Asch berpendapat bahwa orang-orang akhirnya akan mampu menemukan kebenaran di antara kebohongan. Studi-studi ini membantu Asch dalam menemukan teori yang dikenal sebagai teori konformitas.

    Selain teori konformitas, Asch juga menerbitkan buku teks Psikologi Sosial pada 1952. sebuah buku teks yang merinci banyak temuan dan teorinya. Buku ini dengan menjadi standar di ruang kelas psikologi dan turut mendorong reputasi Asch sebagai salah satu psikolog modern terbesar. Ia juga melanjutkan perannya untuk mengajar di Universitas Pennsylvania dan Institut Studi Kognitif di Universitas Rutgers. Solomon Asch mengubah banyak cara pandang psikolog mengenai pemikiran dan perilaku manusia. Ia menemukan hubungan baru antara kerja pikiran yang kompleks dan realitas sekitarnya yang menyediakan persepsi dan informasi bagi pikiran sebelum akhirnya Asch meninggal di Haverford, Pennsylvania, pada tanggal 20 Februari 1990.


Eksperimen

  Untuk mempelajari konformitas Solomon Asch menggunakan eksperimen laboratorium, ia menggunakan 50 mahasiswa laki-laki dari Swarthmore College di AS untuk menjadi partisipan dalam ‘tes penglihatan’. 


Prosedur Tugas 

    Asch menempatkan tujuh kaki tangan (aktor yang bekerja untuk peneliti) bersama dengan seorang partisipan yang tidak memiliki pengalaman sebelumnya. Penilaian garis merupakan  tugas yang diberikan, para kaki tangan peneliti telah sepakat sebelumnya mengenai tanggapan mereka ketika dihadapkan dengan tugas membuat garis.

    Peserta tidak tahu bahwa tujuh orang lainnya adalah “aktor”, sehingga mereka mengira semua orang di ruangan itu adalah peserta biasa seperti dirinya. Setiap orang diminta menyebutkan dengan suara keras garis mana (A, B, atau C) yang sama dengan garis contoh. Jawabannya sebenarnya sangat jelas. Para peserta duduk berjajar atau mengelilingi meja, dan peserta asli ditempatkan hampir di urutan terakhir (biasanya kedua dari belakang). Ini membuatnya harus mendengar jawaban orang lain terlebih dahulu sebelum menjawab. Di beberapa percobaan awal, semua aktor memberikan jawaban yang benar agar peserta merasa yakin dan nyaman. Namun, pada percobaan penting, para aktor sengaja memberikan jawaban yang salah secara kompak untuk melihat apakah peserta akan mengikuti atau tidak.


Uji Coba Kritis

    Eksperimen ini terdiri dari 18 percobaan, di mana pada 12 percobaan (disebut percobaan kritis), para aktor sengaja memberikan jawaban yang salah. Asch ingin melihat apakah peserta asli akan mengikuti pendapat mayoritas atau tetap pada jawaban yang benar. Misalnya, jawaban yang benar sebenarnya adalah garis B, tetapi semua aktor dengan yakin mengatakan bahwa jawabannya adalah C. Peserta asli, setelah mendengar semua jawaban yang salah tersebut, harus memberikan jawabannya di akhir giliran. Pertanyaan utamanya adalah: apakah peserta akan ikut memilih jawaban yang salah seperti kelompok, atau tetap berpegang pada jawaban yang jelas benar?


Variabel

  Variabel independen adalah tekanan kelompok mayoritas yang secara jelas salah, dan varian dependennya adalah respons peserta pada setiap percobaan kritis yang dilakukan, Asch melihat apakah peserta mengikuti jawaban salah kelompok atau memberi jawaban yang benar namun sendiri. Asch mengukur konformitas berdasarkan jumlah percobaan di mana peserta mengalah pada jawaban salah mayoritas.


