Tuesday, May 10, 2022

Star Syndrome

Akhir-akhir ini kalian sering dengar istilah star syndrome gak? Dimana seseorang merasa dirinya populer dan terkesan “sombong” karena namanya lagi hangat dibicarakan masyarakat. Kalau pernah, bisa jadi orang tersebut mengalami star syndrome.

Star sydrome?Apaan tuh? Kok baru dengar ya?

Jadi star syndrome ini merupakan kondisi dengan gejala ketidaknormalan yang terjadi akibat seseorang merasa terkenal, populer, hebat, atau memiliki kekuasaan sehingga membuat orang tersebut lupa diri. Menurut M. Onggo, (Lesmono, Yulianto, & Hagijanto, 2021) “star syndrome merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang baru terkenal atau berhasil di mata publik dan menjadi lebih fokus pada dirinya sendiri. Sebenarnya star syndrome sendiri merupakan faktor pengaruh lingkungan, seperti mendapatkan tekanan yang besar, contohnya opini publik terhadap mereka yang terkena star syndrome. Hal tersebut membuat penderitanya takut mengecewakan opini atau takut tidak dihargai sehingga mempengaruhi mentalnya”. M. Poernomo (Lesmono, Yulianto, & Hagijanto, 2021) juga berpendapat bahwa “dulunya star syndrome hanya ditemui di kalangan selebriti namun seiring maraknya penggunaan media sosial saat ini dapat membuat siapa pun bisa terkena star syndrome, terutama tipe orang yang sedang berusaha mencapai sesuatu. Ketika mereka berhasil mendapatkannya, inilah awal atau pemicu seseorang bisa terkena star syndrome. Seperti banyak ditemui dari para influencer baru yang sering menciptakan aktivitas-aktivitas untuk memburu ketenaran agar menaikan rating dirinya”. Dengan kata lain, mereka yang terkena star syndrome akan menghalalkan segala cara agar tetap mendapat pujian.

Dilansir dari artikel Royal Society for Public Mental Health (2017) yang berjudul “Instagram Ranked Worst for Young People’s Mental Health”, Instagram dinilai sebagai media sosial yang memiliki dampak paling negatif. Salah satu hal negatifnya adalah body image, dimana orang akan berlomba-lomba untuk menampilkan sisi terbaik dirinya. Hal ini mengakibatkan dirinya tidak ingin dikritik oleh orang lain sehingga mereka yang tidak pernah mendapatkan kritik akan merasa dirinya yang paling sempurna dan dari sinilah timbulnya star syndrome.

Kasus Marion Jola

Dilansir dalam Youtube TRANS7 OFFICIAL (2020), penyanyi Marion Jola atau yang sering disapa Lala mengaku bahwa dirinya sempat mengalami star syndrome di awal karirnya dalam dunia industri musik Indonesia. Dalam kanal Youtube TRANS7 OFFICIAL, Lala mengatakan bahwa dirinya selalu ingin terlihat tampil bagus dan aktif di media sosial. Selain itu Lala juga mengaku galau jika fans tidak menyukainya bahkan untuk pergi ke warung pun Lala merasa tidak percaya diri jika tidak mengunakan make up. Namun semua itu berhasil dilalui oleh Lala dan sekarang Lala bersyukur dapat kembali menjadi dirinya sendiri.

 

Ciri-Ciri Seseorang Mengalami Star Syndrome

Gejala star syndrome terjadi karena adanya perubahan drastis yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Hal ini biasanya terjadi kepada orang-orang yang baru terkenal atau mendadak kaya (Liliana, 2020).

Ciri-ciri orang dengan gejala star syndrome yaitu tampil sempurna adalah kewajiban agar tidak kalah dengan orang lain, hanya mau bergaul dengan orang yang memiliki tingkatan atau strata yang sama, sering mengacuhkan dan merendahkan orang lain, rela melakukan apapun untuk mendapatkan perhatian dari orang lain, takut dan cemas bila ada hal yang kurang tepat, dan tidak bisa menerima kritikan dari orang lain.

Star syndrome harus diwaspadai dan ditangani dengan baik. Jika star syndrome tidak ditangani dengan baik, maka dapat berakhir dengan rasa kesepian hingga depresi (Liliana, 2020). Hal ini dikarenakan tidak selamanya ketenaran atau kekayaan akan bertahan lama. Selain itu, jika korban star syndrome mendapat kritikan yang negatif, hal ini menjadi pemicu stres.

Mencegah Star Syndrome

Star syndrome yang tidak segera ditangani dapat meningkatkan resiko terjadinya depresi. Orang yang menderita star syndrome kemungkinan akan sulit mendapatkan simpati dari orang lain karena selalu dituntut sempurna oleh sekitarnya. Biasanya orang lain tidak melihat makna lain dari diri penderita selain ketenaran maupun kepopuleran dirinya.

