Friday, October 2, 2026

Post-Traumatic Stress Disorder

 Edisi September

Sumber Ilustrasi: Sumber Ilustrasi

Penulis: Austin Vinsen & Reyfan Setio

 

Prolog

Hari itu merupakan hari yang sangat spesial, hari di mana tahun akan berganti. Kembang api di mana-mana, suara orang bersorak ria dengan bebas. Terasa seperti perayaan biasa yang bernuansa bahagia bukan? Namun, perasaan bahagia tersebut seakan tidak merambat ke Dika. Pada waktu-waktu seperti ini, alih-alih merasa senang, Dika merasa ketakutan sekali. Ia merasa sangat ketakutan hingga jantungnya berdebar hebat, rasa tertekan luar biasa memenuhi kepala, dan keringat dingin membasahi tubuh. 

Namun mengapa? Disaat orang lain bersenang senang, ia merasa ketakutan setengah mati. Ternyata terungkap bahwa Dika merupakan mantan tentara yang pernah melalui kejamnya medan perang. Ledakan yang memekakkan telinga, suara tembakan, teriakan rekannya, semua hal itu memenuhi kepala Dika ketika ia mendengarkan suara ledakan kembang api. Ingatan buruk Dika kembali terpicu akibat  suara kembang api yang mirip dengan ledakan di medan perang, suara sorak orang-orang mirip dengan teriakan rekannya. Ia mengalami reka ulang di dalam kepala hingga memicu rasa takut yang sangat kuat, hingga untuk menarik satu tarikan nafas pun terasa berat. 

Apa yang dialami oleh Dika tentu sangat bertolak belakang dengan kebahagiaan yang sedang dirasakan, ketakutan ini disebut dengan Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD.


Pengenalan PTSD

Post-Traumatic Stress Disorder atau yang disingkat PTSD merupakan sindrom psikiatris yang umum terjadi dan biasanya dapat melumpuhkan, serta mampu untuk menyebabkan gangguan fungsional yang signifikan di berbagai ranah kehidupan. PTSD ini muncul dari respons terhadap trauma di mana dalam DSM-V trauma berarti sebuah situasi dimana individu terekspos terhadap ancaman kematian atau kematian yang sebenarnya, luka yang serius, atau kekerasan seksual. PTSD juga dapat dialami oleh individu yang menyaksikan kejadian traumatis tersebut terjadi kepada anggota keluarga atau teman terdekat sehingga PTSD tidak hanya terpaku pada kejadian traumatis yang dialami, tetapi juga kejadian traumatis yang disaksikan terjadi kepada kerabat terdekatnya.


Gejala PTSD

Rekoleksi Trauma

Salah satu kategori gejala yang paling umum muncul bagi individu dengan PTSD adalah rekoleksi mengenai trauma yang dihadapi. Gejala yang termasuk kedalam kategori ini adalah merasakan kilas balik mengenai kejadian traumatis, pikiran akan kejadian traumatis yang muncul secara tiba-tiba, hingga mimpi buruk akan kejadian tersebut.


Menjauhi Hal-hal

Mengikuti kategori sebelumnya, kategori gejala pada PTSD adalah kecenderungan untuk menghindari hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman traumatis. Gejala ini membuat individu dengan PTSD menghindari berbagai macam hal, mulai dari lokasi, situasi, bahkan orang dengan ciri tertentu yang dapat memicu rekoleksi trauma.


Meningkatnya Kegelisahan

Karena individu dengan PTSD sangat ketakutan dengan mengingat kembali pengalaman traumatis yang pernah dirasakannya, individu tersebut juga mengalami peningkatan kegelisahan dalam berbagai aspek. Kondisi ini mencakup permasalahan dalam berinteraksi dengan orang lain, kesulitan menunjukkan kasih sayang, kesulitan tidur, emosi yang tidak stabil dan ledakan emosi, hingga rasa cemas yang berlebihan yang membuat individu mudah terkejut. Gejala fisik yang dapat muncul dari rasa kegelisahan ini mencakup peningkatan tekanan darah dan denyut nadi, nafas cepat, ketegangan otot, mual, dan diare.


Kecenderungan Negatif 

Karena individu dengan PTSD masih sadar akan rasa gelisah terhadap pengalaman traumatis yang dilaluinya, individu cenderung menimbulkan kecenderungan berpikir negatif. Hal yang terkait dengan kecenderungan negatif ini adalah rasa bersalah hingga sifat permusuhan pada pengalaman traumatis tersebut. Pada anak-anak kecil dengan PTSD, mereka bisa saja mengalami keterlambatan perkembangan dalam aspek-aspek pelatihan seperti penggunaan toilet, keterampilan berbahasa, hingga kemampuan motorik.


Terapi yang Dapat Diterapkan

PTSD dapat juga ditangani melalui terapi, berikut beberapa terapi yang dapat membantu penderita PTSD:


Cognitive Behavioral Therapy (CBT)

CBT adalah psikoterapi yang mengkolaborasikan antara terapi perilaku dan terapi kognitif yang didasarkan pada asumsi bahwa perilaku manusia secara bersamaan dipengaruhi oleh pikiran, perasaan, proses fisiologis, serta konsekuensi perilaku. CBT terbukti mampu menangani PTSD secara efektif, bahkan turut membantu meredakan kondisi penyerta lainnya seperti depresi, rasa cemas, keterbatasan fungsi, hingga kecacatan yang menyertai. Umumnya, satu rangkaian CBT membutuhkan setidaknya 8 sampai 12 kali pertemuan yang dijadwalkan tiap minggu, dengan tiap pertemuan berlangsung sekitar 60 sampai 90 menit. Metode ini fleksibel dan bisa dijalankan baik secara berkelompok maupun secara personal, tergantung kebutuhan pasien. 

Melalui CBT, pasien diajak untuk menilai ulang cara berpikir dan asumsi-asumsi yang mereka yakini, sehingga bisa mengenali pola pikir yang keliru misalnya menggeneralisasi hal buruk secara berlebihan atau membiarkan pikiran negatif mendominasi hingga menutupi sisi positif. Dari sini, pasien perlahan diarahkan menuju cara berpikir yang lebih seimbang dan fungsional. Selain itu, terapi ini juga kerap memanfaatkan pemicu ingatan atau emosi seputar trauma untuk melatih pasien agar tidak lagi menghindar dan tidak membentuk asosiasi yang keliru terhadap peristiwa traumatis tersebut. Semua ini bermuara pada satu tujuan: mengembalikan rasa kendali, rasa percaya diri, serta kemampuan pasien memprediksi keadaan, sekaligus menekan kecenderungan untuk kabur atau menghindar. Tak kalah penting, kemampuan mengelola stres dan menyiapkan strategi menghadapi situasi krisis juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses terapi CBT.


