Friday, October 2, 2026

Post-Traumatic Stress Disorder

 Edisi September

Sumber Ilustrasi: Sumber Ilustrasi

Penulis: Austin Vinsen & Reyfan Setio

 

Prolog

Hari itu merupakan hari yang sangat spesial, hari di mana tahun akan berganti. Kembang api di mana-mana, suara orang bersorak ria dengan bebas. Terasa seperti perayaan biasa yang bernuansa bahagia bukan? Namun, perasaan bahagia tersebut seakan tidak merambat ke Dika. Pada waktu-waktu seperti ini, alih-alih merasa senang, Dika merasa ketakutan sekali. Ia merasa sangat ketakutan hingga jantungnya berdebar hebat, rasa tertekan luar biasa memenuhi kepala, dan keringat dingin membasahi tubuh. 

Namun mengapa? Disaat orang lain bersenang senang, ia merasa ketakutan setengah mati. Ternyata terungkap bahwa Dika merupakan mantan tentara yang pernah melalui kejamnya medan perang. Ledakan yang memekakkan telinga, suara tembakan, teriakan rekannya, semua hal itu memenuhi kepala Dika ketika ia mendengarkan suara ledakan kembang api. Ingatan buruk Dika kembali terpicu akibat  suara kembang api yang mirip dengan ledakan di medan perang, suara sorak orang-orang mirip dengan teriakan rekannya. Ia mengalami reka ulang di dalam kepala hingga memicu rasa takut yang sangat kuat, hingga untuk menarik satu tarikan nafas pun terasa berat. 

Apa yang dialami oleh Dika tentu sangat bertolak belakang dengan kebahagiaan yang sedang dirasakan, ketakutan ini disebut dengan Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD.


Pengenalan PTSD

Post-Traumatic Stress Disorder atau yang disingkat PTSD merupakan sindrom psikiatris yang umum terjadi dan biasanya dapat melumpuhkan, serta mampu untuk menyebabkan gangguan fungsional yang signifikan di berbagai ranah kehidupan. PTSD ini muncul dari respons terhadap trauma di mana dalam DSM-V trauma berarti sebuah situasi dimana individu terekspos terhadap ancaman kematian atau kematian yang sebenarnya, luka yang serius, atau kekerasan seksual. PTSD juga dapat dialami oleh individu yang menyaksikan kejadian traumatis tersebut terjadi kepada anggota keluarga atau teman terdekat sehingga PTSD tidak hanya terpaku pada kejadian traumatis yang dialami, tetapi juga kejadian traumatis yang disaksikan terjadi kepada kerabat terdekatnya.


Gejala PTSD

Rekoleksi Trauma

Salah satu kategori gejala yang paling umum muncul bagi individu dengan PTSD adalah rekoleksi mengenai trauma yang dihadapi. Gejala yang termasuk kedalam kategori ini adalah merasakan kilas balik mengenai kejadian traumatis, pikiran akan kejadian traumatis yang muncul secara tiba-tiba, hingga mimpi buruk akan kejadian tersebut.


Menjauhi Hal-hal

Mengikuti kategori sebelumnya, kategori gejala pada PTSD adalah kecenderungan untuk menghindari hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman traumatis. Gejala ini membuat individu dengan PTSD menghindari berbagai macam hal, mulai dari lokasi, situasi, bahkan orang dengan ciri tertentu yang dapat memicu rekoleksi trauma.


Meningkatnya Kegelisahan

Karena individu dengan PTSD sangat ketakutan dengan mengingat kembali pengalaman traumatis yang pernah dirasakannya, individu tersebut juga mengalami peningkatan kegelisahan dalam berbagai aspek. Kondisi ini mencakup permasalahan dalam berinteraksi dengan orang lain, kesulitan menunjukkan kasih sayang, kesulitan tidur, emosi yang tidak stabil dan ledakan emosi, hingga rasa cemas yang berlebihan yang membuat individu mudah terkejut. Gejala fisik yang dapat muncul dari rasa kegelisahan ini mencakup peningkatan tekanan darah dan denyut nadi, nafas cepat, ketegangan otot, mual, dan diare.


