Wednesday, February 7, 2024

Mengenal Gambaran Gangguan Skizofrenia

Sumber: https://depressionals.com/schizophrenia-disorder/

Perubahan yang disebabkan oleh globalisasi dan modernisasi telah mendatangkan perubahan signifikan terhadap pola hidup dan sistem nilai dalam masyarakat. Proses-proses ini telah memperkenalkan perubahan kompleks dalam struktur kehidupan sehari-hari, menimbulkan peningkatan kebutuhan hidup, dan menciptakan lingkungan yang lebih kompetitif. Akibatnya, terjadi peningkatan stressor psikososial yang memerlukan adaptasi mental. Kondisi ini berpotensi mengarah pada pengembangan berbagai sindrom psikologis yang ditandai oleh distress dan menimbulkan disability yang tercermin dalam gangguan fungsi-fungsi penting, meningkatkan risiko penderitaan, kematian, dan penurunan otonomi. Salah satu gangguan mental yang sering ditemukan adalah skizofrenia.

Skizofrenia merupakan jenis psikosis yang menimbulkan gangguan dalam proses berpikir dan menyebabkan ketidakharmonisan antara kognitif, afek atau emosi, keinginan, dan gerakan (Hendarsyah, 2016). Kondisi ini sering disertai dengan distorsi kenyataan, terutama melalui delusi dan halusinasi. Penderita skizofrenia mengalami kesulitan dalam menghubungkan pikiran secara koheren, memperlihatkan emosi yang tidak sesuai, dan perilaku aneh, termasuk menarik diri dari interaksi sosial, ketidakpastian dalam bertindak, dan tindakan yang tidak biasa. Skizofrenia merupakan kondisi kejiwaan yang bersifat kronis dan kerap kali mengalami episode relaps dalam periode yang berkepanjangan (Hermiati & Harahap, 2018). Kesulitan dalam mengikuti program perawatan yang ditetapkan seringkali menjadi faktor utama yang memicu kekambuhan skizofrenia.

Gangguan skizofrenia adalah kondisi psikologis yang memiliki ciri khas berupa gejala positif seperti delusi dan halusinasi, gejala negatif yang meliputi apatis, perilaku menarik diri, penurunan daya pikir, dan penurunan afeksi, serta gangguan kognitif yang melibatkan masalah pada ingatan, perhatian, kemampuan pemecahan masalah, dan interaksi sosial. Menurut WHO (dalam Zahnia & Sumekar, 2018), gangguan psikologis skizofrenia ditandai oleh berbagai gejala yang mencakup gangguan pikiran, delusi, halusinasi, afek abnormal, dan gangguan kepribadian motor. Salah satu gejala skizofrenia yang umum terjadi adalah gangguan pikiran yang ditemukan dalam bentuk abnormalitas dalam bahasa, digresi berkelanjutan saat berbicara, serta keterbatasan dalam isi bicara dan ekspresi. Selain itu, individu yang mengidap skizofrenia sering mengalami delusi, yaitu keyakinan yang salah berdasarkan pengetahuan yang tidak benar dan tidak sesuai dengan realitas sosial dan budaya mereka. Halusinasi juga merupakan gejala yang sering ditemukan, di mana individu mengalami persepsi sensoris tanpa adanya stimulus eksternal.

Penyebab yang paling banyak dialami oleh penderita skizofrenia adalah karena masalah psikologis seperti kurangnya pemahaman pasien terhadap masalah yang sedang dialami, kurangnya kemampuan untuk memecahkan masalah dan sulit beradaptasi dalam hubungan interpersonal. Menurut Maramis (dalam Fatmawati, 2016) dalam proses perkembangan psikologis yang salah, dapat terjadi ketidakmatangan atau fiksasi bahwa individu gagal berkembang ke fase berikutnya dan memiliki kerentanan mental. Individu yang rentan tersebut apabila mengalami stres psikososial seperti ekonomi, gagal mencapai yang diinginkan, dan konflik yang berlarut-larut maka akan berkembang menjadi gangguan skizofrenia (Fatmawati, 2016).

