Sunday, March 22, 2026

Milgram Experiment: Obedience to Authority

Edisi Maret 2026


Sumber: https://daily.jstor.org/the-hidden-meaning-of-a-notorious-experiment/ 

Penulis: Gabriel Tiara Chandra Kusuma & Jovanka Nartawijaya 

LATAR BELAKANG TOKOH

   Stanley Milgram lahir pada 15 Agustus 1933 di Bronx, New York, dari keluarga imigran Yahudi asal Eropa Timur. Kehidupan awalnya sangat dipengaruhi oleh suasana pasca-Perang Dunia II dan tragedi Holocaust, yang memicu pertanyaan mendalam dalam dirinya mengenai bagaimana manusia bisa melakukan kekejaman atas nama kepatuhan. Secara personal, ia dikenal sebagai sosok yang sangat kreatif, memiliki minat luas pada seni dan sinematografi, serta memiliki kepribadian yang tajam dan terkadang provokatif dalam menantang norma-norma akademik pada masanya.

   Pendidikan formal Milgram dimulai di Queens College, di mana ia mengambil jurusan Ilmu Politik sebelum akhirnya beralih fokus ke psikologi. Ia kemudian melanjutkan studi doktoral di Universitas Harvard dan berhasil meraih gelar Ph.D. dalam Psikologi Sosial pada tahun 1960. Selama di Harvard, ia bekerja di bawah bimbingan psikolog ternama Gordon Allport dan Solomon Asch, yang pengaruhnya terlihat jelas dalam ketertarikan Milgram pada dinamika kelompok dan tekanan sosial. Karier akademisnya kemudian berlanjut sebagai profesor di Universitas Yale dan City University of New York (CUNY).

   Temuan terpenting Milgram adalah bahwa perilaku kejam sering kali bukan hasil dari karakter yang jahat, melainkan akibat dari situasi sosial dan tekanan otoritas. Melalui "Eksperimen Kepatuhan" yang fenomenal, ia menyimpulkan bahwa individu cenderung melepaskan tanggung jawab moral pribadi mereka ketika merasa bertindak sebagai "agen" dari keinginan orang lain yang berkuasa. Selain itu, penelitiannya tentang Small World Phenomenon memberikan dasar ilmiah bagi konsep "enam derajat pemisahan," yang membuktikan betapa terhubungnya jaringan sosial manusia secara global.

EKSPERIMEN

   Eksperimen Stanley Milgram yang dilakukan pada awal 1960-an merupakan salah satu penelitian paling terkenal dalam psikologi sosial. Latar belakang eksperimen ini berakar pada peristiwa sejarah, khususnya persidangan Adolf Eichmann, seorang pejabat Nazi yang membela dirinya dengan alasan hanya “menjalankan perintah” atasannya dalam Holocaust. Milgram ingin memahami sejauh mana manusia bersedia menaati figur otoritas, bahkan ketika perintah tersebut bertentangan dengan hati nurani dan nilai moral pribadi.

   Metodologi eksperimen ini sederhana namun mengejutkan. Peserta diberi peran sebagai “guru” yang harus mengajukan pertanyaan kepada seorang “murid” (sebenarnya aktor). Setiap kali murid menjawab salah, guru diperintahkan untuk memberikan kejutan listrik dengan intensitas yang meningkat. Walaupun murid tidak benar-benar menerima kejutan, ia berpura-pura kesakitan, berteriak, dan memohon agar eksperimen dihentikan. Di sisi lain, seorang peneliti berjas putih bertindak sebagai otoritas, terus mendorong peserta dengan kalimat seperti “eksperimen ini harus dilanjutkan.” Situasi ini menempatkan peserta dalam dilema moral antara mengikuti hati nurani atau menaati perintah otoritas.

HASIL EKSPERIMEN 

   Hasil eksperimen sangat mengejutkan: mayoritas peserta, sekitar 65%, tetap memberikan kejutan hingga level maksimum 450 volt, meskipun mereka mendengar teriakan dan protes dari murid. Temuan ini menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap otoritas dapat mengalahkan pertimbangan moral pribadi. Eksperimen Milgram membuktikan bahwa dalam kondisi tertentu, orang biasa dapat melakukan tindakan berbahaya hanya karena diperintahkan oleh figur otoritas.

   Implikasi dari eksperimen ini sangat luas. Ia menjelaskan bagaimana kejahatan besar dalam sejarah, seperti Holocaust, dapat melibatkan individu-individu biasa yang sebenarnya tidak memiliki niat jahat, tetapi tunduk pada sistem otoritas. Selain itu, eksperimen ini memicu perdebatan etika dalam penelitian psikologi, karena meskipun tidak ada peserta yang benar-benar disakiti secara fisik, mereka mengalami tekanan psikologis yang berat. Kritik ini kemudian mendorong lahirnya standar etika yang lebih ketat dalam penelitian psikologi.

