Thursday, January 29, 2026

Harry Harlow : The Rhesus Monkey Attachment Theory


THE RHESUS MONKEY 



Penulis : Jovanka Nartawijaya dan Reyfan Setio 

Biografi Harry Harlow 


Harry Harlow adalah seorang psikolog Amerika yang terkenal karena penelitian kontroversial mengenai kasih sayang dan ikatan emosional pada seekor monyet, khususnya monyet rhesus. Ia lahir pada tahun 1905 dan menjadi tokoh penting dalam psikologi perkembangan. Melalui eksperimen yang dilakukan pada tahun 1950-an dan 1960-an, Harlow menunjukkan bahwa kebutuhan akan kehangatan, sentuhan, dan rasa aman jauh lebih penting daripada sekadar pemenuhan kebutuhan fisik seperti makanan. Penelitiannya dengan "ibu tiruan" dari kawat dan kain memperlihatkan bahwa anak monyet lebih memilih mendekat pada boneka berbulu lembut meskipun tidak memberikan makanan, dibandingkan dengan boneka kawat yang menyediakan susu. Temuan ini mengguncang pandangan tradisional tentang ikatan ibu-anak dan menegaskan pentingnya kasih sayang dalam perkembangan psikologis. Meskipun metode eksperimennya sering menuai kritik karena dianggap kejam, kontribusi Harlow tetap berpengaruh besar dalam memahami peran cinta, afeksi, dan hubungan sosial dalam kehidupan manusia.

Teori Eksperimen Harry 

Harry Harlow mengembangkan teori tentang pentingnya kasih sayang (affection) dan ikatan emosional (attachment) dalam perkembangan psikologis anak. Penelitiannya pada monyet rhesus menghasilkan beberapa poin utama:

  • Kebutuhan akan Sentuhan dan Kehangatan
    Harlow menunjukkan bahwa bayi monyet lebih memilih "ibu tiruan" dari kain lembut meskipun tidak memberi makanan, dibandingkan "ibu tiruan" dari kawat yang menyediakan susu. Hal ini membuktikan bahwa kebutuhan emosional (rasa aman, kenyamanan) lebih mendasar daripada kebutuhan biologis semata.

  • Teori Attachment (Ikatan Emosional)
    Dari eksperimen tersebut, Harlow menegaskan bahwa ikatan anak dengan ibu bukan hanya karena pemberian makanan, tetapi karena adanya kontak fisik, rasa aman, dan kasih sayang. Inilah yang kemudian menjadi dasar teori attachment dalam psikologi perkembangan.

  • Dampak Kekurangan Kasih Sayang
    Anak monyet yang tumbuh tanpa kehangatan dan interaksi sosial menunjukkan perilaku abnormal: menarik diri, sulit berinteraksi, bahkan mengalami gangguan emosional. Ini menegaskan bahwa kasih sayang adalah faktor krusial dalam perkembangan sosial dan mental.

  • Implikasi pada Manusia
    Teori Harlow mengubah cara pandang psikologi dan pendidikan anak. Ia menekankan bahwa cinta, pelukan, dan perhatian adalah kebutuhan dasar manusia, sama pentingnya dengan makanan dan tempat tinggal.


Prosedur Eksperimen Harry Harlow 

Eksperimen Harlow dimulai dengan anak monyet yang diberikan sebuah “Ibu pengganti” (Surrogate mother), dimana Harlow menyiapkan dua jenis ibu pengganti:

  1. Ibu pengganti yang terbuat dari kawat logam.

  2. Ibu pengganti yang terbuat dari pakaian kain dengan lampu penghangat.

Setelah menyiapkan kedua ibu pengganti tersebut, Harlow akan mengambil beberapa anak monyet rhesus dari ibu biologisnya setelah dilahirkan. Harlow sengaja menggunakan ibu pengganti yang terbuat dari benda tidak hidup untuk mencegah faktor seperti perilaku ibu yang mungkin dapat mempengaruhi anak monyet dalam eksperimen ini, Harlow menyatakan bahwa dalam eksperimen ini, kedua ibu pengganti tersebut sepenuhnya sama, namun dengan satu perbedaan yaitu kualitas kontak kenyamanan dengan anak monyet tersebut.