Selain itu, menurut Luana (dalam Fatmawati, 2016), menjelaskan penyebab dari gangguan skizofrenia meliputi beberapa faktor-faktor, yaitu:

1.      Faktor Biologis

·      Komplikasi kelahiran

     Kelahiran pada bayi laki-laki yang mengalami komplikasi saat dilahirkan sering mengalami skizofrenia dan hipoksia perinatal akan meningkatkan kerentanan seorang individu terhadap skizofrenia.

·     Infeksi

   Perubahan anatomi pada susunan syaraf pusat yang diakibatkan oleh infeksi virus pernah dilaporkan pada orang dengan skizofrenia yang dimana disebutkan bahwa terpaparnya infeksi virus pada trisemester kedua kehamilan akan meningkatkan seseorang mengalami skizofrenia.

·      Hipotesis dopamine

  Dopamine adalah neurotransmitter pertama yang memiliki kontribusi terhadap gejala skizofrenia dan hampir semua obat antipsikotik baik yang tipikal maupun antipikal terdiri dari dopamine D2. Dengan adanya transmisi sinyal di sistem dopaminergik maka gejala psikotik diredakan.

·      Hipotesis serotonin

   Gaddum, Wooley, dan Show tahun 1954 mengobservasi efek lysergic acid diethlamide atau LSD yaitu suatu zat yang bersifat campuran agonis/antagonis reseptor 5-HT yang ternyata zat tersebut menyebabkan keadaan psikosis berat pada orang yang normal.

·      Struktur otak

     Pada penderita skizofrenia, terlihat adanya perbedaan otak pada orang normal seperti ventrikel terlihat melebar, penurunan massa abu-abu dan di beberapa area terjadi peningkatan maupun penurunan aktivitas metabolik. 

2.      Faktor Genetik

     Skizofrenia adalah gangguan yang dapat diturunkan oleh anggota keluarga maupun keluarga lainnya seperti paman, bibi, kakek atau nenek. Besar kemungkinan peluang yang terjadi adalah 1% populasi umum tetapi 10% pada individu yang memiliki hubungan pertama seperti orang tua, kakak laki-laki maupun perempuan dengan skizofrenia. Peluang lainnya sebesar 40% sampai 65% berpeluang menderita skizofrenia terhadap anak yang kembar identik.

Bagi para pasien yang didiagnosa menderita gangguan skizofrenia sebagian besar tidak memiliki pemikiran yang luas sehingga ketika dihadapkan dengan masalah, penderita skizofrenia cenderung hanya menjadikannya sebagai stres dan kemudian sifat pasien yang pendiam juga dapat menambah beban stres karena beban yang dimiliki hanya disimpan sendiri dan akan semakin menekan para penderitanya (Fatmawati, 2016).

Pengobatan bagi para penderita skizofrenia dapat dilakukan dengan beberapa cara penyembuhan, yaitu: 

1.      Cognitive behavioral therapy (CBT)

       Pada psikoterapi ini, keterampilan yang dikembangkan adalah fokus pada manajemen gejala bukan hanya penyembuhan dan mencoba untuk menargetkan pemikiran, emosi, dan perilaku. Perubahan perilaku bisa sangat berguna untuk mengubah sikap dan respon penderita dalam menghadapi gejala yang dialami.

2.      Assertive community treatment (ACT)

   ACT adalah model yang berbasis komunitas yang dapat memungkinkan penderita skizofrenia mendapatkan bantuan secara penuh yang diperlukan. Pada pusat ACT, penderita skizofrenia biasanya akan menemui psikiater, praktisi perawat, pekerja sosial, dan terapis hampir setiap minggu dengan tujuan untuk membantu pasien berintegrasi dalam masyarakat dengan bantuan ekstra dalam mencari pekerjaan, mengelola pengobatan agar lebih efisien, dan memiliki jaringan dukungan yang stabil di luar perawatan di rumah sakit.

