| Sumber: https://depressionals.com/schizophrenia-disorder/ Perubahan yang disebabkan oleh globalisasi dan
modernisasi telah mendatangkan perubahan signifikan terhadap pola hidup dan
sistem nilai dalam masyarakat. Proses-proses ini telah memperkenalkan perubahan
kompleks dalam struktur kehidupan sehari-hari, menimbulkan peningkatan
kebutuhan hidup, dan menciptakan lingkungan yang lebih kompetitif. Akibatnya,
terjadi peningkatan stressor psikososial yang memerlukan adaptasi mental.
Kondisi ini berpotensi mengarah pada pengembangan berbagai sindrom psikologis
yang ditandai oleh distress dan menimbulkan disability yang
tercermin dalam gangguan fungsi-fungsi penting, meningkatkan risiko
penderitaan, kematian, dan penurunan otonomi. Salah satu gangguan mental yang
sering ditemukan adalah skizofrenia. Skizofrenia merupakan jenis psikosis yang
menimbulkan gangguan dalam proses berpikir dan menyebabkan ketidakharmonisan
antara kognitif, afek atau emosi, keinginan, dan gerakan (Hendarsyah, 2016).
Kondisi ini sering disertai dengan distorsi kenyataan, terutama melalui delusi dan
halusinasi. Penderita skizofrenia mengalami kesulitan dalam menghubungkan
pikiran secara koheren, memperlihatkan emosi yang tidak sesuai, dan perilaku
aneh, termasuk menarik diri dari interaksi sosial, ketidakpastian dalam
bertindak, dan tindakan yang tidak biasa. Skizofrenia merupakan kondisi
kejiwaan yang bersifat kronis dan kerap kali mengalami episode relaps dalam
periode yang berkepanjangan (Hermiati & Harahap, 2018). Kesulitan dalam
mengikuti program perawatan yang ditetapkan seringkali menjadi faktor utama
yang memicu kekambuhan skizofrenia. Gangguan skizofrenia adalah kondisi psikologis
yang memiliki ciri khas berupa gejala positif seperti delusi dan halusinasi,
gejala negatif yang meliputi apatis, perilaku menarik diri, penurunan daya
pikir, dan penurunan afeksi, serta gangguan kognitif yang melibatkan masalah
pada ingatan, perhatian, kemampuan pemecahan masalah, dan interaksi sosial.
Menurut WHO (dalam Zahnia & Sumekar, 2018), gangguan psikologis skizofrenia
ditandai oleh berbagai gejala yang mencakup gangguan pikiran, delusi,
halusinasi, afek abnormal, dan gangguan kepribadian motor. Salah satu gejala
skizofrenia yang umum terjadi adalah gangguan pikiran yang ditemukan dalam
bentuk abnormalitas dalam bahasa, digresi berkelanjutan saat berbicara, serta
keterbatasan dalam isi bicara dan ekspresi. Selain itu, individu yang mengidap
skizofrenia sering mengalami delusi, yaitu keyakinan yang salah berdasarkan
pengetahuan yang tidak benar dan tidak sesuai dengan realitas sosial dan budaya
mereka. Halusinasi juga merupakan gejala yang sering ditemukan, di mana
individu mengalami persepsi sensoris tanpa adanya stimulus eksternal. Penyebab yang paling banyak dialami oleh
penderita skizofrenia adalah karena masalah psikologis seperti kurangnya
pemahaman pasien terhadap masalah yang sedang dialami, kurangnya kemampuan
untuk memecahkan masalah dan sulit beradaptasi dalam hubungan interpersonal.
Menurut Maramis (dalam Fatmawati, 2016) dalam proses perkembangan psikologis
yang salah, dapat terjadi ketidakmatangan atau fiksasi bahwa individu gagal
berkembang ke fase berikutnya dan memiliki kerentanan mental. Individu yang
rentan tersebut apabila mengalami stres psikososial seperti ekonomi, gagal
mencapai yang diinginkan, dan konflik yang berlarut-larut maka akan berkembang
menjadi gangguan skizofrenia (Fatmawati, 2016). Selain itu, menurut Luana (dalam Fatmawati,
2016), menjelaskan penyebab dari gangguan skizofrenia meliputi beberapa
faktor-faktor, yaitu: 1. Faktor Biologis ·
Komplikasi kelahiran
Kelahiran pada bayi laki-laki yang mengalami komplikasi saat dilahirkan sering mengalami skizofrenia dan hipoksia perinatal akan meningkatkan kerentanan seorang individu terhadap skizofrenia. · Infeksi Perubahan anatomi pada susunan syaraf pusat yang
diakibatkan oleh infeksi virus pernah dilaporkan pada orang dengan skizofrenia
yang dimana disebutkan bahwa terpaparnya infeksi virus pada trisemester kedua
kehamilan akan meningkatkan seseorang mengalami skizofrenia. ·
Hipotesis dopamine Dopamine adalah neurotransmitter pertama yang memiliki
kontribusi terhadap gejala skizofrenia dan hampir semua obat antipsikotik baik
yang tipikal maupun antipikal terdiri dari dopamine D2. Dengan adanya transmisi
sinyal di sistem dopaminergik maka gejala psikotik diredakan. ·
Hipotesis serotonin Gaddum, Wooley, dan Show tahun 1954 mengobservasi efek lysergic
acid diethlamide atau LSD yaitu suatu zat yang bersifat campuran
agonis/antagonis reseptor 5-HT yang ternyata zat tersebut menyebabkan keadaan
psikosis berat pada orang yang normal. ·
Struktur otak Pada penderita skizofrenia, terlihat adanya perbedaan otak
pada orang normal seperti ventrikel terlihat melebar, penurunan massa abu-abu
dan di beberapa area terjadi peningkatan maupun penurunan aktivitas metabolik. 2.
