Saturday, October 24, 2026

Hoarding Disorder

Edisi Oktober 2026

Sumber Ilustrasi: https://pin.it/5obBJwyS2 

Penulis: Cecilia Prajnadian Istiwibowo dan Keiza Vania Rahmadini Haryanto


Apa itu Hoarding Disorder?

Bagi sebagian orang, menyimpan barang sama saja dengan menjaga kenangan dan menghargai nilai dari barang tersebut. Namun, apa jadinya jika kebiasaan menyimpan barang berubah menjadi perilaku menimbun dan mulai memenuhi sudut rumah? Perilaku ini bukan sekedar menyimpan barang saja, namun dapat berkaitan dengan kondisi yang bernama hoarding disorder.

Dalam film maupun reality show yang kita konsumsi, hoarding disorder seringkali ditampilkan sebagai gangguan sederhana dengan penyelesaian yang sederhana pula, yaitu “kalau berantakan, tinggal bersihkan saja.” Namun, melalui program-program hiburan ini pula publik mulai memberikan perhatian yang lebih serius terhadap hoarding disorder, meskipun penggambarannya kerap kali menyederhanakan kompleksitas gangguan tersebut. 

Hoarding disorder tidak hanya sekedar penumpukan barang saja, namun penumpukan yang sudah berlebihan di rumah, disertai dengan kesulitan untuk membuang barang-barang yang biasanya tidak akan disimpan oleh orang kebanyakan, terlepas dari nilai barang tersebut. Pada 2013, American Psychiatric Association (APA) mengakui bahwa hoarding disorder termasuk dalam kelompok Obsessive Compulsive and Related Disorders, dengan menetapkan enam diagnosis kriteria yang harus muncul agar seseorang dapat didiagnosa hoarding disorder. Selain itu, individu dengan hoarding disorder juga dapat mengalami gangguan kecemasan lain seperti generalized anxiety disorder dan social anxiety disorder secara bersamaan.


Gejala dan Karakteristik Hoarding Disorder

Gejala perilaku menimbun seringkali muncul ketika individu berada pada masa dewasa awal. Namun, individu maupun keluarga masih belum mengungkapkan perilaku tersebut, bahkan mulai mencari bantuan hingga puluhan tahun kemudian. Hal ini sebagian besar disebabkan ketika gangguan berkembang secara perlahan, tidak disadari, dan adanya upaya dari orang terdekat dalam mengelola tingkat keparahan gejala.

Insight

Perilaku menimbun pada hoarding disorder dapat dipengaruhi oleh pemikiran dan keyakinan yang dikembangkan oleh individu, diantaranya adalah:
  1. Good insight, yaitu individu menyadari bahwa keyakinan dan perilaku hoarding-nya bermasalah.
  2. Poor insight, yaitu individu sebagian besar meyakini bahwa keyakinan dan perilaku hoarding-nya tidak bermasalah walaupun bukti menunjukkan hal yang sebaliknya.
  3. Delusional beliefs, yaitu individu sepenuhnya meyakini bahwa keyakinan dan perilaku hoarding-nya tidak bermasalah walaupun bukti menunjukkan hal yang sebaliknya.
Meskipun insight digunakan sebagai spesifikasi dalam DSM-5 dan ICD-11 untuk memperjelas karakteristik hoarding disorder, frekuensi dan tingkat keparahan insight masih belum banyak diteliti. Oleh karena itu, individu dengan hoarding disorder tidak akan mencari bantuan, sulit mengakui kesulitan dari perilaku mereka, dan bahkan tidak akan mengakui.


