Tuesday, March 10, 2026

John Darley & Bibb Latané:Bystander Effect

 Edisi Maret 2026

Sumber : https://www.careershodh.com/careershodh-series-classical-experiments-24-darley-and-latane-the-case-of-kitty-genovese-bystander-effect/

Penulis : Chelsea Christy Setiawan & Reyfan Setio


Biografi

    John M. Darley (3 April 1938 – 31 Agustus 2018) adalah seorang psikolog sosial Amerika yang terkenal karena investigasi empirisnya tentang intervensi pengamat, kognisi moral, dan dasar psikologis pengambilan keputusan hukum dan etika. Darley bergabung dengan fakultas Universitas Princeton pada tahun 1968 sebagai profesor madya psikologi.  Darley menerima Penghargaan Kontribusi Ilmiah Ter distinguished dari Society of Experimental Social Psychology pada tahun 1997, Beasiswa Guggenheim, dan terpilih sebagai Anggota American Academy of Arts and Sciences pada tahun 2005, di samping menjabat sebagai presiden Association for Psychological Science.


    Bibb Latané lahir di Kota New York pada tanggal 19 Juli 1937. Ia belajar di Yale dan menerima gelar sarjana di bidang perilaku dan budaya. Ia melanjutkan studinya di Universitas Minnesota, tempat ia meraih gelar PhD di bidang psikologi pada tahun 1963. Latané mulai mengajar di Universitas Columbia pada tahun 1961, dan kemudian, ia mengajar di Universitas Negeri Ohio antara tahun 1968 dan 1981, di Universitas Carolina Utara di Chapel Hill dari tahun 1982–1989, dan di Universitas Florida Atlantic dari tahun 1989–2000. Ia menjabat sebagai Direktur Institut Penelitian Ilmu Sosial antara tahun 1982 dan 1988, dan ia telah menjabat sebagai Senior Fellow di Pusat Ilmu Manusia di Chapel Hill sejak tahun 2000. Latané menerima Penghargaan Kontribusi Ilmiah Terkemuka dari Society of Experimental Social Psychology pada tahun 1997.


    Di Columbia, Latané bekerja sama dengan John Darley untuk mengembangkan teori dampak sosial, yang dirancang untuk menjelaskan pembagian tanggung jawab dalam kelompok besar dan mengungkapkan efek pengamat—penyebaran tanggung jawab yang mengurangi bantuan dalam pengaturan kelompok selama keadaan darurat—dan mengeksplorasi bagaimana proses kognitif membentuk penilaian moral dan kepatuhan terhadap norma. Penelitiannya, yang didasarkan pada paradigma laboratorium terkontrol dan studi lapangan, memengaruhi domain terapan seperti pencegahan kriminal dan etika organisasi, dengan lebih dari 140 publikasi yang menekankan mekanisme kausal daripada stereotip situasional. Keduanya paling dikenal karena penelitian mereka tentang efek pengamat pasif. Bekerja sama dengan Darley, Latané menerbitkan buku The Unresponsive Bystander: Why Doesn't he Help? pada tahun 1970. Buku tersebut menggambarkan intervensi pengamat—perilaku individu ketika menanggapi keadaan darurat. Latané dan Darley dianugerahi Penghargaan Memorial Richard M. Elliot pada tahun 1968 dan Penghargaan Ilmu Perilaku dari American Association for the Advancement of Science pada tahun 1968.



Prosedur Eksperimen

    Eksperimen dilaksanakan dengan sebuah mahasiswa yang diperintahkan oleh pembawa eksperimen untuk memasuki sebuah ruang kecil untuk berdiskusi dengan mahasiswa/i lainnya mengenai permasalahan dan keluh kesah pribadi masing-masing dalam perkuliahan tersebut, pembawa eksperimen akan menjelaskan bahwa tujuan eksperimen ini adalah untuk mengenal lebih dalam keluh-kesah dari para mahasiswa/i selama perkuliahan yang mereka jalani. Untuk menjaga anonimitas partisipan dan menjaga agar partisipan tersebut tidak merasa gugup atau malu, diskusi tersebut dilaksanakan melalui intercom, membuat diskusi tersebut lebih nyaman dibanding dengan pembicaraan tatap muka langsung.


