Friday, March 8, 2024

Bipolar: Lebih dari Sekadar Perubahan Mood

Source: https://www.hindustantimes.com/ht-img/img/2023/07/20/550x309/bipolar_disorder_thumb_1682771643631_1689837806540.jpg

Gangguan mental merupakan kondisi patologis yang dicirikan oleh gejala psikologis atau perilaku yang berdampak pada penderitaan yang nyata, serta diperburuk oleh disfungsi yang berasal dari faktor biologis, sosial, psikologis, genetik, fisik, dan kimia. Kondisi ini dapat dimanifestasikan melalui berbagai simptom, termasuk kesulitan tidur, kecemasan yang berlebihan, serta kesedihan yang intens dan berlangsung lama (Ramadani et al., 2024).  Indikator gangguan mental terlihat melalui transisi perilaku dari positif menjadi negatif, distorsi dalam cara berpikir dari yang semula rasional menjadi tidak rasional, serta perubahan dalam penggunaan bahasa dari yang terstruktur menjadi terganggu.

Gangguan bipolar diidentifikasi sebagai kondisi psikiatrik yang serius. Gangguan bipolar tidak hanya berasal dari masalah psikologis, tetapi juga dari ketidakseimbangan neurotransmitter di otak. Individu dengan gangguan ini mengalami perubahan suasana hati yang drastis, dari tingkat mania yang ditandai dengan euforia dan tinggi energi, hingga ke fase depresi yang ditandai dengan intensitas emosional yang menurun. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengulas lebih dalam mengenai gangguan bipolar.

Definisi Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar merupakan kondisi psikologis yang bersifat kronis atau episodik. Hal ini berarti gangguan bipolar berfluktuasi dengan interval yang tidak dapat diprediksi. Kondisi ini mengakibatkan perubahan perilaku yang tidak umum, seringkali secara ekstrem, termasuk dalam aspek suasana hati, tingkat energi, kegiatan, serta kemampuan untuk memusatkan perhatian atau konsentrasi. Dengan demikian, gangguan bipolar diidentifikasi sebagai penyakit yang dicirikan oleh fluktuasi intens dalam suasana hati, aktivitas, dan tingkat energi (Mintz, 2015).

Penyebab Gangguan Bipolar

1.      Faktor Genetik

      Faktor genetik berperan dominan dalam penyebab gangguan bipolar, dengan sebagian besar dari individu yang didiagnosis memiliki sejarah keluarga mengalami gangguan mood, seperti depresi dan gangguan bipolar. Keterkaitan genetik ini berkontribusi sebesar 80% terhadap gangguan, dengan risiko penurunan kondisi kepada anak mencapai 10% dari satu orang tua terdiagnosa dan 40% jika kedua orang tua mengidapnya. Namun, keberadaan gangguan pada satu anggota keluarga tidak menjamin akan terjadi pada anggota lainnya.

2.      Faktor Neurokimia

      Neurotransmitter utama seperti norepinefrin, serotonin, dan dopamin memegang peranan penting dalam otak. Ketidakseimbangan zat kimia ini dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap gangguan mood.

3.      Faktor Lingkungan

      Peristiwa kehidupan tertentu yang memiliki predisposisi genetik dapat memicu gangguan bipolar. Faktor seperti gaya hidup tidak sehat, penyalahgunaan substansi, atau gangguan hormonal juga dapat meningkatkan risiko, bahkan tanpa predisposisi genetik yang jelas.

4.      Struktur dan Fungsi Otak

    Penelitian menunjukkan perubahan signifikan dalam struktur dan fungsi otak pada individu dengan gangguan bipolar (Wedhanti, 2022). Perubahan ini, yang mungkin ada sejak lahir atau berkembang seiring waktu, diyakini memainkan peran dalam pengembangan gangguan bipolar.