3.      Illness management and recovery

    Terapi psikoedukasi bagi para penderita skizofrenia yang ingin mempelajari lebih lanjut terkait dengan sakitnya. Hal ini mampu mengubah perspektif penderita tentang sakitnya dan membantu untuk menerima dan mengintegrasikannya ke dalam kehidupannya.

4.      Family psychoeducation

   Dukungan sosial merupakan hal yang penting dalam proses pemulihan penderita skizofrenia, termasuk peran keluarga dalam mendukung kesembuhan penderita. Pada terapi ini, anggota keluarga diminta untuk berkontribusi dalam mendukung dan memperbaiki kehidupan secara umum.

5.      Internal family systems therapy and mindfulness-based strategies

     Pada terapi ini, para penderita skizofrenia diminta untuk menjadi kontributor bagi kehidupan mereka sendiri dan terapi-terapi ini tidak secara spesifik dikategorikan ke dalam kategori skizofrenia, tetapi dapat membantu para penderita untuk mengelola gejala dan menyadari kondisinya.

Dengan demikian, skizofrenia dapat dilihat melalui timbulnya gejala seperti delusi, halusinasi, sikap apatis, menarik diri, penurunan kemampuan seperti daya pikir dan pemecahan masalah, serta masalah pada ingatan. Skizofrenia sendiri dapat diartikan sebagai gangguan dimana penderitanya sulit untuk menghubungkan pemikirannya secara koheren, memperlihatkan emosi yang tidak sesuai dan menarik diri dari lingkungannya. Gangguan skizofrenia sendiri adalah gangguan yang sifatnya kronis dan dapat mengalami relaps dalam periode yang panjang. Penyebab terjadinya skizofrenia lebih umum ditemukan karena faktor psikologis dan diikuti oleh faktor biologis serta genetik. Pengobatan yang serius dilakukan bagi para penderita skizofrenia juga menjadi salah satu pendukung kesembuhan para penderitanya dan membutuhkan dukungan sosial juga bagi para penderita skizofrenia untuk bangkit dari situasinya.

DAFTAR PUSTAKA

Fatmawati, I.N.A. (2016). Faktor-faktor penyebab skizofrenia (studi kasus di rumah sakit jiwa daerah Surakarta). Skripsi.

Hendarsyah, F. (2016). Diagnosis of the paranoid schizophrenia with positive and negative symptoms. Jurnal Medula Unila, 4(3), 57-62.

Hermiati, D., & Harahap, R. M. (2018). Faktor yang berhubungan dengan kasus skizofrenia. Jurnal Keperawatan Silampari, 1(2), 78-92. https://doi.org/10.31539/jks.v1i2.6

Myers, S.A. (2022). Treatments Beyond Medication For Schizophrenia. Retrieved February 01, 2024.

Zahnia, S., & Sumekar, D. W. (2016). Kajian epidemiologis skizofrenia. MAJORITY, 5(5), 160-166.


Tuesday, January 9, 2024

Makan Berlebihan dan Memaksa Mengeluarkannya? Kenali Bulimia Nervosa!

 

Sumber: https://www.mghclaycenter.org/parenting-concerns/what-is-bulimia-nervosa/

Pernahkah kalian mendengar tentang gangguan makan bulimia nervosa? Bulimia nervosa sendiri merupakan gangguan pola makan yang ditandai dengan usaha untuk memuntahkan kembali secara terus-menerus apa yang telah dimakan sebelumnya. Bulimia nervosa terjadi apabila seseorang memiliki kebiasaan makan berlebihan yang terjadi berulang atau fase binge eating kemudian dirinya memaksa untuk memuntahkan makanan yang telah dimakan sebelumnya atau yang lebih dikenal sebagai pembersihan. Gangguan makan ini menjadi suatu bentuk penyiksaan terhadap diri sendiri karena seseorang dengan bulimia nervosa merasa bersalah dengan makanan yang dimakan berlebihan sebelumnya. Oleh karena itu, seseorang dengan bulimia nervosa langsung melakukan pembersihan untuk mencegah kenaikan berat badan dari makanan tersebut. Pembersihan dapat dilakukan dengan cara membuat diri muntah, berpuasa, penggunaan obat pencahar seperti laksatif, enema, ataupun diuretik sehingga dapat merangsang seorang penderita bulimia nervosa untuk memuntahkan makanan yang telah dimakan sampai melakukan olahraga yang berlebihan.

