Tuesday, April 21, 2026

MARSHMALLOW TEST

 Edisi April 2026

Marshmallow Test

sumber : https://www.facebook.com/drrozanizam/posts/marshmallow-experiment-apa-yang-setiap-ibu-bapa-perlu-tahu-pada-tahun-1970-seora/625335432372611/


Penulis : Chelsea Christy Setiawan & Yonatan Stevano T


Biografi

Walter Mischel (lahir 22 Februari 1930, Wina , Austria—meninggal 12 September 2018, New York , New York, AS) adalah seorang psikolog Amerika yang terkenal karena penelitiannya yang inovatif tentang penundaan kepuasan yang dikenal sebagai “tes marshmallow.” Mischel lahir sebagai anak bungsu dari dua bersaudara. Ayahnya adalah seorang pengusaha. Setelah pendudukan Nazi di Wina (1938), ia dan keluarganya berimigrasi ke Amerika Serikat, dan menetap pada tahun 1940 di Brooklyn, New York. Orang tua Mischel membuka toko serba ada, di mana ia bertugas mengantar barang sambil melakukan berbagai pekerjaan paruh waktu. Ia menjadi lulusan terbaik di kelasnya di sekolah menengah dan menerima beasiswa ke Universitas New York .

Meskipun awalnya ia mendaftar di program studi pra-kedokteran, Mischel mengalihkan fokusnya ke psikologi dan memperoleh gelar sarjana pada tahun 1951. Dengan spesialisasi di bidang psikologi klinis , ia memperoleh gelar master dari City College of New York (1953) dan gelar Ph.D. dari Ohio State University (1956). Setelah itu, ia memegang jabatan profesor di University of Colorado (1956–58), Harvard University (1958–62), dan Stanford University (1962–82).


Penjelasan Eksperimen

Eksperimen ini dirancang untuk memahami bagaimana anak-anak usia prasekolah mengelola kemampuan menunda kepuasan (delay of gratification) ketika dihadapkan pada pilihan antara imbalan kecil yang segera didapatkan versus imbalan yang lebih besar namun harus ditunggu. Mischel dan koleganya tertarik untuk mengidentifikasi mekanisme kognitif dan atensional (perhatian) apa yang membuat beberapa anak mampu menunggu lebih lama dibandingkan anak lainnya.


Penelitian ini didasarkan pada perpanjangan dari teori frustrative nonreward—bahwa kehadiran objek imbalan secara fisik dapat menimbulkan frustrasi yang membuat penundaan menjadi sulit. Oleh karena itu, peneliti berhipotesis bahwa mengalihkan perhatian dari imbalan akan membantu anak menunggu lebih lama, sementara memikirkan atau melihat imbalan justru akan memperpendek durasi penundaan. Eksperimen ini melibatkan total 92 anak berusia 3 hingga 5 tahun.


Prosedur Eksperimen

  1. Eksperimen I: Distraksi Eksternal vs. Tanpa Distraksi

Anak-anak ditempatkan di sebuah ruangan. Di depan mereka tersedia objek imbalan (makanan ringan yang telah dipilih sebelumnya oleh anak sebagai favorit mereka). Peneliti memberikan instruksi bahwa anak boleh memanggil peneliti kapan saja untuk mendapatkan imbalan yang kurang disukai (less preferred reward), tetapi jika mereka bersedia menunggu sampai peneliti kembali, mereka akan mendapatkan imbalan yang lebih disukai (preferred reward). Durasi menunggu diukur. Dalam kondisi distraksi eksternal, anak-anak diminta untuk mengalihkan perhatian mereka dari imbalan. Dalam kondisi tanpa distraksi, imbalan tetap terlihat oleh anak selama periode menunggu.


  1. Eksperimen II: Distraksi Kognitif (Pikiran)

Eksperimen ini menguji apakah jenis pikiran yang dijalani anak selama menunggu mempengaruhi durasi penundaan. Anak-anak diinstruksikan untuk memikirkan hal-hal yang "menyenangkan" (fun things), hal-hal yang "menyedihkan" (sad thoughts), atau memikirkan imbalan itu sendiri. Peneliti kemudian mengukur berapa lama anak mampu menahan diri sebelum akhirnya memanggil peneliti.