Namun, star syndrome dapat dicegah dari diri sendiri dengan cara sadar serta mawas diri dan juga dapat dicegah dari lingkungan sekitar untuk mengingatkan korban star syndrome agar sadar diri. Meskipun hal tersebut sulit untuk dilakukan namun tidak menjadikan hal tersebut tidak mungkin bisa dilakukan.

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari star syndrome, antara lain:

1. Mengenali diri sendiri lebih dalam.

2. Hindari membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

3. Membiasakan diri untuk menjadi pribadi yang rendah hati.

4. Bergaul dengan orang lain agar dapat mengubah perspektif menjadi lebih terbuka.

 

DAFTAR PUSTAKA

Lesmono, L., Yulianto, Y. H., & Hagijanto, A. D. (2021). Perancangan fotografi sebagai media penciptaan kesadaran pada bahaya star syndrome. Jurnal DKV Adiwarna1(18).

Liliana, V. (2020). Apa itu star syndrome?. https://www.sehatq.com/forum/apa-itu-star-syndrome-q26157.

Royal Society for Public Health. (2017). Instagram ranked worst for young people’s mental health. https://www.rsph.org.uk/about-us/news/instagram-ranked-worst-for-young-people-s-mental-health.html 

Siregar, A. W. (2021). Selalu merasa jadi bintang! Kenali cara menghindari star syndrome di kalangan mahasiswa. Retrieved April 07, 2022. https://suarausu.or.id/selalu-merasa-jadi-bintang-kenali-cara-menghindari-star-syndrome-di-kalangan-mahasiswa/

Priyambodo, Apriliandi Damar. (2021). Pengaruh buruk star syndrome terhadap kesehatan mental. Retrieved April 23, 2022. https://gayahidup.skor.id/entertainment/sk-01396597/pengaruh-buruk-star-syndrome-terhadap-kesehatan-mental

OFFICIAL, T. 2020. Marion jola : Dari star syndrome hingga tampil sensual. Youtube, https://youtu.be/qaIEN47lZ10

Sunday, April 10, 2022

Ideal Self vs Real Self

“Lihat deh model itu, tinggi dan langsing ya badannya.. cewek ideal banget deh pokoknya.”

“Wah kapan ya suara ku bisa semerdu dia kalau nyanyi, pasti keren banget.”

“Pengen banget deh jadi kayak dia. Bisa sukses jadi pebisnis di usia muda.”

Gimana teman-teman, pernah dengar kalimat di atas? Atau malah sebaliknya, teman-teman yang pernah mengatakannya? Nah kalimat-kalimat di atas juga berhubungan dengan judul blog kita pada bulan ini yaitu “Ideal Self vs Real Self”. Yuk kita bahas bersama!


Di antara kita pasti pernah setidaknya sekali melakukan perbandingan antara diri kita sendiri dengan orang lain yang kita anggap sebagai sosok yang ideal. Kita membandingkan diri kita dengan orang tersebut bisa dari segala aspek mulai dari fisik, karakter, kemampuan, dan juga hal-hal yang kita lakukan. Tanpa disadari atau kita sadari terbentuklah ideal self. Solomon (2018) mengartikan ideal self sebagai konsepsi yang dimiliki seseorang tentang bagaimana dia ingin menjadi. Sementara real self adalah penilaian seseorang atas dirinya yang lebih realistis dan mengacu pada kualitas yang dimiliki maupun tidak dimiliki. Kapoor & Nnamdi (2012) juga mendefinisikan ideal self sebagai hal apa yang dicita-citakan oleh seseorang dan diyakininya sebagai sosok ideal untuk dilihat dari perspektif yang berbeda. Sedangkan real self adalah gambaran nyata sebagaimana seseorang sebenarnya dilihat, baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain yang ada di sekitarnya. Ideal self sendiri sebenarnya mewakili hal-hal positif yang ingin dicapai oleh seseorang. Namun bila semakin besar perbedaan atau jarak antara ideal self dan real self, maka pada akhirnya bisa menghasilkan emosi-emosi negatif.

Hal ini dijelaskan juga oleh salah satu tokoh psikologi yaitu Carl Rogers. Carl Rogers adalah salah satu tokoh pendiri pendekatan psikologi humanistik yang juga terkenal dengan psikoterapisnya. Mengutip dari Savitra (2017), Carl Rogers mendeskripsikan teori the self untuk menjelaskan bagaimana individu melihat dirinya sendiri. Self sendiri terbagi menjadi 2 yaitu ideal self dan real self. Ideal self adalah kondisi individu yang ingin dilihat dan dicapai oleh individu itu sendiri, sedangkan real self adalah kondisi individu saat ini. Pembentukan ideal self dipengaruhi oleh keadaan sosial yang berkembang tidak sesuai dengan actualizing tendency atau motivasi untuk mengembangkan potensi semaksimal mungkin. Faktor-faktor yang mempengaruhi ideal self diantaranya adalah kondisi fisik, dampak media sosial, harapan orang tua, tuntutan sosial, hingga masalah ekonomi.