Cognitive Processing Therapy (CPT)

Cognitive Processing Therapy (CPT) adalah jenis terapi perilaku kognitif spesifik yang efektif dalam mengurangi gejala PTSD yang telah berkembang setelah mengalami berbagai peristiwa traumatis. CPT dilakukan selama 12 sesi, sehingga pengobatan berlangsung sekitar 3 bulan dengan setiap sesi berlangsung selama 60-90 menit. Resiko dari CPT adalah ketidaknyamanan ringan hingga sedang ketika berbicara atau menulis tentang ingatan atau keyakinan terkait trauma. CPT dapat dilakukan secara individual ataupun  kelompok yang berisi 6-10 orang. Temuan meta-analitik menunjukkan bahwa CPT adalah pengobatan PTSD yang efektif dengan manfaat jangka panjang di berbagai hasil.


Prolonged Exposure (PE)

Prolonged exposure (PE) adalah strategi intervensi yang digunakan dalam terapi perilaku kognitif untuk membantu individu menghadapi ketakutan. Terapi perilaku kognitif ini mengajarkan individu untuk secara bertahap mendekati ingatan, perasaan, dan situasi terkait trauma. PE biasanya memakan waktu 8-15 sesi mingguan, sehingga pengobatan berlangsung sekitar 3 bulan dengan masing-masing sesi berlangsung 1,5 jam dan dilakukan secara individual. Protokol PE berisi komponen berikut: 

  1. Psikoedukasi mengenai alasan pengobatan dan reaksi umum terhadap trauma;

  2. Latihan pernapasan sebagai suatu bentuk relaksasi; 

  3. Paparan in vivo, atau pendekatan menghindari aktivitas, situasi, atau tempat yang terkait dengan trauma tetapi secara objektif aman;

  4. Paparan imaginal, atau pengulangan ingatan traumatis.


Brief Electic Psychotherapy (BEP)

Brief Eclectic Psychotherapy (BEP) menggabungkan pendekatan kognitif-perilaku dan psikodinamik yang terdiri dari psikoedukasi, eksposur imajiner, tugas menulis dan restrukturisasi kognitif. Psikoedukasi dilakukan bersama sama dengan pasien dan keluarganya. Paparan, tugas menulis terstruktur, dan objek kenangan digunakan untuk membantu pasien mengakses, merasakan, dan mengekspresikan emosi yang ditekan terkait dengan pengalaman traumatis. Pada tahap domain makna, pasien akan belajar bagaimana mereka dan pandangan mereka tentang dunia telah berubah. BEP terdiri dari 16 sesi yang di laksanakan setiap minggu dan setiap sesi berdurasi sekitar 45-60 menit.


Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR)

Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR) adalah terapi bicara yang dikembangkan untuk pengobatan keadaan pasca trauma termasuk PTSD. Selama EMDR pasien diinstruksikan untuk memikirkan peristiwa traumatis sambil secara bersamaan melihat jari terapis (yang digerakkan dari sisi ke sisi) dengan mata mereka. Stimulasi otak dari kedua sisi yang dihasilkan diperkirakan mengaktifkan jalur pemrosesan informasi otak, memungkinkan asosiasi yang lebih adaptif. Seiring waktu, pasien menjadi tidak peka terhadap trauma, membiarkan gejala mereka hilang, dan fungsi mereka dalam kehidupan meningkat. EMDR telah terbukti menjadi pengobatan yang efektif untuk mengurangi emosi dan gairah negatif. Selain itu, uji coba baru-baru ini telah menetapkan bahwa EMDR memiliki peran efektif dalam mengurangi kecemasan dan depresi pada pasien PTSD. Berdasarkan penelitian, EMDR lebih baik daripada CBT dalam mengurangi gejala dan kecemasan pasca-trauma.


Narrative Exposure Therapy (NET)

Narrative Exposure Therapy (NET) adalah terapi perilaku kognitif jangka pendek untuk gangguan psikologis terkait trauma. NET bertujuan untuk mengurangi gejala PTSD melalui dua mekanisme alternatif yaitu paparan kenangan traumatis dan pembiasaan berikutnya dari respons emosional terkait serta rekonstruksi memori otobiografi dan narasi yang konsisten. Sebuah meta analisis menunjukkan bahwa NET efektif dalam mengurangi gejala PTSD dan depresi di berbagai populasi pengungsi yang sebagian besar terkena dampak perang. Hasil pengobatan lebih baik untuk orang dewasa yang lebih tua. NET dilakukan 1-2 kali seminggu selama 3-17 minggu dengan durasi 60-120 menit setiap sesi.


REFERENSI

Thakur, A., Choudhary, D., Kumar, B., & Chaudhary, A. (2022). A review on post-traumatic stress disorder (PTSD): Symptoms, therapies and recent case studies. Current Molecular Pharmacology, 15(3), 502 516. https://doi.org/10.2174/1874467214666210525160944

Miao, X. R., Chen, Q. B., Wei, K., Tao, K. M., & Lu, Z. J. (2018). Posttraumatic stress disorder: from diagnosis to prevention. Military Medical Research, 5(1), 32.

Sagita, P., Apriliana, E., Mussabiq, S., & Soleha, T. U. (2023). Intervensi Psikologis dan Farmakologis Pada Gangguan Stres Pasca Trauma. Medical Profession Journal of Lampung, 13(4), 594-599.

Monday, September 7, 2026

DEPRESI

Edisi September 2026

Penulis: Austin Vinsen & Reyfan Setio


Pengenalan Depresi

Bayangkan dirimu bangun dari lelap tidur, namun alih-alih merasa segar, dirimu merasa lemas, tidak bersemangat dan bahkan merasa sedih. Dunia terasa tak lagi memiliki tujuan bagimu. Waktu kian berlalu namun dirimu tidak kunjung merasa membaik. kira-kira seperti itulah yang dirasakan oleh individu penderita depresi, mereka menjalani dunia dengan beban mental yang kian membelenggu.

Depresi merupakan sebuah gangguan mental yang mempengaruhi kesehatan mental, emosi dan fisik. Depresi mempengaruhi cara seseorang berpikir hingga bagaimana mereka menjalani aktivitas sehari-harinya. Depresi dapat dikenal dari kesedihan yang tak kunjung berhenti, hilangnya harapan untuk melanjutkan kehidupan dan hilangnya minat serta ketertarikan terhadap hal yang disukai sebelumnya.