Faktor Penyebab

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya bulimia nervosa, yaitu sebagai berikut: 

1.  Faktor psikologis, beberapa pengidap bulimia nervosa memiliki tingkat harga diri yang rendah, merasa tidak mampu, memiliki sisi perfeksionis yang berlebihan, serta kecemasan sosial. 

2.    Tekanan sosial dan kultural, tak jarang individu yang mengalami bulimia nervosa memiliki tuntutan tinggi terhadap gambar diri mereka, yang tentu saja dipengaruhi oleh media sosial, iklan, maupun norma sosial yang tidak realistis. 

3.   Faktor genetik, tak dapat dipungkiri faktor genetik juga dapat menjadi salah satu faktor yang tidak dapat dilewatkan. Riwayat kesehatan keluarga yang memiliki gangguan makan atau gangguan mental memiliki risiko yang cenderung lebih tinggi untuk mengalami bulimia.

4.   Lingkungan, seseorang yang memiliki tingkat stres yang tinggi ataupun orang-orang dengan pengalaman hidup yang berat, seperti pernah mengalami pelecehan seksual maupun fisik juga dapat mempengaruhi berkembangnya bulimia. 

5.   Kebiasaan diet ekstrem, saat seseorang sudah terbiasa dengan diet ketat hal tersebut akan mempengaruhi pola makan serta perilaku muntah. 

Tanda-tanda Bulimia Nervosa

Berikut ini adalah tanda-tanda seseorang mengalami bulimia nervosa, antara lain yaitu

1.      Sangat terpaku pada berat badan dan bentuk tubuh.

2.      Selalu memiliki anggapan yang negatif pada bentuk badan sendiri.

3.      Merasa gemuk dan takut gemuk. 

4.      Sering lepas kendali pada saat makan.

5.      Seringkali pergi ke kamar mandi setelah makan. 

6.  Memaksakan diri untuk muntah, terutama dengan memasukkan jari ke kerongkongan. 

Cara pengobatan/penanganan Bulimia Nervosa

Terdapat berbagai macam cara dan penanganan yang dapat dilakukan untuk mengatasi bulimia nervosa. Seseorang dengan bulimia nervosa dapat diberikan psikoterapi, farmakoterapi, hingga konseling nutrisi. Penanganan ini perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien bulimia nervosa sendiri. Terapi psikoterapi yang dapat diberikan kepada pasien dengan bulimia nervosa umumnya dapat dilakukan melalui rawat jalan seperti Enhanced Cognitive Behaviour Therapy (CBT-E), pengobatan berbasis keluarga atau Family Based Treatment (FBT), maupun terapi intrapersonal. Selain itu, pemberian obat-obatan seperti fluoxetine dapat membantu pengobatan bulimia nervosa. Pemberian terapi nutrisional atau terapi gizi yang mengatur jadwal, jumlah, dan jenis makanan dapat diberikan kepada pasien dengan bulimia nervosa bertujuan untuk mencukupi kebutuhan gizi pasien. Penting untuk mengawasi dan memperhatikan asupan kalori yang masuk, keseimbangan elektrolit dan dehidrasi sehingga mencegah terjadinya komplikasi medis lainnya. Dalam upaya pemulihan pasien bulimia nervosa, pemberian suplemen multivitamin dan mineral juga sangat dianjurkan.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan diatas, bulimia nervosa merupakan gangguan makan yang ditandai dengan adanya kebiasaan makan berlebihan secara berulang dan adanya tindakan yang dilakukan secara paksa untuk mengeluarkan makanan yang dimakan. Seseorang yang mengalami bulimia nervosa akan sangat terpaku pada berat badan namun sering lepas kendali saat makan. Mereka memiliki pemikiran negatif terkait bentuk badan sendiri, bahkan merasa gemuk dan takut untuk gemuk. Pemikiran ini menyebabkan seseorang dengan bulimia nervosa setelah makan berlebihan, akan memaksakan diri untuk muntah dan mengeluarkan makanan melalui berbagai cara. Adapun beberapa faktor yang menyebabkan seseorang mengalami bulimia nervosa antara lain faktor psikologis, faktor sosial dan kultural, faktor genetik, faktor lingkungan, maupun kebiasaan diet yang ekstrem. Bulimia nervosa sendiri dapat ditangani dengan cara pemberian terapi maupun obat-obatan yang disesuaikan dengan kondisi pasien.