Lalu apakah ideal self itu dapat mengganggu atau berdampak negatif pada real self kita?

Mengutip dari LPKA (2020), seringkali kita terjebak dalam kondisi ideal self sehingga kondisi real self menjadi terabaikan. Kita cenderung melampaui batasan atau terlalu berekspektasi tinggi pada hal-hal di luar kemampuan yang kita miliki. Maka ideal self dapat dikatakan positif bila ideal self  bisa menjadi motivasi untuk diri kita sendiri dalam mencapai apa yang kita inginkan. Sebaliknya, ideal self negatif terjadi bila ideal self itu malah menjadikan kita terlalu idealis dan saat kenyataan yang ada tidak sesuai dengan keinginan, maka kita menganggap diri kita telah gagal.

Gunawan (2020) menjelaskan tentang adanya kesenjangan antara ideal self dan real self. Dalam hal ini, jika terjadi kesenjangan yang semakin besar antara keadaan sebenarnya dengan ideal self yang diinginkan seseorang, maka dapat mempengaruhi kondisi psikologis secara negatif. Jenis kondisi psikologis negatif ini seperti kesedihan, kekecewaan, dan ketidakpuasan.

Salma (2020) menjelaskan bahwa ideal self  kita tidak selalu sesuai dengan apa yang kita alami. Namun ketidaksesuaian itu wajar terjadi pada setiap orang. Meskipun ideal self  kita berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya, kita tetap bisa melakukan perubahan-perubahan untuk meminimalkan ketidaksesuain tersebut.

Berikut beberapa cara untuk membentuk konsep diri yang lebih baik : 

  1. Mengevaluasi diri sendiri.
  2. Membandingkan real self kita dengan ideal self, apakah sudah cukup sesuai atau tidak sesuai. Jika terjadi kesenjangan maka kita perlu melakukan upaya supaya dapat selaras dengan ideal self yang kita inginkan.
  3. Lakukan hal-hal positif yang dapat membantu kita untuk mencapai ideal self kita, bukan melakukan hal-hal negatif yang bisa mengganggu real self  kita.

DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, N. E. (2010). Actual-ideal self discrepancy dalam perilaku pengambilan keputusan. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, 9, 1-14.

Kapoor, R., & Nnamdi, O. M. (2012). Consumer Behaviour Text and Cases. Nem Delhi: Tata McGraw Hill Education Private Limited.

LPKA Student and Alumni Affairs. (2020). Ideal Self or Real Self. Diakses pada 25 Januari 2022, dari https://lpka.umy.ac.id/ideal-self-or-real-self/#:~:text=Ideal%20self%20adalah%20kodisi%20dimana,seseorang%20pada%20realitanya%20saat%20ini.

Salma, D. F. (2020). Konsep Diri Ideal: Bangun dengan Self Esteem dan Self Image. Diakses pada 25 Januari 2022, dari https://riliv.co/rilivstory/self-esteem-self-image-dan-ideal-self/

Savitra, K. (2017). Teori Kepribadian Carl Rogers. Diakses pada 25 Januari 2022, dari https://dosenpsikologi.com/teori-kepribadian-carl-rogers

Solomon, M. R. (2018). Consumer Behavior Buying, Having, and Being. England: Pearson Education Limited.

Thursday, March 10, 2022

CELEBRITY WORSHIP SYNDROME

Siapa disini yang pernah atau mungkin sedang mengidolakan seorang public figure atau yang sering kita sebut selebriti? (Akuu!)

Mungkin kita rata-rata mengidolakan seseorang, entah dari kalangan artis, atlet, pengusaha, maupun yang lainnya. Tapi ternyata dalam dunia psikologi ada yang namanya Celebrity Worship Syndrome lho. Nah untuk pembahasan lebih lanjut mengenai Celebrity Worship Syndrome, yuk dibaca hingga tuntas!

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Apa Itu Celebrity Worship Syndrome?