Faktor Penyebab

Biologis

Studi menyatakan bahwa seseorang yang memiliki keluarga atau kerabat dekat yang mengidap depresi, cenderung akan ikut mengembangkan kondisi depresi tersebut. Studi tentang kembar menunjukkan bahwa pewarisan depresi sekitar 40-50%, menekankan pentingnya faktor genetik pada pemicu depresi. Faktor hormonal yang abnormal juga memiliki peran besar yang menjadi pemicu dari depresi. Individu pengidap depresi secara berkala menderita Gangguan sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA). HPA berfungsi sebagai pengatur respon terhadap stress. 

Psikologis

    Menurut Aaron Beck, faktor penyebab depresi dapat dilihat melalui triad kognitif: pandangan negatif terhadap diri sendiri, terhadap dunia, dan terhadap masa depan. Alasan mengapa hal tersebut menjadi sumber penyebab depresi adalah karena pandangan-pandangan negatif tersebut akan menjalar ke cara berpikir seseorang dan memberikan perasaan putus asa dan ketidakberdayaan yang akan mengulang kembali siklus pemikiran depresif. Teori learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari) oleh Martin Seligman mendukung pernyataan tersebut, dimana individu yang hidup di lingkungan negatif yang tidak dapat dikontrol mengajarkan ketidakberdayaan pada individu tersebut, membuat mereka berpikir bahwa mereka pun tidak dapat mengontrol masa depan atau bahkan dirinya pada saat ini.

    Beberapa trait kepribadian juga dapat meningkatkan resiko munculnya depresi, seperti neuroticism yang tinggi, sifat perfeksionisme yang berlebih, hingga individu yang cenderung lebih tertutup dengan introversion yang tinggi.

    Pengalaman hidup di masa kecil juga sangat berkontribusi dalam pengembangan depresi, terutama jika pengalaman hidup tersebut melibatkan trauma, stres kronis, kekerasan dalam bentuk apapun, penelantaran, hingga kematian orang tua. Memasuki remaja hingga dewasa, jika coping mechanism yang tidak sehat digunakan untuk mengatasi stres seperti menahan emosi hingga tidak merasakannya atau menjadi terlalu was-was, hal tersebut juga meningkatkan resiko terbentuknya depresi di masa depan.

Lingkungan dan sosial

    Faktor sosial dan ekonomi secara signifikan menjadi faktor yang berkontribusi kepada pengembangan dan persistensi dari depresi. seseorang yang menghadapi kesulitan ekonomi seperti pengangguran, kemiskinan, atau ketidak stabilan ekonomi, sering kali mengalami stres kronis, kecemasan, dan putus asa. hal-hal tersebut dapat menjadi pemantik bagi gejala depresi. Studi menunjukkan status sosial dan ekonomi rendah memiliki hubungan dengan prevalensi depresi, menyoroti kebutuhan untuk melakukan intervensi secara sistematis yang mengatasi ketimpangan ekonomi sebagai bagian dari penanganan kesehatan mental yang komprehensif

    Konflik di antara keluarga, hubungan romantis, atau pertemanan dapat memicu perasaan tertolak, kesepian, dan tekanan emosional. rusaknya hubungan yang penting, seperti perceraian, perpisahan atau kehilangan orang tersayang, dapat menjadi pemicu perasaan berduka dan depresi. Hubungan yang kasar, merupakan satu kesatuan pengalaman dari emosional, fisik, atau bahkan kekerasan psikologis, yang dapat mengikis rasa aman dan harga diri, yang membuat seseorang lebih rentan terhadap depresi. Isolasi sosial dapat menjadi faktor langsung maupun tak langsung, disebabkan oleh beberapa situasi seperti tinggal sendiri, disabilitas, masa pensiun atau putusnya kontak akibat dari perubahan kehidupan, atau perpindahan tempat tinggal. Pandemi Covid-19 dengan pembatasan sosial dan lockdownnya memperparah isu ini dan meningkatkan prevalensi depresi secara global.


Gejala dan Dampak

Gejala

Depresi secara utama digambarkan oleh gejala emosional dan psikologis yang mempengaruhi kondisi mental secara mendalam. Gejala tersebut melibatkan perasaan sedih, keputusasaan, dan kekosongan yang tak kunjung berhenti bahkan melalui pengalaman positif. Individu juga dapat mengalami kondisi yang disebut anhedonia, dimana mereka akan kehilangan minat atau ketertarikan pada hal-hal yang disukai sebelumnya.

    Selain itu, gejala yang dapat muncul biasanya berupa perasaan tidak berharga, rasa bersalah, hingga rasa menyalahkan diri sendiri dapat muncul bahkan jika individu tersebut tidak melakukan kesalahan apapun. Rasa cemas yang muncul dari depresi biasanya berupa rasa khawatir yang berlebih, gelisah, hingga perasaan bahwa semua akan berakhir.

    Gejala kognitif dari depresi seperti kesulitan konsentrasi, kesulitan membuat keputusan dan kesulitan mengingat juga umum terjadi dan gejala tersebut dapat berujung pada pemikiran terhadap kematian, hingga motivasi dan percobaan untuk mengakhiri hidup diri sendiri.

Dampak

    Dampak somatik yang biasanya muncul dari depresi adalah keluhan seperti kelelahan kronis, energi rendah, gangguan pada jadwal tidur seperti insomnia dan hipersomnia. Gangguan pada nafsu makan juga umum terjadi yang dapat berujung pada berat badan yang sangat kurang atau sangat berlebih, tergantung pada pengalaman individu antara kehilangan nafsu makan sepenuhnya atau mengidam makanan yang dapat menenangkan suasana hati. Dampak fisik yang muncul akibat stres dan depresi biasanya berupa sakit kepala, pegal otot, hingga masalah pencernaan. Hasil dari gejala-gejala tersebut akhirnya akan berujung pada kesulitan untuk menjaga diri, kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari hingga tanggung jawab sekolah atau kantor.

    Dalam hubungan dekat dengan sesama, depresi dapat menjadi tantangan yang berat karena komunikasi yang menjadi sulit, berkurangnya keintiman fisik, dan meningkatnya ketergantungan terhadap pasangan sebagai mental support yang berlebih dan tidak sehat.