Kecenderungan Negatif 

Karena individu dengan PTSD masih sadar akan rasa gelisah terhadap pengalaman traumatis yang dilaluinya, individu cenderung menimbulkan kecenderungan berpikir negatif. Hal yang terkait dengan kecenderungan negatif ini adalah rasa bersalah hingga sifat permusuhan pada pengalaman traumatis tersebut. Pada anak-anak kecil dengan PTSD, mereka bisa saja mengalami keterlambatan perkembangan dalam aspek-aspek pelatihan seperti penggunaan toilet, keterampilan berbahasa, hingga kemampuan motorik.


Terapi yang Dapat Diterapkan

PTSD dapat juga ditangani melalui terapi, berikut beberapa terapi yang dapat membantu penderita PTSD:


Cognitive Behavioral Therapy (CBT)

CBT adalah psikoterapi yang mengkolaborasikan antara terapi perilaku dan terapi kognitif yang didasarkan pada asumsi bahwa perilaku manusia secara bersamaan dipengaruhi oleh pikiran, perasaan, proses fisiologis, serta konsekuensi perilaku. CBT terbukti mampu menangani PTSD secara efektif, bahkan turut membantu meredakan kondisi penyerta lainnya seperti depresi, rasa cemas, keterbatasan fungsi, hingga kecacatan yang menyertai. Umumnya, satu rangkaian CBT membutuhkan setidaknya 8 sampai 12 kali pertemuan yang dijadwalkan tiap minggu, dengan tiap pertemuan berlangsung sekitar 60 sampai 90 menit. Metode ini fleksibel dan bisa dijalankan baik secara berkelompok maupun secara personal, tergantung kebutuhan pasien. 

Melalui CBT, pasien diajak untuk menilai ulang cara berpikir dan asumsi-asumsi yang mereka yakini, sehingga bisa mengenali pola pikir yang keliru misalnya menggeneralisasi hal buruk secara berlebihan atau membiarkan pikiran negatif mendominasi hingga menutupi sisi positif. Dari sini, pasien perlahan diarahkan menuju cara berpikir yang lebih seimbang dan fungsional. Selain itu, terapi ini juga kerap memanfaatkan pemicu ingatan atau emosi seputar trauma untuk melatih pasien agar tidak lagi menghindar dan tidak membentuk asosiasi yang keliru terhadap peristiwa traumatis tersebut. Semua ini bermuara pada satu tujuan: mengembalikan rasa kendali, rasa percaya diri, serta kemampuan pasien memprediksi keadaan, sekaligus menekan kecenderungan untuk kabur atau menghindar. Tak kalah penting, kemampuan mengelola stres dan menyiapkan strategi menghadapi situasi krisis juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses terapi CBT.


Cognitive Processing Therapy (CPT)

Cognitive Processing Therapy (CPT) adalah jenis terapi perilaku kognitif spesifik yang efektif dalam mengurangi gejala PTSD yang telah berkembang setelah mengalami berbagai peristiwa traumatis. CPT dilakukan selama 12 sesi, sehingga pengobatan berlangsung sekitar 3 bulan dengan setiap sesi berlangsung selama 60-90 menit. Resiko dari CPT adalah ketidaknyamanan ringan hingga sedang ketika berbicara atau menulis tentang ingatan atau keyakinan terkait trauma. CPT dapat dilakukan secara individual ataupun  kelompok yang berisi 6-10 orang. Temuan meta-analitik menunjukkan bahwa CPT adalah pengobatan PTSD yang efektif dengan manfaat jangka panjang di berbagai hasil.


Prolonged Exposure (PE)

Prolonged exposure (PE) adalah strategi intervensi yang digunakan dalam terapi perilaku kognitif untuk membantu individu menghadapi ketakutan. Terapi perilaku kognitif ini mengajarkan individu untuk secara bertahap mendekati ingatan, perasaan, dan situasi terkait trauma. PE biasanya memakan waktu 8-15 sesi mingguan, sehingga pengobatan berlangsung sekitar 3 bulan dengan masing-masing sesi berlangsung 1,5 jam dan dilakukan secara individual. Protokol PE berisi komponen berikut: 

