Saturday, October 24, 2026

Hoarding Disorder

Edisi Oktober 2026

Sumber Ilustrasi: https://pin.it/5obBJwyS2 

Penulis: Cecilia Prajnadian Istiwibowo dan Keiza Vania Rahmadini Haryanto


Apa itu Hoarding Disorder?

Bagi sebagian orang, menyimpan barang sama saja dengan menjaga kenangan dan menghargai nilai dari barang tersebut. Namun, apa jadinya jika kebiasaan menyimpan barang berubah menjadi perilaku menimbun dan mulai memenuhi sudut rumah? Perilaku ini bukan sekedar menyimpan barang saja, namun dapat berkaitan dengan kondisi yang bernama hoarding disorder.

Dalam film maupun reality show yang kita konsumsi, hoarding disorder seringkali ditampilkan sebagai gangguan sederhana dengan penyelesaian yang sederhana pula, yaitu “kalau berantakan, tinggal bersihkan saja.” Namun, melalui program-program hiburan ini pula publik mulai memberikan perhatian yang lebih serius terhadap hoarding disorder, meskipun penggambarannya kerap kali menyederhanakan kompleksitas gangguan tersebut. 

Hoarding disorder tidak hanya sekedar penumpukan barang saja, namun penumpukan yang sudah berlebihan di rumah, disertai dengan kesulitan untuk membuang barang-barang yang biasanya tidak akan disimpan oleh orang kebanyakan, terlepas dari nilai barang tersebut. Pada 2013, American Psychiatric Association (APA) mengakui bahwa hoarding disorder termasuk dalam kelompok Obsessive Compulsive and Related Disorders, dengan menetapkan enam diagnosis kriteria yang harus muncul agar seseorang dapat didiagnosa hoarding disorder. Selain itu, individu dengan hoarding disorder juga dapat mengalami gangguan kecemasan lain seperti generalized anxiety disorder dan social anxiety disorder secara bersamaan.


Gejala dan Karakteristik Hoarding Disorder

Gejala perilaku menimbun seringkali muncul ketika individu berada pada masa dewasa awal. Namun, individu maupun keluarga masih belum mengungkapkan perilaku tersebut, bahkan mulai mencari bantuan hingga puluhan tahun kemudian. Hal ini sebagian besar disebabkan ketika gangguan berkembang secara perlahan, tidak disadari, dan adanya upaya dari orang terdekat dalam mengelola tingkat keparahan gejala.

Insight

Perilaku menimbun pada hoarding disorder dapat dipengaruhi oleh pemikiran dan keyakinan yang dikembangkan oleh individu, diantaranya adalah:
  1. Good insight, yaitu individu menyadari bahwa keyakinan dan perilaku hoarding-nya bermasalah.
  2. Poor insight, yaitu individu sebagian besar meyakini bahwa keyakinan dan perilaku hoarding-nya tidak bermasalah walaupun bukti menunjukkan hal yang sebaliknya.
  3. Delusional beliefs, yaitu individu sepenuhnya meyakini bahwa keyakinan dan perilaku hoarding-nya tidak bermasalah walaupun bukti menunjukkan hal yang sebaliknya.
Meskipun insight digunakan sebagai spesifikasi dalam DSM-5 dan ICD-11 untuk memperjelas karakteristik hoarding disorder, frekuensi dan tingkat keparahan insight masih belum banyak diteliti. Oleh karena itu, individu dengan hoarding disorder tidak akan mencari bantuan, sulit mengakui kesulitan dari perilaku mereka, dan bahkan tidak akan mengakui.


Kriteria Diagnostik
Untuk menentukan seseorang mengalami hoarding disorder, perlunya kriteria-kriteria yang tepat dan ilmiah agar diagnosa dapat dipertimbangkan. Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) yang diterbitkan oleh APA, terdapat beberapa kriteria yang harus terpenuhi untuk menegakkan diagnosa hoarding disorder. 
  1. Kesulitan yang persisten untuk membuang atau berpisah dengan barang-barang, terlepas dari nilai barang tersebut.
  2. Kesulitan disebabkan karena adanya kebutuhan yang dirasakan untuk menyimpan barang-barang tersebut dan menimbulkan distress yang dikaitkan dengan perilaku membuangnya.
  3. Kesulitan membuang barang tersebut mengakibatkan penumpukan barang yang memadati dan mengacak-acak area ruang aktif  serta mengganggu fungsi utama ruangan tersebut.
  4. Perilaku menimbun ini menimbulkan distress yang secara signifikan dan gangguan pada fungsi sosial, pekerjaan, dan area fungsi penting lainnya.
  5. Perilaku menimbun tidak disebabkan oleh kondisi medis lain.
  6. Perilaku menimbun tidak dapat dijelaskan dengan lebih baik oleh gejala gangguan mental lainnya.

Mengapa Seseorang Dapat Mengalami Hoarding Disorder?

Ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan sebagai penyebab seseorang mengalami hoarding disorder.

Neurobiologis dan Genetik

Hoarding disorder dapat berkaitan dengan kondisi neuropsikologis yang berkaitan dengan perubahan otak seperti demensia atau stroke. Namun, penelitian menghubungkan hoarding disorder dengan perbedaan aktivitas pada otak, terutama ventromedial prefrontal cortex yang berperan dalam mengambil keputusan dan pemrosesan emosi terkait reward dan punishment. Penelitian juga menemukan bahwa hoarding disorder memiliki estimasi heritabilitas sekitar 45–71%, namun penelitian mengenai faktor genetik penyebab hoarding disorder masih terbatas dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

Keterikatan dan Identitas

Dalam penelitian, individu dengan hoarding disorder ditemukan memiliki tingkat kecemasan keterikatan (attachment anxiety) dan penghindaran terhadap keterikatan (attachment avoidance) yang lebih tinggi. Bagi individu dengan kecemasan keterikatan, benda dapat berfungsi sebagai pengganti hubungan interpersonal, karena hubungan dengan benda mati bisa dirasakan lebih aman dibandingkan hubungan dengan manusia. Penelitian awal juga menemukan hubungan antara aspek identitas diri yang terganggu dengan gejala serta keyakinan hoarding, menunjukkan bahwa barang yang dikumpulkan dapat menjadi bagian dari konsep diri individu. Namun, hubungan ini tidak bisa membuktikan bahwa insecure attachment atau masalah identitas selalu menyebabkan hoarding disorder.


Kognitif dan Perilaku

Model ini menyatakan bahwa gejala utama hoarding disorder adalah menyimpan dan memperoleh barang yang berkaitan dengan kerentanan individu, kesulitan dalam pemrosesan informasi, keyakinan terhadap barang sendiri, serta emosi. Penelitian juga menemukan beberapa karakteristik yang mungkin berperan, seperti reaktivitas emosional yang meningkat, impulsivitas, sensitivitas terhadap kecemasan, kekhawatiran berlebihan terhadap konsekuensi buruk apabila melupakan sesuatu, dan kesulitan untuk menoleransi ketidakpastian.


Dampak Hoarding Disorder

Mengganggu Kesehatan Mental

Salah satu dampak utama hoarding disorder adalah tekanan psikologis yang dapat dialami oleh individu maupun keluarganya. Barang-barang yang ditumpuk seringkali memberikan rasa aman sementara, tetapi pada saat yang sama dapat menimbulkan kecemasan ketika seseorang diminta membuangnya.

Seseorang mungkin merasa takut membutuhkan barang tersebut di masa depan, ia khawatir melakukan kesalahan jika membuangnya, atau merasa bersalah ketika harus melepaskan benda yang memiliki kenangan tertentu. Akibatnya, keputusan sederhana untuk memilah barang dapat menjadi proses yang melelahkan.

Penumpukan barang juga dapat menimbulkan rasa malu dan frustasi. Seseorang mungkin merasa kesulitan mengundang teman ke rumah atau menghindari orang lain karena takut dinilai negatif. Apabila berlangsung lama, keadaan ini dapat memperburuk tekanan emosional dan mengurangi kualitas hidup.

Menimbulkan Konflik dalam Keluarga

Hoarding disorder tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga orang-orang yang tinggal bersamanya. Keluarga dapat merasa khawatir ketika barang menumpuk hingga memenuhi ruang tidur, dapur, ruang tamu, atau jalur keluar rumah.