Psikoterapi dan konseling

    CBT (Cognitive Behavorial Therapy) merupakan salah satu metode psikoterapi untuk depresi yang paling banyak diteliti dan didukung secara empiris. Terapi jenis ini berfokus pada identifikasi dan mengubah pola pikir negatif, yang sering kali otomatis dan mengakar, lalu mengubah pikiran tersebut menjadi pikiran yang lebih stabil dan realistis. Dalam terapi CBT, pasien bersama dengan terapis melakukan eksplorasi  koneksi antara pikiran, emosi dan perilaku. Melalui berbagai teknik, seperti rekonstruksi kognitif, pasien belajar untuk mengenal distorsi kognitif, seperti membesar-besarkan dampak negatif, generalisasi berlebihan, dan pola pikir semua atau tidak sama sekali. Dengan secara bertahap meningkatkan interaksi di aktivitas yang menyenangkan dan bermakna, pasien dapat menghentikan siklus buruk dan dapat mengalami perasaan senang karena berhasil mencapai sesuatu dan penguatan positif

    Interpersonal Therapy (IPT) merupakan terapi lain yang berbasis bukti, dan telah terbukti efektif untuk menangani depresi. Terapi ini berfokus pada mengidentifikasi dan menyelesaikan isu interpersonal yang mungkin saja berkontribusi kepada gejala depresif, seperti duka yang belum terselesaikan, transisi peran, konflik peran dan defisit interpersonal. Proses terapeutik dalam IPT melibatkan penelusuran interaksi interpersonal dan pola komunikasi pasien, identifikasi aspek-aspek yang mungkin berkontribusi terhadap gejala depresi, serta upaya kolaboratif untuk mengembangkan cara-cara yang lebih efektif dan memuaskan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Terapis memberikan panduan, umpan balik, dan dukungan saat pasien berupaya mengatasi masalah-masalah tersebut, dengan tujuan mengurangi gejala depresi dan meningkatkan fungsi diri secara keseluruhan. Fokus IPT pada hubungan interpersonal menjadikannya sangat efektif bagi individu yang depresinya sangat berkaitan dengan kesulitan sosial atau relasional. Terapi ini membantu pasien membangun hubungan yang lebih kuat dan suportif, yang dapat berfungsi sebagai pelindung terhadap episode depresi di masa mendatang. 

    Mindfulness-Based Cognitive Treatment (MBCT) adalah pendekatan lain yang menggabungkan teknik dengan terapi kognitif tradisional. MBCT mengajarkan pasien untuk mengubah cara mereka menyikapi pikiran mereka dengan cara lebih menyadari sensasi dan gagasan yang muncul pada saat ini, tanpa memberikan penilaian.

    Dialectical Behaviour Therapy (DBT) dapat membantu individu yang mengalami disregulasi emosi dan perilaku merusak diri saat mereka sedang mengalami depresi. Terapi ini mengajarkan pasien cara mengendalikan emosi, memperkuat hubungan, dan mengurangi perilaku melukai diri sendiri dengan memadukan teknik kognitif-perilaku serta praktik mindfulness dan penerimaan. Terakhir, tujuan dari terapi humanistik yang mencakup teknik seperti terapi Gestalt dan terapi yang berpusat pada individu adalah membantu pasien mencapai potensi penuh mereka serta mengembangkan ciri-ciri kepribadian mereka yang khas.


Intervensi Gaya Hidup

  Depresi dapat dicegah dengan gaya hidup yang sehat. Olahraga dipercaya dapat membantu mengurangi gejala depresi dengan memproduksi lebih banyak neurotransmitter seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin yang berperan penting dalam regulasi mood. Selain meningkatkan hormon tersebut, aktivitas fisik juga membantu individu untuk mengalihkan pikiran-pikiran negatif tersebut untuk merusak siklus depresi yang terjadi.

    Pola makan dan diet juga sangat berpengaruh pada pencegahan depresi, dimana whole foods seperti buah-buahan, sayuran, dan daging tanpa lemak memberikan nutrisi yang meningkatkan kesehatan otak dan kinerja kognitif. Makanan yang mengandung asam lemak omega 3 dan vitamin B (B6, B9, B12) akan sangat membantu karena nutrisi tersebut membantu menjaga kesehatan otak dan meningkatkan produksi neurotransmitter.    

  Menjaga pola tidur yang sehat juga penting dalam mencegah depresi. Dengan mengurangi waktu penggunaan layar gawai, menciptakan suasana dan ruang tidur yang nyaman, hingga aktivitas relaksasi sebelum tidur seperti membaca buku, mandi dengan air hangat, individu dapat meminimalisir ketidakseimbangan kortisol dan melatonin yang juga membantu meregulasi stres dan emosi.

    Ada juga meditasi dan mindfulness yang dapat membantu individu mengurangi dampak negatif dari pikiran dan emosi negatif dari pola pikir yang diketahui sebagai ruminasi. Mindfulness mengajarkan cara individu melihat aspek dirinya secara objektif tanpa membuat mereka terperangkap dalam aspek-aspek tersebut.


Referensi

Dr. Navinder Singh, Hemlata, Lalit Sharma, Rajnikant Yadav, & Anoop. (2024). THE MULTIFACETED BURDEN OF DEPRESSION: EXPLORING CAUSES, SYMPTOMS, AND TREATMENTS. Journal of Population Therapeutics and Clinical Pharmacology, 31(9), 346-368. 

 

Tuesday, August 25, 2026

Skizofrenia

 Edisi Agustus 2026

Penulis: Austin Vinsen & Reyfan Setio


Pengenalan Skizofrenia

Bisakah kalian membayangkan jika imajinasi dan halusinasi kalian terasa sangat nyata sehingga hal tersebut menjadi sangat mengganggu kehidupan sehari-hari kalian? Kurang lebih itulah yang dirasakan oleh orang yang memiliki skizofrenia. Skizofrenia adalah kondisi medis yang termasuk dalam kategori gangguan jiwa berat (SMI) di mana kondisi tersebut dapat mengubah dan mengganggu cara berpikir, emosi, dan perilaku seseorang sehingga sulit menjalani aktivitas sehari-hari. Skizofrenia juga merupakan sebuah sindrom, yang berarti kondisi medis yang terbentuk dari kumpulan gejala yang telah dikategorikan, gejala-gejala tersebut adalah gejala positif, negatif, dan kognitif.


Gejala Skizofrenia

Gejala Positif

Dalam kondisi medis, secara khusus yang meliputi gangguan mental, gejala positif menggambarkan perilaku, pikiran, atau persepsi abnormal yang "ditambahkan" atau muncul secara berlebihan pada diri seseorang. Dalam skizofrenia, gejala positif yang termasuk adalah delusi dan halusinasi, di mana orang yang memiliki skizofrenia tidak dapat membedakan apa yang nyata dan apa yang hanya terjadi di pikirannya. Sebagai contoh, jika isi pikiran penderita skizofrenia merasa seperti sedang dikejar oleh sesuatu, maka itu akan benar-benar dirasakan seakan menjadi kejadian yang nyata di mana orang tersebut merasa dikejar oleh sesuatu atau seseorang, bahkan jika tidak ada apa-apa yang terjadi secara nyata.