Jenis Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar dapat dikategorikan menjadi dua tipe utama, yakni gangguan bipolar tipe I dan tipe II. Gangguan bipolar tipe I dicirikan oleh episode mania yang ekstrem, seringkali disertai dengan periode depresi yang intens sehingga kondisi tersebut berisiko tinggi bagi individu yang mengalaminya. Sebaliknya, gangguan bipolar tipe II ditandai dengan episode hipomania yang lebih ringan, yang memungkinkan penderita untuk tetap menjalankan fungsi kehidupan sehari-hari mereka dengan lebih efektif, meskipun mereka juga mengalami periode depresi yang lebih panjang dibandingkan dengan episode hipomania.

Selain dua tipe utama tersebut, terdapat pula cyclothymic disorder, yang dianggap sebagai versi lebih ringan dari gangguan bipolar. Kondisi ini ditandai oleh fluktuasi mood yang berkelanjutan antara hipomania dan depresi, tanpa mencapai intensitas penuh dari mania atau depresi mayor yang ditemukan dalam gangguan bipolar tipe I atau II. Sebuah kondisi dapat dinyatakan sebagai cyclothymic disorder apabila pola fluktuasi mood terjadi selama setidaknya dua tahun dengan gejala yang cenderung kurang menonjol dan tidak mengganggu fungsi sehari-hari sebanyak gangguan bipolar tipe I atau II.

Gejala Gangguan Bipolar

      Diagnosis Gangguan Bipolar dilakukan berdasarkan gejala yang diuraikan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR). Gangguan Bipolar ditandai dengan episode manik, episode hipomanik, dan episode depresi. 

1.      Episode Manik

      Episode manik atau mania didefinisikan sebagai suatu periode suasana hati yang terus-menerus meningkat atau mudah tersinggung dengan peningkatan aktivitas atau energi yang berlangsung setidaknya selama 7 hari berturut-turut. Episode ini bisa muncul sendiri atau mungkin diikuti atau didahului oleh episode hipomanik atau depresi berat (episode hipomanik atau depresi berat tidak diperlukan untuk diagnosis).

      Episode manik terjadi pada individu yang mengalami Gangguan Bipolar tipe I. Untuk mendiagnosis Gangguan Bipolar I, beberapa kriteria perlu dipenuhi, minimal harus ada 3 dari gejala berikut atau 4 jika suasana hati lebih cenderung iritatif:

a.       Harga diri meningkat atau merasa superior.

b.      Kebutuhan untuk tidur berkurang.

c.       Perlu terus berbicara atau bicara lebih banyak dari biasanya.

d.      Pemikiran yang cepat dan sulit dikendalikan.

e.       Kesulitan berkonsentrasi karena mudah teralihkan.

f.   Peningkatan aktivitas yang diarahkan pada tujuan (baik secara sosial, di tempat kerja, sekolah, atau secara seksual) atau mengalami agitasi psikomotorik (aktivitas yang tidak terarah).

g.  Keterlibatan secara berlebihan dalam aktivitas berisiko, seperti belanja berlebihan, perilaku seksual berlebihan, atau keputusan finansial yang gegabah.

h.    Gejala episode manik dapat mengakibatkan gangguan fungsi sosial atau pekerjaan, bahkan mungkin memerlukan rawat inap. Episode manik tidak disebabkan oleh efek zat tertentu atau kondisi medis umum.

2.      Episode Hipomanik

      Episode hipomanik, atau hipomania, didefinisikan sebagai periode suasana hati yang terus-menerus meningkat atau mudah tersinggung dengan peningkatan aktivitas atau energi yang berlangsung setidaknya selama 4 hari berturut-turut, serta mempunyai gejala yang serupa dengan episode manik. Perbedaannya adalah bahwa gejala ini:

a.       Tidak parah atau seintens episode manik.

b.   Mempunyai dampak yang lebih ringan dalam kehidupan sehari-hari.

c.       Tidak memerlukan kunjungan ke rumah sakit.

d.      Muncul selama setidaknya 4 hari berturut-turut.

e.    Jika mengalami episode hipomanik tanpa episode manik, individu mungkin dapat didiagnosis Gangguan Bipolar tipe II.