  1. Eksperimen III: Ketidaktersediaan Fisik Imbalan

Pada eksperimen ini, imbalan yang ditunda (delayed rewards) tidak tersedia secara fisik untuk dilihat anak selama periode menunggu. Anak-anak diberikan instruksi awal yang memanipulasi perhatian kognitif mereka—misalnya, diminta untuk membayangkan imbalan tersebut atau mengalihkan pikiran ke hal lain. Prosedur ini dirancang untuk mengisolasi efek dari representasi mental imbalan, terlepas dari kehadiran fisiknya.


Hasil Eksperimen

Hasil dari ketiga eksperimen secara konsisten mendukung hipotesis bahwa mekanisme perhatian dan kognitif memainkan peran kunci dalam kemampuan menunda kepuasan.

  1. Eksperimen I:

Anak-anak yang dialihkan perhatiannya dari objek imbalan (distraksi eksternal) mampu menunggu *jauh lebih lama* dibandingkan anak-anak yang harus menatap imbalan secara langsung selama periode menunggu.

  1. Eksperimen II:

Tidak semua distraksi kognitif efektif. Anak-anak yang memikirkan "hal-hal menyenangkan" mampu menunda lebih lama, sementara mereka yang memikirkan "hal-hal menyedihkan" menunjukkan durasi penundaan yang pendek, sama halnya dengan anak-anak yang memikirkan imbalan itu sendiri.

  1. Eksperimen III: 

Ketika imbalan tidak tersedia secara fisik, anak-anak yang secara kognitif memikirkan imbalan justru mengalami ‘penurunan’ durasi penundaan secara signifikan, bukannya peningkatan. Dengan kata lain, membayangkan imbalan yang menggiurkan sama buruknya dengan melihatnya secara langsung.


Kesimpulan

Secara keseluruhan eksperimen Marshmallow Test  menyimpulkan bahwa:

  1. Mekanisme atensional dan kognitif yang meningkatkan menonjolnya imbalan memperpendek durasi penundaan sukarela.

  2. Sebaliknya, distraksi dari imbalan baik secara eksternal (mengalihkan pandangan) maupun secara kognitif (memikirkan hal-hal menyenangkan) memfasilitasi kemampuan menunda.

Dengan kata lain, kunci keberhasilan dalam marshmallow test bukanlah "menahan diri" secara mental dengan terus mengingat imbalan, melainkan mengalihkan pikiran sepenuhnya dari imbalan tersebut ke hal-hal lain yang lebih netral atau menyenangkan.


Referensi

Mischel, W., Ebbesen, E. B., & Raskoff Zeiss, A. (1972). Cognitive and attentional mechanisms in delay of gratification. Journal of Personality and Social Psychology, 21(2), 204–218. https://doi.org/10.1037/h0032198 

Nolen, J. L. (2026, February 18). Walter Mischel. Encyclopaedia Britannica. https://www.britannica.com/biography/Walter-Mischel

Saturday, April 18, 2026

Solomon Asch: Conformity Experiment

 Edisi April 2026

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Asch_conformity_experiments

Penulis: Austin Vinsen & Michelle Dipa Revata


Mengenal Solomon Asch

    Solomon Asch merupakan seorang psikolog yang lahir pada tanggal 14 September 1907 di Warsawa, Polandia. Pada usia tujuh tahun, Asch memperhatikan keluarganya yang berlatar belakang Yahudi mempersiapkan perayaan Paskah. Seorang paman Asch menjelaskan bahwa mereka menuangkan segelas anggur ekstra yang diperuntukkan bagi nabi Elia kuno. Pamannya meminta Asch untuk memperhatikan gelas tersebut hingga suatu malam, Asch yakin ia melihat sebagian anggur menghilang. Sebagai orang dewasa, Asch melihat peristiwa tersebut bukanlah sebuah mukjizat, melainkan sebagai demonstrasi kekuatan persuasi bagi pikiran manusia. Konsep ini mendorong ketertarikan Asch untuk menjalankan studi di bidang psikologi.