Daftar Pustaka

Hasna, A. (2021). Diagnosis dan tatalaksana bulimia nervosa. Jurnal Medika Hutama, 2(4), h1218–1222. http://jurnalmedikahutama.com

Krisnani, H., Santoso, M. B., & Putri, D. (2017). Gangguan makan anorexia nervosa dan bulimia nervosa pada remaja. Prosiding Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(3), h390–447.

Shabah, Z. M., & Dhanny, D. R. (2020). Persepsi tubuh dan bulimia nervosa pada remaja putri. Muhammadiyah Journal of Nutrition and Food Science (MJNF), 1(2), h60–69. https://doi.org/10.24853/mjnf.1.2.60-69

Makarim, R.F. (2023). Apa itu Bulimia? Gejala, Penyebab dan Pengobatan. Retrieved December 30, 2023. https://www.halodoc.com/kesehatan/bulimia

Thursday, December 7, 2023

Gangguan Makan Pica

Sumber: https://res.cloudinary.com/dk0z4ums3/image/upload/v1700014416/attached_image/gangguan-makan-pica-kebiasaan-mengonsumsi-benda-benda-bukan-makanan-2.jpg

Gangguan makan adalah rangkaian dari gangguan mental yang ditandai dengan adanya pola makan yang tidak wajar. Hal tersebut dapat berdampak bagi kesehatan fisik, mental, dan emosional. Selain itu, gangguan makan juga dapat memengaruhi kemampuan tubuh seseorang untuk mendapatkan gizi. Apabila dibiarkan begitu saja, maka gangguan makan ini bisa memberikan dampak negatif bagi organ-organ tubuh lainnya bahkan memberikan risiko komplikasi yang serius sampai kematian. Manusia membutuhkan gizi yang berasal dari makanan sehat. Makanan sehat terdiri dari kumpulan macam makanan yang seimbang sehingga dapat membuat tubuh kita terpenuhi nutrisinya. Tetapi, pernahkah kalian melihat seseorang yang suka mengonsumsi hal yang tidak bisa disebut sebagai makanan? Jika pernah, hal tersebut dapat dikatakan sebagai pica eating disorder.

Pica berasal dari bahasa latin yaitu murai yang dimana adalah seekor burung yang hampir memakan apa saja dan dengan itu pica disebut sebagai hasrat seseorang untuk memakan barang yang bukan makanan. Pica eating disorder adalah kelainan makan dimana seorang individu memakan makanan yang biasanya tidak dianggap sebagai makanan dan makanan yang memiliki gizi. Selain itu, pica juga dapat diartikan sebagai kelainan psikobehavioral yang melibatkan keinginan yang sifatnya abnormal untuk memakan sesuatu yang tidak layak untuk dikonsumsi. Pica memiliki banyak macam yang berbeda yaitu  trichophagia (memakan rambut), geophagia (memakan tanah)  atau  bahkan coprophagia (memakan  kotoran). Hal tersebut tergantung dengan apa yang dikonsumsi.