Gejala Negatif

Gejala negatif meliputi aspek-aspek yang seharusnya ada pada orang sehat pada umumnya, namun menjadi hilang atau berkurang. Pada skizofrenia, gejala tersebut adalah anhedonia, alogia, avolisi, dan social withdrawal.

Gejala Kognitif

Gejala kognitif pada skizofrenia meliputi berkurangnya kecepatan proses otak, kemampuan visuospatial dalam belajar, waktu atensi, pengenalan wajah, hingga fleksibilitas kognitif.


Faktor Penyebab Skizofrenia

Skizofrenia tidak serta merta hadir, terdapat faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab gangguan skizofrenia. berikut di antaranya:

  1. Pewarisan Gen

    Skizofrenia memiliki risiko yang tinggi untuk diturunkan melalui genetik. Hal ini berarti skizofrenia sangat mungkin untuk diturunkan ke keturunan mendatang. 

  1. Lingkungan

    Lingkungan seperti pengalaman buruk di masa kanak-kanak, penggunaan dan penyalahgunaan zat, status minoritas, kondisi lingkungan di perkotaan juga dapat menjadi faktor yang berperan dalam spektrum skizofrenia. 


Contoh Kasus Skizofrenia

Pada tanggal 7 Maret 2024 di Bekasi Utara terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu (inisial SNF) kepada anak kandungnya sendiri. Pembunuhan ini terungkap setelah suami dari SNF yang berinisial MAS meminta saksi yang berinisial NA untuk mengecek situasi anak dan istrinya di kontrakan yang berada di Bekasi Utara. NA diminta untuk mengecek situasi karena pada saat itu MAS sedang berada di Medan, Sumatera Utara karena kepentingan kerja. Pada saat NA sampai di kontrakan, ia mendapati korban telah terbaring di kasur dalam kondisi tak bernyawa. MAS memberikan keterangan bahwa SNF telah “berperilaku aneh” dalam 2 bulan terakhir.

Polisi kemudian menangkap SNF dan melakukan pemeriksaan. Dalam proses pemeriksaan, SNF berkata bahwa ia mengalami halusinasi dan mendengar “bisikan gaib”. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh psikiater, terungkap bahwa SNF mengalami gangguan skizofrenia. 

Dari kasus yang telah dipaparkan rasanya dapat disepakati bahwa skizofrenia merupakan kasus gangguan kejiwaan yang bisa menjadi sangat berbahaya apabila tidak ditangani dengan benar.



REFERENSI

News, B. B. C. (2024, Maret 11). Kasus ibu bunuh anak kandung di Bekasi karena "bisikan gaib" terindikasi skizofrenia - "Cerminan kegagalan deteksi dini kasus gangguan jiwa". BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/articles/c51w0zn1xeyo

Orsolini, L., Pompili, S., & Volpe, U. (2022). Schizophrenia: A Narrative Review of Etiopathogenetic, Diagnostic and Treatment Aspects. Journal of Clinical Medicine, 11(17), 5040. https://doi.org/10.3390/jcm11175040 

Ali, N. A. M., Yusof, F., & Aziz, S. (2019). Faktor-faktor penyebab penyakit skizofrenia: satu kajian kes. Jurnal Sains Sosial, 4(1), 68-79.


Saturday, May 30, 2026

Philip Zimbardo - Stanford Prison Experiment

Edisi Mei 2026

PHILIP ZIMBARDO - STANFORD PRISON EXPERIMENT


                                                Sumber: Foto

Penulis: Gabriel Tiara C. K & Michelle Dipa Revata

PENJELASAN TOKOH

    Philip Zimbardo adalah seorang psikolog sosial terkenal asal Amerika Serikat yang lahir pada 23 Maret 1933 di New York City. Ia tumbuh dalam keluarga Sisilia-Amerika di kawasan South Bronx, lingkungan yang penuh dengan persoalan sosial seperti kemiskinan, kejahatan, dan diskriminasi rasial. Pengalaman hidup tersebut membentuk ketertarikannya terhadap perilaku manusia dan dinamika sosial dalam kehidupan sehari-hari. Zimbardo meninggal dunia dengan tenang pada 14 Oktober 2024 di usia 91 tahun di rumahnya di San Francisco, dikelilingi oleh keluarganya.

    Dalam bidang pendidikan, Zimbardo meraih gelar BA dari Brooklyn College pada tahun 1954 dengan tiga bidang studi sekaligus, yaitu psikologi, sosiologi, dan antropologi. Ia kemudian melanjutkan studinya di Universitas Yale dan memperoleh gelar MS pada tahun 1955 serta PhD dalam bidang psikologi pada tahun 1959. Karier akademiknya dimulai sebagai pengajar di New York University pada tahun 1960 hingga 1967, lalu berlanjut di Columbia University pada tahun 1967. Pada tahun 1968, ia bergabung dengan Stanford University dan mengabdi di sana selama lebih dari empat dekade sebagai profesor psikologi. Zimbardo dikenal memiliki semangat “giving psychology away”, yaitu upaya untuk membuat ilmu psikologi lebih mudah dipahami dan dapat diakses oleh masyarakat luas, baik di lingkungan akademik maupun umum. Karena kedekatan dan pengaruhnya terhadap mahasiswa di berbagai negara, ia sering dijuluki “Uncle Phil.”

    Sepanjang kariernya, Zimbardo menerima berbagai penghargaan atas kontribusinya dalam penelitian, pengajaran, dan pengembangan psikologi sosial. Ia juga pernah menjabat sebagai Presiden American Psychological Association (APA) dan menjadi profesor emeritus psikologi di Stanford University. Dalam kehidupan pribadinya, Zimbardo hidup bersama istrinya, Christina Maslach Zimbardo, seorang profesor emerita psikologi dan mantan wakil provost di UC Berkeley, selama 52 tahun. Ia juga meninggalkan anak-anak serta cucu-cucunya.

    Salah satu kutipan terkenal dari Philip Zimbardo adalah, “The line between good and evil is permeable and almost anyone can be induced to cross it when pressured by situational forces,” yang menggambarkan pandangannya bahwa perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh situasi dan tekanan sosial di sekitarnya.