Kriteria Diagnostik
Untuk menentukan seseorang mengalami hoarding disorder, perlunya kriteria-kriteria yang tepat dan ilmiah agar diagnosa dapat dipertimbangkan. Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) yang diterbitkan oleh APA, terdapat beberapa kriteria yang harus terpenuhi untuk menegakkan diagnosa hoarding disorder. 
  1. Kesulitan yang persisten untuk membuang atau berpisah dengan barang-barang, terlepas dari nilai barang tersebut.
  2. Kesulitan disebabkan karena adanya kebutuhan yang dirasakan untuk menyimpan barang-barang tersebut dan menimbulkan distress yang dikaitkan dengan perilaku membuangnya.
  3. Kesulitan membuang barang tersebut mengakibatkan penumpukan barang yang memadati dan mengacak-acak area ruang aktif  serta mengganggu fungsi utama ruangan tersebut.
  4. Perilaku menimbun ini menimbulkan distress yang secara signifikan dan gangguan pada fungsi sosial, pekerjaan, dan area fungsi penting lainnya.
  5. Perilaku menimbun tidak disebabkan oleh kondisi medis lain.
  6. Perilaku menimbun tidak dapat dijelaskan dengan lebih baik oleh gejala gangguan mental lainnya.

Mengapa Seseorang Dapat Mengalami Hoarding Disorder?

Ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan sebagai penyebab seseorang mengalami hoarding disorder.

Neurobiologis dan Genetik

Hoarding disorder dapat berkaitan dengan kondisi neuropsikologis yang berkaitan dengan perubahan otak seperti demensia atau stroke. Namun, penelitian menghubungkan hoarding disorder dengan perbedaan aktivitas pada otak, terutama ventromedial prefrontal cortex yang berperan dalam mengambil keputusan dan pemrosesan emosi terkait reward dan punishment. Penelitian juga menemukan bahwa hoarding disorder memiliki estimasi heritabilitas sekitar 45–71%, namun penelitian mengenai faktor genetik penyebab hoarding disorder masih terbatas dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

Keterikatan dan Identitas

Dalam penelitian, individu dengan hoarding disorder ditemukan memiliki tingkat kecemasan keterikatan (attachment anxiety) dan penghindaran terhadap keterikatan (attachment avoidance) yang lebih tinggi. Bagi individu dengan kecemasan keterikatan, benda dapat berfungsi sebagai pengganti hubungan interpersonal, karena hubungan dengan benda mati bisa dirasakan lebih aman dibandingkan hubungan dengan manusia. Penelitian awal juga menemukan hubungan antara aspek identitas diri yang terganggu dengan gejala serta keyakinan hoarding, menunjukkan bahwa barang yang dikumpulkan dapat menjadi bagian dari konsep diri individu. Namun, hubungan ini tidak bisa membuktikan bahwa insecure attachment atau masalah identitas selalu menyebabkan hoarding disorder.


Kognitif dan Perilaku

Model ini menyatakan bahwa gejala utama hoarding disorder adalah menyimpan dan memperoleh barang yang berkaitan dengan kerentanan individu, kesulitan dalam pemrosesan informasi, keyakinan terhadap barang sendiri, serta emosi. Penelitian juga menemukan beberapa karakteristik yang mungkin berperan, seperti reaktivitas emosional yang meningkat, impulsivitas, sensitivitas terhadap kecemasan, kekhawatiran berlebihan terhadap konsekuensi buruk apabila melupakan sesuatu, dan kesulitan untuk menoleransi ketidakpastian.


Dampak Hoarding Disorder

Mengganggu Kesehatan Mental

Salah satu dampak utama hoarding disorder adalah tekanan psikologis yang dapat dialami oleh individu maupun keluarganya. Barang-barang yang ditumpuk seringkali memberikan rasa aman sementara, tetapi pada saat yang sama dapat menimbulkan kecemasan ketika seseorang diminta membuangnya.

Seseorang mungkin merasa takut membutuhkan barang tersebut di masa depan, ia khawatir melakukan kesalahan jika membuangnya, atau merasa bersalah ketika harus melepaskan benda yang memiliki kenangan tertentu. Akibatnya, keputusan sederhana untuk memilah barang dapat menjadi proses yang melelahkan.

Penumpukan barang juga dapat menimbulkan rasa malu dan frustasi. Seseorang mungkin merasa kesulitan mengundang teman ke rumah atau menghindari orang lain karena takut dinilai negatif. Apabila berlangsung lama, keadaan ini dapat memperburuk tekanan emosional dan mengurangi kualitas hidup.