Mungkin istilah “Celebrity Worship Syndrome” terasa kurang familiar jika dibandingkan dengan istilah bipolar atau gangguan psikologis yang lain tapi hal ini ternyata pernah beberapa kali dibahas dan diteliti lho di dunia psikologi. Celebrity Worship Syndrome sendiri merupakan gangguan  obsesif  adiktif  dimana seorang individu menjadi terlalu terlibat dengan detail (intim) terhadap kehidupan pribadi maupun kehidupan professional seorang selebriti (Munica, 2021). Seorang “selebriti” biasanya dicirikan sebagai seseorang yang talenta, pencapaian, status, maupun penampilan fisiknya secara khusus diakui dan dihargai oleh para penggemarnya dan aktivitas celebrity worship ini diketahui sudah semakin umum dilakukan di kalangan anak muda di seluruh dunia (Yue & Cheung, 2000). Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Munica (2021) menemukan bahwa selama pandemi Covid-19 ini, aktivitas  celebrity worship  menjadi  aktivitas  yang  meningkat  drastis lho. Hal ini dikarenakan pada saat pandemi aktivitas lebih sering dilakukan di rumah sehingga banyak anak muda yang memilih untuk melakukan aktivitas pengidolaan seperti, live streaming, menonton konten-konten idola, serta melakukan pencarian aktif terhadap  idolanya di media sosial.

Menurut Maltby et al. (2004), terdapat 3 level dalam celebrity worship, antara lain:

  1. Entertainment-Social

Tahap ini merupakan tahap terendah dalam celebrity worship. Pada tahap ini, individu menganggap idolanya sebagai hiburan sosial dan senang membicarakan selebriti idola mereka sebagai wujud ketertarikan mereka terhadap kemampuan yang dimiliki oleh selebriti tersebut (Riadi, 2021).

  1. Intense-Personal

Tahap ini merupakan tahap menengah dalam celebrity worship. Tahap ini mencerminkan perasaan intensif dan kompulsif individu seputar selebriti idolanya. Hal ini dapat seperti memikirkan selebriti idolanya ketika sedang tidak ingin memikirankannya atau menganggap selebriti idolanya adalah soulmate-nya. Sebuah penelitian juga menemukan bahwa perempuan yang berusia 14-16 tahun yang menunjukkan level intense-personal dalam celebrity worship syndrome akan cenderung memiliki body image yang buruk (Newpost Academy, 2021).

  1. Borderline-Pathological

Tahap ini adalah tahap terekstrem dari celebrity worship yang ditandai dengan pemikiran individu yang tidak rasional dan tidak terkontrol mengenai selebriti idolanya (Riadi, 2021). Pada tahap ini, individu bahkan bisa sampai rela melakukan hal ilegal jika hal tersebut diminta oleh idolanya. Peneliti menemukan bahwa tahap ini­ (borderline-pathological) berhubungan dengan sifat-sifat psikotik seperti impulsif, anti sosial, dan egosentris (Newpost Academy, 2021). 

Kalau kita lihat dari penjelasan di atas, sepertinya Celebrity Worship Syndrome terdengar cukup negatif ya. Namun sebenarnya seperti segala sesuatu yang pasti memiliki sisi positif dan negatif, begitu pula dengan Celebrity Worship Syndrome. Celebrity Worship Syndrome juga memiliki sisi positif bagi seorang penggemar lho. Menurut seorang psikolog yang bernama Ikhsan Bella Persada (Anastasia, 2019), apabila seorang penggemar selalu melihat nilai positif atau karya yang dihasilkan oleh selebriti idolanya, hal ini dapat dijadikan acuan baginya untuk ikut berkarya. Namun, Celebrity Worship Syndrome juga bisa memiliki dampak negatif apabila sang penggemar mulai mempunyai keinginan untuk memiliki sang idola seutuhnya. Celebrity Worship Syndrome  juga berbahaya saat penggemar menganggap dirinya adalah satu-satunya orang yang paling dibutuhkan oleh sang idola.

Namun, perlu diperhatikan untuk tidak mendiagnosa diri sendiri yaa teman-teman! Teman-teman bisa menghubungi layanan psikologi jika merasa mengalami ciri-ciri di atas.

 “Mengidolakan seseorang adalah hal yang sangat wajar dan normal sampai hal tersebut dilakukan secara berlebihan.”

 

DAFTAR PUSTAKA

Anastasia, T. (2019). Ngefans Akut Dengan Idola, Hati-Hati Kena Celebrity Worship Syndrome!. Retrieved January 20, 2022. https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3635859/ngefans-akut-dengan-idola-hati-hati-kena-celebrity-worship-syndrome

Maltby, J., Day, L., McCutcheon, L. E., Gillett, R., Houran, J., & Ashe, D. D. (2004). Personality and coping: A context for examining celebrity worship and mental health. British Journal of Psychology, 95(4), 411–428. https://doi.org/10.1348/0007126042369794

Munica, R. (2021). Gambaran celebrity worship terhadap idola-kpop pada mahasiswa selama pandemi covid-19. Ranah Research: Journal of Multidicsiplinary Research and Development, 4(1), 247-256.