    Selama diskusi berlangsung, salah seorang dari mahasiswa/i tersebut akan menyatakan hal bahwa mereka sedang merasakan kejang seperti akan mengalami epilepsi, namun dikarenakan sistem pembicaraan mereka yang melalui sistem intercom, mahasiswa partisipan tidak dapat mengecek keseriusan kondisi tersebut, variabel yang menjadi penentu dalam eksperimen ini adalah seberapa cepat waktu yang dibutuhkan oleh mahasiswa partisipan untuk melaporkan kejadian tersebut kepada pembawa eksperimen.


    Dalam eksperimen tersebut, terdapat dalam total 72 partisipan dalam eksperimen tersebut, 59 mahasiswi dan 13 mahasiswa, dimana seluruh peserta merupakan murid-murid yang baru memasuki program studi psikologi di Universitas New York. Selama diskusi berlangsung, pembawa eksperimen tidak berpartisipasi dalam diskusi dan setiap peserta hanya diperbolehkan untuk berbicara satu persatu dan yang lainnya akan mengomentari pembahasan tersebut. Setelah beberapa saat, semua mikrofon peserta akan dimatikan dan hanya satu yang diperbolehkan untuk berbicara, yaitu mahasiswa yang akan menjelaskan bahwa ia merasakan kejang dan akan mengalami epilepsi, karena seluruh mikrofon peserta lainnya telah dimatikan, para peserta tidak dapat berdiskusi atau menanyakan kondisi korban tersebut kepada siapapun.



Hasil Eksperimen

    Berdasarkan seberapa besar kelompok mahasiswa/i dengan sang “korban”, ditemukan bahwa semakin kecil jumlah peserta dengan korban, maka semakin cepat juga respons peserta untuk menghampiri pembawa eksperimen bahwa ada seseorang yang mengalami epilepsi, sebagai contoh, dalam kelompok dua orang (peserta dan “korban), peserta tersebut melaporkan dalam waktu 52 detik setelah mendengar tanda-tanda epilepsi dari korban, sedangkan dalam kelompok enam orang (peserta, “korban” dan 4 peserta yang menjadi pengamat), peserta tersebut baru melaporkan kejadian tersebut setelah 166 detik.


Dari hasil eksperimen tersebut, dapat dinyatakan adanya 3 proses psikologis yang terjadi kepada peserta eksperimen:

  1. Diffusion of Responsibility: peserta merasa bahwa dengan adanya orang lain bersama mereka, peserta akan berpikir bahwa “akan ada orang lain yang melaporkan kejadian tersebut”, membuat mereka tidak yakin dan berkonflik dengan pemikiran mereka sendiri.

  2. Evaluation Apprehension: peserta tidak yakin untuk melaporkan karena berpikir bahwa mungkin kejadian tersebut bukanlah kejadian yang nyata karena takut saat melaporkan, mereka akan terlihat konyol karena hal tersebut bukanlah kondisi darurat yang nyata.

  3. Pluralistic Ignorance: peserta yang melihat atau merasa bahwa peserta lainnya tidak melakukan apa-apa akan ikutan berpikir bahwa melaporkan atau membantu tidak akan membuat perubahan apapun.


    Dalam eksperimen tersebut juga dijelaskan bahwa peserta yang gagal untuk melaporkan bukan berarti mereka tidak memiliki perasaan atau tidak peduli akan situasi tersebut. Setelah melalui evaluasi, peserta yang tidak melaporkan menunjukkan tanda-tanda cemas seperti berkeringat, gemetar, gugup, bahkan beberapa sempat hampir melaporkan, namun duduk kembali, bukan karena tidak peduli, tetapi tidak mampu untuk bertindak karena ketidakyakinan dan konflik batin.



