
Sumber Ilustrasi: https://wibehavioralhealth.com/binge-eating-disorder-bed/
Prolog
Kita semua pasti pernah mengalami momen di mana kita makan jauh lebih banyak dari biasanya. Mulai dari merayakan momen spesial di restoran all you can eat, mencicipi berbagai makanan saat festival kuliner, hingga banyak makan saat sedang berkumpul dengan teman. Makan banyak adalah hal yang wajar dan manusiawi. Namun, apakah setiap orang yang makan dalam porsi besar selalu mengalami gangguan makan?
Tentu tidak. Ada batasan yang sangat jelas antara sekadar banyak makan dengan gangguan klinis. Pada situasi normal, kita makan banyak karena makanan tersebut lezat atau karena situasi sosial yang menyenangkan. Kita tetap memegang kendali penuh atas kapan harus berhenti mengunyah ketika perut sudah memberi sinyal kenyang. Namun, bayangkan jika kondisinya berbalik menjadi seperti ini:
Kamu ingin memakan sesuatu, tapi kamu memilih menghindar dari orang-orang sekitar dan pulang hanya untuk makan. Kamu membeli banyak sekali makanan secara impulsif. Di depanmu kini ada burger, kue, donat, dan ayam goreng. Makanan itu kamu makan sekaligus dengan sangat cepat. Padahal, kamu sudah merasa kenyang saat baru menghabiskan setengahnya. Namun, entah mengapa, kamu merasa kehilangan kontrol atas tangan dan mulutmu sendiri. Kamu merasa sangat bersalah, sedih, dan menyesal karena perilaku makanmu ini, tetapi kamu benar-benar tidak mampu untuk menghentikannya. Di saat yang sama, ada ketakutan besar jika orang lain sampai tahu seberapa banyak yang sudah kamu makan.
Apa yang sebenarnya kamu alami? Mengapa kamu merasa tidak bisa berhenti makan walau sudah kenyang? Dalam blog ini, kita akan membahas lebih lanjut mengenai gangguan psikologis yang memengaruhi pola makan ini.
Pengertian Binge Eating Disorder
Binge eating disorder atau yang biasa disingkat BED, merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengonsumsi makanan dalam jumlah besar dan tidak terkendali, serta sangat sulit untuk berhenti, hal ini dapat memicu distress psikologis (Brownley et al. 2016).
Binge eating disorder ini bukan hanya sekedar hobi makan banyak, melainkan merupakan gangguan psikologi resmi yang diakui dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Berbeda dengan seseorang yang mengalami bulimia nervosa, seseorang yang mengalami binge eating disorder tidak merespons rasa bersalah dengan mengeluarkan atau memuntahkan makanan secara sengaja, melainkan meresponsnya dengan tetap mencerna makanan tersebut, yang secara bertahap dapat berisiko memicu obesitas serta masalah kesehatan mental yang lebih kompleks.
Faktor Penyebab Binge Eating Disorder
Biologis
Studi tentang neurobiologis dan genetika menunjukkan bahwa penderita binge eating disorder memiliki kerentanan fisik dan genetika tertentu. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat gangguan makan atau gangguan emosi memiliki kecenderungan resiko yang lebih tinggi untuk mengalami kondisi serupa (Hudson et al, 2007).
Selain karena faktor genetik, binge eating disorder ini juga dipengaruhi oleh ketidakseimbangan neurotransmiter otak seperti dopamin dan serotonin. Dopamin dan serotonin ini mengatur kontrol impuls, mood, serta respons kenyang dan rasa puas. Ketidakseimbangan neurotransmiter tersebut dapat memicu seseorang pada perilaku makan yang berlebihan secara impulsif (Kessler et al, 2016).
Psikologis
Binge eating disorder berkaitan dengan disfungsi regulasi emosi dan pola pikir maladaptif. Seseorang yang memiliki binge eating disorder sering kali memakan makanan sebagai coping mechanism untuk meredakan emosi negatif yang dialami seperti stres kronis, cemas berlebihan, kesepian, hingga depresi. Selain itu, persepsi negatif terhadap diri sendiri juga dapat mendorong munculnya dorongan untuk binge eat (Leehr et al, 2015).
Lingkungan dan Sosial
Faktor lingkungan dan tempat dimana seseorang bertumbuh dan berinteraksi juga berdampak besar pada binge eating disorder. Tekanan sosial terkait standar kecantikan diri yang tidak realistis, narasi media sosial tentang bentuk tubuh ideal, body shaming oleh keluarga ataupun teman, serta pengalaman traumatik seperti bullying dan penolakan sosial juga dapat memicu seseorang untuk melakukan binge eating sebagai bentuk coping mechanism dari tekanan lingkungan sosialnya (Spoor et al, 2007).