Newport Academy. (2021). The Connection Between Celebrity Worship Syndrome And Teen Mental Health. Retrieved January 20, 2022.  https://www.newportacademy.com/resources/mental-health/celebrity-worship-syndrome/

Riadi, M. (2021). Celebrity Worship (Pengertian, Penyebab, Aspek, Jenis Dan Faktor Pendukung). Retrieved January 20, 2022.  https://www.kajianpustaka.com/2021/03/celebrity-worship.html

Yue, X. D., & Cheun, C. (2000). Selection of favourite idols and models among chinese young people: A comparative study in Hong Kong and Nanjing. International Journal of Behavioral Development, 24(1), 91-98. https://doi.org/10.1080%2F016502500383511  

Thursday, February 10, 2022

MENTAL ILLNESS

                          MENTAL ILLNESS ISN'T AESTHETIC

        Sebagai bagian dari generasi yang separuh waktunya dihabiskan di depan layar, pastinya kita sudah tidak asing dengan berita-berita yang datang dari berbagai penjuru dunia mengenai public figure yang mengaku memiliki mental illness. Atau mungkin berita-berita tersebut didapati dari orang-orang terdekat seperti teman, sahabat, atau bahkan keluarga yang mengaku dirinya memiliki gangguan mental atau mental illness. Selain itu, beberapa waktu belakangan ini banyak juga film yang mengangkat persoalan mental sebagai fokusnya.

            "Wah! Berarti kabar baik dong?" 

        Banyaknya film yang mengangkat masalah mental sebagai fokusnya memang membawa dampak baik karena karya ini membuat masyarakat menjadi lebih peka dan peduli terhadap kesehatan mental. Namun, sangat disayangkan tidak setiap orang mampu merespon dan menyikapi hal ini dengan tepat. Mengapa? Karena tidak jarang orang-orang, khususnya anak muda, jadi salah kaprah dalam menanggapi hal ini sehingga berujung pada self-diagnose atau mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi yang didapat tanpa pertimbangan dari pakarnya. Tidak sampai disini saja, kebanyakan orang akan memamerkan hasil self-diagnose yang didapati secara “illegal” ke media sosial dengan anggapan memiliki mental illness adalah keren. Sebenarnya apakah benar dengan memamerkan hasil self-diagnose bisa dikatakan kerenYuk simak penjelasannya!


Gangguan mental (Mental illness)

   Pasti kita semua sudah cukup familier dengan istilah mental illness karena kini mental illness sudah mulai marak dibicarakan. Menurut Radiani (2019), gangguan mental terdiri dari berbagai masalah dengan berbagai gejala. Namun umumnya dicirikan dengan kombinasi abnormalitas pada pola pikir, emosi, perilaku serta hubungan dengan orang lain. Menurut Burhanuddin (dalam Radiani, 2019), berbagai perasaan yang menyebabkan terganggunya kesehatan mental dapat seperti perasaan cemas (gelisah), iri hati, sedih, merasa rendah diri, pemarah, ragu (bimbang), dan sebagainya. Sedangkan menurut WHO (2021), kesehatan mental merupakan sebuah kondisi sejahtera yang disadari oleh individu sehingga mampu mengelola stress kehidupan dengan cara yang wajar sehingga individu mampu bekerja dan menjalankan kehidupannya sehari-hari secara produktif.

 

Self-diagnose

Self-diagnose atau mendiagnosis diri sendiri adalah upaya seseorang untuk mendiagnosis dirinya mengidap sebuah penyakit atau gangguan psikis dan mental berdasarkan pengetahuan atau informasi yang diperoleh secara mandiri, seperti mencari informasi mengenai penyakit tersebut melalui internet dan berasumsi bahwa dirinya seolah-olah mengetahui penyakit atau gangguan yang sedang dialami. Menurut (Buntoro et al, 2019), perilaku ini cukup berbahaya karena selain berdampak pada kepanikan yang tidak perlu, mendiagnosis diri sendiri tanpa pendapat ahli langsung juga berbahaya untuk seseorang menentukan tindakan selanjutnya. Misalnya seseorang bisa saja mengonsumsi obat yang salah atau seseorang bisa saja menyebarkan informasi yang salah kepada orang lain sehingga menyebabkan kekacauan lainnya.

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, self-diagnose sendiri merupakan kebiasaan yang sangat berbahaya dan tidak cukup baik untuk dilakukan.

Pernahkah readers mendengar berita atau membaca artikel-artikel di internet yang mengatakan bahwa akhir-akhir ini semakin marak orang muda yang mendiagnosis dirinya mengidap sakit mental atau sakit fisik namun tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahli atau pakarnya?

"Menurut readers, mengapa hal ini bisa terjadi?"

Hal ini cenderung terjadi karena adanya rasa takut akan stigma negatif yang diberikan lingkungan terhadap diri individu tersebut, khususnya stigma atau pandangan yang berhubungan dengan kesehatan mental.