Referensi

Darley, J. M. (n.d.). John M. Darley. Grokipedia. Retrieved March 7, 2026, from https://grokipedia.com/page/john_m_darley

GoodTherapy. (2015, July 20). Bibb Latané: Who they are and their contribution. https://www.goodtherapy.org/famous-psychologists/bibb-latane.html

Darley, J. M., & Latané, B. (1968). Bystander intervention in emergencies: diffusion of responsibility. Journal of personality and social psychology, 8(4), 377-383. https://doi.org/10.1037/h0025589


Sunday, February 22, 2026

Muzafer Sherif : The Robbers Cave Experiment

Edisi Februari 2026



Penulis : Yonatan Stevano Tedjolaksono & Michelle Dipa Revata

Biografi dan Temuan


            Muzafer Şerif Başoğlu, yang dikenal luas sebagai Muzafer Sherif (1906-1988), merupakan tokoh psikologi sosial modern Turki-Amerika yang lahir pada 29 Juli 1906 di Turki. Sherif meraih gelar sarjana dan master pertamanya di Istanbul University dan dilanjutkan dengan perolehan gelar master keduanya dari Harvard University pada tahun 1932. Setelahnya, ia juga menghadiri kuliah Wolfgang Köhler di Berlin dan sempat mengajar sebentar di Gazi Institute di Ankara, di mana ia memulai penelitian tentang pembentukan norma. Penelitian ini kemudian dijadikan disertasi doktoralnya yang berjudul “Some Social Factors in Perception” di Columbia University dan kemudian dikembangkan menjadi karya klasik berjudul The Psychology of Social Norms.


            Setelah memperoleh gelar PhD di tahun 1935, Sherif mengembangkan karier akademiknya dengan kembali menjadi asisten profesor di Gazi Institute pada tahun 1937. Tahun 1944, ia dipromosikan menjadi profesor dan mulai mengajar di Ankara University. Di sana, ia mendirikan laboratorium eksperimen kecil yang meneliti perihal social judgement, menerjemahkan beberapa karya psikologi ke bahasa Turki, dan melakukan studi tentang remaja serta skala penilaian pada masyarakat desa. Belum lama bergabung, tulisan Sherif yang berjudul Race Psychology dan artikel di jurnal Adimlar yang menentang doktrin rasial Nazi mengakibatkan dirinya terlibat konflik dengan pemerintah Turki yang dianggap bersikap pro-Nazi. Konflik ini membuat dirinya ditangkap dan dipenjara selama lebih dari empat bulan tanpa pengadilan, sebelum akhirnya dibebaskan berkat intervensi Departemen Luar Negeri AS. 


                Menolak tawaran rekonsiliasi dari pemerintah Turki, Sherif pindah ke AS dan meneruskan karier akademiknya sebagai profesor dan peneliti di beberapa universitas ternama, seperti Princeton University, Yale University, University of Oklahoma, hingga Pennsylvania State University sebelum akhirnya ia meninggal akibat serangan jantung pada 16 Oktober 1988 di Alaska dalam usia 82 tahun. Selama kehidupannya di AS, Sherif menghasilkan karya-karya penting yang ternama, seperti Social Judgement Theory, buku Social Judgement: Assimilation and Contrast Effects in Communication and Attitude Change, buku Group Conflict and Cooperation, dan Social Psychology. Sherif juga menghasilkan Realistic Conflict Theory (RCT) dari eksperimennya yang paling terkenal, yaitu Robbers Cave Experiment (1954).


Robbers Cave Experiment


            Robbers Cave Experiment, studi ini dilakukan oleh Muzafer Sherif dan rekannya pada tahun 1954. Robbers Cave Experiment merupakan studi klasik dalam psikologi sosial yang dirancang untuk menyelidiki penyebab konflik antar kelompok. Penelitian ini melibatkan 22 anak laki-laki berusia 11-12 tahun yang tidak saling mengenal, dikirim ke perkemahan musim panas di Taman Negara Bagian Robbers Cave, Oklahoma. Para peneliti membagi mereka secara acak ke dalam dua kelompok terpisah (Elang dan Ular Kobra) yang masing-masing tinggal di area berbeda, sehingga mereka tidak menyadari keberadaan kelompok lain. Pada fase pertama, setiap kelompok terlibat dalam aktivitas yang membangun ikatan dan struktur internal, seperti mendaki dan berenang bersama. Pada fase kedua, konflik sengaja diciptakan dengan mempertemukan kedua kelompok dalam serangkaian kompetisi yang hanya bisa dimenangkan oleh satu pihak. Akibatnya, permusuhan, stereotip negatif, dan prasangka antar kelompok muncul dengan cepat mereka mulai mengejek, menyerang bendera lawan, dan bahkan terlibat perkelahian fisik.