Perbedaan pandangan mengenai barang yang perlu disimpan dan dibuang dapat memicu pertengkaran. Anggota keluarga mungkin ingin membersihkan rumah demi keselamatan dan kenyamanan, sedangkan individu yang mengalami gangguan merasa tindakannya merupakan ancaman terhadap barang-barang yang dianggap berharga.

Apabila persoalan ini ditangani dengan kemarahan, ancaman, atau pembuangan barang secara sepihak, konflik dapat semakin meningkat. Oleh karena itu, komunikasi yang penuh empati dan pendampingan yang tepat sangat dibutuhkan.

Mengganggu Kesehatan dan Keselamatan

Penumpukan barang yang berlebihan dapat membuat rumah menjadi tidak sehat dan tidak aman. Ruangan yang seharusnya digunakan untuk beraktivitas mungkin tidak lagi dapat difungsikan dengan baik.

Beberapa risiko yang dapat muncul meliputi:

  1. Debu dan kotoran yang sulit dibersihkan.
  2. Meningkatnya risiko tersandung atau terjatuh akibat jalur yang terhalang.
  3. Kesulitan mengakses dapur, kamar mandi, atau tempat tidur.
  4. Risiko kebakaran yang lebih tinggi apabila barang mudah terbakar menumpuk dan menghalangi akses keluar.
  5. Kesulitan melakukan pembersihan dan perawatan rumah secara rutin.
Dampak tersebut menunjukkan bahwa hoarding disorder dapat menjadi persoalan keselamatan, bukan hanya persoalan estetika atau kebersihan.

Menyebabkan Isolasi Sosial

Rasa malu terhadap kondisi rumah dapat membuat seseorang menarik diri dari lingkungan sosial. Ia mungkin menolak kunjungan teman, menghindari kegiatan bersama, atau merasa tidak nyaman ketika harus menceritakan keadaan tempat tinggalnya. Lama-kelamaan, hubungan sosial dapat melemah dan dukungan emosional menjadi semakin terbatas.


Kasus Nyata Hoarding Disorder

Salah satu kasus nyata hoarding disorder dilaporkan oleh Vilaverde, Gonçalves, dan Morgado (2017) dalam artikel ilmiah berjudul Hoarding Disorder: A Case Report yang diterbitkan di jurnal  Frontiers in Psychiatry. Artikel tersebut mengangkat kasus seorang pria berusia 52 tahun yang telah memiliki kebiasaan menimbun barang selama kurang lebih 20 tahun. Ia mengumpulkan berbagai benda, seperti batu, kertas, dan komponen mobil yang rusak, karena merasa barang-barang tersebut mungkin masih berguna atau memiliki nilai di masa mendatang. Meskipun sebagian barang sudah tidak diperlukan, ia mengalami kesulitan untuk membuangnya dan merasa cemas ketika orang lain mencoba menyingkirkan barang-barang tersebut.

Kebiasaan menimbun yang berlangsung selama bertahun-tahun menyebabkan barang-barang memenuhi sejumlah area di rumahnya, termasuk garasi dan loteng. Kondisi ini menunjukkan bahwa hoarding disorder tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan menyimpan barang secara berlebihan, tetapi juga dapat mengganggu fungsi ruang tinggal dan kualitas hidup seseorang. Dalam kasus tersebut, pasien juga mengalami gejala depresi, yang memperlihatkan bahwa gangguan penimbunan dapat disertai persoalan kesehatan mental lainnya. Keadaan ini mengingatkan pentingnya memahami hoarding disorder sebagai kondisi yang membutuhkan perhatian dan penanganan profesional, bukan sekadar menganggap penderitanya malas membersihkan rumah atau terlalu menyayangi barang miliknya.

Dalam proses penanganannya, pria tersebut menjalani psikoterapi dan memperoleh pengobatan sesuai kebutuhan klinisnya. Penanganan dilakukan dengan membantu pasien memahami kondisinya, mengevaluasi keyakinan terhadap barang yang disimpan, serta mengembangkan kemampuan untuk mengurangi penimbunan secara bertahap. Setelah menjalani penanganan selama sembilan bulan, pasien menunjukkan perkembangan dengan mampu menjual atau mendaur ulang sebagian besar barang yang sebelumnya ditimbun. Kasus ini memberikan gambaran bahwa pemulihan dari hoarding disorder bahwa mungkin terjadi melalui pendampingan yang tepat, meskipun prosesnya dapat membutuhkan waktu dan kesabaran.


Penanganan dan Dukungan

Penanganan hoarding disorder memerlukan pendekatan yang menyeluruh, bertahap, dan disesuaikan dengan kondisi individu. Dalam penelitian Vilaverde, Gonçalves, dan Morgado (2017) yang berjudul Hoarding Disorder: A Case Report, penanganan dilakukan terhadap seorang pria berusia 52 tahun yang telah menimbun barang selama kurang lebih 20 tahun. Intervensi yang diberikan mencakup psikoedukasi untuk membantu pasien memahami gangguan yang dialaminya, restrukturisasi kognitif untuk mengevaluasi keyakinan terhadap barang-barang yang disimpan, serta latihan menghadapi proses tidak membeli dan membuang barang secara bertahap. Pasien juga mendapatkan pengobatan dari dokter untuk menangani gejala yang menyertai kondisinya. 

Meskipun selama enam bulan pertama pasien masih melanjutkan kebiasaan mengumpulkan barang, setelah penanganan dilanjutkan dan disesuaikan, ia menunjukkan perkembangan. Setelah sembilan bulan, pasien mampu menjual atau mendaur ulang sebagian besar barang yang ditimbun dan menata kembali ruang di rumahnya. Kasus ini memperlihatkan bahwa penanganan hoarding disorder dapat membutuhkan waktu yang panjang dan tidak selalu menunjukkan perubahan secara langsung.

Selain penanganan profesional, dukungan keluarga dan lingkungan juga penting dalam membantu proses pemulihan. Keluarga perlu memahami bahwa kesulitan membuang barang bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan dapat berkaitan dengan kecemasan dan keterikatan emosional yang kuat. Oleh karena itu, penderita sebaiknya tidak dipermalukan, disalahkan, atau dipaksa membuang seluruh barangnya secara tiba-tiba karena tindakan tersebut dapat menambah tekanan emosional. Sebaliknya, keluarga dapat memberikan dukungan dengan mendengarkan perasaan penderita, membantu menetapkan tujuan yang realistis, dan mendampingi proses memilah barang sesuai arahan tenaga profesional.  Dengan demikian, penanganan yang menggabungkan bantuan profesional dan dukungan sosial yang sesuai dapat membantu penderita menjalani proses pemulihan secara lebih manusiawi.


Referensi

Bratiotis, C., Muroff, J., & Lin, N. X. Y. (2021). Hoarding disorder: Development in conceptualization, intervention, and evaluation. FOCUS, 19(4), 392–404. https://doi.org/10.1176/appi.focus.20210016

Morein-Zamir, S., & Ahluwalia, S. (2023). Hoarding disorder: Evidence and best practice in primary care. British Journal of General Practice, 73(729), 182–183. https://doi.org/10.3399/bjgp23X732513 

Vilaverde, D., Gonçalves, J., & Morgado, P. (2017). Hoarding Disorder: A Case Report. Frontiers in Psychiatry, 8, 112. https://doi.org/10.3389/fpsyt.2017.00112 

Wandansari, S. A. (2024). Psikologi abnormal: Menelusuri gangguan-gangguan psikologis beserta keunikannya. Anak Hebat Indonesia.