Desain & Kontrol

  Metode yang digunakan oleh Asch adalah eksperimen laboratorium dengan desain kelompok independen. Artinya, setiap peserta hanya mengalami satu kondisi, yaitu kondisi dengan tekanan kelompok atau kondisi kontrol, tidak keduanya. Dengan menggunakan aktor (kaki tangan) dan jawaban salah yang sudah direncanakan, peneliti dapat mengontrol situasi dengan baik dan fokus mengamati pengaruh tekanan sosial sebagai variabel utama. Untuk memastikan jawaban yang benar memang jelas, Asch juga membuat kondisi kontrol, di mana peserta mengerjakan tugas sendirian tanpa pengaruh kelompok.

   Dalam kondisi ini, peserta menjawab secara mandiri, baik dengan menuliskan atau menyebutkan jawabannya, sehingga dapat diketahui tingkat kesalahan normal tanpa tekanan sosial. Sebanyak 37 orang ikut dalam kondisi kontrol ini.

   Hasil dari kondisi kontrol yang digunakan sebagai pembanding, untuk menunjukkan bahwa tugas tersebut sebenarnya mudah dan dapat dijawab oleh orang-orang apabila tidak ada tekanan dari kelompok.


Temuan

Asch mengukur seberapa sering peserta mengikuti jawaban kelompok.

    Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata sekitar 32% peserta ikut dengan jawaban mayoritas yang sebenarnya salah pada percobaan penting.

  • Selama 12 percobaan tersebut:
  • Sekitar 75% peserta pernah ikut setidaknya satu kali
  • Sekitar 25% peserta tidak pernah ikut sama sekali

Ada juga sebagian kecil peserta (sekitar 5%) yang selalu mengikuti kelompok di semua percobaan.

    Sementara itu, dalam kondisi tanpa tekanan kelompok, peserta hampir tidak pernah salah. Tingkat kesalahan kurang dari 1%, yang berarti tugasnya sebenarnya sangat mudah jika tidak ada pengaruh sosial.


Temuan Kualitatif (Wawancara Pasca-eksperimen)

   Setelah eksperimen selesai, Asch mewawancarai para peserta untuk memahami alasan di balik keputusan mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar peserta sebenarnya menyadari bahwa jawaban kelompok itu salah, tetapi tetap mengikutinya karena tekanan sosial, seperti takut dianggap aneh, ditertawakan, atau tidak diterima (pengaruh normatif). Sebagian lainnya benar-benar merasa ragu terhadap jawabannya sendiri dan menganggap kelompok mungkin lebih benar (pengaruh informasional). Namun, ada juga peserta yang tetap mandiri dan percaya pada persepsinya sendiri, meskipun merasakan tekanan dari kelompok. Dari temuan ini, Asch menyimpulkan bahwa tekanan kelompok dapat mempengaruhi penilaian individu secara signifikan, bahkan dalam situasi yang jelas, tetapi tidak semua orang akan tunduk karena sebagian masih mampu mempertahankan kemandiriannya.


Sumber

Guy-Evans, O., & McLeod, S. (2024). Asch conformity line experiment. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/asch-conformity.html

Dziak, M. (2023). Solomon Asch (psychologist). EBSCO Research Starters: Psychology. EBSCO. https://www.ebsco.com/research-starters/psychology/solomon-asch-psychologist

Sunday, March 22, 2026

Milgram Experiment: Obedience to Authority

Edisi Maret 2026


Sumber: https://daily.jstor.org/the-hidden-meaning-of-a-notorious-experiment/ 

Penulis: Gabriel Tiara Chandra Kusuma & Jovanka Nartawijaya 

LATAR BELAKANG TOKOH

   Stanley Milgram lahir pada 15 Agustus 1933 di Bronx, New York, dari keluarga imigran Yahudi asal Eropa Timur. Kehidupan awalnya sangat dipengaruhi oleh suasana pasca-Perang Dunia II dan tragedi Holocaust, yang memicu pertanyaan mendalam dalam dirinya mengenai bagaimana manusia bisa melakukan kekejaman atas nama kepatuhan. Secara personal, ia dikenal sebagai sosok yang sangat kreatif, memiliki minat luas pada seni dan sinematografi, serta memiliki kepribadian yang tajam dan terkadang provokatif dalam menantang norma-norma akademik pada masanya.