EKSPERIMEN DAN KRITIK 

     Pada tahun 1971, Philip Zimbardo melakukan salah satu eksperimen paling terkenal yang juga sekaligus kontroversial dalam psikologi sosial. Eksperimen ini bertujuan untuk memahami apakah kekerasan di penjara berasal dari sifat sadistik individu atau struktur kekuasaan dan kondisi sosial yang terbentuk di dalam penjara. Dalam pelaksanaan eksperimen ini, Zimbardo merekrut 24 mahasiswa laki-laki yang sehat baik secara fisik juga stabil secara emosional yang kemudian dibagi secara acak untuk menjalani peran sebagai “penjaga” dan “narapidana”. Sesuai namanya, simulasi dilakukan di basement Departemen Psikologi Stanford. Awalnya, narapidana ditangkap di rumah oleh polisi sungguhan, diproses, diberi seragam yang bernomor, kemudian dirantai di pergelangan kaki. Para penjaga diberikan seragam berwarna coklat khaki, kacamata hitam reflektif, serta diinstruksikan untuk menjaga ketertiban tanpa kekerasan fisik.


    Eksperimen diawali dengan suasana yang relatif tenang, namun tidak lama kemudian, ketegangan mulai muncul dalam eksperimen. Narapidana mulai memberontak pada hari kedua, dan penjaga menekan mereka dengan hukuman fisik maupun psikologis, seperti penggunaan gas pemadam, isolasi, serta tugas-tugas merendahkan. Dalam beberapa hari, perilaku penjaga berubah menjadi otoriter dan sadis, sementara narapidana menjadi patuh, pasif, bahkan mengalami gangguan emosional berat. Beberapa narapidana mengalami breakdown dalam waktu kurang dari 36 jam. Eksperimen yang direncanakan berlangsung dua minggu akhirnya dihentikan setelah enam hari, terutama setelah Christina Maslach, seorang pengamat luar, mengecam perlakuan kejam yang terjadi. 


HASIL EKSPERIMEN

    Eksperimen Penjara Stanford menemukan bahwa perilaku kejam secara utama ternyata bukanlah hasil dari sifat bawaan individu, melainkan dari situasi sosial dan struktur kekuasaan yang menekan. Zimbardo menekankan bahwa situational forces lebih kuat daripada disposisi pribadi dalam pembentukan perilaku. Konsep-konsep seperti deindividuasi (hilangnya identitas pribadi akibat seragam dan peran), learned helplessness (narapidana menyerah karena merasa tidak berdaya), serta kesesuaian dengan temuan Milgram tentang kepatuhan terhadap otoritas menjadi bagian dari teori yang lahir dari eksperimen ini. 


    Meski begitu terkenal, eksperimen ini juga menimbulkan kritik besar terkait etika pelaksanaannya. Eksperimen ini memiliki beberapa dampak buruk, seperti peserta mengalami gangguan emosional serius, situasi yang bereskalasi membuat peserta menjadi tidak bisa keluar dari eksperimen, hingga Zimbardo sendiri menjadi kehilangan objektivitas karena berperan ganda sebagai peneliti sekaligus “superintendent.” Beberapa peneliti kemudian menuduh bahwa perilaku penjaga diarahkan agar sesuai dengan hipotesis. Meski demikian, eksperimen ini tetap menjadi tonggak penting dalam psikologi sosial, memicu reformasi etika penelitian, dan masih diajarkan sebagai peringatan tentang bagaimana kekuasaan dan struktur sosial dapat mengubah orang biasa menjadi pelaku kejam atau korban pasif. Zimbardo sendiri kemudian melanjutkan penelitian tentang shyness, bystander effect, dan mendirikan Heroic Imagination Project untuk mendorong perilaku heroik sebagai antitesis dari temuan kelam eksperimen penjara Stanford.


REFERENSI

American Psychological Association. (n.d.). Philip G. Zimbardo: 2002 APA president. https://www.apa.org/about/governance/president/bio-philip-zimbardo 

Encyclopaedia Britannica. (n.d.). Stanford Prison Experiment. In Britannica. Retrieved May 20, 2026, from https://www.britannica.com/event/Stanford-Prison-Experiment 

GoodTherapy. (2015, July 22). Philip Zimbardo biography: Who they are and their contribution. https://www.goodtherapy.org/famous-psychologists/philip-zimbardo.html 

McLeod, S. (2023). Stanford prison experiment. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/zimbardo.html 

Social Psychology Network. (n.d.). Philip G. Zimbardo. https://zimbardo.socialpsychology.org/

Stanford News. (2024, October 10). Philip Zimbardo, the psychologist behind Stanford Prison Experiment, dies at age 91. Stanford University. https://news.stanford.edu/stories/2024/10/philip-zimbardo-the-psychologist-behind-stanford-prison-experiment-dies-at-age-91  

Totally History. (2014, January 31). Philip Zimbardo biography: Life of American psychologist. https://totallyhistory.com/philip-zimbardo/ 

Wikipedia. (n.d.). Philip Zimbardo. https://en.wikipedia.org/wiki/Philip_Zimbardo 

Yale News. (2024, October 21). Philip Zimbardo, beloved educator who became a 'public face' of psychology. Yale University. https://news.yale.edu/2024/10/21/philip-zimbardo-beloved-educator-who-became-public-face-psychology 

Zimbardo, P. G. (n.d.). Biography. Philip Zimbardo Official Website. https://www.zimbardo.com/biography/ 

Zimbardo, P. G. (n.d.). Home page. https://philipzimbardo.com/ 

Zimbardo, P. G. (n.d.). Life and legacy of psychologist Philip Zimbardo. https://www.zimbardo.com/life-and-legacy-of-psychologist-philip-zimbardo/


Sunday, May 3, 2026

Loftus and Palmer: Car Crash Experiment

Edisi Mei 2026

Sumber: Sumber Foto

Penulis: Austin Vinsen dan Reyfan Setio


Pengenalan Tokoh

    Elizabeth F. Loftus merupakan salah satu psikolog kognitif dari Amerika Serikat yang dikenal dengan risetnya mengenai memori manusia. Loftus mendapat gelar Ph.D. di bidang psikologi di Stanford University dan telah merilis lebih dari 20 buku dan 600 artikel ilmiah, pada saat ini Loftus masih bekerja sebagai profesor di University of California dalam ilmu psikologi, hukum, dan kriminologi.

    John C. Palmer yang berkolaborasi dengan Loftus dalam Car crash experiment juga merupakan seorang psikolog dan parapsikolog Amerika yang dikenal dengan penelitiannya seperti studi out-of-body, efek Ganzfeld, dan automatisme dalam psikologi. Palmer mendapat gelar Ph.D. di bidang mainstream psychology di University of Texas dan kembali ke Parapsikologi di tahun 1970 di Rhine’s Foundation for Research on the Nature of Man (sekarang bernama Rhine Research Center). Palmer menjabat sebagai ketua Parapsychological Association di tahun 1979 dan lagi di tahun 1992 dan juga mantan direktur penelitian di Rhine Research Center dan menjabat sebagai editor jurnal parapsikologi dari tahun 1994 hingga 2017.