Tuesday, October 20, 2026

Generalized Anxiety Disorder

Edisi Oktober 2026 


Penulis: Jerica Mulin & Vivi



Prolog

    Coba deh kalian renungi sejenak, seberapa sering kepala kalian tiba-tiba dipenuhi dengan pertanyaan "gimana kalau.." yang bikin kalian terus memikirkan kemungkinan buruk yang terjadi. Awalnya mungkin kita hanya mencoba untuk menebak-nebak kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Tetapi tidak jarang juga hal ini justru membawa kita ke arah kecemasan yang mendalam. Sama seperti situasi ketika kita menghadapi ujian tengah semester (UTS). Tidak sedikit dari kita semua yang mengalami kecemasan menjelang hari ujian tiba, pemikiran “bagaimana kalau..” membuat diri kita terus cemas dan khawatir. Apakah kita bisa mengerjakan ujian tersebut, bagaimana jika hasil nilai ujian jelek dan membuat orang tua kecewa, gimana kalau gagal? Mungkin setelah melewati ujian yang kita khawatirkan sebelumnya, kita akan menjadi lebih tenang. Tapi, apakah setelah itu kalian langsung memikirkan tumpukan tugas baru yang harus kalian kerjakan setelah uts, atau gimana kesehatan kalian setelah 2 minggu menghancurkan pola tidur dan pola makan, memikirkan kondisi keluarga di rumah yang jauh dengan keberadaan kalian dan mungkin tentang kerjaan apa yang akan kalian dapatkan setelah lulus dari perkuliahan? Pemikiran yang awalnya terlihat sederhana, justru membawa bahaya bagi kesehatan mental kita. Tidak hanya membawakan bahaya bagi kesehatan mental kita, tetapi kecemasan berlebih ini juga dapat mengganggu aktivitas belajar kita, membuat kita sulit fokus, dan justru membuat kita menghabiskan banyak waktu hanya untuk kecemasan ini. Hal ini dinamakan dengan Generalized Anxiety Disorder (GAD) atau Gangguan Kecemasan Umum dalam kategori gangguan psikologis manusia. 

Pengenalan Generalized Anxiety Disorder

Generalized Anxiety Disorder (GAD) atau Gangguan Kecemasan Umum adalah kondisi kesehatan mental ketika seseorang mengalami rasa cemas, khawatir, atau takut yang berlebihan terkait kegiatan sehari-hari seperti ujian, tugas sekolah, kesehatan, uang, pekerjaan, masa depan, dan keluarga secara terus-menerus, dan sulit dikendalikan sehingga dapat menghambat atau mengganggu aktivitas sehari-hari. Rasa cemas sebenarnya adalah bagian fundamental dari mekanisme pertahanan manusia. Ribuan tahun lalu, rasa cemas yang menyelamatkan nenek moyang kita dari ancaman menggunakan respons fight-or-flight (lawan atau lari). Saat menghadapi bahaya, tubuh secara otomatis melepaskan “hormon stres” untuk bersiap menghadapi ancaman. 

Generalized Anxiety Disorder (GAD) atau Gangguan Kecemasan menyebabkan respons tidak nyaman pada aspek kognitif, psikomotorik, dan fisiologis. Hal ini dapat membuat seseorang kesulitan berpikir logis, gelisah, serta mengalami peningkatan tanda-tanda vital seperti detak jantung dan tekanan darah. Untuk mengurangi kecemasan, seseorang dapat melakukan perilaku adaptif, yaitu cara positif untuk mengatasi kecemasan, seperti membayangkan suasana yang menyenangkan, melakukan relaksasi tubuh secara bertahap dari kepala hingga kaki, serta mengatur pernapasan secara perlahan dan teratur.

Sebaliknya, respons negatif terhadap kecemasan dapat menimbulkan gejala fisik, seperti sakit kepala akibat ketegangan, sindrom nyeri, dan respons stres yang dapat menurunkan efektivitas sistem kekebalan tubuh. Kecemasan juga dapat dikomunikasikan kepada orang lain secara verbal maupun nonverbal. Misalnya, ketika seseorang berteriak bahwa terjadi kebakaran, orang-orang di sekitarnya dapat ikut merasa cemas karena membayangkan bahaya yang mungkin terjadi. Melihat seseorang yang sedang panik juga dapat menimbulkan kecemasan pada orang lain.

Selain itu, kecemasan dapat disampaikan melalui empati, yaitu kemampuan memahami dan merasakan situasi yang dialami orang lain seolah-olah berada di posisi mereka.


Gejala & Ciri-ciri Generalized Anxiety Disorder

  • Fokus Kekhawatiran yang Luas: Kekhawatiran pada GAD bersifat umum dan tidak terbatas pada satu hal saja. Topik kekhawatiran yang sering dialami meliputi masalah keluarga, kesehatan diri sendiri atau orang lain, keuangan, pekerjaan, atau masalah sekolah sehari-hari.
  • Kesulitan Menjalankan Tugas Sehari-hari: Kecemasan yang dirasakan membuat individu merasa sulit untuk melakukan tugas sehari-hari dan mengatur waktu, karena perhatian mereka terus-menerus teralihkan oleh rasa khawatir.
  • Perbedaan dengan Kecemasan Normal: Kekhawatiran pada GAD jauh lebih berlebihan, intens, dan mendalam dibandingkan kekhawatiran normal sehari-hari; disertai dengan penderitaan yang nyata, berlangsung lama, dan sering kali muncul tanpa pemicu yang jelas.

Faktor Penyebab Generalized Anxiety Disorder

Generalized Anxiety Disorder tidak muncul karena satu penyebab saja, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik, biologis, psikologis, dan lingkungan. Secara genetik, anxiety dapat diturunkan dalam keluarga karena risikonya dipengaruhi oleh banyak gen yang berinteraksi dengan lingkungan. Dari sisi biologis, orang dengan anxiety cenderung lebih sensitif terhadap ancaman dan memiliki respons otak yang lebih kuat terhadap hal yang terasa menakutkan. 

Selain itu, kepribadian seperti mudah cemas, sensitif, atau menarik diri saat menghadapi hal baru juga dapat meningkatkan risiko anxiety. Faktor lingkungan seperti trauma masa kecil, perpisahan dari orang terdekat, pola asuh yang terlalu protektif, serta tekanan hidup juga dapat memicu kondisi ini. Dari faktor sosial, anxiety lebih banyak dialami perempuan serta orang yang menghadapi tekanan ekonomi, pengangguran, atau masalah hubungan sosial. Terakhir, kondisi medis tertentu seperti gangguan jantung, hipertiroidisme, dan asma, serta penggunaan alkohol atau obat-obatan, juga dapat berhubungan dengan munculnya generalized anxiety disorder.

Tingkat Keparahan Gejala Kecemasan

1. Mild Anxiety (Kecemasan Ringan):
Kecemasan ringan adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda dan membutuhkan perhatian khusus. Kecemasan ringan sering memotivasi seseorang untuk melakukan perubahan atau mencapai tujuan.

2. Moderate Anxiety (Kecemasan Sedang)
Kecemasan sedang adalah perasaan tidak nyaman bahwa ada sesuatu yang benar-benar salah sehingga seseorang menjadi gugup atau gelisah. Pada tingkat ini, seseorang masih bisa menerima informasi, memecahkan masalah, dan mempelajari hal baru dengan bantuan orang lain. Namun, seseorang mengalami kesulitan berkonsentrasi secara mandiri, meskipun perhatiannya masih bisa diarahkan kembali ke topik.

3. Severe Anxiety (Kecemasan Berat)
Ketika seseorang mengalami kecemasan berat, kemampuan bertahan hidup yang lebih dasar mulai mengambil alih. Respons defensif meningkat, sedangkan kemampuan kognitif menurun secara signifikan.

4. Panic (Panik)
Pada tingkat panik, respons emosional dan gerakan tubuh sangat mendominasi, disertai respons melawan, melarikan diri, atau membeku. Lonjakan adrenalin menyebab peningkatan tanda-tanda vital. Pupil membesar agar lebih banyak cahaya masuk, dan proses berpikir hanya berfokus pada pertahanan diri.


Terapi dan Penanganan

Penanganan gangguan kecemasan berdasarkan berat gejala yang dialami:
  • Gejala Ringan: akan direkomendasikan untuk mendapatkan edukasi, dukungan emosional, dan pemantauan secara berkala. Serta mengajak pasien untuk menghindari faktor pemicu seperti kafein atau alkohol.
  • Gejala Sedang: direkomendasikan menjalani terapi perilaku kognitif (CBT), farmakoterapi (obat-obatan) atau bahkan keduanya.
  • Gejala Berat: membutuhkan terapi CBT yang dikombinasikan dengan farmakoterapi, serta peninjauan ulang diagnosis dan kepatuhan pengobatan.
Penanganan gangguan kecemasan dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu Psikoterapi (terapi psikososial) dan farmakoterapi (pengobatan medis). Dalam Psikoterapi, Cognitive Behavioral Therapy (CBT) menjadi terapi pertama yang dianjurkan karena bertujuan mengubah pola pikir serta perilaku yang memperburuk kecemasan, CBT menggunakan teknik restrukturisasi kognitif untuk menantang prasangka negatif atau overestimasi risiko, serta terapi paparan bertingkat (graduated exposure) yang membantu pasien menghadapi stimulus pemicu rasa takut secara sistematis. Bagi pasien yang memiliki keterbatasan ruang atau kesulitan bepergian, tersedia pula alternatif Internet-based CBT yang terbukti memiliki efektivitas sebanding. Selain CBT, bentuk terapi psikososial lainnya seperti meditasi mindfulness dapat membantu meregulasi kondisi kecemasan, sementara terapi psikodinamik jangka pendek menunjukkan hasil yang sangat baik, khususnya pada kasus social anxiety disorder.