   Pendidikan formal Milgram dimulai di Queens College, di mana ia mengambil jurusan Ilmu Politik sebelum akhirnya beralih fokus ke psikologi. Ia kemudian melanjutkan studi doktoral di Universitas Harvard dan berhasil meraih gelar Ph.D. dalam Psikologi Sosial pada tahun 1960. Selama di Harvard, ia bekerja di bawah bimbingan psikolog ternama Gordon Allport dan Solomon Asch, yang pengaruhnya terlihat jelas dalam ketertarikan Milgram pada dinamika kelompok dan tekanan sosial. Karier akademisnya kemudian berlanjut sebagai profesor di Universitas Yale dan City University of New York (CUNY).

   Temuan terpenting Milgram adalah bahwa perilaku kejam sering kali bukan hasil dari karakter yang jahat, melainkan akibat dari situasi sosial dan tekanan otoritas. Melalui "Eksperimen Kepatuhan" yang fenomenal, ia menyimpulkan bahwa individu cenderung melepaskan tanggung jawab moral pribadi mereka ketika merasa bertindak sebagai "agen" dari keinginan orang lain yang berkuasa. Selain itu, penelitiannya tentang Small World Phenomenon memberikan dasar ilmiah bagi konsep "enam derajat pemisahan," yang membuktikan betapa terhubungnya jaringan sosial manusia secara global.

EKSPERIMEN

   Eksperimen Stanley Milgram yang dilakukan pada awal 1960-an merupakan salah satu penelitian paling terkenal dalam psikologi sosial. Latar belakang eksperimen ini berakar pada peristiwa sejarah, khususnya persidangan Adolf Eichmann, seorang pejabat Nazi yang membela dirinya dengan alasan hanya “menjalankan perintah” atasannya dalam Holocaust. Milgram ingin memahami sejauh mana manusia bersedia menaati figur otoritas, bahkan ketika perintah tersebut bertentangan dengan hati nurani dan nilai moral pribadi.

   Metodologi eksperimen ini sederhana namun mengejutkan. Peserta diberi peran sebagai “guru” yang harus mengajukan pertanyaan kepada seorang “murid” (sebenarnya aktor). Setiap kali murid menjawab salah, guru diperintahkan untuk memberikan kejutan listrik dengan intensitas yang meningkat. Walaupun murid tidak benar-benar menerima kejutan, ia berpura-pura kesakitan, berteriak, dan memohon agar eksperimen dihentikan. Di sisi lain, seorang peneliti berjas putih bertindak sebagai otoritas, terus mendorong peserta dengan kalimat seperti “eksperimen ini harus dilanjutkan.” Situasi ini menempatkan peserta dalam dilema moral antara mengikuti hati nurani atau menaati perintah otoritas.

HASIL EKSPERIMEN 

   Hasil eksperimen sangat mengejutkan: mayoritas peserta, sekitar 65%, tetap memberikan kejutan hingga level maksimum 450 volt, meskipun mereka mendengar teriakan dan protes dari murid. Temuan ini menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap otoritas dapat mengalahkan pertimbangan moral pribadi. Eksperimen Milgram membuktikan bahwa dalam kondisi tertentu, orang biasa dapat melakukan tindakan berbahaya hanya karena diperintahkan oleh figur otoritas.

   Implikasi dari eksperimen ini sangat luas. Ia menjelaskan bagaimana kejahatan besar dalam sejarah, seperti Holocaust, dapat melibatkan individu-individu biasa yang sebenarnya tidak memiliki niat jahat, tetapi tunduk pada sistem otoritas. Selain itu, eksperimen ini memicu perdebatan etika dalam penelitian psikologi, karena meskipun tidak ada peserta yang benar-benar disakiti secara fisik, mereka mengalami tekanan psikologis yang berat. Kritik ini kemudian mendorong lahirnya standar etika yang lebih ketat dalam penelitian psikologi.