Tahukah kamu, kalau di Indonesia sendiri stigma negatif ini masih sering muncul, loh! Masyarakat Indonesia masih berasumsi bahwa orang yang menemui professional seperti psikolog atau psikiater adalah orang yang memiliki masalah kejiwaan atau biasa disebut dengan istilah ”gila”. Padahal belum tentu loh orang yang menemui professional adalah orang yang memiliki gangguan kejiwaan. Bisa saja alasannya bertemu psikolog hanya untuk bercerita dan bercengkrama karena ternyata hal ini bisa membantu melegakan pikiran, loh!

"Lalu, apa sih dampak lain yang ditimbulkan karena melakukan self-diagnose?"


 Dampak self-diagnose pada kesehatan mental

Beberapa dampak akan muncul ketika seseorang melakukan self-diagnose. Misalnya, menyebabkan kekhawatiran pada diri sendiri mengenai hal yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. Contoh, belakangan ini Mawar sering merasa pusing. Lalu, Mawar mencari informasi-informasi melalui internet tentang penyebab rasa pusing yang sering Mawar alami. Nah, dari hasil pencarian tersebut Mawar mendapati informasi bahwa ternyata rasa pusing yang sering muncul dapat menunjukkan adanya penyakit otak yang serius, katakanlah tumor otak. Pada akhirnya Mawar terus merasa takut dan khawatir bahkan hingga merasa stress berat karena mengira dirinya mengidap tumor otak. Padahal bisa saja sakit kepala tersebut didapati karena Mawar kurang tidur atau Mawar terlalu lama terpapar sinar matahari siang.

Kekhawatiran yang disebabkan karena self-diagnose juga dapat berujung pada gangguan kecemasan umum, loh! Gangguan kecemasan umum merupakan kondisi mental yang biasanya ditandai dengan kekhawatiran berlebihan terhadap situasi tertentu (Makarim, 2021).

Jadi, sebaiknya jangan menjadi dokter untuk diri sendiri dengan melakukan self-diagnose ya! Kalau readers mulai merasakan atau mengalami salah satu atau beberapa gejala dari gangguan mental sebaiknya langsung saja konsultasikan dengan pihak professional seperti psikolog atau psikiater (untuk masalah mental) atau dokter umum (untuk masalah kesehatan fisik). For your information, saat ini di beberapa rumah sakit dan puskesmas yang ada dibawah naungan pemerintah membuka layanan psikologis dengan biaya yang cukup terjangkau bahkan gratis, loh! Jadi, jangan ragu lagi, ya!

“It’s up to you today to start making healthy choices. Not choices that are just healthy for your body, but healthy for your mind.” 


                       DAFTAR PUSTAKA

Buntoro, Y. I., Setiawan, K., & Harnoko, I. (2019). Perancangan kampanye sosial stop self-diagnose ditunjukkan untuk remaja. Jurnal Ilmiah Desain Komunikasi Visual, Vol 2 No. 1 (2019), 1-6.

Makarim, F. R. (2021, Oktober 12). Bahaya self-diagnosis yang berpengaruh pada kesehatan mental: Diakses dari https://www.halodoc.com/artikel/bahaya-self-diagnosis-yang-berpengaruh-pada-kesehatan-mental

Nugraha, J (2021, November 29). Mengenal penjelasan lengkap mengenai kesehatan mental menurut WHO, berikut penjelasan lengkapnya: Diakses dari https://www.merdeka.com/jateng/mengenal-kesehatan-mental-menurut-who-berikut-penjelasan-lengkapnya-kln.html

Radiani, W. A. (2019). Kesehatan mental masa kini dan penanganan gangguannya secara Islami. Journal of Islamic and Law Studies, Volume 3(Nomor 1, Juni 2019), 87-113. nu



Monday, January 10, 2022

Sibuk Vs Produktif


Sibuk Vs Produktif

“Kerjaan banyak bangett.. Gue sibuk banget hari ini!”

“Jangan ganggu sedang sibuk! Gue lagi gak ada waktu, bro.”

Atau…

“Hari ini kerjaan banyak banget, tapi gue mau nyelesain tugas yang deadline-nya paling cepat dulu.”

“Ntar sore gue selesai kok! Nanti sore gue bales chat lo.”

Teman-teman familiar dengan percakapan di atas? Atau setidaknya pernah mendengar orang lain mengatakan itu. Dari dua jenis percakapan di atas, sebenarnya menjelaskan secara umum siapa yang sibuk vs produktif.

Emang apa bedanya Sibuk Vs Produktif?