3.      Episode Depresi

      Kehadiran 5 atau lebih dari gejala berikut setiap hari atau hampir setiap hari selama periode 2 minggu berturut-turut:

a.    Suasana hati yang suram, yang mungkin terasa seperti kesedihan ekstrem, keputusasaan, atau perasaan tidak berdaya.

b.  Kehilangan kesenangan (pleasure) pada hal-hal yang biasanya dinikmati,

c.   Merasa tidak berharga, atau perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak sesuai dengan kenyataan.

d.      Kelelahan atau kurangnya energi.

e.       Insomnia atau hipersomnia.

f.        Kesulitan untuk berpikir atau berkonsentrasi.

g.      Penurunan berat badan atau peningkatan berat badan.

h.      Perubahan dalam nafsu makan.

i.        Pikiran atau tindakan bunuh diri.

           Untuk memenuhi kriteria, setidaknya salah satu gejala harus berupa mood depresi atau anhedonia (kehilangan minat), gejala tersebut tidak boleh disebabkan oleh suatu zat atau kondisi medis umum, dan harus menyebabkan gangguan fungsional (misalnya sosial atau pekerjaan). 

Penanganan dan Pengobatan Gangguan Bipolar

1.      Penanganan dan Pengobatan Episode Manik

      Episodik manik merupakan kondisi serius yang mungkin memerlukan perhatian medis segera dan rawat inap psikiatris. Perawatan awal ditujukan untuk menstabilkan pasien yang berpotensi atau mengalami kegelisahan akut untuk membantu mengurangi tekanan, mengurangi perilaku yang berpotensi membahayakan, dan memfasilitasi penilaian dan evaluasi kondisi pasien. 

    Menciptakan lingkungan yang tenang dengan rangsangan minimal sangat penting, dan obat seperti benzodiazepin dapat digunakan bersamaan dengan stabilisator mood dan antipsikotik untuk mengurangi agitasi dan meningkatkan kualitas tidur. Stabilisator mood seperti lithium atau valproate, serta antipsikotik seperti aripiprazole, asenapine, cariprazine, quetiapine, atau risperidone. Perlu diingat bahwa penggunaan valproate sebaiknya dihindari pada wanita yang berpotensi hamil karena dapat berisiko merugikan janin.

2.      Penanganan dan Pengobatan Episode Hipomanik

      Episode hipomanik tidak cukup parah untuk menyebabkan gangguan yang signifikan, dan tidak ada psikosis; oleh karena itu, episode ini dapat ditangani dengan rawat jalan. Farmakoterapi yang serupa dengan mania, namun dengan dosis yang berbeda.

3.      Penanganan dan Pengobatan Episode Depresi Akut

      Prioritas dalam menangani pasien dengan Gangguan Bipolar yang mengalami episode depresi akut terletak pada mengatasi resiko bunuh diri dan melukai diri sendiri, karena sebagian besar kematian akibat bunuh diri pada individu dengan Gangguan Bipolar terjadi pada fase ini. Rawat inap mungkin diperlukan atau tidak.

   Pendekatan awal melibatkan penggunaan obat-obatan seperti quetiapine, olanzapine, atau lurasidone sebagai monoterapi lini pertama. Perawatan kombinasi seperti olanzapine-fluoxetine, lithium-lamotrigin, dan lurasidone-lithium atau valproate juga bisa menjadi pilihan. Antidepresan dapat diberikan tambahan dengan stabilisator mood (misalnya lithium dan lamotrigin).