   Secara keseluruhan, eksperimen Stanley Milgram memberikan wawasan mendalam tentang sifat kepatuhan manusia. Ia mengingatkan kita bahwa otoritas memiliki kekuatan besar dalam membentuk perilaku, dan bahwa setiap individu perlu menyadari potensi bahaya ketika kepatuhan mengalahkan moralitas. Penelitian ini tetap relevan hingga kini, menjadi peringatan bahwa tanggung jawab moral tidak boleh dilepaskan hanya karena adanya perintah dari pihak berwenang.

REFERENSI

Blass, T. (2004). The man who shocked the world: The life and legacy of Stanley Milgram. Basic Books.
Cherry, K. (2023, November 8). Stanley Milgram biography: Life and work. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/stanley-milgram-biography-2795532
Milgram, S. (1967). The small world problem. Psychology Today, 2, 60–67.






Tuesday, March 10, 2026

John Darley & Bibb Latané:Bystander Effect

 Edisi Maret 2026

Sumber : https://www.careershodh.com/careershodh-series-classical-experiments-24-darley-and-latane-the-case-of-kitty-genovese-bystander-effect/

Penulis : Chelsea Christy Setiawan & Reyfan Setio


Biografi

    John M. Darley (3 April 1938 – 31 Agustus 2018) adalah seorang psikolog sosial Amerika yang terkenal karena investigasi empirisnya tentang intervensi pengamat, kognisi moral, dan dasar psikologis pengambilan keputusan hukum dan etika. Darley bergabung dengan fakultas Universitas Princeton pada tahun 1968 sebagai profesor madya psikologi.  Darley menerima Penghargaan Kontribusi Ilmiah Ter distinguished dari Society of Experimental Social Psychology pada tahun 1997, Beasiswa Guggenheim, dan terpilih sebagai Anggota American Academy of Arts and Sciences pada tahun 2005, di samping menjabat sebagai presiden Association for Psychological Science.


    Bibb Latané lahir di Kota New York pada tanggal 19 Juli 1937. Ia belajar di Yale dan menerima gelar sarjana di bidang perilaku dan budaya. Ia melanjutkan studinya di Universitas Minnesota, tempat ia meraih gelar PhD di bidang psikologi pada tahun 1963. Latané mulai mengajar di Universitas Columbia pada tahun 1961, dan kemudian, ia mengajar di Universitas Negeri Ohio antara tahun 1968 dan 1981, di Universitas Carolina Utara di Chapel Hill dari tahun 1982–1989, dan di Universitas Florida Atlantic dari tahun 1989–2000. Ia menjabat sebagai Direktur Institut Penelitian Ilmu Sosial antara tahun 1982 dan 1988, dan ia telah menjabat sebagai Senior Fellow di Pusat Ilmu Manusia di Chapel Hill sejak tahun 2000. Latané menerima Penghargaan Kontribusi Ilmiah Terkemuka dari Society of Experimental Social Psychology pada tahun 1997.


    Di Columbia, Latané bekerja sama dengan John Darley untuk mengembangkan teori dampak sosial, yang dirancang untuk menjelaskan pembagian tanggung jawab dalam kelompok besar dan mengungkapkan efek pengamat—penyebaran tanggung jawab yang mengurangi bantuan dalam pengaturan kelompok selama keadaan darurat—dan mengeksplorasi bagaimana proses kognitif membentuk penilaian moral dan kepatuhan terhadap norma. Penelitiannya, yang didasarkan pada paradigma laboratorium terkontrol dan studi lapangan, memengaruhi domain terapan seperti pencegahan kriminal dan etika organisasi, dengan lebih dari 140 publikasi yang menekankan mekanisme kausal daripada stereotip situasional. Keduanya paling dikenal karena penelitian mereka tentang efek pengamat pasif. Bekerja sama dengan Darley, Latané menerbitkan buku The Unresponsive Bystander: Why Doesn't he Help? pada tahun 1970. Buku tersebut menggambarkan intervensi pengamat—perilaku individu ketika menanggapi keadaan darurat. Latané dan Darley dianugerahi Penghargaan Memorial Richard M. Elliot pada tahun 1968 dan Penghargaan Ilmu Perilaku dari American Association for the Advancement of Science pada tahun 1968.