Hasil Temuan


            Temuan utama dari eksperimen ini melahirkan Teori Konflik Realistis (Realistic Conflict Theory), yang menyatakan bahwa konflik antar kelompok muncul ketika mereka bersaing memperebutkan sumber daya yang terbatas seperti ; piala, hadiah, atau pengakuan. Namun, bagian paling penting dari penelitian ini adalah fase ketiga, di mana Sherif berhasil menemukan solusi untuk meredakan konflik. Ia menemukan bahwa kontak sederhana atau sekadar mempertemukan kedua kelompok justru memperburuk situasi karena digunakan untuk saling menyerang. Solusinya terletak pada penciptaan tujuan superordinat (superordinate goals) yaitu tujuan bersama yang mendesak dan bernilai tinggi, namun tidak dapat dicapai oleh salah satu kelompok sendirian. Contohnya seperti ketika Sherif dengan sengaja membuat masalah pada pasokan air perkemahan, yang mengharuskan kedua kelompok bekerja sama untuk memperbaikinya. Insiden seperti ini secara bertahap menghilangkan ketegangan dan mendorong kerja sama, yang pada akhirnya mengarah pada berkurangnya permusuhan dan bahkan lahirnya persahabatan antar mantan rival.


Kesimpulan


Kesimpulan utama dari Robbers Cave Experiment adalah bahwa konflik antar kelompok tidak muncul dari perbedaan kepribadian atau latar belakang individu, melainkan dari kondisi struktural yang mempertemukan mereka dalam situasi kompetitif. Sebaliknya, perdamaian dapat dicapai bukan dengan menghilangkan perbedaan, melainkan dengan menciptakan situasi yang memaksa kelompok-kelompok yang bertikai untuk bekerja sama demi mencapai tujuan bersama yang lebih besar. Eksperimen ini menegaskan bahwa prasangka dan permusuhan dapat diciptakan dan juga dihapuskan melalui rekayasa situasi sosial, memberikan wawasan berharga bagi upaya resolusi konflik di dunia nyata.



Referensi:

Harvey, O. J. (1989). Muzafer Sherif (1906–1988). American Psychologist, 44(10), 1325–1326. https://doi.org/10.1037/h0091637

Sherif, M., Harvey, O. J., White, B. J., Hood, W. R., & Sherif, C. W. (1961). Intergroup conflict and cooperation: The Robbers Cave experiment. University of Oklahoma Book Exchange.




Wednesday, February 4, 2026

Köhler's Insight Learning Theory

Edisi Februari 2026

Penulis: Austin Vinsen & Gabriel Tiara C. K

LATAR BELAKANG TOKOH 

    Wolfgang Köhler merupakan seorang psikolog asal Jerman yang juga berperan penting dalam perkembangan Psikologi Gestalt. Köhler lahir pada tanggal 21 Januari 1887 di Tallinn, Estonia dan meninggal 11 Juni 1967, di Enfield, New Hampshire. Tesis doktoral Köhler dengan Carl Stumpf di Universitas Berlin (1909) melakukan penelitian mengenai pendengaran. Pada tahun 1911 Köhler yang memiliki peran sebagai asisten dan dosen di Universitas Frankurt, melanjutkan kembali penelitian mengenai pendengarannya. Pada tahun 1912 ia dan Kurt Koffka menjadi subjek eksperimen yang dilakukan oleh Max Wertheimer, eksperimen ini merupakan eksperimen tentang persepsi. Laporan mengenai eksperimen tersebut meluncurkan gerakan Gestalt. 