 

Kesimpulan

       Gangguan bipolar merupakan kondisi patologis dengan gejala psikologis atau perilaku yang berasal dari faktor biologis, sosial, psikologis, genetik, fisik, dan kimia. Gangguan ini mencakup fluktuasi suasana hati, tingkat energi, kegiatan, dan konsentrasi. Faktor penyebab melibatkan genetik, neurokimia, lingkungan, serta struktur dan fungsi otak. Gangguan bipolar terbagi menjadi tipe I dan tipe II, serta cyclothymic disorder. Diagnosis melibatkan episode manik, hipomanik, dan depresi sesuai DSM-5-TR. Penanganannya mencakup stabilisator mood, antipsikotik, terapi, dan diperlukannya rawat jalan. Keamanan dan penanganan risiko bunuh diri menjadi prioritas pada episode depresi akut.

DAFTAR PUSTAKA

Jain A, et al. (2023). Bipolar disorder. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK558998/

Mintz, D. (2015). Bipolar Disorder: Overview, Diagnostic Evaluation and Treatment.

Nierenberg AA, et al. (2023). Diagnosis and treatment of bipolar disorder. A review. https://jamanetwork.com/journals/jama/article-abstract/2810502

Ramadani, et al. (2024). Gangguan Bipolar pada Remaja: Studi Literatur. Edu Society: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(1), 1219-1227.

Wardani, I. A., & Tiastiningsih, N. N. (2023). GANGGUAN TIDUR PADA PENDERITA GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR. Jurnal Hasil Penelitian dan Pengembangan, 1(3), 177-183.

Wedhanti, P. H. (2022). Studi Kasus Dinamika Psikologis Penderita Bipolar Disorder. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6(1), 2578-2582.

Wednesday, February 7, 2024

Mengenal Gambaran Gangguan Skizofrenia

Sumber: https://depressionals.com/schizophrenia-disorder/

Perubahan yang disebabkan oleh globalisasi dan modernisasi telah mendatangkan perubahan signifikan terhadap pola hidup dan sistem nilai dalam masyarakat. Proses-proses ini telah memperkenalkan perubahan kompleks dalam struktur kehidupan sehari-hari, menimbulkan peningkatan kebutuhan hidup, dan menciptakan lingkungan yang lebih kompetitif. Akibatnya, terjadi peningkatan stressor psikososial yang memerlukan adaptasi mental. Kondisi ini berpotensi mengarah pada pengembangan berbagai sindrom psikologis yang ditandai oleh distress dan menimbulkan disability yang tercermin dalam gangguan fungsi-fungsi penting, meningkatkan risiko penderitaan, kematian, dan penurunan otonomi. Salah satu gangguan mental yang sering ditemukan adalah skizofrenia.

Skizofrenia merupakan jenis psikosis yang menimbulkan gangguan dalam proses berpikir dan menyebabkan ketidakharmonisan antara kognitif, afek atau emosi, keinginan, dan gerakan (Hendarsyah, 2016). Kondisi ini sering disertai dengan distorsi kenyataan, terutama melalui delusi dan halusinasi. Penderita skizofrenia mengalami kesulitan dalam menghubungkan pikiran secara koheren, memperlihatkan emosi yang tidak sesuai, dan perilaku aneh, termasuk menarik diri dari interaksi sosial, ketidakpastian dalam bertindak, dan tindakan yang tidak biasa. Skizofrenia merupakan kondisi kejiwaan yang bersifat kronis dan kerap kali mengalami episode relaps dalam periode yang berkepanjangan (Hermiati & Harahap, 2018). Kesulitan dalam mengikuti program perawatan yang ditetapkan seringkali menjadi faktor utama yang memicu kekambuhan skizofrenia.