Prosedur Eksperimen

    Eksperimen dilaksanakan dengan sebuah mahasiswa yang diperintahkan oleh pembawa eksperimen untuk memasuki sebuah ruang kecil untuk berdiskusi dengan mahasiswa/i lainnya mengenai permasalahan dan keluh kesah pribadi masing-masing dalam perkuliahan tersebut, pembawa eksperimen akan menjelaskan bahwa tujuan eksperimen ini adalah untuk mengenal lebih dalam keluh-kesah dari para mahasiswa/i selama perkuliahan yang mereka jalani. Untuk menjaga anonimitas partisipan dan menjaga agar partisipan tersebut tidak merasa gugup atau malu, diskusi tersebut dilaksanakan melalui intercom, membuat diskusi tersebut lebih nyaman dibanding dengan pembicaraan tatap muka langsung.


    Selama diskusi berlangsung, salah seorang dari mahasiswa/i tersebut akan menyatakan hal bahwa mereka sedang merasakan kejang seperti akan mengalami epilepsi, namun dikarenakan sistem pembicaraan mereka yang melalui sistem intercom, mahasiswa partisipan tidak dapat mengecek keseriusan kondisi tersebut, variabel yang menjadi penentu dalam eksperimen ini adalah seberapa cepat waktu yang dibutuhkan oleh mahasiswa partisipan untuk melaporkan kejadian tersebut kepada pembawa eksperimen.


    Dalam eksperimen tersebut, terdapat dalam total 72 partisipan dalam eksperimen tersebut, 59 mahasiswi dan 13 mahasiswa, dimana seluruh peserta merupakan murid-murid yang baru memasuki program studi psikologi di Universitas New York. Selama diskusi berlangsung, pembawa eksperimen tidak berpartisipasi dalam diskusi dan setiap peserta hanya diperbolehkan untuk berbicara satu persatu dan yang lainnya akan mengomentari pembahasan tersebut. Setelah beberapa saat, semua mikrofon peserta akan dimatikan dan hanya satu yang diperbolehkan untuk berbicara, yaitu mahasiswa yang akan menjelaskan bahwa ia merasakan kejang dan akan mengalami epilepsi, karena seluruh mikrofon peserta lainnya telah dimatikan, para peserta tidak dapat berdiskusi atau menanyakan kondisi korban tersebut kepada siapapun.



Hasil Eksperimen

    Berdasarkan seberapa besar kelompok mahasiswa/i dengan sang “korban”, ditemukan bahwa semakin kecil jumlah peserta dengan korban, maka semakin cepat juga respons peserta untuk menghampiri pembawa eksperimen bahwa ada seseorang yang mengalami epilepsi, sebagai contoh, dalam kelompok dua orang (peserta dan “korban), peserta tersebut melaporkan dalam waktu 52 detik setelah mendengar tanda-tanda epilepsi dari korban, sedangkan dalam kelompok enam orang (peserta, “korban” dan 4 peserta yang menjadi pengamat), peserta tersebut baru melaporkan kejadian tersebut setelah 166 detik.


Dari hasil eksperimen tersebut, dapat dinyatakan adanya 3 proses psikologis yang terjadi kepada peserta eksperimen:

  1. Diffusion of Responsibility: peserta merasa bahwa dengan adanya orang lain bersama mereka, peserta akan berpikir bahwa “akan ada orang lain yang melaporkan kejadian tersebut”, membuat mereka tidak yakin dan berkonflik dengan pemikiran mereka sendiri.

  2. Evaluation Apprehension: peserta tidak yakin untuk melaporkan karena berpikir bahwa mungkin kejadian tersebut bukanlah kejadian yang nyata karena takut saat melaporkan, mereka akan terlihat konyol karena hal tersebut bukanlah kondisi darurat yang nyata.

  3. Pluralistic Ignorance: peserta yang melihat atau merasa bahwa peserta lainnya tidak melakukan apa-apa akan ikutan berpikir bahwa melaporkan atau membantu tidak akan membuat perubahan apapun.