    Lalu pada tahun 1913-1920 Köhler sebagai direktur stasiun penelitian antropoid dari Akademi Ilmu Pengetahuan Prusia di Tenerife, Kepulauan Canary, melakukan eksperimen mengenai pemecahan masalah dan menggunakan simpanse sebagai subjek eksperimen. Eksperimen ini mengungkap tentang kemampuan mereka dalam merancang dan menggunakan alat-alat sederhana, serta membangun struktur sederhana. Temuannya muncul dalam karya klasik Intelligenzprüfungen an Menschenaffen (1917;(Mentalitas Kera). Köhler menjadi kepala institut psikologi dan profesor filsafat di Universitas Berlin pada tahun 1921, ia melakukan rangkaian investigasi yang menjelajahi banyak aspek dari teori Gestalt dan menerbitkan buku Psikologi Gestalt (1929). Dikarenakan vokal dalam kritiknya terhadap pemerintahan Adolf Hitler , Köhler pergi ke Amerika Serikat pada tahun 1935 dan menjadi profesor psikologi di Swarthmore College di Pennsylvania hingga tahun 1955.


EKSPERIMEN

    Eksperimen yang dilakukan oleh Wolfgang Köhler (1913–1917) di Tenerife merupakan tonggak sejarah psikologi Gestalt. Penelitian ini menantang teori trial-and-error (coba-salah) dengan membuktikan bahwa makhluk hidup, khususnya primata, memiliki kemampuan kognitif untuk memahami hubungan antarunsur dalam lingkungan guna memecahkan masalah secara mendadak atau yang dikenal sebagai Insight Learning.


PROSES EKSPERIMEN

    Köhler menggunakan simpanse (subjek paling cerdas bernama Sultan) dengan dua skenario utama yang dirancang agar seluruh alat pemecahan masalah terlihat oleh subjek: 
  • Eksperimen Kotak (The Box Problem)
→ Pisang digantung di langit-langit yang tidak terjangkau. Beberapa kotak kayu diletakkan secara   acak di lantai. Simpanse dibiarkan mencoba meraih pisang tanpa bantuan awal.
  • Eksperimen Tongkat (The Stick Problem)
→ Pisang diletakkan di luar jeruji kandang. Di dalam kandang disediakan dua bilah bambu yang berbeda ukuran, di mana ujung bambu kecil bisa dimasukkan ke dalam lubang bambu besar. Simpanse mencoba meraih pisang dengan tangan kosong, lalu dengan satu tongkat, namun keduanya gagal karena jarak yang terlalu jauh.


HASIL EKSPERIMEN 

    Berdasarkan pengamatan terhadap perilaku simpanse, Köhler merumuskan hasil berikut:
  • Proses Insight: Sultan tidak menemukan solusi melalui kebetulan yang berulang-ulang, melainkan melalui fase "berpikir" atau pengamatan diam hingga muncul pemahaman mendadal.
  • Penggunaan Alat: Sultan berhasil menumpuk kotak secara vertikal untuk memanjat, serta menyambung dua tongkat menjadi satu alat yang lebih panjang untuk menarik pisang.
  • Restrukturisasi Kognitif: Belajar terjadi ketika individu mampu mengubah persepsinya terhadap objek (misalnya: melihat "kotak" bukan sekadar tempat duduk, melainkan "tangga").
  • Generalisasi: Sekali insight terbentuk, simpanse mampu menerapkan solusi yang sama pada masalah serupa di masa depan tanpa harus mengulangi proses gagal.


REFERENSI

Britannica Editors (2026, January 17). Wolfgang Köhler. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/biography/Wolfgang-Kohler

Hergenhahn, B. R., & Olson, M. H. (2008). Theories of Learning. Pearson Prentice Hall.

Soemanto, W. (2009). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.






Thursday, January 29, 2026

Harry Harlow : The Rhesus Monkey Attachment Theory


THE RHESUS MONKEY 



Penulis : Jovanka Nartawijaya dan Reyfan Setio 

Biografi Harry Harlow 


Harry Harlow adalah seorang psikolog Amerika yang terkenal karena penelitian kontroversial mengenai kasih sayang dan ikatan emosional pada seekor monyet, khususnya monyet rhesus. Ia lahir pada tahun 1905 dan menjadi tokoh penting dalam psikologi perkembangan. Melalui eksperimen yang dilakukan pada tahun 1950-an dan 1960-an, Harlow menunjukkan bahwa kebutuhan akan kehangatan, sentuhan, dan rasa aman jauh lebih penting daripada sekadar pemenuhan kebutuhan fisik seperti makanan. Penelitiannya dengan "ibu tiruan" dari kawat dan kain memperlihatkan bahwa anak monyet lebih memilih mendekat pada boneka berbulu lembut meskipun tidak memberikan makanan, dibandingkan dengan boneka kawat yang menyediakan susu. Temuan ini mengguncang pandangan tradisional tentang ikatan ibu-anak dan menegaskan pentingnya kasih sayang dalam perkembangan psikologis. Meskipun metode eksperimennya sering menuai kritik karena dianggap kejam, kontribusi Harlow tetap berpengaruh besar dalam memahami peran cinta, afeksi, dan hubungan sosial dalam kehidupan manusia.