Menimbulkan Konflik dalam Keluarga

Hoarding disorder tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga orang-orang yang tinggal bersamanya. Keluarga dapat merasa khawatir ketika barang menumpuk hingga memenuhi ruang tidur, dapur, ruang tamu, atau jalur keluar rumah.

Perbedaan pandangan mengenai barang yang perlu disimpan dan dibuang dapat memicu pertengkaran. Anggota keluarga mungkin ingin membersihkan rumah demi keselamatan dan kenyamanan, sedangkan individu yang mengalami gangguan merasa tindakannya merupakan ancaman terhadap barang-barang yang dianggap berharga.

Apabila persoalan ini ditangani dengan kemarahan, ancaman, atau pembuangan barang secara sepihak, konflik dapat semakin meningkat. Oleh karena itu, komunikasi yang penuh empati dan pendampingan yang tepat sangat dibutuhkan.

Mengganggu Kesehatan dan Keselamatan

Penumpukan barang yang berlebihan dapat membuat rumah menjadi tidak sehat dan tidak aman. Ruangan yang seharusnya digunakan untuk beraktivitas mungkin tidak lagi dapat difungsikan dengan baik.

Beberapa risiko yang dapat muncul meliputi:

  1. Debu dan kotoran yang sulit dibersihkan.
  2. Meningkatnya risiko tersandung atau terjatuh akibat jalur yang terhalang.
  3. Kesulitan mengakses dapur, kamar mandi, atau tempat tidur.
  4. Risiko kebakaran yang lebih tinggi apabila barang mudah terbakar menumpuk dan menghalangi akses keluar.
  5. Kesulitan melakukan pembersihan dan perawatan rumah secara rutin.
Dampak tersebut menunjukkan bahwa hoarding disorder dapat menjadi persoalan keselamatan, bukan hanya persoalan estetika atau kebersihan.

Menyebabkan Isolasi Sosial

Rasa malu terhadap kondisi rumah dapat membuat seseorang menarik diri dari lingkungan sosial. Ia mungkin menolak kunjungan teman, menghindari kegiatan bersama, atau merasa tidak nyaman ketika harus menceritakan keadaan tempat tinggalnya. Lama-kelamaan, hubungan sosial dapat melemah dan dukungan emosional menjadi semakin terbatas.


Kasus Nyata Hoarding Disorder

Salah satu kasus nyata hoarding disorder dilaporkan oleh Vilaverde, Gonçalves, dan Morgado (2017) dalam artikel ilmiah berjudul Hoarding Disorder: A Case Report yang diterbitkan di jurnal  Frontiers in Psychiatry. Artikel tersebut mengangkat kasus seorang pria berusia 52 tahun yang telah memiliki kebiasaan menimbun barang selama kurang lebih 20 tahun. Ia mengumpulkan berbagai benda, seperti batu, kertas, dan komponen mobil yang rusak, karena merasa barang-barang tersebut mungkin masih berguna atau memiliki nilai di masa mendatang. Meskipun sebagian barang sudah tidak diperlukan, ia mengalami kesulitan untuk membuangnya dan merasa cemas ketika orang lain mencoba menyingkirkan barang-barang tersebut.

Kebiasaan menimbun yang berlangsung selama bertahun-tahun menyebabkan barang-barang memenuhi sejumlah area di rumahnya, termasuk garasi dan loteng. Kondisi ini menunjukkan bahwa hoarding disorder tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan menyimpan barang secara berlebihan, tetapi juga dapat mengganggu fungsi ruang tinggal dan kualitas hidup seseorang. Dalam kasus tersebut, pasien juga mengalami gejala depresi, yang memperlihatkan bahwa gangguan penimbunan dapat disertai persoalan kesehatan mental lainnya. Keadaan ini mengingatkan pentingnya memahami hoarding disorder sebagai kondisi yang membutuhkan perhatian dan penanganan profesional, bukan sekadar menganggap penderitanya malas membersihkan rumah atau terlalu menyayangi barang miliknya.