Gangguan skizofrenia adalah kondisi psikologis yang memiliki ciri khas berupa gejala positif seperti delusi dan halusinasi, gejala negatif yang meliputi apatis, perilaku menarik diri, penurunan daya pikir, dan penurunan afeksi, serta gangguan kognitif yang melibatkan masalah pada ingatan, perhatian, kemampuan pemecahan masalah, dan interaksi sosial. Menurut WHO (dalam Zahnia & Sumekar, 2018), gangguan psikologis skizofrenia ditandai oleh berbagai gejala yang mencakup gangguan pikiran, delusi, halusinasi, afek abnormal, dan gangguan kepribadian motor. Salah satu gejala skizofrenia yang umum terjadi adalah gangguan pikiran yang ditemukan dalam bentuk abnormalitas dalam bahasa, digresi berkelanjutan saat berbicara, serta keterbatasan dalam isi bicara dan ekspresi. Selain itu, individu yang mengidap skizofrenia sering mengalami delusi, yaitu keyakinan yang salah berdasarkan pengetahuan yang tidak benar dan tidak sesuai dengan realitas sosial dan budaya mereka. Halusinasi juga merupakan gejala yang sering ditemukan, di mana individu mengalami persepsi sensoris tanpa adanya stimulus eksternal.

Penyebab yang paling banyak dialami oleh penderita skizofrenia adalah karena masalah psikologis seperti kurangnya pemahaman pasien terhadap masalah yang sedang dialami, kurangnya kemampuan untuk memecahkan masalah dan sulit beradaptasi dalam hubungan interpersonal. Menurut Maramis (dalam Fatmawati, 2016) dalam proses perkembangan psikologis yang salah, dapat terjadi ketidakmatangan atau fiksasi bahwa individu gagal berkembang ke fase berikutnya dan memiliki kerentanan mental. Individu yang rentan tersebut apabila mengalami stres psikososial seperti ekonomi, gagal mencapai yang diinginkan, dan konflik yang berlarut-larut maka akan berkembang menjadi gangguan skizofrenia (Fatmawati, 2016).

Selain itu, menurut Luana (dalam Fatmawati, 2016), menjelaskan penyebab dari gangguan skizofrenia meliputi beberapa faktor-faktor, yaitu:

1.      Faktor Biologis

·      Komplikasi kelahiran

     Kelahiran pada bayi laki-laki yang mengalami komplikasi saat dilahirkan sering mengalami skizofrenia dan hipoksia perinatal akan meningkatkan kerentanan seorang individu terhadap skizofrenia.

·     Infeksi

   Perubahan anatomi pada susunan syaraf pusat yang diakibatkan oleh infeksi virus pernah dilaporkan pada orang dengan skizofrenia yang dimana disebutkan bahwa terpaparnya infeksi virus pada trisemester kedua kehamilan akan meningkatkan seseorang mengalami skizofrenia.

·      Hipotesis dopamine

  Dopamine adalah neurotransmitter pertama yang memiliki kontribusi terhadap gejala skizofrenia dan hampir semua obat antipsikotik baik yang tipikal maupun antipikal terdiri dari dopamine D2. Dengan adanya transmisi sinyal di sistem dopaminergik maka gejala psikotik diredakan.

·      Hipotesis serotonin

   Gaddum, Wooley, dan Show tahun 1954 mengobservasi efek lysergic acid diethlamide atau LSD yaitu suatu zat yang bersifat campuran agonis/antagonis reseptor 5-HT yang ternyata zat tersebut menyebabkan keadaan psikosis berat pada orang yang normal.

·      Struktur otak

     Pada penderita skizofrenia, terlihat adanya perbedaan otak pada orang normal seperti ventrikel terlihat melebar, penurunan massa abu-abu dan di beberapa area terjadi peningkatan maupun penurunan aktivitas metabolik. 

2.      Faktor Genetik

     Skizofrenia adalah gangguan yang dapat diturunkan oleh anggota keluarga maupun keluarga lainnya seperti paman, bibi, kakek atau nenek. Besar kemungkinan peluang yang terjadi adalah 1% populasi umum tetapi 10% pada individu yang memiliki hubungan pertama seperti orang tua, kakak laki-laki maupun perempuan dengan skizofrenia. Peluang lainnya sebesar 40% sampai 65% berpeluang menderita skizofrenia terhadap anak yang kembar identik.