Penyebab gangguan pica masih belum diketahui lebih lanjut, tetapi ada beberapa hal yang menjadi faktor pertimbangan gangguan ini yaitu faktor budaya atau lingkungan dan keluarga, stres, status sosial ekonomi rendah, dan kelainan biokimia. Tetapi kebanyakan gangguan pica ini disertai oleh gangguan-gangguan lain seperti orang-orang yang mengalami obsesif kompulsif, mereka menggunakan pica sebagai coping mechanism serta orang-orang yang mempunyai gangguan skizofrenia juga mengalami delusi barang-barang itu sebagai makanan, maka dari itu mereka memakannya. 

Penderita pica juga dapat mengembangkan gejala fisik seperti sakit perut, gigi patah atau rusak, keracunan timbal, hingga tinja berdarah, selain itu beberapa penderita juga terdiagnosa mengalami kadar zat besi atau hemoglobin yang rendah.

Bagi penderita pica, dampak yang didapatkan tergantung dengan apa yang dikonsumsi oleh penderita, berikut diantaranya:

1.  Mengonsumsi tanah atau pasir akan membuat nyeri lambung dan pendarahan.

2.      Mengunyah es batu akan menimbulkan gigi yang abnormal.

3.      Memakan tanah liat dapat menimbulkan sembelit.

4.      Menelan benda-benda logam dapat menyebabkan perforasi usus.

5.      Memakan kotoran akan menimbulkan penyakit infeksi.

6. Memakan timah dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal dan mengakibatkan keterbelakangan mental.

Gejala utama dari gangguan ini adalah keinginan untuk terus-menerus memakan benda-benda yang bukan makanan. Benda-benda yang suka dimakan biasanya adalah tanah liat, kertas, kulit telur, kapur tulis, bedak bayi, abu rokok, lem, sabun mandi, koin, dan sebagainya. Adapun beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan gangguan makan ini seperti:

1.      Tekanan

2.      Faktor budaya

3.      Epilepsi

4.      Status sosial ekonomi rendah

5.      Penelantaran anak

6.      Psikopatologi keluarga

7.      Gangguan kesehatan mental 

8.      Kekurangan nutrisi

           Jadi dapat disimpulkan bahwa pica eating disorder adalah gangguan makan yang dimana seorang individu memakan makanan yang biasanya tidak dianggap sebagai makanan dan makanan yang memiliki gizi. Pica juga mempunyai banyak jenis yaitu trichophagia (memakan rambut), geophagia (memakan tanah) atau bahkan coprophagia (memakan  kotoran). Adapun gejala fisik dari gangguan ini seperti patah gigi, sakit perut, tinja berdarah hingga keracunan timbal, tetapi gejala utama dari gangguan makan ini adalah keinginan untuk terus-menerus memakan benda-benda yang bukan makanan. Penyebab dari gangguan ini belum diketahui pastinya tetapi ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan gangguan makan ini seperti tekanan, kekurangan nutrisi, gangguan kesehatan mental, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA 

Indriyani. (2021). Gangguan Makan Pica: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan. Retrieved November 30, 2023. https://www.idntimes.com/health/medical/indri-yani-4/gangguan-makan-pica-c1c2

Katyusha, W. (2023). Eating Disorder (Gangguan Makan). Retrieved November 30, 2023. https://hellosehat.com/mental/gangguan-makan/eating-disorder/

Mukarromah, T.T. (2021). Behavior Modification in Children with Eating Behavior Disorder (Pica Disorder): A Literature Study. VISI : Jurnal Ilmiah Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal, 16(2), 95-108.

Rada. (2022). Makan Adalah. Retrieved November 30, 2023. https://dosenpintar.com/makan-adalah/


Wednesday, November 8, 2023

Saat Obsesi Terhadap Penampilan Menjadi Gangguan: Memahami Body Dysmorphic Disorder

 

Sumber: https://149349029.v2.pressablecdn.com/wp-content/uploads/2022/10/bdd-980x551.jpg