Di sisi lain, farmakoterapi menyediakan empat kelas utama obat yang disetujui dan direkomendasikan untuk mengatasi gangguan kecemasan. Golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs), seperti escitalopram, sertraline, fluoxetine, dan paroxetine, menjadi pilihan pertama yang umumnya diberikan mulai dari dosis rendah lalu dinaikkan secara bertahap setiap dua hingga empat minggu untuk meminimalkan efek samping awal. Pilihan pertama efektif lainnya adalah golongan Serotonin Norepinephrine Reuptake Inhibitors (SNRIs), seperti venlafaxine XR dan duloxetine. Sementara itu, golongan Azapirones (Buspirone) bekerja secara spesifik untuk meredakan kekhawatiran pada Generalized Anxiety Disorder (GAD) dan memiliki potensi ketergantungan yang rendah karena tidak berikatan dengan reseptor benzodiazepin. Adapun golongan Benzodiazepines umumnya dialokasikan untuk penanganan jangka pendek atau kondisi darurat, namun penggunaannya harus dihindari pada pasien dengan riwayat penyalahgunaan zat atau alkohol serta diterapkan secara sangat hati-hati pada lansia guna mencegah risiko jatuh dan sedasi berlebih.

Sebagai pelengkap, terdapat beberapa obat tambahan atau alternatif yang sering dimanfaatkan sesuai kebutuhan klinis pasien. Beta-blockers seperti Propranolol digunakan secara off-label untuk meredakan gejala fisik perifer, seperti tremor pada performance anxiety. Obat-obatan seperti Pregabalin dan Gabapentin memiliki efek anxiolytic dan sering dipertimbangkan sebagai alternatif untuk kasus GAD atau pasien yang memiliki riwayat penyalahgunaan zat. Terakhir, pada kasus yang resisten terhadap pengobatan standar, strategi augmentasi menggunakan bahan seperti D-cycloserine atau antipsikotik atipikal seperti quetiapine dapat dieksplorasi lebih lanjut.

Referensi

Penninx, B. W. J. H., Pine, D. S., Holmes, E. A., & Reif, A. (2021). Anxiety disorders. The Lancet, 397(10277), 914–927.   https://doi.org/10.1016/S0140-6736(21)00359-7

Videbeck, S. L. (2010). Psychiatric-mental health nursing (5th ed.). Lippincott Williams & Wilkins. 

Amalia, A., & Putri, S. A. (2025). Gangguan kecemasan (khawatir berlebih). Afdan Rojabi Publisher. https://doi.org/10.1212/CON.0000000000000607 

American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed., text rev.). American Psychiatric Association Publishing. 

Friday, October 2, 2026

Post-Traumatic Stress Disorder

 Edisi September

Sumber Ilustrasi: Sumber Ilustrasi

Penulis: Austin Vinsen & Reyfan Setio

 

Prolog

Hari itu merupakan hari yang sangat spesial, hari di mana tahun akan berganti. Kembang api di mana-mana, suara orang bersorak ria dengan bebas. Terasa seperti perayaan biasa yang bernuansa bahagia bukan? Namun, perasaan bahagia tersebut seakan tidak merambat ke Dika. Pada waktu-waktu seperti ini, alih-alih merasa senang, Dika merasa ketakutan sekali. Ia merasa sangat ketakutan hingga jantungnya berdebar hebat, rasa tertekan luar biasa memenuhi kepala, dan keringat dingin membasahi tubuh. 

Namun mengapa? Disaat orang lain bersenang senang, ia merasa ketakutan setengah mati. Ternyata terungkap bahwa Dika merupakan mantan tentara yang pernah melalui kejamnya medan perang. Ledakan yang memekakkan telinga, suara tembakan, teriakan rekannya, semua hal itu memenuhi kepala Dika ketika ia mendengarkan suara ledakan kembang api. Ingatan buruk Dika kembali terpicu akibat  suara kembang api yang mirip dengan ledakan di medan perang, suara sorak orang-orang mirip dengan teriakan rekannya. Ia mengalami reka ulang di dalam kepala hingga memicu rasa takut yang sangat kuat, hingga untuk menarik satu tarikan nafas pun terasa berat. 

Apa yang dialami oleh Dika tentu sangat bertolak belakang dengan kebahagiaan yang sedang dirasakan, ketakutan ini disebut dengan Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD.


Pengenalan PTSD

Post-Traumatic Stress Disorder atau yang disingkat PTSD merupakan sindrom psikiatris yang umum terjadi dan biasanya dapat melumpuhkan, serta mampu untuk menyebabkan gangguan fungsional yang signifikan di berbagai ranah kehidupan. PTSD ini muncul dari respons terhadap trauma di mana dalam DSM-V trauma berarti sebuah situasi dimana individu terekspos terhadap ancaman kematian atau kematian yang sebenarnya, luka yang serius, atau kekerasan seksual. PTSD juga dapat dialami oleh individu yang menyaksikan kejadian traumatis tersebut terjadi kepada anggota keluarga atau teman terdekat sehingga PTSD tidak hanya terpaku pada kejadian traumatis yang dialami, tetapi juga kejadian traumatis yang disaksikan terjadi kepada kerabat terdekatnya.


Gejala PTSD

Rekoleksi Trauma

Salah satu kategori gejala yang paling umum muncul bagi individu dengan PTSD adalah rekoleksi mengenai trauma yang dihadapi. Gejala yang termasuk kedalam kategori ini adalah merasakan kilas balik mengenai kejadian traumatis, pikiran akan kejadian traumatis yang muncul secara tiba-tiba, hingga mimpi buruk akan kejadian tersebut.


Menjauhi Hal-hal

Mengikuti kategori sebelumnya, kategori gejala pada PTSD adalah kecenderungan untuk menghindari hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman traumatis. Gejala ini membuat individu dengan PTSD menghindari berbagai macam hal, mulai dari lokasi, situasi, bahkan orang dengan ciri tertentu yang dapat memicu rekoleksi trauma.


Meningkatnya Kegelisahan

Karena individu dengan PTSD sangat ketakutan dengan mengingat kembali pengalaman traumatis yang pernah dirasakannya, individu tersebut juga mengalami peningkatan kegelisahan dalam berbagai aspek. Kondisi ini mencakup permasalahan dalam berinteraksi dengan orang lain, kesulitan menunjukkan kasih sayang, kesulitan tidur, emosi yang tidak stabil dan ledakan emosi, hingga rasa cemas yang berlebihan yang membuat individu mudah terkejut. Gejala fisik yang dapat muncul dari rasa kegelisahan ini mencakup peningkatan tekanan darah dan denyut nadi, nafas cepat, ketegangan otot, mual, dan diare.


Kecenderungan Negatif 

Karena individu dengan PTSD masih sadar akan rasa gelisah terhadap pengalaman traumatis yang dilaluinya, individu cenderung menimbulkan kecenderungan berpikir negatif. Hal yang terkait dengan kecenderungan negatif ini adalah rasa bersalah hingga sifat permusuhan pada pengalaman traumatis tersebut. Pada anak-anak kecil dengan PTSD, mereka bisa saja mengalami keterlambatan perkembangan dalam aspek-aspek pelatihan seperti penggunaan toilet, keterampilan berbahasa, hingga kemampuan motorik.