Bagi para pasien yang didiagnosa menderita gangguan skizofrenia sebagian besar tidak memiliki pemikiran yang luas sehingga ketika dihadapkan dengan masalah, penderita skizofrenia cenderung hanya menjadikannya sebagai stres dan kemudian sifat pasien yang pendiam juga dapat menambah beban stres karena beban yang dimiliki hanya disimpan sendiri dan akan semakin menekan para penderitanya (Fatmawati, 2016).

Pengobatan bagi para penderita skizofrenia dapat dilakukan dengan beberapa cara penyembuhan, yaitu: 

1.      Cognitive behavioral therapy (CBT)

       Pada psikoterapi ini, keterampilan yang dikembangkan adalah fokus pada manajemen gejala bukan hanya penyembuhan dan mencoba untuk menargetkan pemikiran, emosi, dan perilaku. Perubahan perilaku bisa sangat berguna untuk mengubah sikap dan respon penderita dalam menghadapi gejala yang dialami.

2.      Assertive community treatment (ACT)

   ACT adalah model yang berbasis komunitas yang dapat memungkinkan penderita skizofrenia mendapatkan bantuan secara penuh yang diperlukan. Pada pusat ACT, penderita skizofrenia biasanya akan menemui psikiater, praktisi perawat, pekerja sosial, dan terapis hampir setiap minggu dengan tujuan untuk membantu pasien berintegrasi dalam masyarakat dengan bantuan ekstra dalam mencari pekerjaan, mengelola pengobatan agar lebih efisien, dan memiliki jaringan dukungan yang stabil di luar perawatan di rumah sakit.

3.      Illness management and recovery

    Terapi psikoedukasi bagi para penderita skizofrenia yang ingin mempelajari lebih lanjut terkait dengan sakitnya. Hal ini mampu mengubah perspektif penderita tentang sakitnya dan membantu untuk menerima dan mengintegrasikannya ke dalam kehidupannya.

4.      Family psychoeducation

   Dukungan sosial merupakan hal yang penting dalam proses pemulihan penderita skizofrenia, termasuk peran keluarga dalam mendukung kesembuhan penderita. Pada terapi ini, anggota keluarga diminta untuk berkontribusi dalam mendukung dan memperbaiki kehidupan secara umum.

5.      Internal family systems therapy and mindfulness-based strategies

     Pada terapi ini, para penderita skizofrenia diminta untuk menjadi kontributor bagi kehidupan mereka sendiri dan terapi-terapi ini tidak secara spesifik dikategorikan ke dalam kategori skizofrenia, tetapi dapat membantu para penderita untuk mengelola gejala dan menyadari kondisinya.

Dengan demikian, skizofrenia dapat dilihat melalui timbulnya gejala seperti delusi, halusinasi, sikap apatis, menarik diri, penurunan kemampuan seperti daya pikir dan pemecahan masalah, serta masalah pada ingatan. Skizofrenia sendiri dapat diartikan sebagai gangguan dimana penderitanya sulit untuk menghubungkan pemikirannya secara koheren, memperlihatkan emosi yang tidak sesuai dan menarik diri dari lingkungannya. Gangguan skizofrenia sendiri adalah gangguan yang sifatnya kronis dan dapat mengalami relaps dalam periode yang panjang. Penyebab terjadinya skizofrenia lebih umum ditemukan karena faktor psikologis dan diikuti oleh faktor biologis serta genetik. Pengobatan yang serius dilakukan bagi para penderita skizofrenia juga menjadi salah satu pendukung kesembuhan para penderitanya dan membutuhkan dukungan sosial juga bagi para penderita skizofrenia untuk bangkit dari situasinya.