Eksperimen Pertama: Eksperimen Estimasi Kecepatan Melalui Kata Kerja


Prosedur: 

     Sebanyak 45 mahasiswa amerika yang berasal dari Universitas Washington dipilih secara acak untuk menjadi partisipan. Penelitian ini dilakukan di laboratorium dengan lima kondisi yang berbeda, setiap peserta hanya akan mengalami satu kondisi saja.

Masing-masing peserta ditunjukkan tujuh film pendek mengenai kecelakaan lalu lintas.  video tersebut diambil dari video pendidikan pengemudi dan pelatihan polisi. Klip video yang ditunjukkan kepada para peserta berdurasi antara lima hingga tiga puluh detik, beberapa adegan merupakan rekayasa kecelakaan yang difilmkan pada kecepatan sebenarnya yaitu 20, 30, atau 40 mph. ‘

Setiap kelompok menonton klip film yang disediakan dalam urutan yang berbeda, agar dapat terhindar dari efek urutan. Setiap sesi berlangsung dengan durasi sekitar 90 menit. Setelah menonton setiap film, peserta memberi penjelasan bebas mengenai hal yang telah mereka saksikan, dan kemudian menjawab pertanyaan penting.

 “Kira-Kira, berapa kecepatan mobil-mobil itu melaju ketika mereka (Menghantam/bertabrakan/berbenturan/bersentuhan/bersenggolan) satu sama lain?

Dengan demikian, kata kerja dari pertanyaan menjadi variabel independen dan kecepatan yang dilaporkan peserta menjadi variabel dependen.


Temuan: 

    Kecepatan yang diperkirakan sangat dipengaruhi oleh kata kerja yang digunakan dalam pertanyaan. Kata kerja tersebut  menyiratkan informasi tentang kecepatan, kata kerja tersebut mampu untuk memengaruhi ingatan para peserta tentang kecelakaan yang disaksikan

  Kata “menghantam” menghasilkan perkiraan rata-rata tertinggi (sekitar 40,8 mph), diikuti oleh bertabrakan yang menghasilkan rata-rata (39,3 mph),"terbentur" menghasilkan rata-rata (38,1 mph), "terkena" menghasilkan rata-rata  (34 mph), dan terakhir "bersentuhan" menghasilkan rata-rata (31,8 mph). 

    Padahal, kecepatan sebenarnya dalam klip video hanya berkisar antara 20–40 mph. Ini menunjukkan bahwa peserta cenderung melebihkan perkiraan mereka. Analisis statistik juga membuktikan bahwa pengaruh kata dalam pertanyaan tersebut signifikan. 

    Loftus dan Palmer kemudian berpendapat bahwa hal ini mungkin disebabkan oleh bias respons atau karena ingatan partisipan berubah karena kata kerja yang digunakan, sehingga membuatnya tampak lebih parah.


Kesimpulan:

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa pilihan kata dalam pertanyaan dapat membentuk kesan tertentu tentang kecepatan kendaraan, sehingga memengaruhi cara peserta memahami peristiwa. Ini membuktikan bahwa kesaksian saksi mata bisa terpengaruh hanya oleh cara pertanyaan diajukan.

    Terdapat dua kemungkinan penjelasan. Pertama, bias respons, yaitu jawaban peserta dipengaruhi oleh kata-kata dalam pertanyaan tanpa mengubah ingatan aslinya. Kedua, perubahan memori, yaitu kata-kata tersebut benar-benar mengubah cara peristiwa disimpan dalam ingatan, sehingga tampak lebih serius.

    Untuk membedakan kedua hal ini, dilakukan eksperimen lanjutan guna melihat apakah efeknya hanya pada jawaban atau juga pada ingatan.


Eksperimen ke-2: Eksperimen Pecahan Kaca

Prosedur:

    Sebanyak 150 siswa diminta menonton video berdurasi sekitar satu menit yang menampilkan mobil melaju di pedesaan, lalu diakhiri dengan adegan kecelakaan singkat. Setelah itu, mereka diberi pertanyaan tentang video tersebut. Variabel independen dalam penelitian ini adalah jenis pertanyaan yang diberikan.

    Peserta dibagi menjadi tiga kelompok: 50 orang ditanya tentang kecepatan mobil saat “bertabrakan”, 50 orang lainnya mendapat pertanyaan dengan kata yang sedikit berbeda, dan 50 orang sisanya tidak ditanya soal kecepatan (kelompok kontrol).

    Seminggu kemudian, tanpa menonton ulang video, semua peserta menjawab sepuluh pertanyaan. Salah satunya adalah apakah mereka melihat pecahan kaca. Padahal, di video aslinya tidak ada pecahan kaca.


Temuan:

    Peserta yang sebelumnya ditanya tentang kecepatan lebih sering mengatakan melihat pecahan kaca, meskipun itu sebenarnya tidak ada.


Kesimpulan:

    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertanyaan yang mengarahkan bisa memengaruhi bukan hanya jawaban, tetapi juga ingatan seseorang. Ingatan manusia tidak selalu akurat karena bisa berubah dengan adanya informasi baru.

    Seiring waktu, informasi asli dan tambahan bisa bercampur, sehingga sulit dibedakan. Hal ini disebut konfabulasi, yaitu ketika seseorang mengingat sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Temuan ini penting dalam konteks saksi mata, karena cara bertanya bisa memengaruhi ingatan mereka.



Referensi

McLeod, S. (2014). Loftus and Palmer (1974). Simply Psychology.: https://www.simplypsychology.org/loftus-palmer.html 

Brief Biography of Elizabeth F. Loftus: https://faculty.sites.uci.edu/eloftus/files/2022/08/BriefBio500words2022.doc 

John Palmer - Psi Encyclopedia: https://psi-encyclopedia.spr.ac.uk/articles/john-palmer/


Tuesday, April 21, 2026

MARSHMALLOW TEST

 Edisi April 2026

Marshmallow Test

sumber : https://www.facebook.com/drrozanizam/posts/marshmallow-experiment-apa-yang-setiap-ibu-bapa-perlu-tahu-pada-tahun-1970-seora/625335432372611/


Penulis : Chelsea Christy Setiawan & Yonatan Stevano T


Biografi

Walter Mischel (lahir 22 Februari 1930, Wina , Austria—meninggal 12 September 2018, New York , New York, AS) adalah seorang psikolog Amerika yang terkenal karena penelitiannya yang inovatif tentang penundaan kepuasan yang dikenal sebagai “tes marshmallow.” Mischel lahir sebagai anak bungsu dari dua bersaudara. Ayahnya adalah seorang pengusaha. Setelah pendudukan Nazi di Wina (1938), ia dan keluarganya berimigrasi ke Amerika Serikat, dan menetap pada tahun 1940 di Brooklyn, New York. Orang tua Mischel membuka toko serba ada, di mana ia bertugas mengantar barang sambil melakukan berbagai pekerjaan paruh waktu. Ia menjadi lulusan terbaik di kelasnya di sekolah menengah dan menerima beasiswa ke Universitas New York .

