THE RHESUS MONKEY
Biografi Harry Harlow
Harry Harlow adalah seorang psikolog Amerika yang terkenal karena penelitian kontroversial mengenai kasih sayang dan ikatan emosional pada seekor monyet, khususnya monyet rhesus. Ia lahir pada tahun 1905 dan menjadi tokoh penting dalam psikologi perkembangan. Melalui eksperimen yang dilakukan pada tahun 1950-an dan 1960-an, Harlow menunjukkan bahwa kebutuhan akan kehangatan, sentuhan, dan rasa aman jauh lebih penting daripada sekadar pemenuhan kebutuhan fisik seperti makanan. Penelitiannya dengan "ibu tiruan" dari kawat dan kain memperlihatkan bahwa anak monyet lebih memilih mendekat pada boneka berbulu lembut meskipun tidak memberikan makanan, dibandingkan dengan boneka kawat yang menyediakan susu. Temuan ini mengguncang pandangan tradisional tentang ikatan ibu-anak dan menegaskan pentingnya kasih sayang dalam perkembangan psikologis. Meskipun metode eksperimennya sering menuai kritik karena dianggap kejam, kontribusi Harlow tetap berpengaruh besar dalam memahami peran cinta, afeksi, dan hubungan sosial dalam kehidupan manusia.
Teori Eksperimen Harry
Harry Harlow mengembangkan teori tentang pentingnya kasih sayang (affection) dan ikatan emosional (attachment) dalam perkembangan psikologis anak. Penelitiannya pada monyet rhesus menghasilkan beberapa poin utama:
- Kebutuhan akan Sentuhan dan KehangatanHarlow menunjukkan bahwa bayi monyet lebih memilih "ibu tiruan" dari kain lembut meskipun tidak memberi makanan, dibandingkan "ibu tiruan" dari kawat yang menyediakan susu. Hal ini membuktikan bahwa kebutuhan emosional (rasa aman, kenyamanan) lebih mendasar daripada kebutuhan biologis semata.
- Teori Attachment (Ikatan Emosional)Dari eksperimen tersebut, Harlow menegaskan bahwa ikatan anak dengan ibu bukan hanya karena pemberian makanan, tetapi karena adanya kontak fisik, rasa aman, dan kasih sayang. Inilah yang kemudian menjadi dasar teori attachment dalam psikologi perkembangan.
- Dampak Kekurangan Kasih SayangAnak monyet yang tumbuh tanpa kehangatan dan interaksi sosial menunjukkan perilaku abnormal: menarik diri, sulit berinteraksi, bahkan mengalami gangguan emosional. Ini menegaskan bahwa kasih sayang adalah faktor krusial dalam perkembangan sosial dan mental.
- Implikasi pada ManusiaTeori Harlow mengubah cara pandang psikologi dan pendidikan anak. Ia menekankan bahwa cinta, pelukan, dan perhatian adalah kebutuhan dasar manusia, sama pentingnya dengan makanan dan tempat tinggal.
Eksperimen Harlow dimulai dengan anak monyet yang diberikan sebuah “Ibu pengganti” (Surrogate mother), dimana Harlow menyiapkan dua jenis ibu pengganti:
Ibu pengganti yang terbuat dari kawat logam.
Ibu pengganti yang terbuat dari pakaian kain dengan lampu penghangat.
Setelah menyiapkan kedua ibu pengganti tersebut, Harlow akan mengambil beberapa anak monyet rhesus dari ibu biologisnya setelah dilahirkan. Harlow sengaja menggunakan ibu pengganti yang terbuat dari benda tidak hidup untuk mencegah faktor seperti perilaku ibu yang mungkin dapat mempengaruhi anak monyet dalam eksperimen ini, Harlow menyatakan bahwa dalam eksperimen ini, kedua ibu pengganti tersebut sepenuhnya sama, namun dengan satu perbedaan yaitu kualitas kontak kenyamanan dengan anak monyet tersebut.
Eksperimen ini dibagi menjadi dua percobaan dimana Harlow menggunakan sebanyak 8 anak monyet rhesus dengan masing-masing percobaan menggunakan 4 anak monyet. Eksperimen dimulai saat Harlow meletakkan kedua ibu pengganti bersama 4 anak monyet pertama di sebuah kandang dimana mereka akan menghabiskan waktu bersama ibu pengganti tersebut. Dalam percobaan pertama, botol susu yang akan memberi makan anak-anak monyet dipasangkan pada ibu pengganti yang terbuat dari kain, dan percobaan kedua menukar posisi botol susu dengan ibu pengganti yang terbuat dari kawat logam. Harlow meneliti banyak hal dalam eksperimen ini seperti Ibu pengganti mana yang paling disukai oleh anak-anak monyet berdasarkan waktu yang mereka habiskan dan seberapa kuat hubungan anak-anak monyet dengan ibu pengganti yang disukai.
Hasil Eksperimen
Dalam eksperimennya, Harlow menemukan bahwa dalam kedua percobaan utama dengan ibu pengganti tersebut, anak-anak monyet cenderung memilih untuk menetap dan menghabiskan mayoritas waktunya bersama dengan ibu pengganti yang terbuat dari kain yang menghasilkan hangat karena mereka melihat kehangatan yang selalu ada dari ibu pengganti tersebut memberikan sebuah sensasi keamanan dan proteksi. Hal ini terjadi di kedua percobaan, bahkan saat botol susu dipasangkan pada ibu pengganti kawat, anak-anak monyet hanya akan menghampiri untuk makan dan akhirnya kembali kepada ibu pengganti kain.
Selanjutnya, Harlow pun melakukan eksperimen tambahan untuk melihat seberapa erat hubungan anak-anak monyet tersebut dengan ibu penggantinya saat dihadapi dengan kondisi baru seperti dibebaskan dalam ruang terbuka atau objek yang tidak mereka ketahui. Anak-anak monyet yang diberikan ibu pengganti kain awalnya ketakutan dan berlindung di belakang ibu pengganti tersebut sebagai lokasi aman mereka, namun perlahan anak-anak monyet tersebut menumbuhkan rasa penasaran dan mulai berinteraksi dengan objek di sekitarnya. Hal ini berbanding terbalik dengan anak-anak monyet yang diberikan ibu pengganti kawat dimana anak-anak monyet hanya menunduk ketakutan di kaki ibu penggantinya dan tidak menumbuhkan sedikitpun keberanian untuk berinteraksi dengan objek di sekitarnya.
Hasil akhir dalam semua eksperimen Harlow menyatakan bahwa kasih sayang didapatkan lewat kontak dari kenyamanan dan keamanan yang terikat antara anak dan ibunya, dimana hasil ini membantah ide di masa tersebut dimana kasih sayang adalah respons terpelajar yang didapatkan anak oleh ibu karena mereka menyediakan kebutuhan biologis anaknya.
REFERENSI
Vicedo, M.(2010). The evolution of Harry Harlow: from the nature to the nurture of love. DOI L10.1177/0957154X10370909
No comments:
Post a Comment