Terapi yang Dapat Diterapkan

PTSD dapat juga ditangani melalui terapi, berikut beberapa terapi yang dapat membantu penderita PTSD:


Cognitive Behavioral Therapy (CBT)

CBT adalah psikoterapi yang mengkolaborasikan antara terapi perilaku dan terapi kognitif yang didasarkan pada asumsi bahwa perilaku manusia secara bersamaan dipengaruhi oleh pikiran, perasaan, proses fisiologis, serta konsekuensi perilaku. CBT terbukti mampu menangani PTSD secara efektif, bahkan turut membantu meredakan kondisi penyerta lainnya seperti depresi, rasa cemas, keterbatasan fungsi, hingga kecacatan yang menyertai. Umumnya, satu rangkaian CBT membutuhkan setidaknya 8 sampai 12 kali pertemuan yang dijadwalkan tiap minggu, dengan tiap pertemuan berlangsung sekitar 60 sampai 90 menit. Metode ini fleksibel dan bisa dijalankan baik secara berkelompok maupun secara personal, tergantung kebutuhan pasien. 

Melalui CBT, pasien diajak untuk menilai ulang cara berpikir dan asumsi-asumsi yang mereka yakini, sehingga bisa mengenali pola pikir yang keliru misalnya menggeneralisasi hal buruk secara berlebihan atau membiarkan pikiran negatif mendominasi hingga menutupi sisi positif. Dari sini, pasien perlahan diarahkan menuju cara berpikir yang lebih seimbang dan fungsional. Selain itu, terapi ini juga kerap memanfaatkan pemicu ingatan atau emosi seputar trauma untuk melatih pasien agar tidak lagi menghindar dan tidak membentuk asosiasi yang keliru terhadap peristiwa traumatis tersebut. Semua ini bermuara pada satu tujuan: mengembalikan rasa kendali, rasa percaya diri, serta kemampuan pasien memprediksi keadaan, sekaligus menekan kecenderungan untuk kabur atau menghindar. Tak kalah penting, kemampuan mengelola stres dan menyiapkan strategi menghadapi situasi krisis juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses terapi CBT.


Cognitive Processing Therapy (CPT)

Cognitive Processing Therapy (CPT) adalah jenis terapi perilaku kognitif spesifik yang efektif dalam mengurangi gejala PTSD yang telah berkembang setelah mengalami berbagai peristiwa traumatis. CPT dilakukan selama 12 sesi, sehingga pengobatan berlangsung sekitar 3 bulan dengan setiap sesi berlangsung selama 60-90 menit. Resiko dari CPT adalah ketidaknyamanan ringan hingga sedang ketika berbicara atau menulis tentang ingatan atau keyakinan terkait trauma. CPT dapat dilakukan secara individual ataupun  kelompok yang berisi 6-10 orang. Temuan meta-analitik menunjukkan bahwa CPT adalah pengobatan PTSD yang efektif dengan manfaat jangka panjang di berbagai hasil.


Prolonged Exposure (PE)

Prolonged exposure (PE) adalah strategi intervensi yang digunakan dalam terapi perilaku kognitif untuk membantu individu menghadapi ketakutan. Terapi perilaku kognitif ini mengajarkan individu untuk secara bertahap mendekati ingatan, perasaan, dan situasi terkait trauma. PE biasanya memakan waktu 8-15 sesi mingguan, sehingga pengobatan berlangsung sekitar 3 bulan dengan masing-masing sesi berlangsung 1,5 jam dan dilakukan secara individual. Protokol PE berisi komponen berikut: 

  1. Psikoedukasi mengenai alasan pengobatan dan reaksi umum terhadap trauma;

  2. Latihan pernapasan sebagai suatu bentuk relaksasi; 

  3. Paparan in vivo, atau pendekatan menghindari aktivitas, situasi, atau tempat yang terkait dengan trauma tetapi secara objektif aman;

  4. Paparan imaginal, atau pengulangan ingatan traumatis.


Brief Electic Psychotherapy (BEP)

Brief Eclectic Psychotherapy (BEP) menggabungkan pendekatan kognitif-perilaku dan psikodinamik yang terdiri dari psikoedukasi, eksposur imajiner, tugas menulis dan restrukturisasi kognitif. Psikoedukasi dilakukan bersama sama dengan pasien dan keluarganya. Paparan, tugas menulis terstruktur, dan objek kenangan digunakan untuk membantu pasien mengakses, merasakan, dan mengekspresikan emosi yang ditekan terkait dengan pengalaman traumatis. Pada tahap domain makna, pasien akan belajar bagaimana mereka dan pandangan mereka tentang dunia telah berubah. BEP terdiri dari 16 sesi yang di laksanakan setiap minggu dan setiap sesi berdurasi sekitar 45-60 menit.


Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR)

Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR) adalah terapi bicara yang dikembangkan untuk pengobatan keadaan pasca trauma termasuk PTSD. Selama EMDR pasien diinstruksikan untuk memikirkan peristiwa traumatis sambil secara bersamaan melihat jari terapis (yang digerakkan dari sisi ke sisi) dengan mata mereka. Stimulasi otak dari kedua sisi yang dihasilkan diperkirakan mengaktifkan jalur pemrosesan informasi otak, memungkinkan asosiasi yang lebih adaptif. Seiring waktu, pasien menjadi tidak peka terhadap trauma, membiarkan gejala mereka hilang, dan fungsi mereka dalam kehidupan meningkat. EMDR telah terbukti menjadi pengobatan yang efektif untuk mengurangi emosi dan gairah negatif. Selain itu, uji coba baru-baru ini telah menetapkan bahwa EMDR memiliki peran efektif dalam mengurangi kecemasan dan depresi pada pasien PTSD. Berdasarkan penelitian, EMDR lebih baik daripada CBT dalam mengurangi gejala dan kecemasan pasca-trauma.


Narrative Exposure Therapy (NET)

Narrative Exposure Therapy (NET) adalah terapi perilaku kognitif jangka pendek untuk gangguan psikologis terkait trauma. NET bertujuan untuk mengurangi gejala PTSD melalui dua mekanisme alternatif yaitu paparan kenangan traumatis dan pembiasaan berikutnya dari respons emosional terkait serta rekonstruksi memori otobiografi dan narasi yang konsisten. Sebuah meta analisis menunjukkan bahwa NET efektif dalam mengurangi gejala PTSD dan depresi di berbagai populasi pengungsi yang sebagian besar terkena dampak perang. Hasil pengobatan lebih baik untuk orang dewasa yang lebih tua. NET dilakukan 1-2 kali seminggu selama 3-17 minggu dengan durasi 60-120 menit setiap sesi.


REFERENSI

Thakur, A., Choudhary, D., Kumar, B., & Chaudhary, A. (2022). A review on post-traumatic stress disorder (PTSD): Symptoms, therapies and recent case studies. Current Molecular Pharmacology, 15(3), 502 516. https://doi.org/10.2174/1874467214666210525160944

Miao, X. R., Chen, Q. B., Wei, K., Tao, K. M., & Lu, Z. J. (2018). Posttraumatic stress disorder: from diagnosis to prevention. Military Medical Research, 5(1), 32.

Sagita, P., Apriliana, E., Mussabiq, S., & Soleha, T. U. (2023). Intervensi Psikologis dan Farmakologis Pada Gangguan Stres Pasca Trauma. Medical Profession Journal of Lampung, 13(4), 594-599.

Monday, September 7, 2026

DEPRESI

Edisi September 2026

Penulis: Austin Vinsen & Reyfan Setio


Pengenalan Depresi

Bayangkan dirimu bangun dari lelap tidur, namun alih-alih merasa segar, dirimu merasa lemas, tidak bersemangat dan bahkan merasa sedih. Dunia terasa tak lagi memiliki tujuan bagimu. Waktu kian berlalu namun dirimu tidak kunjung merasa membaik. kira-kira seperti itulah yang dirasakan oleh individu penderita depresi, mereka menjalani dunia dengan beban mental yang kian membelenggu.

Depresi merupakan sebuah gangguan mental yang mempengaruhi kesehatan mental, emosi dan fisik. Depresi mempengaruhi cara seseorang berpikir hingga bagaimana mereka menjalani aktivitas sehari-harinya. Depresi dapat dikenal dari kesedihan yang tak kunjung berhenti, hilangnya harapan untuk melanjutkan kehidupan dan hilangnya minat serta ketertarikan terhadap hal yang disukai sebelumnya.


Faktor Penyebab

Biologis

Studi menyatakan bahwa seseorang yang memiliki keluarga atau kerabat dekat yang mengidap depresi, cenderung akan ikut mengembangkan kondisi depresi tersebut. Studi tentang kembar menunjukkan bahwa pewarisan depresi sekitar 40-50%, menekankan pentingnya faktor genetik pada pemicu depresi. Faktor hormonal yang abnormal juga memiliki peran besar yang menjadi pemicu dari depresi. Individu pengidap depresi secara berkala menderita Gangguan sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA). HPA berfungsi sebagai pengatur respon terhadap stress. 