   Secara keseluruhan, eksperimen Stanley Milgram memberikan wawasan mendalam tentang sifat kepatuhan manusia. Ia mengingatkan kita bahwa otoritas memiliki kekuatan besar dalam membentuk perilaku, dan bahwa setiap individu perlu menyadari potensi bahaya ketika kepatuhan mengalahkan moralitas. Penelitian ini tetap relevan hingga kini, menjadi peringatan bahwa tanggung jawab moral tidak boleh dilepaskan hanya karena adanya perintah dari pihak berwenang.

REFERENSI

Blass, T. (2004). The man who shocked the world: The life and legacy of Stanley Milgram. Basic Books.
Cherry, K. (2023, November 8). Stanley Milgram biography: Life and work. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/stanley-milgram-biography-2795532
Milgram, S. (1967). The small world problem. Psychology Today, 2, 60–67.






Tuesday, March 10, 2026

John Darley & Bibb Latané:Bystander Effect

 Edisi Maret 2026

Sumber : https://www.careershodh.com/careershodh-series-classical-experiments-24-darley-and-latane-the-case-of-kitty-genovese-bystander-effect/

Penulis : Chelsea Christy Setiawan & Reyfan Setio


Biografi

    John M. Darley (3 April 1938 – 31 Agustus 2018) adalah seorang psikolog sosial Amerika yang terkenal karena investigasi empirisnya tentang intervensi pengamat, kognisi moral, dan dasar psikologis pengambilan keputusan hukum dan etika. Darley bergabung dengan fakultas Universitas Princeton pada tahun 1968 sebagai profesor madya psikologi.  Darley menerima Penghargaan Kontribusi Ilmiah Ter distinguished dari Society of Experimental Social Psychology pada tahun 1997, Beasiswa Guggenheim, dan terpilih sebagai Anggota American Academy of Arts and Sciences pada tahun 2005, di samping menjabat sebagai presiden Association for Psychological Science.


    Bibb Latané lahir di Kota New York pada tanggal 19 Juli 1937. Ia belajar di Yale dan menerima gelar sarjana di bidang perilaku dan budaya. Ia melanjutkan studinya di Universitas Minnesota, tempat ia meraih gelar PhD di bidang psikologi pada tahun 1963. Latané mulai mengajar di Universitas Columbia pada tahun 1961, dan kemudian, ia mengajar di Universitas Negeri Ohio antara tahun 1968 dan 1981, di Universitas Carolina Utara di Chapel Hill dari tahun 1982–1989, dan di Universitas Florida Atlantic dari tahun 1989–2000. Ia menjabat sebagai Direktur Institut Penelitian Ilmu Sosial antara tahun 1982 dan 1988, dan ia telah menjabat sebagai Senior Fellow di Pusat Ilmu Manusia di Chapel Hill sejak tahun 2000. Latané menerima Penghargaan Kontribusi Ilmiah Terkemuka dari Society of Experimental Social Psychology pada tahun 1997.


    Di Columbia, Latané bekerja sama dengan John Darley untuk mengembangkan teori dampak sosial, yang dirancang untuk menjelaskan pembagian tanggung jawab dalam kelompok besar dan mengungkapkan efek pengamat—penyebaran tanggung jawab yang mengurangi bantuan dalam pengaturan kelompok selama keadaan darurat—dan mengeksplorasi bagaimana proses kognitif membentuk penilaian moral dan kepatuhan terhadap norma. Penelitiannya, yang didasarkan pada paradigma laboratorium terkontrol dan studi lapangan, memengaruhi domain terapan seperti pencegahan kriminal dan etika organisasi, dengan lebih dari 140 publikasi yang menekankan mekanisme kausal daripada stereotip situasional. Keduanya paling dikenal karena penelitian mereka tentang efek pengamat pasif. Bekerja sama dengan Darley, Latané menerbitkan buku The Unresponsive Bystander: Why Doesn't he Help? pada tahun 1970. Buku tersebut menggambarkan intervensi pengamat—perilaku individu ketika menanggapi keadaan darurat. Latané dan Darley dianugerahi Penghargaan Memorial Richard M. Elliot pada tahun 1968 dan Penghargaan Ilmu Perilaku dari American Association for the Advancement of Science pada tahun 1968.



Prosedur Eksperimen

    Eksperimen dilaksanakan dengan sebuah mahasiswa yang diperintahkan oleh pembawa eksperimen untuk memasuki sebuah ruang kecil untuk berdiskusi dengan mahasiswa/i lainnya mengenai permasalahan dan keluh kesah pribadi masing-masing dalam perkuliahan tersebut, pembawa eksperimen akan menjelaskan bahwa tujuan eksperimen ini adalah untuk mengenal lebih dalam keluh-kesah dari para mahasiswa/i selama perkuliahan yang mereka jalani. Untuk menjaga anonimitas partisipan dan menjaga agar partisipan tersebut tidak merasa gugup atau malu, diskusi tersebut dilaksanakan melalui intercom, membuat diskusi tersebut lebih nyaman dibanding dengan pembicaraan tatap muka langsung.