    Asch berimigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1920. Ia berkuliah di City College of New York dan lulus pada tahun 1928. Ia kemudian melanjutkan studi magister ke Universitas Columbia, dan lulus pada tahun 1930 serta gelar doktor pada 1932. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Asch mengajar dan melakukan penelitian di Swarthmore dan Brooklyn Colleges. Selama periode ini, ia bertemu dan bekerja dengan beberapa psikolog paling berpengaruh di abad ke-20 seperti Wolfgang Köhler yang membawa pendekatan baru ke dalam studi tentang bagaimana pikiran mempersepsikan, mempelajari, menghubungkan, dan menggunakan gagasan tentang realitas.

  Sepanjang tahun 1930-an ketika Asch sedang membangun reputasi sebagai psikolog, banyak pemimpin yang menggunakan taktik seperti propaganda dan indoktrinasi untuk memaksa orang-orang agar patuh, bahkan dalam banyak kasus, melakukan kekejaman yang mengerikan. Asch mempelajari beberapa propaganda tersebut dan dampaknya terhadap masyarakat. Ia menemukan bahwa orang-orang yang takut dan kekurangan wawasan merupakan kelompok yang paling rentan untuk mempercayai kebohongan dan kebenaran yang diputarbalikkan oleh propaganda. Meski demikian, Asch berpendapat bahwa orang-orang akhirnya akan mampu menemukan kebenaran di antara kebohongan. Studi-studi ini membantu Asch dalam menemukan teori yang dikenal sebagai teori konformitas.

    Selain teori konformitas, Asch juga menerbitkan buku teks Psikologi Sosial pada 1952. sebuah buku teks yang merinci banyak temuan dan teorinya. Buku ini dengan menjadi standar di ruang kelas psikologi dan turut mendorong reputasi Asch sebagai salah satu psikolog modern terbesar. Ia juga melanjutkan perannya untuk mengajar di Universitas Pennsylvania dan Institut Studi Kognitif di Universitas Rutgers. Solomon Asch mengubah banyak cara pandang psikolog mengenai pemikiran dan perilaku manusia. Ia menemukan hubungan baru antara kerja pikiran yang kompleks dan realitas sekitarnya yang menyediakan persepsi dan informasi bagi pikiran sebelum akhirnya Asch meninggal di Haverford, Pennsylvania, pada tanggal 20 Februari 1990.


Eksperimen

  Untuk mempelajari konformitas Solomon Asch menggunakan eksperimen laboratorium, ia menggunakan 50 mahasiswa laki-laki dari Swarthmore College di AS untuk menjadi partisipan dalam ‘tes penglihatan’. 


Prosedur Tugas 

    Asch menempatkan tujuh kaki tangan (aktor yang bekerja untuk peneliti) bersama dengan seorang partisipan yang tidak memiliki pengalaman sebelumnya. Penilaian garis merupakan  tugas yang diberikan, para kaki tangan peneliti telah sepakat sebelumnya mengenai tanggapan mereka ketika dihadapkan dengan tugas membuat garis.

    Peserta tidak tahu bahwa tujuh orang lainnya adalah “aktor”, sehingga mereka mengira semua orang di ruangan itu adalah peserta biasa seperti dirinya. Setiap orang diminta menyebutkan dengan suara keras garis mana (A, B, atau C) yang sama dengan garis contoh. Jawabannya sebenarnya sangat jelas. Para peserta duduk berjajar atau mengelilingi meja, dan peserta asli ditempatkan hampir di urutan terakhir (biasanya kedua dari belakang). Ini membuatnya harus mendengar jawaban orang lain terlebih dahulu sebelum menjawab. Di beberapa percobaan awal, semua aktor memberikan jawaban yang benar agar peserta merasa yakin dan nyaman. Namun, pada percobaan penting, para aktor sengaja memberikan jawaban yang salah secara kompak untuk melihat apakah peserta akan mengikuti atau tidak.


Uji Coba Kritis

    Eksperimen ini terdiri dari 18 percobaan, di mana pada 12 percobaan (disebut percobaan kritis), para aktor sengaja memberikan jawaban yang salah. Asch ingin melihat apakah peserta asli akan mengikuti pendapat mayoritas atau tetap pada jawaban yang benar. Misalnya, jawaban yang benar sebenarnya adalah garis B, tetapi semua aktor dengan yakin mengatakan bahwa jawabannya adalah C. Peserta asli, setelah mendengar semua jawaban yang salah tersebut, harus memberikan jawabannya di akhir giliran. Pertanyaan utamanya adalah: apakah peserta akan ikut memilih jawaban yang salah seperti kelompok, atau tetap berpegang pada jawaban yang jelas benar?