Teori Eksperimen Harry 

Harry Harlow mengembangkan teori tentang pentingnya kasih sayang (affection) dan ikatan emosional (attachment) dalam perkembangan psikologis anak. Penelitiannya pada monyet rhesus menghasilkan beberapa poin utama:

  • Kebutuhan akan Sentuhan dan Kehangatan
    Harlow menunjukkan bahwa bayi monyet lebih memilih "ibu tiruan" dari kain lembut meskipun tidak memberi makanan, dibandingkan "ibu tiruan" dari kawat yang menyediakan susu. Hal ini membuktikan bahwa kebutuhan emosional (rasa aman, kenyamanan) lebih mendasar daripada kebutuhan biologis semata.

  • Teori Attachment (Ikatan Emosional)
    Dari eksperimen tersebut, Harlow menegaskan bahwa ikatan anak dengan ibu bukan hanya karena pemberian makanan, tetapi karena adanya kontak fisik, rasa aman, dan kasih sayang. Inilah yang kemudian menjadi dasar teori attachment dalam psikologi perkembangan.

  • Dampak Kekurangan Kasih Sayang
    Anak monyet yang tumbuh tanpa kehangatan dan interaksi sosial menunjukkan perilaku abnormal: menarik diri, sulit berinteraksi, bahkan mengalami gangguan emosional. Ini menegaskan bahwa kasih sayang adalah faktor krusial dalam perkembangan sosial dan mental.

  • Implikasi pada Manusia
    Teori Harlow mengubah cara pandang psikologi dan pendidikan anak. Ia menekankan bahwa cinta, pelukan, dan perhatian adalah kebutuhan dasar manusia, sama pentingnya dengan makanan dan tempat tinggal.


Prosedur Eksperimen Harry Harlow 

Eksperimen Harlow dimulai dengan anak monyet yang diberikan sebuah “Ibu pengganti” (Surrogate mother), dimana Harlow menyiapkan dua jenis ibu pengganti:

  1. Ibu pengganti yang terbuat dari kawat logam.

  2. Ibu pengganti yang terbuat dari pakaian kain dengan lampu penghangat.

Setelah menyiapkan kedua ibu pengganti tersebut, Harlow akan mengambil beberapa anak monyet rhesus dari ibu biologisnya setelah dilahirkan. Harlow sengaja menggunakan ibu pengganti yang terbuat dari benda tidak hidup untuk mencegah faktor seperti perilaku ibu yang mungkin dapat mempengaruhi anak monyet dalam eksperimen ini, Harlow menyatakan bahwa dalam eksperimen ini, kedua ibu pengganti tersebut sepenuhnya sama, namun dengan satu perbedaan yaitu kualitas kontak kenyamanan dengan anak monyet tersebut.

Eksperimen ini dibagi menjadi dua percobaan dimana Harlow menggunakan sebanyak 8 anak monyet rhesus dengan masing-masing percobaan menggunakan 4 anak monyet. Eksperimen dimulai saat Harlow meletakkan kedua ibu pengganti bersama 4 anak monyet pertama di sebuah kandang dimana mereka akan menghabiskan waktu bersama ibu pengganti tersebut. Dalam percobaan pertama, botol susu yang akan memberi makan anak-anak monyet dipasangkan pada ibu pengganti yang terbuat dari kain, dan percobaan kedua menukar posisi botol susu dengan ibu pengganti yang terbuat dari kawat logam. Harlow meneliti banyak hal dalam eksperimen ini seperti Ibu pengganti mana yang paling disukai oleh anak-anak monyet berdasarkan waktu yang mereka habiskan dan seberapa kuat hubungan anak-anak monyet dengan ibu pengganti yang disukai.