Eksperimen ini dibagi menjadi dua percobaan dimana Harlow menggunakan sebanyak 8 anak monyet rhesus dengan masing-masing percobaan menggunakan 4 anak monyet. Eksperimen dimulai saat Harlow meletakkan kedua ibu pengganti bersama 4 anak monyet pertama di sebuah kandang dimana mereka akan menghabiskan waktu bersama ibu pengganti tersebut. Dalam percobaan pertama, botol susu yang akan memberi makan anak-anak monyet dipasangkan pada ibu pengganti yang terbuat dari kain, dan percobaan kedua menukar posisi botol susu dengan ibu pengganti yang terbuat dari kawat logam. Harlow meneliti banyak hal dalam eksperimen ini seperti Ibu pengganti mana yang paling disukai oleh anak-anak monyet berdasarkan waktu yang mereka habiskan dan seberapa kuat hubungan anak-anak monyet dengan ibu pengganti yang disukai.


Hasil Eksperimen

Dalam eksperimennya, Harlow menemukan bahwa dalam kedua percobaan utama dengan ibu pengganti tersebut, anak-anak monyet cenderung memilih untuk menetap dan menghabiskan mayoritas waktunya bersama dengan ibu pengganti yang terbuat dari kain yang menghasilkan hangat karena mereka melihat kehangatan yang selalu ada dari ibu pengganti tersebut memberikan sebuah sensasi keamanan dan proteksi. Hal ini terjadi di kedua percobaan, bahkan saat botol susu dipasangkan pada ibu pengganti kawat, anak-anak monyet hanya akan menghampiri untuk makan dan akhirnya kembali kepada ibu pengganti kain. 

Selanjutnya, Harlow pun melakukan eksperimen tambahan untuk melihat seberapa erat hubungan anak-anak monyet tersebut dengan ibu penggantinya saat dihadapi dengan kondisi baru seperti dibebaskan dalam ruang terbuka atau objek yang tidak mereka ketahui. Anak-anak monyet yang diberikan ibu pengganti kain awalnya ketakutan dan berlindung di belakang ibu pengganti tersebut sebagai lokasi aman mereka, namun perlahan anak-anak monyet tersebut menumbuhkan rasa penasaran dan mulai berinteraksi dengan objek di sekitarnya. Hal ini berbanding terbalik dengan anak-anak monyet yang diberikan ibu pengganti kawat dimana anak-anak monyet hanya menunduk ketakutan di kaki ibu penggantinya dan tidak menumbuhkan sedikitpun keberanian untuk berinteraksi dengan objek di sekitarnya.

Hasil akhir dalam semua eksperimen Harlow menyatakan bahwa kasih sayang didapatkan lewat kontak dari kenyamanan dan keamanan yang terikat antara anak dan ibunya, dimana hasil ini membantah ide di masa tersebut dimana kasih sayang adalah respons terpelajar yang didapatkan anak oleh ibu karena mereka menyediakan kebutuhan biologis anaknya.


REFERENSI

Vicedo, M.(2010). The evolution of Harry Harlow: from the nature to the nurture of love. DOI L10.1177/0957154X10370909





Friday, January 23, 2026

SKINNER BOX

Edisi Januari 2026

SKINNER BOX




Penulis : Chelsea Christy Setiawan & Austin Vinsen

PENJELASAN TOKOH

        Burrhus Frederic Skinner atau B.F. Skinner adalah salah satu tokoh psikologi yang lahir pada 20 Maret 1904, di kota kecil bernama Susquehanna, Pennsytvania, Amerika Serikat. B.F. Skinner tumbuh di sebuah kota kecil di keluarga yang terbilang nyaman, hangat dan bahagia. Di Perguruan Tinggi Hamilton, yakni sebuah sekolah kesenian Liberaldi Cliton, New York, dan memperoleh gelar sarjananya. Tahun 1926 ia melanjutkan pendidikannya untuk program graduate di bidang psikologi yang terbilang cukup sulit di Harvard.

        Skinner berhasil menerbitkan buku pertamanya yang diberi judul The Behavior of Organisms pada tahun 1938. Skinner kembali ke Harvard pada tahun 1948, dan memulai eksperimen burung dara yang diberi nama Project Pigeon dan kemudian eksperimen yang bernama Baby-Tender meskipun akhirnya tidak dapat dilanjutkan. Skinner menjadi tokoh utama psikologi behavioral Amerika. Ia berhasil menggagas program mengontrol perilaku masyarakat, kiat-kiat modifikasi perilaku serta membuat penemuan Baby-Tender. pada 18 Agustus 1990 ia meninggal dunia dan dimakamkan di Cambridge, Massachusetts, akibat penyakit leukemia.