Variabel

  Variabel independen adalah tekanan kelompok mayoritas yang secara jelas salah, dan varian dependennya adalah respons peserta pada setiap percobaan kritis yang dilakukan, Asch melihat apakah peserta mengikuti jawaban salah kelompok atau memberi jawaban yang benar namun sendiri. Asch mengukur konformitas berdasarkan jumlah percobaan di mana peserta mengalah pada jawaban salah mayoritas.


Desain & Kontrol

  Metode yang digunakan oleh Asch adalah eksperimen laboratorium dengan desain kelompok independen. Artinya, setiap peserta hanya mengalami satu kondisi, yaitu kondisi dengan tekanan kelompok atau kondisi kontrol, tidak keduanya. Dengan menggunakan aktor (kaki tangan) dan jawaban salah yang sudah direncanakan, peneliti dapat mengontrol situasi dengan baik dan fokus mengamati pengaruh tekanan sosial sebagai variabel utama. Untuk memastikan jawaban yang benar memang jelas, Asch juga membuat kondisi kontrol, di mana peserta mengerjakan tugas sendirian tanpa pengaruh kelompok.

   Dalam kondisi ini, peserta menjawab secara mandiri, baik dengan menuliskan atau menyebutkan jawabannya, sehingga dapat diketahui tingkat kesalahan normal tanpa tekanan sosial. Sebanyak 37 orang ikut dalam kondisi kontrol ini.

   Hasil dari kondisi kontrol yang digunakan sebagai pembanding, untuk menunjukkan bahwa tugas tersebut sebenarnya mudah dan dapat dijawab oleh orang-orang apabila tidak ada tekanan dari kelompok.


Temuan

Asch mengukur seberapa sering peserta mengikuti jawaban kelompok.

    Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata sekitar 32% peserta ikut dengan jawaban mayoritas yang sebenarnya salah pada percobaan penting.

  • Selama 12 percobaan tersebut:
  • Sekitar 75% peserta pernah ikut setidaknya satu kali
  • Sekitar 25% peserta tidak pernah ikut sama sekali

Ada juga sebagian kecil peserta (sekitar 5%) yang selalu mengikuti kelompok di semua percobaan.

    Sementara itu, dalam kondisi tanpa tekanan kelompok, peserta hampir tidak pernah salah. Tingkat kesalahan kurang dari 1%, yang berarti tugasnya sebenarnya sangat mudah jika tidak ada pengaruh sosial.


Temuan Kualitatif (Wawancara Pasca-eksperimen)

   Setelah eksperimen selesai, Asch mewawancarai para peserta untuk memahami alasan di balik keputusan mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar peserta sebenarnya menyadari bahwa jawaban kelompok itu salah, tetapi tetap mengikutinya karena tekanan sosial, seperti takut dianggap aneh, ditertawakan, atau tidak diterima (pengaruh normatif). Sebagian lainnya benar-benar merasa ragu terhadap jawabannya sendiri dan menganggap kelompok mungkin lebih benar (pengaruh informasional). Namun, ada juga peserta yang tetap mandiri dan percaya pada persepsinya sendiri, meskipun merasakan tekanan dari kelompok. Dari temuan ini, Asch menyimpulkan bahwa tekanan kelompok dapat mempengaruhi penilaian individu secara signifikan, bahkan dalam situasi yang jelas, tetapi tidak semua orang akan tunduk karena sebagian masih mampu mempertahankan kemandiriannya.


Sumber

Guy-Evans, O., & McLeod, S. (2024). Asch conformity line experiment. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/asch-conformity.html

Dziak, M. (2023). Solomon Asch (psychologist). EBSCO Research Starters: Psychology. EBSCO. https://www.ebsco.com/research-starters/psychology/solomon-asch-psychologist

Philip Zimbardo - Stanford Prison Experiment

Edisi Mei 2026 PHILIP ZIMBARDO - STANFORD PRISON EXPERIMENT                                                 Sumber:  Foto Penulis: G...