    Dalam eksperimen tersebut juga dijelaskan bahwa peserta yang gagal untuk melaporkan bukan berarti mereka tidak memiliki perasaan atau tidak peduli akan situasi tersebut. Setelah melalui evaluasi, peserta yang tidak melaporkan menunjukkan tanda-tanda cemas seperti berkeringat, gemetar, gugup, bahkan beberapa sempat hampir melaporkan, namun duduk kembali, bukan karena tidak peduli, tetapi tidak mampu untuk bertindak karena ketidakyakinan dan konflik batin.



Referensi

Darley, J. M. (n.d.). John M. Darley. Grokipedia. Retrieved March 7, 2026, from https://grokipedia.com/page/john_m_darley

GoodTherapy. (2015, July 20). Bibb Latané: Who they are and their contribution. https://www.goodtherapy.org/famous-psychologists/bibb-latane.html

Darley, J. M., & Latané, B. (1968). Bystander intervention in emergencies: diffusion of responsibility. Journal of personality and social psychology, 8(4), 377-383. https://doi.org/10.1037/h0025589


Sunday, February 22, 2026

Muzafer Sherif : The Robbers Cave Experiment

Edisi Februari 2026



Penulis : Yonatan Stevano Tedjolaksono & Michelle Dipa Revata

Biografi dan Temuan


            Muzafer Şerif Başoğlu, yang dikenal luas sebagai Muzafer Sherif (1906-1988), merupakan tokoh psikologi sosial modern Turki-Amerika yang lahir pada 29 Juli 1906 di Turki. Sherif meraih gelar sarjana dan master pertamanya di Istanbul University dan dilanjutkan dengan perolehan gelar master keduanya dari Harvard University pada tahun 1932. Setelahnya, ia juga menghadiri kuliah Wolfgang Köhler di Berlin dan sempat mengajar sebentar di Gazi Institute di Ankara, di mana ia memulai penelitian tentang pembentukan norma. Penelitian ini kemudian dijadikan disertasi doktoralnya yang berjudul “Some Social Factors in Perception” di Columbia University dan kemudian dikembangkan menjadi karya klasik berjudul The Psychology of Social Norms.


            Setelah memperoleh gelar PhD di tahun 1935, Sherif mengembangkan karier akademiknya dengan kembali menjadi asisten profesor di Gazi Institute pada tahun 1937. Tahun 1944, ia dipromosikan menjadi profesor dan mulai mengajar di Ankara University. Di sana, ia mendirikan laboratorium eksperimen kecil yang meneliti perihal social judgement, menerjemahkan beberapa karya psikologi ke bahasa Turki, dan melakukan studi tentang remaja serta skala penilaian pada masyarakat desa. Belum lama bergabung, tulisan Sherif yang berjudul Race Psychology dan artikel di jurnal Adimlar yang menentang doktrin rasial Nazi mengakibatkan dirinya terlibat konflik dengan pemerintah Turki yang dianggap bersikap pro-Nazi. Konflik ini membuat dirinya ditangkap dan dipenjara selama lebih dari empat bulan tanpa pengadilan, sebelum akhirnya dibebaskan berkat intervensi Departemen Luar Negeri AS. 


                Menolak tawaran rekonsiliasi dari pemerintah Turki, Sherif pindah ke AS dan meneruskan karier akademiknya sebagai profesor dan peneliti di beberapa universitas ternama, seperti Princeton University, Yale University, University of Oklahoma, hingga Pennsylvania State University sebelum akhirnya ia meninggal akibat serangan jantung pada 16 Oktober 1988 di Alaska dalam usia 82 tahun. Selama kehidupannya di AS, Sherif menghasilkan karya-karya penting yang ternama, seperti Social Judgement Theory, buku Social Judgement: Assimilation and Contrast Effects in Communication and Attitude Change, buku Group Conflict and Cooperation, dan Social Psychology. Sherif juga menghasilkan Realistic Conflict Theory (RCT) dari eksperimennya yang paling terkenal, yaitu Robbers Cave Experiment (1954).