Mengutip dari Setiawan (2016) ada beberapa perbedaan antara orang yang sibuk vs produktif yaitu : terkait “misi hidup”, orang yang sibuk cenderung ingin punya misi hidup. Namun mereka hanya ingin terlihat punya misi hidup saja, sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh membuat misi hidup. Berbeda dengan orang produktif, mereka memiliki misi hidupnya dan mengerjakan sesuatu berdasarkan misi hidupnya. Neil (2016) juga mengatakan orang yang sibuk cenderung berkoar-koar mengenai seberapa sibuk dirinya, sedangkan orang yang produktif tidak berkoar-koar dan membiarkan hasil yang berbicara. Contohnya seperti seorang penulis, mereka tidak membicarakan tentang buku apa yang selanjutnya akan diterbitkan, tapi mereka fokus untuk menulisnya.

Dari perbedaan di atas kita bisa melihat perbedaannya, selanjutnya terkait skala prioritas kegiatannya. Orang sibuk memang sangatlah sibuk karena memiliki to-do list yang sangat panjang dan banyak–semuanya ini menjadi prioritas yang ingin dikerjakan dalam satu waktu (Setiawan, 2016). Namun, orang produktif berbeda–mereka bisa memilah mana yang penting dan mendesak, mana yang penting dan tidak mendesak, mana yang tidak penting namun mendesak, dan mana yang tidak penting dan tidak mendesak. Mungkin teman-teman ada yang sudah bisa menebak, membahas tentang apa kalimat terakhir tadi. Ya, benar. Tadi itu adalah “skala kuadran prioritas” atau yang lebih familiar disebut “eisenhower matrix”.


Sumber : www.hivedesk.com

People Pleaser

Apakah teman-teman sebelumnya pernah mendengar istilah mengenai people pleaser?

    Rachman (2021) mengatakan bahwa people pleaser adalah keadaan di mana seseorang yang rela melakukan sesuatu untuk diakui orang lain. Singkatnya adalah orang yang tidak pernah mengatakan "tidak" ketika dimintai bantuan.


Sumber : https://satuvisi.org

Gambar di atas merupakan contoh perkataan yang sering dikatakan oleh people pleaser. Walau sesibuk apapun, people pleaser akan merasa tidak enakan dan meng-iyakan hampir semua permintaan teman-temannya, maka people pleaser termasuk orang sibuk.  Penelitian tentang sifat ini pun ternyata ada lho, dilakukan oleh Rosenfeld, Giacalone, dan Riordan (1995) yang menjelaskan bahwa seseorang itu berusaha membuat orang lain senang demi mendapatkan kesan yang baik untuk dirinya sendiri.

Prokrastinasi

Sebelumnya, kita telah membahas tentang people pleaser yang  ada kaitannya dengan perilaku orang sibuk. Ada pula suatu istilah dalam psikologi yang berpengaruh pada perilaku sibuk ini yaitu prokrastinasi. Prokrastinasi adalah kecenderungan perilaku untuk memulai sesuatu dengan lambat dan membawa konsekuensi yang buruk bagi “penderita” nya (Dewitte & Schouwenburg, 2002). Steel (2007) menyimpulkan bahwa prokrastinasi adalah tindakan menunda secara sukarela terhadap kegiatan yang seharusnya dikerjakan tanpa memikirkan konsekuensi yang lebih buruk ketika melakukan penundaan tersebut. Pada intinya  prokrastinasi adalah keterlambatan memulai atau kegagalan menyelesaikan suatu aktivitas karena kecenderungan irasional dan sukarela untuk menunda aktivitas (Surijah & Tjundjing, 2007).

Dampak dari prokrastinasi terhadap hidup kita pun beragam, contohnya tugas menumpuk ketika menjelang deadline, kurangnya waktu mengerjakan tugas sehingga menyebabkan stres yang tidak baik dan menurunkan performa, dsb. Orang yang produktif jika mengacu dari pembahasan di atas, cenderung tidak menjadi people pleaser dan tidak melakukan prokrastinasi ini. Jadi, orang produktif memang terlihat banyak pekerjaannya–akan tetapi hal tersebut dikerjakan karena memang sudah menjadi prioritas untuk dikerjakan. Berbeda dengan orang sibuk, mereka cenderung menjadi people pleaser dengan mengikuti banyak tuntutan lingkungan. Mereka tidak bisa membedakan mana yang menjadi prioritas untuk dikerjakan sehingga dapat menyebabkan perilaku prokrastinasi.

Tips Produktivitas Dengan Metode Flow

        Teman-teman pernah gak saat lagi fokus nugas, saking fokusnya kalian sampai tidak ingat waktu dan keadaan sekitar? Setelah nugas bukannya merasa lelah, tapi kalian malah merasa senang. Jika kalian pernah merasakan kondisi ini, ada istilah dalam psikologi positif yang disebut flow state.