      Di dunia psikologi, B.F. Skinner merupakan seorang psikolog terkenal dari aliran behaviorisme, dengan pemikirannya yang terkenal yakni teori Operant Conditioning. Teori operant conditioning adalah teori yang sudah mencapai tahap penyempurnaan dari beberapa teori psikologi Behaviorisme. Kesimpulan-kesimpulan yang dicanangkan Skinner dalam teorinya didapatkan dari hasil pengamatan dan uji coba terhadap tikus dan burung dara yang dimasukkan ke dalam kotak yang dimodifikasi. Skinner adalah satu-satunya psikolog yang mendapat pujian sebagai Outstanding Lifetime Constribution To Psycology, artinya adalah Skinner telah memberikan kontribusi yang besar bagi dunia psikologi.

PENJELASAN EKSPERIMEN SKINNER BOX

    Eksperimen Skinner menggunakan kotak yang berisikan tikus dan dirancang dengan beberapa bagian untuk bahan percobaannya. Skinner menamai kotak tersebut dengan nama ‘Skinner Box’. Skinner box difungsikan untuk mengamati perilaku yang diperkuat dengan stimulus.

    Skinner box memiliki komponen yaitu tuas kecil yang dapat memberikan makanan kepada tikus apabila ditekan, juga terdapat lantai yang dapat dialiri listrik. Hal tersebut digunakan oleh Skinner untuk mengamati teori operant conditioning.

EKSPERIMEN

    Seekor tikus lapar akan dimasukkan ke dalam skinner box. Tikus tersebut akan belajar bagaimana untuk menemukan makanan, yaitu dengan menekan tuas. Ketika tikus mulai belajar apabila tuas ditekan maka makanan akan keluar, mereka akan terbiasa dan paham apabila tuas ditekan maka akan muncul makanan. Hal ini dapat disebut dengan penguatan positif dimana frekuensi perilaku akan meningkat yang dipengaruhi oleh stimulus yang menyenangkan.

    Dalam percobaan lain, seekor tikus ditempatkan di dalam kandang di mana mereka dikenai arus listrik yang tidak nyaman. Saat bergerak di kotak yang dialiri arus listrik, tikus akan segera menekan tuas yang akan mematikan arus listrik. Tikus tersebut belajar apabila menekan tuas maka arus listrik akan berhenti. Hal ini dapat disebut sebagai penguatan negatif, dimana frekuensi perilaku akan meningkat akibat stimulus yang tidak menyenangkan.

HASIL EKSPERIMEN

    Kotak tersebut memungkinkan Skinner untuk menyampaikan keempat kemungkinan hasil yang diinginkannya, yaitu:

    Penguatan positif : peningkatan perilaku akibat stimulus yang menyenangkan. Misalnya, tikus dapat diberi hadiah berupa makanan karena menekan tuas.

    Hukuman Positif : Bentuk pemberian stimulus yang tidak menyenangkan untuk mengurangi perilaku tertentu. Misalnya, setelah tikus diajari untuk menekan tuas, Skinner melatihnya untuk menghentikan perilaku ini dengan menyetrum lantai setiap kali tuas ditekan.

    Penguatan Negatif : peningkatan perilaku akibat penghilangan kondisi yang tidak menyenangkan. Misalnya, arus listrik ringan dialirkan melalui lantai kandang dan dihilangkan ketika perilaku yang diinginkan terbentuk.

    Hukuman Negatif : melibatkan pengambilan atau penghapusan situasi yang menyenangkan untuk mengurangi perilaku tertentu. Misalnya, dalam kotak Skinner, tikus dapat dilatih untuk berhenti menekan tuas dengan melepaskan pelet makanan secara berkala dan kemudian menahannya ketika tuas ditekan.

REFERENSI

Fitriyani, N., Komalasari, S., & Hairina, Y. (2021). Konsep punishment dalam pengasuhan: Studi komparatif pemikiran B. F. Skinner dan Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Al-Husna: Jurnal Studi Islam dan Humaniora, 2(3), 240–259. https://doi.org/10.18592/jah.v2vi3i.4677

Nickerson, C. (2024, February 2). Skinner box: What is an operant conditioning chamber? Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/what-is-a-skinner-box.html

Martin, G. N., & Carlson, N. R. (2018). Psychology (6th ed.). Pearson

John Darley & Bibb Latané:Bystander Effect

  Edisi Maret 2026 Sumber : https://www.careershodh.com/careershodh-series-classical-experiments-24-darley-and-latane-the-case-of-kitty-geno...