Setiap individu mengalami obsesi pribadi mereka sendiri, dan di antara berbagai jenis obsesi tersebut, salah satunya adalah kecenderungan terobsesi dengan penampilan pribadi. Obsesi ini berkaitan dengan keinginan untuk terlihat sebaik mungkin, terlepas dari segala ketidaksempurnaan yang mungkin terlihat dalam penampilan individu atau fokus pada aspek fisik dari diri mereka. Berdasarkan data statistik terkini, dapat disimpulkan bahwa sebanyak 93% wanita dan 87% pria di Amerika Serikat memiliki kepedulian terhadap penampilan diri dan berupaya untuk meningkatkannya. Hasil data ini mencerminkan tingginya tingkat ketidakpuasan terhadap body image. Ketidakpuasan terhadap penampilan secara berlebihan dapat berkembang menjadi gangguan yang dikenal sebagai body dysmorphic disorder.

Pengertian

Body dysmorphic disorder merupakan suatu kondisi yang dicirikan dengan preokupasi berlebihan terhadap ketidaksempurnaan atau kecacatan dalam penampilan fisik seseorang, yang pada akhirnya menimbulkan distress dan mengganggu fungsi sosial (Adlya & Zola, 2019). Body dysmorphic disorder didefinisikan sebagai kecenderungan pikiran negatif individu mengenai perasaan kurangnya kepuasan terhadap penampilan fisik yang berdampak pada gangguan psikologis yang menghambat kemampuan mereka untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan optimal. Ketika terdapat kekurangan kecil dalam penampilan fisik, individu yang mengalami body dysmorphic disorder cenderung mengalami kecemasan yang sangat berlebihan. Gejala ini seringkali berhubungan dengan kebiasaan-kebiasaan yang memakan banyak waktu, seperti sering menatap diri sendiri di cermin dan membandingkan penampilan mereka dengan orang lain.

Pasien yang mengalami body dysmorphic disorder cenderung memiliki risiko menjadi pasien yang memerlukan perawatan di rumah sakit jiwa, dengan angka mencapai 48%. Sebanyak 31% dari mereka mengalami pengangguran, sementara 22-24% menghadapi resiko bunuh diri. Body dysmorphic disorder termasuk dalam kategori gangguan mental yang cukup langka, dengan hanya sekitar 1 hingga 1,5% dari populasi yang terkena dampaknya. Prevalensi tertinggi terjadi pada pasien psikiatri dan pasien bedah rekonstruksi serta estetika (Nurlita & Lisiswanti, 2016).

Body dysmorphic disorder cenderung muncul ketika seseorang memasuki masa remaja, khususnya sekitar usia 16-17 tahun, dengan gejala pertama yang biasanya muncul pada usia sekitar 12 atau 13 tahun. Dalam perkembangannya, perhatian berlebihan terhadap penampilan ini akan menjadi lebih menonjol hingga memenuhi kriteria diagnostik gangguan tersebut.

Kriteria

Ada beberapa gejala yang dapat diperhatikan pada body dysmorphic disorder, yang mencakup perilaku berulang pasien dalam mengkonfirmasi ketidakpuasan diri mereka, seperti melakukan pemeriksaan diri di cermin, menghindari cermin, menyisir rambut, mencabuti rambut, atau menerapkan tata rias, serta melakukan perbandingan berulang antara diri mereka dan tubuh individu lainnya. Umumnya, individu yang mengalami body dysmorphic disorder seringkali menghabiskan waktu yang cukup lama setiap harinya, yakni sekitar 1 hingga 8 jam, untuk merenungkan dan memperhatikan setiap aspek ketidaksempurnaan diri mereka. Selain itu, mereka juga cenderung sering mengunjungi klinik kecantikan guna mencoba memperbaiki segala kekurangan fisik yang mereka rasakan. Keadaan ini seringkali disertai oleh perasaan cemas, ketidaknyamanan, ketidakamanan, kurang percaya diri, serta kurangnya rasa menghargai diri sendiri. Hal-hal ini kemudian dapat menghambat perkembangan dan berdampak negatif pada kehidupan sehari-hari mereka. 