Psikologis

    Menurut Aaron Beck, faktor penyebab depresi dapat dilihat melalui triad kognitif: pandangan negatif terhadap diri sendiri, terhadap dunia, dan terhadap masa depan. Alasan mengapa hal tersebut menjadi sumber penyebab depresi adalah karena pandangan-pandangan negatif tersebut akan menjalar ke cara berpikir seseorang dan memberikan perasaan putus asa dan ketidakberdayaan yang akan mengulang kembali siklus pemikiran depresif. Teori learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari) oleh Martin Seligman mendukung pernyataan tersebut, dimana individu yang hidup di lingkungan negatif yang tidak dapat dikontrol mengajarkan ketidakberdayaan pada individu tersebut, membuat mereka berpikir bahwa mereka pun tidak dapat mengontrol masa depan atau bahkan dirinya pada saat ini.

    Beberapa trait kepribadian juga dapat meningkatkan resiko munculnya depresi, seperti neuroticism yang tinggi, sifat perfeksionisme yang berlebih, hingga individu yang cenderung lebih tertutup dengan introversion yang tinggi.

    Pengalaman hidup di masa kecil juga sangat berkontribusi dalam pengembangan depresi, terutama jika pengalaman hidup tersebut melibatkan trauma, stres kronis, kekerasan dalam bentuk apapun, penelantaran, hingga kematian orang tua. Memasuki remaja hingga dewasa, jika coping mechanism yang tidak sehat digunakan untuk mengatasi stres seperti menahan emosi hingga tidak merasakannya atau menjadi terlalu was-was, hal tersebut juga meningkatkan resiko terbentuknya depresi di masa depan.

Lingkungan dan sosial

    Faktor sosial dan ekonomi secara signifikan menjadi faktor yang berkontribusi kepada pengembangan dan persistensi dari depresi. seseorang yang menghadapi kesulitan ekonomi seperti pengangguran, kemiskinan, atau ketidak stabilan ekonomi, sering kali mengalami stres kronis, kecemasan, dan putus asa. hal-hal tersebut dapat menjadi pemantik bagi gejala depresi. Studi menunjukkan status sosial dan ekonomi rendah memiliki hubungan dengan prevalensi depresi, menyoroti kebutuhan untuk melakukan intervensi secara sistematis yang mengatasi ketimpangan ekonomi sebagai bagian dari penanganan kesehatan mental yang komprehensif

    Konflik di antara keluarga, hubungan romantis, atau pertemanan dapat memicu perasaan tertolak, kesepian, dan tekanan emosional. rusaknya hubungan yang penting, seperti perceraian, perpisahan atau kehilangan orang tersayang, dapat menjadi pemicu perasaan berduka dan depresi. Hubungan yang kasar, merupakan satu kesatuan pengalaman dari emosional, fisik, atau bahkan kekerasan psikologis, yang dapat mengikis rasa aman dan harga diri, yang membuat seseorang lebih rentan terhadap depresi. Isolasi sosial dapat menjadi faktor langsung maupun tak langsung, disebabkan oleh beberapa situasi seperti tinggal sendiri, disabilitas, masa pensiun atau putusnya kontak akibat dari perubahan kehidupan, atau perpindahan tempat tinggal. Pandemi Covid-19 dengan pembatasan sosial dan lockdownnya memperparah isu ini dan meningkatkan prevalensi depresi secara global.


Gejala dan Dampak

Gejala

Depresi secara utama digambarkan oleh gejala emosional dan psikologis yang mempengaruhi kondisi mental secara mendalam. Gejala tersebut melibatkan perasaan sedih, keputusasaan, dan kekosongan yang tak kunjung berhenti bahkan melalui pengalaman positif. Individu juga dapat mengalami kondisi yang disebut anhedonia, dimana mereka akan kehilangan minat atau ketertarikan pada hal-hal yang disukai sebelumnya.

    Selain itu, gejala yang dapat muncul biasanya berupa perasaan tidak berharga, rasa bersalah, hingga rasa menyalahkan diri sendiri dapat muncul bahkan jika individu tersebut tidak melakukan kesalahan apapun. Rasa cemas yang muncul dari depresi biasanya berupa rasa khawatir yang berlebih, gelisah, hingga perasaan bahwa semua akan berakhir.

    Gejala kognitif dari depresi seperti kesulitan konsentrasi, kesulitan membuat keputusan dan kesulitan mengingat juga umum terjadi dan gejala tersebut dapat berujung pada pemikiran terhadap kematian, hingga motivasi dan percobaan untuk mengakhiri hidup diri sendiri.

Dampak

    Dampak somatik yang biasanya muncul dari depresi adalah keluhan seperti kelelahan kronis, energi rendah, gangguan pada jadwal tidur seperti insomnia dan hipersomnia. Gangguan pada nafsu makan juga umum terjadi yang dapat berujung pada berat badan yang sangat kurang atau sangat berlebih, tergantung pada pengalaman individu antara kehilangan nafsu makan sepenuhnya atau mengidam makanan yang dapat menenangkan suasana hati. Dampak fisik yang muncul akibat stres dan depresi biasanya berupa sakit kepala, pegal otot, hingga masalah pencernaan. Hasil dari gejala-gejala tersebut akhirnya akan berujung pada kesulitan untuk menjaga diri, kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari hingga tanggung jawab sekolah atau kantor.

    Dalam hubungan dekat dengan sesama, depresi dapat menjadi tantangan yang berat karena komunikasi yang menjadi sulit, berkurangnya keintiman fisik, dan meningkatnya ketergantungan terhadap pasangan sebagai mental support yang berlebih dan tidak sehat.


Psikoterapi dan konseling

    CBT (Cognitive Behavorial Therapy) merupakan salah satu metode psikoterapi untuk depresi yang paling banyak diteliti dan didukung secara empiris. Terapi jenis ini berfokus pada identifikasi dan mengubah pola pikir negatif, yang sering kali otomatis dan mengakar, lalu mengubah pikiran tersebut menjadi pikiran yang lebih stabil dan realistis. Dalam terapi CBT, pasien bersama dengan terapis melakukan eksplorasi  koneksi antara pikiran, emosi dan perilaku. Melalui berbagai teknik, seperti rekonstruksi kognitif, pasien belajar untuk mengenal distorsi kognitif, seperti membesar-besarkan dampak negatif, generalisasi berlebihan, dan pola pikir semua atau tidak sama sekali. Dengan secara bertahap meningkatkan interaksi di aktivitas yang menyenangkan dan bermakna, pasien dapat menghentikan siklus buruk dan dapat mengalami perasaan senang karena berhasil mencapai sesuatu dan penguatan positif

    Interpersonal Therapy (IPT) merupakan terapi lain yang berbasis bukti, dan telah terbukti efektif untuk menangani depresi. Terapi ini berfokus pada mengidentifikasi dan menyelesaikan isu interpersonal yang mungkin saja berkontribusi kepada gejala depresif, seperti duka yang belum terselesaikan, transisi peran, konflik peran dan defisit interpersonal. Proses terapeutik dalam IPT melibatkan penelusuran interaksi interpersonal dan pola komunikasi pasien, identifikasi aspek-aspek yang mungkin berkontribusi terhadap gejala depresi, serta upaya kolaboratif untuk mengembangkan cara-cara yang lebih efektif dan memuaskan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Terapis memberikan panduan, umpan balik, dan dukungan saat pasien berupaya mengatasi masalah-masalah tersebut, dengan tujuan mengurangi gejala depresi dan meningkatkan fungsi diri secara keseluruhan. Fokus IPT pada hubungan interpersonal menjadikannya sangat efektif bagi individu yang depresinya sangat berkaitan dengan kesulitan sosial atau relasional. Terapi ini membantu pasien membangun hubungan yang lebih kuat dan suportif, yang dapat berfungsi sebagai pelindung terhadap episode depresi di masa mendatang. 

    Mindfulness-Based Cognitive Treatment (MBCT) adalah pendekatan lain yang menggabungkan teknik dengan terapi kognitif tradisional. MBCT mengajarkan pasien untuk mengubah cara mereka menyikapi pikiran mereka dengan cara lebih menyadari sensasi dan gagasan yang muncul pada saat ini, tanpa memberikan penilaian.