  1. Psikoedukasi mengenai alasan pengobatan dan reaksi umum terhadap trauma;

  2. Latihan pernapasan sebagai suatu bentuk relaksasi; 

  3. Paparan in vivo, atau pendekatan menghindari aktivitas, situasi, atau tempat yang terkait dengan trauma tetapi secara objektif aman;

  4. Paparan imaginal, atau pengulangan ingatan traumatis.


Brief Electic Psychotherapy (BEP)

Brief Eclectic Psychotherapy (BEP) menggabungkan pendekatan kognitif-perilaku dan psikodinamik yang terdiri dari psikoedukasi, eksposur imajiner, tugas menulis dan restrukturisasi kognitif. Psikoedukasi dilakukan bersama sama dengan pasien dan keluarganya. Paparan, tugas menulis terstruktur, dan objek kenangan digunakan untuk membantu pasien mengakses, merasakan, dan mengekspresikan emosi yang ditekan terkait dengan pengalaman traumatis. Pada tahap domain makna, pasien akan belajar bagaimana mereka dan pandangan mereka tentang dunia telah berubah. BEP terdiri dari 16 sesi yang di laksanakan setiap minggu dan setiap sesi berdurasi sekitar 45-60 menit.


Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR)

Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR) adalah terapi bicara yang dikembangkan untuk pengobatan keadaan pasca trauma termasuk PTSD. Selama EMDR pasien diinstruksikan untuk memikirkan peristiwa traumatis sambil secara bersamaan melihat jari terapis (yang digerakkan dari sisi ke sisi) dengan mata mereka. Stimulasi otak dari kedua sisi yang dihasilkan diperkirakan mengaktifkan jalur pemrosesan informasi otak, memungkinkan asosiasi yang lebih adaptif. Seiring waktu, pasien menjadi tidak peka terhadap trauma, membiarkan gejala mereka hilang, dan fungsi mereka dalam kehidupan meningkat. EMDR telah terbukti menjadi pengobatan yang efektif untuk mengurangi emosi dan gairah negatif. Selain itu, uji coba baru-baru ini telah menetapkan bahwa EMDR memiliki peran efektif dalam mengurangi kecemasan dan depresi pada pasien PTSD. Berdasarkan penelitian, EMDR lebih baik daripada CBT dalam mengurangi gejala dan kecemasan pasca-trauma.


Narrative Exposure Therapy (NET)

Narrative Exposure Therapy (NET) adalah terapi perilaku kognitif jangka pendek untuk gangguan psikologis terkait trauma. NET bertujuan untuk mengurangi gejala PTSD melalui dua mekanisme alternatif yaitu paparan kenangan traumatis dan pembiasaan berikutnya dari respons emosional terkait serta rekonstruksi memori otobiografi dan narasi yang konsisten. Sebuah meta analisis menunjukkan bahwa NET efektif dalam mengurangi gejala PTSD dan depresi di berbagai populasi pengungsi yang sebagian besar terkena dampak perang. Hasil pengobatan lebih baik untuk orang dewasa yang lebih tua. NET dilakukan 1-2 kali seminggu selama 3-17 minggu dengan durasi 60-120 menit setiap sesi.


REFERENSI

Thakur, A., Choudhary, D., Kumar, B., & Chaudhary, A. (2022). A review on post-traumatic stress disorder (PTSD): Symptoms, therapies and recent case studies. Current Molecular Pharmacology, 15(3), 502 516. https://doi.org/10.2174/1874467214666210525160944

Miao, X. R., Chen, Q. B., Wei, K., Tao, K. M., & Lu, Z. J. (2018). Posttraumatic stress disorder: from diagnosis to prevention. Military Medical Research, 5(1), 32.

Sagita, P., Apriliana, E., Mussabiq, S., & Soleha, T. U. (2023). Intervensi Psikologis dan Farmakologis Pada Gangguan Stres Pasca Trauma. Medical Profession Journal of Lampung, 13(4), 594-599.

No comments:

Post a Comment

Post-Traumatic Stress Disorder

 Edisi September Sumber Ilustrasi:  Sumber Ilustrasi Penulis: Austin Vinsen & Reyfan Setio   Prolog Hari itu merupakan hari yang sangat ...