         Flow diketahui dapat meningkatkan produktivitas seseorang sampai lima kali lipat loh! (Cranston dan Keller dalam Goei, 2021). Dalam bukunya Goei (2021) menjelaskan, kondisi flow membuat kita merasa bahagia dan bahagia adalah emosi positif. Dikatakan dalam bukunya, emosi positif dapat meningkatkan kreativitas sekaligus memaksimalkan potensi yang kita miliki. Singkatnya,  mengapa ketika mengalami kondisi flow kita lupa waktu dan lingkungan sekitar, bahkan terkadang kita juga menjadi lupa dengan diri sendiri? Hal ini dikarenakan seluruh potensi otak kita tercurahkan hanya kepada satu kegiatan yang sedang dilakukan saja.

            Kondisi flow dapat mendukung kita untuk memperoleh performa puncak, yang mana hal ini dapat mendukung produktivitas kita. Goei (2021) juga menjelaskan bahwa untuk memperoleh flow state, kegiatan yang kita lakukan harus sedikit lebih sulit dari kemampuan kita, dan terdapat beberapa cara untuk membantu memunculkan kondisi flow, yaitu :

  1. Tujuan harus jelas

Dengan tujuan yang jelas, kita akan lebih mudah mencapai kondisi flow. Tentukan apa tujuan dari mengerjakan tugas tersebut. Contohnya, pagi ini saya akan menyelesaikan bab III dari penelitian saya. Ketika tujuan yang saya miliki ini jelas, saya jadi tahu apa yang harus dilakukan. Lalu, dengan tujuan yang jelas kita jadi merasa telah membuat suatu pencapaian, sekalipun progress kecil, hal ini akan membuat kita lebih menikmati pekerjaan tersebut. 

  1. Sumber daya harus siap

Ketika ingin mengalami kondisi flow, kita tentu harus memiliki sumber daya terlebih dahulu karena jika tidak maka pekerjaan yang kita lakukan dapat lebih terhambat dan akhirnya membuat kita merasa kurang enjoy saat mengerjakannya. Maksud dari sumber daya disini adalah peralatan yang menunjang pekerjaan, ide-ide, data, berkas, dan lainnya. Contohnya, ketika saya mengerjakan suatu tugas, saya akan merasa lebih enjoy ketika saya mengetahui materi dari tugas tersebut dibandingkan tugas yang materinya saja belum saya pelajari. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa kita dapat menikmati pekerjaan yang kita lakukan ketika sumber daya yang kita butuhkan sudah siap.

  1. Kurangi distraksi bekerja

Distraksi yang dimaksudkan di sini adalah hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi kita ketika sedang bekerja. Dengan adanya distraksi seperti suara notifikasi ponsel, perut yang tiba-tiba lapar, rasa haus, membuka media sosial, ataupun hal lainnya yang dapat mengambil alih atensi kita ketika sedang bekerja dapat mempersulit kita untuk mencapai kondisi flow. Terdapat beberapa cara untuk menghindari atau mengurangi distraksi ini yaitu dengan cara melakukan persiapan sebelum bekerja seperti memasang mode hening di ponsel, menyiapkan air minum di dekat kita, membuang air kecil terlebih dahulu, mencari posisi duduk yang nyaman, dan lain-lain.

Setelah pembahasan di atas, teman-teman termasuk tim mana? Tim sibuk atau tim produktif nih? 

  Daftar Pustaka

Dewitte, S., & Schouwenburg, H. C. (2002). Procrastination, temptations, and incentives: The struggle between the present and the future in procrastinators and the punctual. European Journal of Personality, 16(6), 469-489.

Goei, G. (2021). Psikologi Positif. Penerbit Buku Kompas.

Neil, C. (2016). 11 Differences between busy people and productive people. Diakses pada 11 Desember 2021, dari https://www.linkedin.com/pulse/11-differences-between-busy-people-productive-conor-neill/

Rachman, F. (2021). 4 Cara untuk menghilangkan sifat gak enakan agar lebih produktif. Diakses pada 11 Desember 2021, dari  https://satupersen.net/blog/4-cara-untuk-menghilangkan-sifat-gak-enakan-agar-lebih-produktif-ed

Rosenfeld, P., Giacalone, R. A., & Riordan, C. A. (1995). Impression management in organizations. London: Routledge.

Setiawan, A. C. (2016). Sibuk vs produktif. http://psikologid.com/sibuk-vs-produktif/

Steel, P. (2007). The nature of procrastination: A meta-analytic and theoretical review of quinesential self - regulatory failure. Psychological Bulletin, 133(1), 65-94.

Surijah, E. A., & Tjundjing, S. (2007). Mahasiswa versus tugas: Prokrastinasi akademik dan conscientiousness. Anima, Indonesian Psychological Journal, 22(4), 352-374.


Philip Zimbardo - Stanford Prison Experiment

Edisi Mei 2026 PHILIP ZIMBARDO - STANFORD PRISON EXPERIMENT                                                 Sumber:  Foto Penulis: G...