DAFTAR PUSTAKA

Fatmawati, I.N.A. (2016). Faktor-faktor penyebab skizofrenia (studi kasus di rumah sakit jiwa daerah Surakarta). Skripsi.

Hendarsyah, F. (2016). Diagnosis of the paranoid schizophrenia with positive and negative symptoms. Jurnal Medula Unila, 4(3), 57-62.

Hermiati, D., & Harahap, R. M. (2018). Faktor yang berhubungan dengan kasus skizofrenia. Jurnal Keperawatan Silampari, 1(2), 78-92. https://doi.org/10.31539/jks.v1i2.6

Myers, S.A. (2022). Treatments Beyond Medication For Schizophrenia. Retrieved February 01, 2024.

Zahnia, S., & Sumekar, D. W. (2016). Kajian epidemiologis skizofrenia. MAJORITY, 5(5), 160-166.


Tuesday, January 9, 2024

Makan Berlebihan dan Memaksa Mengeluarkannya? Kenali Bulimia Nervosa!

 

Sumber: https://www.mghclaycenter.org/parenting-concerns/what-is-bulimia-nervosa/

Pernahkah kalian mendengar tentang gangguan makan bulimia nervosa? Bulimia nervosa sendiri merupakan gangguan pola makan yang ditandai dengan usaha untuk memuntahkan kembali secara terus-menerus apa yang telah dimakan sebelumnya. Bulimia nervosa terjadi apabila seseorang memiliki kebiasaan makan berlebihan yang terjadi berulang atau fase binge eating kemudian dirinya memaksa untuk memuntahkan makanan yang telah dimakan sebelumnya atau yang lebih dikenal sebagai pembersihan. Gangguan makan ini menjadi suatu bentuk penyiksaan terhadap diri sendiri karena seseorang dengan bulimia nervosa merasa bersalah dengan makanan yang dimakan berlebihan sebelumnya. Oleh karena itu, seseorang dengan bulimia nervosa langsung melakukan pembersihan untuk mencegah kenaikan berat badan dari makanan tersebut. Pembersihan dapat dilakukan dengan cara membuat diri muntah, berpuasa, penggunaan obat pencahar seperti laksatif, enema, ataupun diuretik sehingga dapat merangsang seorang penderita bulimia nervosa untuk memuntahkan makanan yang telah dimakan sampai melakukan olahraga yang berlebihan.

Faktor Penyebab

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya bulimia nervosa, yaitu sebagai berikut: 

1.  Faktor psikologis, beberapa pengidap bulimia nervosa memiliki tingkat harga diri yang rendah, merasa tidak mampu, memiliki sisi perfeksionis yang berlebihan, serta kecemasan sosial. 

2.    Tekanan sosial dan kultural, tak jarang individu yang mengalami bulimia nervosa memiliki tuntutan tinggi terhadap gambar diri mereka, yang tentu saja dipengaruhi oleh media sosial, iklan, maupun norma sosial yang tidak realistis. 

3.   Faktor genetik, tak dapat dipungkiri faktor genetik juga dapat menjadi salah satu faktor yang tidak dapat dilewatkan. Riwayat kesehatan keluarga yang memiliki gangguan makan atau gangguan mental memiliki risiko yang cenderung lebih tinggi untuk mengalami bulimia.

4.   Lingkungan, seseorang yang memiliki tingkat stres yang tinggi ataupun orang-orang dengan pengalaman hidup yang berat, seperti pernah mengalami pelecehan seksual maupun fisik juga dapat mempengaruhi berkembangnya bulimia. 

5.   Kebiasaan diet ekstrem, saat seseorang sudah terbiasa dengan diet ketat hal tersebut akan mempengaruhi pola makan serta perilaku muntah. 