    Dialectical Behaviour Therapy (DBT) dapat membantu individu yang mengalami disregulasi emosi dan perilaku merusak diri saat mereka sedang mengalami depresi. Terapi ini mengajarkan pasien cara mengendalikan emosi, memperkuat hubungan, dan mengurangi perilaku melukai diri sendiri dengan memadukan teknik kognitif-perilaku serta praktik mindfulness dan penerimaan. Terakhir, tujuan dari terapi humanistik yang mencakup teknik seperti terapi Gestalt dan terapi yang berpusat pada individu adalah membantu pasien mencapai potensi penuh mereka serta mengembangkan ciri-ciri kepribadian mereka yang khas.


Intervensi Gaya Hidup

  Depresi dapat dicegah dengan gaya hidup yang sehat. Olahraga dipercaya dapat membantu mengurangi gejala depresi dengan memproduksi lebih banyak neurotransmitter seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin yang berperan penting dalam regulasi mood. Selain meningkatkan hormon tersebut, aktivitas fisik juga membantu individu untuk mengalihkan pikiran-pikiran negatif tersebut untuk merusak siklus depresi yang terjadi.

    Pola makan dan diet juga sangat berpengaruh pada pencegahan depresi, dimana whole foods seperti buah-buahan, sayuran, dan daging tanpa lemak memberikan nutrisi yang meningkatkan kesehatan otak dan kinerja kognitif. Makanan yang mengandung asam lemak omega 3 dan vitamin B (B6, B9, B12) akan sangat membantu karena nutrisi tersebut membantu menjaga kesehatan otak dan meningkatkan produksi neurotransmitter.    

  Menjaga pola tidur yang sehat juga penting dalam mencegah depresi. Dengan mengurangi waktu penggunaan layar gawai, menciptakan suasana dan ruang tidur yang nyaman, hingga aktivitas relaksasi sebelum tidur seperti membaca buku, mandi dengan air hangat, individu dapat meminimalisir ketidakseimbangan kortisol dan melatonin yang juga membantu meregulasi stres dan emosi.

    Ada juga meditasi dan mindfulness yang dapat membantu individu mengurangi dampak negatif dari pikiran dan emosi negatif dari pola pikir yang diketahui sebagai ruminasi. Mindfulness mengajarkan cara individu melihat aspek dirinya secara objektif tanpa membuat mereka terperangkap dalam aspek-aspek tersebut.


Referensi

Dr. Navinder Singh, Hemlata, Lalit Sharma, Rajnikant Yadav, & Anoop. (2024). THE MULTIFACETED BURDEN OF DEPRESSION: EXPLORING CAUSES, SYMPTOMS, AND TREATMENTS. Journal of Population Therapeutics and Clinical Pharmacology, 31(9), 346-368. 

 

Tuesday, August 25, 2026

Skizofrenia

 Edisi Agustus 2026

Penulis: Austin Vinsen & Reyfan Setio


Pengenalan Skizofrenia

Bisakah kalian membayangkan jika imajinasi dan halusinasi kalian terasa sangat nyata sehingga hal tersebut menjadi sangat mengganggu kehidupan sehari-hari kalian? Kurang lebih itulah yang dirasakan oleh orang yang memiliki skizofrenia. Skizofrenia adalah kondisi medis yang termasuk dalam kategori gangguan jiwa berat (SMI) di mana kondisi tersebut dapat mengubah dan mengganggu cara berpikir, emosi, dan perilaku seseorang sehingga sulit menjalani aktivitas sehari-hari. Skizofrenia juga merupakan sebuah sindrom, yang berarti kondisi medis yang terbentuk dari kumpulan gejala yang telah dikategorikan, gejala-gejala tersebut adalah gejala positif, negatif, dan kognitif.


Gejala Skizofrenia

Gejala Positif

Dalam kondisi medis, secara khusus yang meliputi gangguan mental, gejala positif menggambarkan perilaku, pikiran, atau persepsi abnormal yang "ditambahkan" atau muncul secara berlebihan pada diri seseorang. Dalam skizofrenia, gejala positif yang termasuk adalah delusi dan halusinasi, di mana orang yang memiliki skizofrenia tidak dapat membedakan apa yang nyata dan apa yang hanya terjadi di pikirannya. Sebagai contoh, jika isi pikiran penderita skizofrenia merasa seperti sedang dikejar oleh sesuatu, maka itu akan benar-benar dirasakan seakan menjadi kejadian yang nyata di mana orang tersebut merasa dikejar oleh sesuatu atau seseorang, bahkan jika tidak ada apa-apa yang terjadi secara nyata.

Gejala Negatif

Gejala negatif meliputi aspek-aspek yang seharusnya ada pada orang sehat pada umumnya, namun menjadi hilang atau berkurang. Pada skizofrenia, gejala tersebut adalah anhedonia, alogia, avolisi, dan social withdrawal.

Gejala Kognitif

Gejala kognitif pada skizofrenia meliputi berkurangnya kecepatan proses otak, kemampuan visuospatial dalam belajar, waktu atensi, pengenalan wajah, hingga fleksibilitas kognitif.


Faktor Penyebab Skizofrenia

Skizofrenia tidak serta merta hadir, terdapat faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab gangguan skizofrenia. berikut di antaranya:

  1. Pewarisan Gen

    Skizofrenia memiliki risiko yang tinggi untuk diturunkan melalui genetik. Hal ini berarti skizofrenia sangat mungkin untuk diturunkan ke keturunan mendatang. 

  1. Lingkungan

    Lingkungan seperti pengalaman buruk di masa kanak-kanak, penggunaan dan penyalahgunaan zat, status minoritas, kondisi lingkungan di perkotaan juga dapat menjadi faktor yang berperan dalam spektrum skizofrenia. 


Contoh Kasus Skizofrenia

Pada tanggal 7 Maret 2024 di Bekasi Utara terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu (inisial SNF) kepada anak kandungnya sendiri. Pembunuhan ini terungkap setelah suami dari SNF yang berinisial MAS meminta saksi yang berinisial NA untuk mengecek situasi anak dan istrinya di kontrakan yang berada di Bekasi Utara. NA diminta untuk mengecek situasi karena pada saat itu MAS sedang berada di Medan, Sumatera Utara karena kepentingan kerja. Pada saat NA sampai di kontrakan, ia mendapati korban telah terbaring di kasur dalam kondisi tak bernyawa. MAS memberikan keterangan bahwa SNF telah “berperilaku aneh” dalam 2 bulan terakhir.

Polisi kemudian menangkap SNF dan melakukan pemeriksaan. Dalam proses pemeriksaan, SNF berkata bahwa ia mengalami halusinasi dan mendengar “bisikan gaib”. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh psikiater, terungkap bahwa SNF mengalami gangguan skizofrenia. 

Dari kasus yang telah dipaparkan rasanya dapat disepakati bahwa skizofrenia merupakan kasus gangguan kejiwaan yang bisa menjadi sangat berbahaya apabila tidak ditangani dengan benar.



REFERENSI

News, B. B. C. (2024, Maret 11). Kasus ibu bunuh anak kandung di Bekasi karena "bisikan gaib" terindikasi skizofrenia - "Cerminan kegagalan deteksi dini kasus gangguan jiwa". BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/articles/c51w0zn1xeyo

Orsolini, L., Pompili, S., & Volpe, U. (2022). Schizophrenia: A Narrative Review of Etiopathogenetic, Diagnostic and Treatment Aspects. Journal of Clinical Medicine, 11(17), 5040. https://doi.org/10.3390/jcm11175040 

Ali, N. A. M., Yusof, F., & Aziz, S. (2019). Faktor-faktor penyebab penyakit skizofrenia: satu kajian kes. Jurnal Sains Sosial, 4(1), 68-79.