Hasil Eksperimen

Dalam eksperimennya, Harlow menemukan bahwa dalam kedua percobaan utama dengan ibu pengganti tersebut, anak-anak monyet cenderung memilih untuk menetap dan menghabiskan mayoritas waktunya bersama dengan ibu pengganti yang terbuat dari kain yang menghasilkan hangat karena mereka melihat kehangatan yang selalu ada dari ibu pengganti tersebut memberikan sebuah sensasi keamanan dan proteksi. Hal ini terjadi di kedua percobaan, bahkan saat botol susu dipasangkan pada ibu pengganti kawat, anak-anak monyet hanya akan menghampiri untuk makan dan akhirnya kembali kepada ibu pengganti kain. 

Selanjutnya, Harlow pun melakukan eksperimen tambahan untuk melihat seberapa erat hubungan anak-anak monyet tersebut dengan ibu penggantinya saat dihadapi dengan kondisi baru seperti dibebaskan dalam ruang terbuka atau objek yang tidak mereka ketahui. Anak-anak monyet yang diberikan ibu pengganti kain awalnya ketakutan dan berlindung di belakang ibu pengganti tersebut sebagai lokasi aman mereka, namun perlahan anak-anak monyet tersebut menumbuhkan rasa penasaran dan mulai berinteraksi dengan objek di sekitarnya. Hal ini berbanding terbalik dengan anak-anak monyet yang diberikan ibu pengganti kawat dimana anak-anak monyet hanya menunduk ketakutan di kaki ibu penggantinya dan tidak menumbuhkan sedikitpun keberanian untuk berinteraksi dengan objek di sekitarnya.

Hasil akhir dalam semua eksperimen Harlow menyatakan bahwa kasih sayang didapatkan lewat kontak dari kenyamanan dan keamanan yang terikat antara anak dan ibunya, dimana hasil ini membantah ide di masa tersebut dimana kasih sayang adalah respons terpelajar yang didapatkan anak oleh ibu karena mereka menyediakan kebutuhan biologis anaknya.


REFERENSI

Vicedo, M.(2010). The evolution of Harry Harlow: from the nature to the nurture of love. DOI L10.1177/0957154X10370909





Friday, January 23, 2026

SKINNER BOX

Edisi Januari 2026

SKINNER BOX




Penulis : Chelsea Christy Setiawan & Austin Vinsen

PENJELASAN TOKOH

        Burrhus Frederic Skinner atau B.F. Skinner adalah salah satu tokoh psikologi yang lahir pada 20 Maret 1904, di kota kecil bernama Susquehanna, Pennsytvania, Amerika Serikat. B.F. Skinner tumbuh di sebuah kota kecil di keluarga yang terbilang nyaman, hangat dan bahagia. Di Perguruan Tinggi Hamilton, yakni sebuah sekolah kesenian Liberaldi Cliton, New York, dan memperoleh gelar sarjananya. Tahun 1926 ia melanjutkan pendidikannya untuk program graduate di bidang psikologi yang terbilang cukup sulit di Harvard.

        Skinner berhasil menerbitkan buku pertamanya yang diberi judul The Behavior of Organisms pada tahun 1938. Skinner kembali ke Harvard pada tahun 1948, dan memulai eksperimen burung dara yang diberi nama Project Pigeon dan kemudian eksperimen yang bernama Baby-Tender meskipun akhirnya tidak dapat dilanjutkan. Skinner menjadi tokoh utama psikologi behavioral Amerika. Ia berhasil menggagas program mengontrol perilaku masyarakat, kiat-kiat modifikasi perilaku serta membuat penemuan Baby-Tender. pada 18 Agustus 1990 ia meninggal dunia dan dimakamkan di Cambridge, Massachusetts, akibat penyakit leukemia.