Tanda-tanda Bulimia Nervosa

Berikut ini adalah tanda-tanda seseorang mengalami bulimia nervosa, antara lain yaitu

1.      Sangat terpaku pada berat badan dan bentuk tubuh.

2.      Selalu memiliki anggapan yang negatif pada bentuk badan sendiri.

3.      Merasa gemuk dan takut gemuk. 

4.      Sering lepas kendali pada saat makan.

5.      Seringkali pergi ke kamar mandi setelah makan. 

6.  Memaksakan diri untuk muntah, terutama dengan memasukkan jari ke kerongkongan. 

Cara pengobatan/penanganan Bulimia Nervosa

Terdapat berbagai macam cara dan penanganan yang dapat dilakukan untuk mengatasi bulimia nervosa. Seseorang dengan bulimia nervosa dapat diberikan psikoterapi, farmakoterapi, hingga konseling nutrisi. Penanganan ini perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien bulimia nervosa sendiri. Terapi psikoterapi yang dapat diberikan kepada pasien dengan bulimia nervosa umumnya dapat dilakukan melalui rawat jalan seperti Enhanced Cognitive Behaviour Therapy (CBT-E), pengobatan berbasis keluarga atau Family Based Treatment (FBT), maupun terapi intrapersonal. Selain itu, pemberian obat-obatan seperti fluoxetine dapat membantu pengobatan bulimia nervosa. Pemberian terapi nutrisional atau terapi gizi yang mengatur jadwal, jumlah, dan jenis makanan dapat diberikan kepada pasien dengan bulimia nervosa bertujuan untuk mencukupi kebutuhan gizi pasien. Penting untuk mengawasi dan memperhatikan asupan kalori yang masuk, keseimbangan elektrolit dan dehidrasi sehingga mencegah terjadinya komplikasi medis lainnya. Dalam upaya pemulihan pasien bulimia nervosa, pemberian suplemen multivitamin dan mineral juga sangat dianjurkan.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan diatas, bulimia nervosa merupakan gangguan makan yang ditandai dengan adanya kebiasaan makan berlebihan secara berulang dan adanya tindakan yang dilakukan secara paksa untuk mengeluarkan makanan yang dimakan. Seseorang yang mengalami bulimia nervosa akan sangat terpaku pada berat badan namun sering lepas kendali saat makan. Mereka memiliki pemikiran negatif terkait bentuk badan sendiri, bahkan merasa gemuk dan takut untuk gemuk. Pemikiran ini menyebabkan seseorang dengan bulimia nervosa setelah makan berlebihan, akan memaksakan diri untuk muntah dan mengeluarkan makanan melalui berbagai cara. Adapun beberapa faktor yang menyebabkan seseorang mengalami bulimia nervosa antara lain faktor psikologis, faktor sosial dan kultural, faktor genetik, faktor lingkungan, maupun kebiasaan diet yang ekstrem. Bulimia nervosa sendiri dapat ditangani dengan cara pemberian terapi maupun obat-obatan yang disesuaikan dengan kondisi pasien.

Daftar Pustaka

Hasna, A. (2021). Diagnosis dan tatalaksana bulimia nervosa. Jurnal Medika Hutama, 2(4), h1218–1222. http://jurnalmedikahutama.com

Krisnani, H., Santoso, M. B., & Putri, D. (2017). Gangguan makan anorexia nervosa dan bulimia nervosa pada remaja. Prosiding Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(3), h390–447.

Shabah, Z. M., & Dhanny, D. R. (2020). Persepsi tubuh dan bulimia nervosa pada remaja putri. Muhammadiyah Journal of Nutrition and Food Science (MJNF), 1(2), h60–69. https://doi.org/10.24853/mjnf.1.2.60-69

Makarim, R.F. (2023). Apa itu Bulimia? Gejala, Penyebab dan Pengobatan. Retrieved December 30, 2023. https://www.halodoc.com/kesehatan/bulimia

Philip Zimbardo - Stanford Prison Experiment

Edisi Mei 2026 PHILIP ZIMBARDO - STANFORD PRISON EXPERIMENT                                                 Sumber:  Foto Penulis: G...