    Selama diskusi berlangsung, salah seorang dari mahasiswa/i tersebut akan menyatakan hal bahwa mereka sedang merasakan kejang seperti akan mengalami epilepsi, namun dikarenakan sistem pembicaraan mereka yang melalui sistem intercom, mahasiswa partisipan tidak dapat mengecek keseriusan kondisi tersebut, variabel yang menjadi penentu dalam eksperimen ini adalah seberapa cepat waktu yang dibutuhkan oleh mahasiswa partisipan untuk melaporkan kejadian tersebut kepada pembawa eksperimen.


    Dalam eksperimen tersebut, terdapat dalam total 72 partisipan dalam eksperimen tersebut, 59 mahasiswi dan 13 mahasiswa, dimana seluruh peserta merupakan murid-murid yang baru memasuki program studi psikologi di Universitas New York. Selama diskusi berlangsung, pembawa eksperimen tidak berpartisipasi dalam diskusi dan setiap peserta hanya diperbolehkan untuk berbicara satu persatu dan yang lainnya akan mengomentari pembahasan tersebut. Setelah beberapa saat, semua mikrofon peserta akan dimatikan dan hanya satu yang diperbolehkan untuk berbicara, yaitu mahasiswa yang akan menjelaskan bahwa ia merasakan kejang dan akan mengalami epilepsi, karena seluruh mikrofon peserta lainnya telah dimatikan, para peserta tidak dapat berdiskusi atau menanyakan kondisi korban tersebut kepada siapapun.



Hasil Eksperimen

    Berdasarkan seberapa besar kelompok mahasiswa/i dengan sang “korban”, ditemukan bahwa semakin kecil jumlah peserta dengan korban, maka semakin cepat juga respons peserta untuk menghampiri pembawa eksperimen bahwa ada seseorang yang mengalami epilepsi, sebagai contoh, dalam kelompok dua orang (peserta dan “korban), peserta tersebut melaporkan dalam waktu 52 detik setelah mendengar tanda-tanda epilepsi dari korban, sedangkan dalam kelompok enam orang (peserta, “korban” dan 4 peserta yang menjadi pengamat), peserta tersebut baru melaporkan kejadian tersebut setelah 166 detik.


Dari hasil eksperimen tersebut, dapat dinyatakan adanya 3 proses psikologis yang terjadi kepada peserta eksperimen:

  1. Diffusion of Responsibility: peserta merasa bahwa dengan adanya orang lain bersama mereka, peserta akan berpikir bahwa “akan ada orang lain yang melaporkan kejadian tersebut”, membuat mereka tidak yakin dan berkonflik dengan pemikiran mereka sendiri.

  2. Evaluation Apprehension: peserta tidak yakin untuk melaporkan karena berpikir bahwa mungkin kejadian tersebut bukanlah kejadian yang nyata karena takut saat melaporkan, mereka akan terlihat konyol karena hal tersebut bukanlah kondisi darurat yang nyata.

  3. Pluralistic Ignorance: peserta yang melihat atau merasa bahwa peserta lainnya tidak melakukan apa-apa akan ikutan berpikir bahwa melaporkan atau membantu tidak akan membuat perubahan apapun.


    Dalam eksperimen tersebut juga dijelaskan bahwa peserta yang gagal untuk melaporkan bukan berarti mereka tidak memiliki perasaan atau tidak peduli akan situasi tersebut. Setelah melalui evaluasi, peserta yang tidak melaporkan menunjukkan tanda-tanda cemas seperti berkeringat, gemetar, gugup, bahkan beberapa sempat hampir melaporkan, namun duduk kembali, bukan karena tidak peduli, tetapi tidak mampu untuk bertindak karena ketidakyakinan dan konflik batin.



Referensi

Darley, J. M. (n.d.). John M. Darley. Grokipedia. Retrieved March 7, 2026, from https://grokipedia.com/page/john_m_darley

GoodTherapy. (2015, July 20). Bibb Latané: Who they are and their contribution. https://www.goodtherapy.org/famous-psychologists/bibb-latane.html

Darley, J. M., & Latané, B. (1968). Bystander intervention in emergencies: diffusion of responsibility. Journal of personality and social psychology, 8(4), 377-383. https://doi.org/10.1037/h0025589


MARSHMALLOW TEST

  Edisi April 2026 Marshmallow Test sumber : https://www.facebook.com/drrozanizam/posts/marshmallow-experiment-apa-yang-setiap-ibu-bapa-perl...