Menurut Watkins, Thompson (dalam Nourmalita, 2016) ada beberapa perilaku yang dapat mengidentifikasi body dysmorphic disorder antara lain:

1.      Secara berkala mengamati bentuk penampilan lebih dari satu jam per hari atau menghindari sesuatu yang dapat memperlihatkan penampilan.

2. Mengukur atau menyentuh kekurangan yang dirasakannya secara berulang-ulang.

3.      Meminta pendapat yang dapat memperkuat penampilannya.

4.      Menyamarkan kekurangan fisik yang dirasakannya.

5.      Menghindari situasi dan hubungan sosial.

6. Mempunyai sikap obsesi terhadap selebritis atau model yang mempengaruhi penampilan fisiknya. 

7.      Berpikir untuk melakukan operasi plastik.

8.      Selalu tidak puas dengan diagnosis dermatologist atau ahli bedah plastik.

9.  Mengubah gaya dan model rambut untuk menutupi kekurangan yang dirasakannya.

10. Mengubah warna kulit yang diharapkan memberi kepuasan pada penampilan.

11. Berdiet secara ketat dengan kepuasan tanpa akhir. 

Penyebab

Body dysmorphic disorder dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor genetik dan lingkungan. Meskipun belum ada kepastian ilmiah mengenai peran faktor genetik, riset menyatakan bahwa body dysmorphic disorder lebih sering terjadi pada individu yang memiliki riwayat keluarga dengan masalah serupa. Sementara itu, faktor lingkungan juga memiliki peran penting. Penilaian terhadap penampilan diri dalam lingkungan sosial dapat berdampak pada pola pikir seseorang, serta pengalaman traumatis atau peristiwa buruk di masa lalu individu juga dapat memengaruhi perkembangan gangguan ini.

Cara penanganan

Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengatasi body dysmorphic disorder, seperti terapi non-farmakologis, yang melibatkan intervensi psikologis, seperti menggunakan pendekatan cognitive behavioral therapy. Dalam beberapa kasus, pasien juga memerlukan dukungan sosial untuk membantu mereka merasa lebih percaya diri dan mengatasi kekhawatiran mereka, seperti interaksi dengan individu yang mendukung pasien, membantu mereka meyakinkan diri bahwa persepsinya tentang kekurangan adalah tidak realistis, dan membantu mereka melihat bahwa perbedaan fisik adalah hal yang umum dalam keragaman manusia.

Gejala khusus juga mungkin memerlukan teknik tertentu, seperti pelatihan untuk mengubah kebiasaan perilaku kompulsif yang mungkin muncul. Dengan pendekatan yang tepat dan dukungan yang tepat pula, individu yang mengalami body dysmorphic disorder memiliki kesempatan untuk mengelola body dysmorphic disorder dengan lebih baik.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa body dysmorphic disorder adalah suatu gangguan yang ditandai oleh preokupasi berlebihan terhadap ketidaksempurnaan fisik individu, yang dapat mengganggu fungsi sosial dan psikologis mereka. Gangguan ini umumnya muncul pada usia remaja dan berkaitan dengan perilaku kompulsif, seperti memeriksa diri di cermin, menghindari situasi sosial, dan mencari perbaikan fisik yang tidak realistis. Body dysmorphic disorder memiliki dampak serius, termasuk resiko pengangguran dan bahkan bunuh diri. Faktor genetik dan lingkungan dapat memengaruhi perkembangan gangguan ini. Pengobatan melibatkan terapi psikologis, seperti cognitive behavioral therapy dan dukungan sosial untuk membantu individu mengatasi ketidakpuasan terhadap penampilan mereka.


DAFTAR PUSTAKA


Adlya, S. I., & Zola, N. (2019). Kecenderungan Body Dysmorphic Disorder pada Remaja. Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy. 4(2), h59-62.


Nurlita, D., Lisiswanti, R. (2016). Body Dysmorphic Disorder. Jurnal Majority. 5(5), h80-85.

Philip Zimbardo - Stanford Prison Experiment

Edisi Mei 2026 PHILIP ZIMBARDO - STANFORD PRISON EXPERIMENT                                                 Sumber:  Foto Penulis: G...