Gejala Binge Eating Disorder
Mengacu dari DSM-5 TR, Binge Eating Disorder memiliki beberapa gejala sebagai berikut:
- Mengonsumsi makanan dalam jangka waktu tertentu (misalnya dalam periode waktu 2 jam) dengan jumlah yang lebih banyak daripada yang biasa dikonsumsi oleh kebanyakan orang dalam jangka waktu serupa.
- Merasakan perasaan hilang kendali selama periode makan berlangsung (misalnya: tidak mampu berhenti makan).
- Makan jauh lebih cepat dari biasanya.
- Makan hingga merasa kenyang yang menyebabkan rasa tidak nyaman.
- Mengonsumsi makanan dalam jumlah besar walau sedang tidak lapar.
- Sering kali makan sendirian karena merasa malu dengan jumlah makanan yang dikonsumsi.
- Merasa jijik pada diri sendiri, depresi atau merasa sangat bersalah setelah makan.
- Tindakan makan berlebihan yang dilakukan muncul setidaknya sekali dalam seminggu secara rata-rata selama tiga bulan.
Penanganan Binge Eating Disorder
Binge eating disorder juga dapat ditangani melalui terapi, berikut beberapa terapi yang dapat membantu seseorang yang mengalami binge eating disorder:
Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
CBT merupakan metode utama yang paling sering digunakan dan terbukti untuk menangani binge eating disorder. Melalui terapi ini, pasien akan dibimbing oleh terapis untuk menyadari pola pikir dan keyakinan negatif yang keliru mengenai makanan maupun bentuk tubuh. Pasien diajar mengenali hal-hal yang menjadi pemicu emosional timbulnya dorongan untuk melakukan binge eating, lalu mengubah cara merespons emosi tersebut dengan langkah yang lebih sehat. Terapi ini biasanya dilakukan sebanyak 12 sampai 20 sesi secara berkala (Fairburn et al, 2003).
Interpersonal Psychotherapy (IPT)
Fokus terapi IPT adalah perbaikan hubungan sosial pasien dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Terapi ini membantu pasien memetakan serta menyelesaikan masalah interpersonal (seperti konflik keluarga, kesulitan beradaptasi dengan peran baru, serta rasa terasing di lingkungan sosial) yang sering menjadi sumber tekanan emosional penderita. Dengan terapi ini, pasien dapat membangun support system yang kuat tanpa perlu melampiaskan stres pada makanan. (Wilfley et al, 2002).
Dialectical Behavior Therapy (DBT)
DBT adalah bentuk terapi yang dilakukan untuk seseorang yang mengalami tingkat kesulitan parah untuk mengendalikan emosi, serta cenderung melakukan perilaku impulsif yang destruktif. Terapi ini melatih pasien menggunakan teknik mindfulness, distress tolerance training, serta pengelolaan emosi. Pasien belajar untuk menerima emosi negatif yang hadir tanpa harus terdorong untuk melakukan binge eating. (Telch et al, 2001).
Kesimpulan
Binge Eating Disorder merupakan bentuk gangguan kesehatan mental yang memengaruhi pola makan seseorang. Kondisi ini terjadi ketika seseorang mengonsumsi dengan jumlah yang berlebihan dalam durasi waktu yang singkat, mereka cenderung merasa hilang kendali dan sulit mengendalikan perilaku makannya. Binge Eating Disorder dapat disebabkan karena faktor psikologis, biologis, lingkungan dan sosial. terdapat tiga terapi yang dapat digunakan dalam kasus Binge Eating Disorder yaitu Cognitive Behavioral Therapy (CBT), Interpersonal Psychotherapy (IPT), Dialectical Behavior Therapy (DBT).
REFERENSI
American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed., text rev.). American Psychiatric Association Publishing.
Brownley, K. A., Berkman, N. D., Peat, C. M., Lohr, K. N., Cullen, K. E., Bann, C. M., & Bulik, C. M. (2016). Binge-eating disorder in adults: A systematic review and meta-analysis. Annals of Internal Medicine, 165(6), 409–420. DOI: https://doi.org/10.7326/M15-2455
Hudson, J. I., Hiripi, E., Pope, H. G., Jr., & Kessler, R. C. (2007). The prevalence and correlates of eating disorders in the National Comorbidity Survey Replication. Biological Psychiatry, 61(3), 348–358. DOI: https://doi.org/10.1016/j.biopsych.2006.03.040
Macht, M. (2008). How emotions affect eating: A five-way model. Appetite, 50(1), 1–11. DOI: https://doi.org/10.1016/j.appet.2007.07.002
Wonderlich, S. A., Gordon, K. H., Mitchell, J. E., Crosby, R. D., & Engel, S. G. (2009). The validity and clinical utility of binge eating disorder. International Journal of Eating Disorders, 42(8), 687–705. DOI: https://doi.org/10.1002/eat.20719