Meskipun awalnya ia mendaftar di program studi pra-kedokteran, Mischel mengalihkan fokusnya ke psikologi dan memperoleh gelar sarjana pada tahun 1951. Dengan spesialisasi di bidang psikologi klinis , ia memperoleh gelar master dari City College of New York (1953) dan gelar Ph.D. dari Ohio State University (1956). Setelah itu, ia memegang jabatan profesor di University of Colorado (1956–58), Harvard University (1958–62), dan Stanford University (1962–82).


Penjelasan Eksperimen

Eksperimen ini dirancang untuk memahami bagaimana anak-anak usia prasekolah mengelola kemampuan menunda kepuasan (delay of gratification) ketika dihadapkan pada pilihan antara imbalan kecil yang segera didapatkan versus imbalan yang lebih besar namun harus ditunggu. Mischel dan koleganya tertarik untuk mengidentifikasi mekanisme kognitif dan atensional (perhatian) apa yang membuat beberapa anak mampu menunggu lebih lama dibandingkan anak lainnya.


Penelitian ini didasarkan pada perpanjangan dari teori frustrative nonreward—bahwa kehadiran objek imbalan secara fisik dapat menimbulkan frustrasi yang membuat penundaan menjadi sulit. Oleh karena itu, peneliti berhipotesis bahwa mengalihkan perhatian dari imbalan akan membantu anak menunggu lebih lama, sementara memikirkan atau melihat imbalan justru akan memperpendek durasi penundaan. Eksperimen ini melibatkan total 92 anak berusia 3 hingga 5 tahun.


Prosedur Eksperimen

  1. Eksperimen I: Distraksi Eksternal vs. Tanpa Distraksi

Anak-anak ditempatkan di sebuah ruangan. Di depan mereka tersedia objek imbalan (makanan ringan yang telah dipilih sebelumnya oleh anak sebagai favorit mereka). Peneliti memberikan instruksi bahwa anak boleh memanggil peneliti kapan saja untuk mendapatkan imbalan yang kurang disukai (less preferred reward), tetapi jika mereka bersedia menunggu sampai peneliti kembali, mereka akan mendapatkan imbalan yang lebih disukai (preferred reward). Durasi menunggu diukur. Dalam kondisi distraksi eksternal, anak-anak diminta untuk mengalihkan perhatian mereka dari imbalan. Dalam kondisi tanpa distraksi, imbalan tetap terlihat oleh anak selama periode menunggu.


  1. Eksperimen II: Distraksi Kognitif (Pikiran)

Eksperimen ini menguji apakah jenis pikiran yang dijalani anak selama menunggu mempengaruhi durasi penundaan. Anak-anak diinstruksikan untuk memikirkan hal-hal yang "menyenangkan" (fun things), hal-hal yang "menyedihkan" (sad thoughts), atau memikirkan imbalan itu sendiri. Peneliti kemudian mengukur berapa lama anak mampu menahan diri sebelum akhirnya memanggil peneliti.


  1. Eksperimen III: Ketidaktersediaan Fisik Imbalan

Pada eksperimen ini, imbalan yang ditunda (delayed rewards) tidak tersedia secara fisik untuk dilihat anak selama periode menunggu. Anak-anak diberikan instruksi awal yang memanipulasi perhatian kognitif mereka—misalnya, diminta untuk membayangkan imbalan tersebut atau mengalihkan pikiran ke hal lain. Prosedur ini dirancang untuk mengisolasi efek dari representasi mental imbalan, terlepas dari kehadiran fisiknya.


Hasil Eksperimen

Hasil dari ketiga eksperimen secara konsisten mendukung hipotesis bahwa mekanisme perhatian dan kognitif memainkan peran kunci dalam kemampuan menunda kepuasan.

  1. Eksperimen I:

Anak-anak yang dialihkan perhatiannya dari objek imbalan (distraksi eksternal) mampu menunggu *jauh lebih lama* dibandingkan anak-anak yang harus menatap imbalan secara langsung selama periode menunggu.

  1. Eksperimen II:

Tidak semua distraksi kognitif efektif. Anak-anak yang memikirkan "hal-hal menyenangkan" mampu menunda lebih lama, sementara mereka yang memikirkan "hal-hal menyedihkan" menunjukkan durasi penundaan yang pendek, sama halnya dengan anak-anak yang memikirkan imbalan itu sendiri.

  1. Eksperimen III: 

Ketika imbalan tidak tersedia secara fisik, anak-anak yang secara kognitif memikirkan imbalan justru mengalami ‘penurunan’ durasi penundaan secara signifikan, bukannya peningkatan. Dengan kata lain, membayangkan imbalan yang menggiurkan sama buruknya dengan melihatnya secara langsung.


Kesimpulan

Secara keseluruhan eksperimen Marshmallow Test  menyimpulkan bahwa:

  1. Mekanisme atensional dan kognitif yang meningkatkan menonjolnya imbalan memperpendek durasi penundaan sukarela.

  2. Sebaliknya, distraksi dari imbalan baik secara eksternal (mengalihkan pandangan) maupun secara kognitif (memikirkan hal-hal menyenangkan) memfasilitasi kemampuan menunda.

Dengan kata lain, kunci keberhasilan dalam marshmallow test bukanlah "menahan diri" secara mental dengan terus mengingat imbalan, melainkan mengalihkan pikiran sepenuhnya dari imbalan tersebut ke hal-hal lain yang lebih netral atau menyenangkan.


Referensi

Mischel, W., Ebbesen, E. B., & Raskoff Zeiss, A. (1972). Cognitive and attentional mechanisms in delay of gratification. Journal of Personality and Social Psychology, 21(2), 204–218. https://doi.org/10.1037/h0032198 

Nolen, J. L. (2026, February 18). Walter Mischel. Encyclopaedia Britannica. https://www.britannica.com/biography/Walter-Mischel

Post-Traumatic Stress Disorder

 Edisi September Sumber Ilustrasi:  Sumber Ilustrasi Penulis: Austin Vinsen & Reyfan Setio   Prolog Hari itu merupakan hari yang sangat ...