Edisi April 2026
Marshmallow Test
Penulis : Chelsea Christy Setiawan & Yonatan Stevano T
Biografi
Walter Mischel (lahir 22 Februari 1930, Wina , Austria—meninggal 12 September 2018, New York , New York, AS) adalah seorang psikolog Amerika yang terkenal karena penelitiannya yang inovatif tentang penundaan kepuasan yang dikenal sebagai “tes marshmallow.” Mischel lahir sebagai anak bungsu dari dua bersaudara. Ayahnya adalah seorang pengusaha. Setelah pendudukan Nazi di Wina (1938), ia dan keluarganya berimigrasi ke Amerika Serikat, dan menetap pada tahun 1940 di Brooklyn, New York. Orang tua Mischel membuka toko serba ada, di mana ia bertugas mengantar barang sambil melakukan berbagai pekerjaan paruh waktu. Ia menjadi lulusan terbaik di kelasnya di sekolah menengah dan menerima beasiswa ke Universitas New York .
Meskipun awalnya ia mendaftar di program studi pra-kedokteran, Mischel mengalihkan fokusnya ke psikologi dan memperoleh gelar sarjana pada tahun 1951. Dengan spesialisasi di bidang psikologi klinis , ia memperoleh gelar master dari City College of New York (1953) dan gelar Ph.D. dari Ohio State University (1956). Setelah itu, ia memegang jabatan profesor di University of Colorado (1956–58), Harvard University (1958–62), dan Stanford University (1962–82).
Penjelasan Eksperimen
Eksperimen ini dirancang untuk memahami bagaimana anak-anak usia prasekolah mengelola kemampuan menunda kepuasan (delay of gratification) ketika dihadapkan pada pilihan antara imbalan kecil yang segera didapatkan versus imbalan yang lebih besar namun harus ditunggu. Mischel dan koleganya tertarik untuk mengidentifikasi mekanisme kognitif dan atensional (perhatian) apa yang membuat beberapa anak mampu menunggu lebih lama dibandingkan anak lainnya.
Penelitian ini didasarkan pada perpanjangan dari teori frustrative nonreward—bahwa kehadiran objek imbalan secara fisik dapat menimbulkan frustrasi yang membuat penundaan menjadi sulit. Oleh karena itu, peneliti berhipotesis bahwa mengalihkan perhatian dari imbalan akan membantu anak menunggu lebih lama, sementara memikirkan atau melihat imbalan justru akan memperpendek durasi penundaan. Eksperimen ini melibatkan total 92 anak berusia 3 hingga 5 tahun.
Prosedur Eksperimen
Eksperimen I: Distraksi Eksternal vs. Tanpa Distraksi
Anak-anak ditempatkan di sebuah ruangan. Di depan mereka tersedia objek imbalan (makanan ringan yang telah dipilih sebelumnya oleh anak sebagai favorit mereka). Peneliti memberikan instruksi bahwa anak boleh memanggil peneliti kapan saja untuk mendapatkan imbalan yang kurang disukai (less preferred reward), tetapi jika mereka bersedia menunggu sampai peneliti kembali, mereka akan mendapatkan imbalan yang lebih disukai (preferred reward). Durasi menunggu diukur. Dalam kondisi distraksi eksternal, anak-anak diminta untuk mengalihkan perhatian mereka dari imbalan. Dalam kondisi tanpa distraksi, imbalan tetap terlihat oleh anak selama periode menunggu.
Eksperimen II: Distraksi Kognitif (Pikiran)
Eksperimen ini menguji apakah jenis pikiran yang dijalani anak selama menunggu mempengaruhi durasi penundaan. Anak-anak diinstruksikan untuk memikirkan hal-hal yang "menyenangkan" (fun things), hal-hal yang "menyedihkan" (sad thoughts), atau memikirkan imbalan itu sendiri. Peneliti kemudian mengukur berapa lama anak mampu menahan diri sebelum akhirnya memanggil peneliti.
Eksperimen III: Ketidaktersediaan Fisik Imbalan
Pada eksperimen ini, imbalan yang ditunda (delayed rewards) tidak tersedia secara fisik untuk dilihat anak selama periode menunggu. Anak-anak diberikan instruksi awal yang memanipulasi perhatian kognitif mereka—misalnya, diminta untuk membayangkan imbalan tersebut atau mengalihkan pikiran ke hal lain. Prosedur ini dirancang untuk mengisolasi efek dari representasi mental imbalan, terlepas dari kehadiran fisiknya.
Hasil Eksperimen
Hasil dari ketiga eksperimen secara konsisten mendukung hipotesis bahwa mekanisme perhatian dan kognitif memainkan peran kunci dalam kemampuan menunda kepuasan.
Eksperimen I:
Anak-anak yang dialihkan perhatiannya dari objek imbalan (distraksi eksternal) mampu menunggu *jauh lebih lama* dibandingkan anak-anak yang harus menatap imbalan secara langsung selama periode menunggu.
Eksperimen II:
Tidak semua distraksi kognitif efektif. Anak-anak yang memikirkan "hal-hal menyenangkan" mampu menunda lebih lama, sementara mereka yang memikirkan "hal-hal menyedihkan" menunjukkan durasi penundaan yang pendek, sama halnya dengan anak-anak yang memikirkan imbalan itu sendiri.
Eksperimen III:
Ketika imbalan tidak tersedia secara fisik, anak-anak yang secara kognitif memikirkan imbalan justru mengalami ‘penurunan’ durasi penundaan secara signifikan, bukannya peningkatan. Dengan kata lain, membayangkan imbalan yang menggiurkan sama buruknya dengan melihatnya secara langsung.
Kesimpulan
Secara keseluruhan eksperimen Marshmallow Test menyimpulkan bahwa:
Mekanisme atensional dan kognitif yang meningkatkan menonjolnya imbalan memperpendek durasi penundaan sukarela.
Sebaliknya, distraksi dari imbalan baik secara eksternal (mengalihkan pandangan) maupun secara kognitif (memikirkan hal-hal menyenangkan) memfasilitasi kemampuan menunda.
Dengan kata lain, kunci keberhasilan dalam marshmallow test bukanlah "menahan diri" secara mental dengan terus mengingat imbalan, melainkan mengalihkan pikiran sepenuhnya dari imbalan tersebut ke hal-hal lain yang lebih netral atau menyenangkan.
Referensi
Mischel, W., Ebbesen, E. B., & Raskoff Zeiss, A. (1972). Cognitive and attentional mechanisms in delay of gratification. Journal of Personality and Social Psychology, 21(2), 204–218. https://doi.org/10.1037/h0032198
Nolen, J. L. (2026, February 18). Walter Mischel. Encyclopaedia Britannica. https://www.britannica.com/biography/Walter-Mischel
No comments:
Post a Comment