Dalam proses penanganannya, pria tersebut menjalani psikoterapi dan memperoleh pengobatan sesuai kebutuhan klinisnya. Penanganan dilakukan dengan membantu pasien memahami kondisinya, mengevaluasi keyakinan terhadap barang yang disimpan, serta mengembangkan kemampuan untuk mengurangi penimbunan secara bertahap. Setelah menjalani penanganan selama sembilan bulan, pasien menunjukkan perkembangan dengan mampu menjual atau mendaur ulang sebagian besar barang yang sebelumnya ditimbun. Kasus ini memberikan gambaran bahwa pemulihan dari hoarding disorder bahwa mungkin terjadi melalui pendampingan yang tepat, meskipun prosesnya dapat membutuhkan waktu dan kesabaran.


Penanganan dan Dukungan

Penanganan hoarding disorder memerlukan pendekatan yang menyeluruh, bertahap, dan disesuaikan dengan kondisi individu. Dalam penelitian Vilaverde, Gonçalves, dan Morgado (2017) yang berjudul Hoarding Disorder: A Case Report, penanganan dilakukan terhadap seorang pria berusia 52 tahun yang telah menimbun barang selama kurang lebih 20 tahun. Intervensi yang diberikan mencakup psikoedukasi untuk membantu pasien memahami gangguan yang dialaminya, restrukturisasi kognitif untuk mengevaluasi keyakinan terhadap barang-barang yang disimpan, serta latihan menghadapi proses tidak membeli dan membuang barang secara bertahap. Pasien juga mendapatkan pengobatan dari dokter untuk menangani gejala yang menyertai kondisinya. 

Meskipun selama enam bulan pertama pasien masih melanjutkan kebiasaan mengumpulkan barang, setelah penanganan dilanjutkan dan disesuaikan, ia menunjukkan perkembangan. Setelah sembilan bulan, pasien mampu menjual atau mendaur ulang sebagian besar barang yang ditimbun dan menata kembali ruang di rumahnya. Kasus ini memperlihatkan bahwa penanganan hoarding disorder dapat membutuhkan waktu yang panjang dan tidak selalu menunjukkan perubahan secara langsung.

Selain penanganan profesional, dukungan keluarga dan lingkungan juga penting dalam membantu proses pemulihan. Keluarga perlu memahami bahwa kesulitan membuang barang bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan dapat berkaitan dengan kecemasan dan keterikatan emosional yang kuat. Oleh karena itu, penderita sebaiknya tidak dipermalukan, disalahkan, atau dipaksa membuang seluruh barangnya secara tiba-tiba karena tindakan tersebut dapat menambah tekanan emosional. Sebaliknya, keluarga dapat memberikan dukungan dengan mendengarkan perasaan penderita, membantu menetapkan tujuan yang realistis, dan mendampingi proses memilah barang sesuai arahan tenaga profesional.  Dengan demikian, penanganan yang menggabungkan bantuan profesional dan dukungan sosial yang sesuai dapat membantu penderita menjalani proses pemulihan secara lebih manusiawi.


Referensi

Bratiotis, C., Muroff, J., & Lin, N. X. Y. (2021). Hoarding disorder: Development in conceptualization, intervention, and evaluation. FOCUS, 19(4), 392–404. https://doi.org/10.1176/appi.focus.20210016

Morein-Zamir, S., & Ahluwalia, S. (2023). Hoarding disorder: Evidence and best practice in primary care. British Journal of General Practice, 73(729), 182–183. https://doi.org/10.3399/bjgp23X732513 

Vilaverde, D., Gonçalves, J., & Morgado, P. (2017). Hoarding Disorder: A Case Report. Frontiers in Psychiatry, 8, 112. https://doi.org/10.3389/fpsyt.2017.00112 

Wandansari, S. A. (2024). Psikologi abnormal: Menelusuri gangguan-gangguan psikologis beserta keunikannya. Anak Hebat Indonesia.

No comments:

Post a Comment

Hoarding Disorder

Edisi Oktober 2026 Sumber Ilustrasi: https://pin.it/5obBJwyS2   Penulis: Cecilia Prajnadian Istiwibowo dan Keiza Vania Rahmadini Haryanto Ap...