      Di dunia psikologi, B.F. Skinner merupakan seorang psikolog terkenal dari aliran behaviorisme, dengan pemikirannya yang terkenal yakni teori Operant Conditioning. Teori operant conditioning adalah teori yang sudah mencapai tahap penyempurnaan dari beberapa teori psikologi Behaviorisme. Kesimpulan-kesimpulan yang dicanangkan Skinner dalam teorinya didapatkan dari hasil pengamatan dan uji coba terhadap tikus dan burung dara yang dimasukkan ke dalam kotak yang dimodifikasi. Skinner adalah satu-satunya psikolog yang mendapat pujian sebagai Outstanding Lifetime Constribution To Psycology, artinya adalah Skinner telah memberikan kontribusi yang besar bagi dunia psikologi.

PENJELASAN EKSPERIMEN SKINNER BOX

    Eksperimen Skinner menggunakan kotak yang berisikan tikus dan dirancang dengan beberapa bagian untuk bahan percobaannya. Skinner menamai kotak tersebut dengan nama ‘Skinner Box’. Skinner box difungsikan untuk mengamati perilaku yang diperkuat dengan stimulus.

    Skinner box memiliki komponen yaitu tuas kecil yang dapat memberikan makanan kepada tikus apabila ditekan, juga terdapat lantai yang dapat dialiri listrik. Hal tersebut digunakan oleh Skinner untuk mengamati teori operant conditioning.

EKSPERIMEN

    Seekor tikus lapar akan dimasukkan ke dalam skinner box. Tikus tersebut akan belajar bagaimana untuk menemukan makanan, yaitu dengan menekan tuas. Ketika tikus mulai belajar apabila tuas ditekan maka makanan akan keluar, mereka akan terbiasa dan paham apabila tuas ditekan maka akan muncul makanan. Hal ini dapat disebut dengan penguatan positif dimana frekuensi perilaku akan meningkat yang dipengaruhi oleh stimulus yang menyenangkan.

    Dalam percobaan lain, seekor tikus ditempatkan di dalam kandang di mana mereka dikenai arus listrik yang tidak nyaman. Saat bergerak di kotak yang dialiri arus listrik, tikus akan segera menekan tuas yang akan mematikan arus listrik. Tikus tersebut belajar apabila menekan tuas maka arus listrik akan berhenti. Hal ini dapat disebut sebagai penguatan negatif, dimana frekuensi perilaku akan meningkat akibat stimulus yang tidak menyenangkan.

HASIL EKSPERIMEN

    Kotak tersebut memungkinkan Skinner untuk menyampaikan keempat kemungkinan hasil yang diinginkannya, yaitu:

    Penguatan positif : peningkatan perilaku akibat stimulus yang menyenangkan. Misalnya, tikus dapat diberi hadiah berupa makanan karena menekan tuas.

    Hukuman Positif : Bentuk pemberian stimulus yang tidak menyenangkan untuk mengurangi perilaku tertentu. Misalnya, setelah tikus diajari untuk menekan tuas, Skinner melatihnya untuk menghentikan perilaku ini dengan menyetrum lantai setiap kali tuas ditekan.

    Penguatan Negatif : peningkatan perilaku akibat penghilangan kondisi yang tidak menyenangkan. Misalnya, arus listrik ringan dialirkan melalui lantai kandang dan dihilangkan ketika perilaku yang diinginkan terbentuk.

    Hukuman Negatif : melibatkan pengambilan atau penghapusan situasi yang menyenangkan untuk mengurangi perilaku tertentu. Misalnya, dalam kotak Skinner, tikus dapat dilatih untuk berhenti menekan tuas dengan melepaskan pelet makanan secara berkala dan kemudian menahannya ketika tuas ditekan.

REFERENSI

Fitriyani, N., Komalasari, S., & Hairina, Y. (2021). Konsep punishment dalam pengasuhan: Studi komparatif pemikiran B. F. Skinner dan Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Al-Husna: Jurnal Studi Islam dan Humaniora, 2(3), 240–259. https://doi.org/10.18592/jah.v2vi3i.4677

Nickerson, C. (2024, February 2). Skinner box: What is an operant conditioning chamber? Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/what-is-a-skinner-box.html

Martin, G. N., & Carlson, N. R. (2018). Psychology (6th ed.). Pearson

John Darley & Bibb Latané:Bystander Effect

  Edisi Maret 2026 Sumber : https://www.careershodh.com/careershodh-series-classical-experiments-24-darley-and-latane-the-case-of-kitty-geno...