Robbers Cave Experiment


            Robbers Cave Experiment, studi ini dilakukan oleh Muzafer Sherif dan rekannya pada tahun 1954. Robbers Cave Experiment merupakan studi klasik dalam psikologi sosial yang dirancang untuk menyelidiki penyebab konflik antar kelompok. Penelitian ini melibatkan 22 anak laki-laki berusia 11-12 tahun yang tidak saling mengenal, dikirim ke perkemahan musim panas di Taman Negara Bagian Robbers Cave, Oklahoma. Para peneliti membagi mereka secara acak ke dalam dua kelompok terpisah (Elang dan Ular Kobra) yang masing-masing tinggal di area berbeda, sehingga mereka tidak menyadari keberadaan kelompok lain. Pada fase pertama, setiap kelompok terlibat dalam aktivitas yang membangun ikatan dan struktur internal, seperti mendaki dan berenang bersama. Pada fase kedua, konflik sengaja diciptakan dengan mempertemukan kedua kelompok dalam serangkaian kompetisi yang hanya bisa dimenangkan oleh satu pihak. Akibatnya, permusuhan, stereotip negatif, dan prasangka antar kelompok muncul dengan cepat mereka mulai mengejek, menyerang bendera lawan, dan bahkan terlibat perkelahian fisik.


Hasil Temuan


            Temuan utama dari eksperimen ini melahirkan Teori Konflik Realistis (Realistic Conflict Theory), yang menyatakan bahwa konflik antar kelompok muncul ketika mereka bersaing memperebutkan sumber daya yang terbatas seperti ; piala, hadiah, atau pengakuan. Namun, bagian paling penting dari penelitian ini adalah fase ketiga, di mana Sherif berhasil menemukan solusi untuk meredakan konflik. Ia menemukan bahwa kontak sederhana atau sekadar mempertemukan kedua kelompok justru memperburuk situasi karena digunakan untuk saling menyerang. Solusinya terletak pada penciptaan tujuan superordinat (superordinate goals) yaitu tujuan bersama yang mendesak dan bernilai tinggi, namun tidak dapat dicapai oleh salah satu kelompok sendirian. Contohnya seperti ketika Sherif dengan sengaja membuat masalah pada pasokan air perkemahan, yang mengharuskan kedua kelompok bekerja sama untuk memperbaikinya. Insiden seperti ini secara bertahap menghilangkan ketegangan dan mendorong kerja sama, yang pada akhirnya mengarah pada berkurangnya permusuhan dan bahkan lahirnya persahabatan antar mantan rival.


Kesimpulan


Kesimpulan utama dari Robbers Cave Experiment adalah bahwa konflik antar kelompok tidak muncul dari perbedaan kepribadian atau latar belakang individu, melainkan dari kondisi struktural yang mempertemukan mereka dalam situasi kompetitif. Sebaliknya, perdamaian dapat dicapai bukan dengan menghilangkan perbedaan, melainkan dengan menciptakan situasi yang memaksa kelompok-kelompok yang bertikai untuk bekerja sama demi mencapai tujuan bersama yang lebih besar. Eksperimen ini menegaskan bahwa prasangka dan permusuhan dapat diciptakan dan juga dihapuskan melalui rekayasa situasi sosial, memberikan wawasan berharga bagi upaya resolusi konflik di dunia nyata.



Referensi:

Harvey, O. J. (1989). Muzafer Sherif (1906–1988). American Psychologist, 44(10), 1325–1326. https://doi.org/10.1037/h0091637

Sherif, M., Harvey, O. J., White, B. J., Hood, W. R., & Sherif, C. W. (1961). Intergroup conflict and cooperation: The Robbers Cave experiment. University of Oklahoma Book Exchange.




MARSHMALLOW TEST

  Edisi April 2026 Marshmallow Test sumber : https://www.facebook.com/drrozanizam/posts/marshmallow-experiment-apa-yang-setiap-ibu-bapa-perl...