Saturday, May 30, 2026

Philip Zimbardo - Stanford Prison Experiment

Edisi Mei 2026

PHILIP ZIMBARDO - STANFORD PRISON EXPERIMENT


                                                Sumber: Foto

Penulis: Gabriel Tiara C. K & Michelle Dipa Revata

PENJELASAN TOKOH

    Philip Zimbardo adalah seorang psikolog sosial terkenal asal Amerika Serikat yang lahir pada 23 Maret 1933 di New York City. Ia tumbuh dalam keluarga Sisilia-Amerika di kawasan South Bronx, lingkungan yang penuh dengan persoalan sosial seperti kemiskinan, kejahatan, dan diskriminasi rasial. Pengalaman hidup tersebut membentuk ketertarikannya terhadap perilaku manusia dan dinamika sosial dalam kehidupan sehari-hari. Zimbardo meninggal dunia dengan tenang pada 14 Oktober 2024 di usia 91 tahun di rumahnya di San Francisco, dikelilingi oleh keluarganya.

    Dalam bidang pendidikan, Zimbardo meraih gelar BA dari Brooklyn College pada tahun 1954 dengan tiga bidang studi sekaligus, yaitu psikologi, sosiologi, dan antropologi. Ia kemudian melanjutkan studinya di Universitas Yale dan memperoleh gelar MS pada tahun 1955 serta PhD dalam bidang psikologi pada tahun 1959. Karier akademiknya dimulai sebagai pengajar di New York University pada tahun 1960 hingga 1967, lalu berlanjut di Columbia University pada tahun 1967. Pada tahun 1968, ia bergabung dengan Stanford University dan mengabdi di sana selama lebih dari empat dekade sebagai profesor psikologi. Zimbardo dikenal memiliki semangat “giving psychology away”, yaitu upaya untuk membuat ilmu psikologi lebih mudah dipahami dan dapat diakses oleh masyarakat luas, baik di lingkungan akademik maupun umum. Karena kedekatan dan pengaruhnya terhadap mahasiswa di berbagai negara, ia sering dijuluki “Uncle Phil.”

    Sepanjang kariernya, Zimbardo menerima berbagai penghargaan atas kontribusinya dalam penelitian, pengajaran, dan pengembangan psikologi sosial. Ia juga pernah menjabat sebagai Presiden American Psychological Association (APA) dan menjadi profesor emeritus psikologi di Stanford University. Dalam kehidupan pribadinya, Zimbardo hidup bersama istrinya, Christina Maslach Zimbardo, seorang profesor emerita psikologi dan mantan wakil provost di UC Berkeley, selama 52 tahun. Ia juga meninggalkan anak-anak serta cucu-cucunya.

    Salah satu kutipan terkenal dari Philip Zimbardo adalah, “The line between good and evil is permeable and almost anyone can be induced to cross it when pressured by situational forces,” yang menggambarkan pandangannya bahwa perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh situasi dan tekanan sosial di sekitarnya.

EKSPERIMEN DAN KRITIK 

     Pada tahun 1971, Philip Zimbardo melakukan salah satu eksperimen paling terkenal yang juga sekaligus kontroversial dalam psikologi sosial. Eksperimen ini bertujuan untuk memahami apakah kekerasan di penjara berasal dari sifat sadistik individu atau struktur kekuasaan dan kondisi sosial yang terbentuk di dalam penjara. Dalam pelaksanaan eksperimen ini, Zimbardo merekrut 24 mahasiswa laki-laki yang sehat baik secara fisik juga stabil secara emosional yang kemudian dibagi secara acak untuk menjalani peran sebagai “penjaga” dan “narapidana”. Sesuai namanya, simulasi dilakukan di basement Departemen Psikologi Stanford. Awalnya, narapidana ditangkap di rumah oleh polisi sungguhan, diproses, diberi seragam yang bernomor, kemudian dirantai di pergelangan kaki. Para penjaga diberikan seragam berwarna coklat khaki, kacamata hitam reflektif, serta diinstruksikan untuk menjaga ketertiban tanpa kekerasan fisik.


    Eksperimen diawali dengan suasana yang relatif tenang, namun tidak lama kemudian, ketegangan mulai muncul dalam eksperimen. Narapidana mulai memberontak pada hari kedua, dan penjaga menekan mereka dengan hukuman fisik maupun psikologis, seperti penggunaan gas pemadam, isolasi, serta tugas-tugas merendahkan. Dalam beberapa hari, perilaku penjaga berubah menjadi otoriter dan sadis, sementara narapidana menjadi patuh, pasif, bahkan mengalami gangguan emosional berat. Beberapa narapidana mengalami breakdown dalam waktu kurang dari 36 jam. Eksperimen yang direncanakan berlangsung dua minggu akhirnya dihentikan setelah enam hari, terutama setelah Christina Maslach, seorang pengamat luar, mengecam perlakuan kejam yang terjadi. 


HASIL EKSPERIMEN

    Eksperimen Penjara Stanford menemukan bahwa perilaku kejam secara utama ternyata bukanlah hasil dari sifat bawaan individu, melainkan dari situasi sosial dan struktur kekuasaan yang menekan. Zimbardo menekankan bahwa situational forces lebih kuat daripada disposisi pribadi dalam pembentukan perilaku. Konsep-konsep seperti deindividuasi (hilangnya identitas pribadi akibat seragam dan peran), learned helplessness (narapidana menyerah karena merasa tidak berdaya), serta kesesuaian dengan temuan Milgram tentang kepatuhan terhadap otoritas menjadi bagian dari teori yang lahir dari eksperimen ini. 


    Meski begitu terkenal, eksperimen ini juga menimbulkan kritik besar terkait etika pelaksanaannya. Eksperimen ini memiliki beberapa dampak buruk, seperti peserta mengalami gangguan emosional serius, situasi yang bereskalasi membuat peserta menjadi tidak bisa keluar dari eksperimen, hingga Zimbardo sendiri menjadi kehilangan objektivitas karena berperan ganda sebagai peneliti sekaligus “superintendent.” Beberapa peneliti kemudian menuduh bahwa perilaku penjaga diarahkan agar sesuai dengan hipotesis. Meski demikian, eksperimen ini tetap menjadi tonggak penting dalam psikologi sosial, memicu reformasi etika penelitian, dan masih diajarkan sebagai peringatan tentang bagaimana kekuasaan dan struktur sosial dapat mengubah orang biasa menjadi pelaku kejam atau korban pasif. Zimbardo sendiri kemudian melanjutkan penelitian tentang shyness, bystander effect, dan mendirikan Heroic Imagination Project untuk mendorong perilaku heroik sebagai antitesis dari temuan kelam eksperimen penjara Stanford.


REFERENSI

American Psychological Association. (n.d.). Philip G. Zimbardo: 2002 APA president. https://www.apa.org/about/governance/president/bio-philip-zimbardo 

Encyclopaedia Britannica. (n.d.). Stanford Prison Experiment. In Britannica. Retrieved May 20, 2026, from https://www.britannica.com/event/Stanford-Prison-Experiment 

GoodTherapy. (2015, July 22). Philip Zimbardo biography: Who they are and their contribution. https://www.goodtherapy.org/famous-psychologists/philip-zimbardo.html 

McLeod, S. (2023). Stanford prison experiment. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/zimbardo.html 

Social Psychology Network. (n.d.). Philip G. Zimbardo. https://zimbardo.socialpsychology.org/

Stanford News. (2024, October 10). Philip Zimbardo, the psychologist behind Stanford Prison Experiment, dies at age 91. Stanford University. https://news.stanford.edu/stories/2024/10/philip-zimbardo-the-psychologist-behind-stanford-prison-experiment-dies-at-age-91  

Totally History. (2014, January 31). Philip Zimbardo biography: Life of American psychologist. https://totallyhistory.com/philip-zimbardo/ 

Wikipedia. (n.d.). Philip Zimbardo. https://en.wikipedia.org/wiki/Philip_Zimbardo 

Yale News. (2024, October 21). Philip Zimbardo, beloved educator who became a 'public face' of psychology. Yale University. https://news.yale.edu/2024/10/21/philip-zimbardo-beloved-educator-who-became-public-face-psychology 

Zimbardo, P. G. (n.d.). Biography. Philip Zimbardo Official Website. https://www.zimbardo.com/biography/ 

Zimbardo, P. G. (n.d.). Home page. https://philipzimbardo.com/ 

Zimbardo, P. G. (n.d.). Life and legacy of psychologist Philip Zimbardo. https://www.zimbardo.com/life-and-legacy-of-psychologist-philip-zimbardo/


Hoarding Disorder

Edisi Oktober 2026 Sumber Ilustrasi: https://pin.it/5obBJwyS2   Penulis: Cecilia Prajnadian Istiwibowo dan Keiza Vania Rahmadini Haryanto Ap...