Faktor Genetik Skizofrenia adalah
gangguan yang dapat diturunkan oleh anggota keluarga maupun keluarga lainnya
seperti paman, bibi, kakek atau nenek. Besar kemungkinan peluang yang terjadi
adalah 1% populasi umum tetapi 10% pada individu yang memiliki hubungan pertama
seperti orang tua, kakak laki-laki maupun perempuan dengan skizofrenia. Peluang
lainnya sebesar 40% sampai 65% berpeluang menderita skizofrenia terhadap anak
yang kembar identik. Bagi para pasien yang didiagnosa menderita
gangguan skizofrenia sebagian besar tidak memiliki pemikiran yang luas sehingga
ketika dihadapkan dengan masalah, penderita skizofrenia cenderung hanya
menjadikannya sebagai stres dan kemudian sifat pasien yang pendiam juga dapat
menambah beban stres karena beban yang dimiliki hanya disimpan sendiri dan akan
semakin menekan para penderitanya (Fatmawati, 2016). Pengobatan bagi para penderita skizofrenia dapat
dilakukan dengan beberapa cara penyembuhan, yaitu: 1.
Cognitive behavioral therapy (CBT) Pada
psikoterapi ini, keterampilan yang dikembangkan adalah fokus pada manajemen
gejala bukan hanya penyembuhan dan mencoba untuk menargetkan pemikiran, emosi,
dan perilaku. Perubahan perilaku bisa sangat berguna untuk mengubah sikap dan
respon penderita dalam menghadapi gejala yang dialami. 2.
Assertive community
treatment
(ACT) ACT adalah model yang berbasis komunitas yang dapat memungkinkan
penderita skizofrenia mendapatkan bantuan secara penuh yang diperlukan. Pada
pusat ACT, penderita skizofrenia biasanya akan menemui psikiater, praktisi
perawat, pekerja sosial, dan terapis hampir setiap minggu dengan tujuan untuk
membantu pasien berintegrasi dalam masyarakat dengan bantuan ekstra dalam
mencari pekerjaan, mengelola pengobatan agar lebih efisien, dan memiliki
jaringan dukungan yang stabil di luar perawatan di rumah sakit. 3.
Illness management and
recovery Terapi psikoedukasi bagi
para penderita skizofrenia yang ingin mempelajari lebih lanjut terkait dengan
sakitnya. Hal ini mampu mengubah perspektif penderita tentang sakitnya dan
membantu untuk menerima dan mengintegrasikannya ke dalam kehidupannya. 4.
Family psychoeducation Dukungan sosial
merupakan hal yang penting dalam proses pemulihan penderita skizofrenia,
termasuk peran keluarga dalam mendukung kesembuhan penderita. Pada terapi ini,
anggota keluarga diminta untuk berkontribusi dalam mendukung dan memperbaiki
kehidupan secara umum. 5.
Internal family systems
therapy and mindfulness-based strategies Pada
terapi ini, para penderita skizofrenia diminta untuk menjadi kontributor bagi
kehidupan mereka sendiri dan terapi-terapi ini tidak secara spesifik
dikategorikan ke dalam kategori skizofrenia, tetapi dapat membantu para
penderita untuk mengelola gejala dan menyadari kondisinya. Dengan demikian, skizofrenia dapat dilihat melalui timbulnya gejala seperti delusi, halusinasi, sikap apatis, menarik diri, penurunan kemampuan seperti daya pikir dan pemecahan masalah, serta masalah pada ingatan. Skizofrenia sendiri dapat diartikan sebagai gangguan dimana penderitanya sulit untuk menghubungkan pemikirannya secara koheren, memperlihatkan emosi yang tidak sesuai dan menarik diri dari lingkungannya. Gangguan skizofrenia sendiri adalah gangguan yang sifatnya kronis dan dapat mengalami relaps dalam periode yang panjang. Penyebab terjadinya skizofrenia lebih umum ditemukan karena faktor psikologis dan diikuti oleh faktor biologis serta genetik. Pengobatan yang serius dilakukan bagi para penderita skizofrenia juga menjadi salah satu pendukung kesembuhan para penderitanya dan membutuhkan dukungan sosial juga bagi para penderita skizofrenia untuk bangkit dari situasinya.
DAFTAR PUSTAKA Fatmawati, I.N.A.
(2016). Faktor-faktor penyebab skizofrenia (studi kasus di rumah sakit jiwa
daerah Surakarta). Skripsi. Hendarsyah, F. (2016).
Diagnosis of the paranoid schizophrenia with positive and negative symptoms. Jurnal
Medula Unila, 4(3), 57-62. Hermiati, D., &
Harahap, R. M. (2018). Faktor yang berhubungan dengan kasus skizofrenia. Jurnal
Keperawatan Silampari, 1(2), 78-92. https://doi.org/10.31539/jks.v1i2.6 Myers, S.A. (2022).
Treatments Beyond Medication For Schizophrenia. Retrieved February 01, 2024. Zahnia, S., & Sumekar,
D. W. (2016). Kajian epidemiologis skizofrenia. MAJORITY, 5(5), 160-166. |
Membawakan berita terbaru terkait kegiatan Program Studi Psikologi UBM dan artikel-artikel menarik meliputi seluruh kajian ilmu psikologi secara ilmiah dan faktual.
Wednesday, February 7, 2024
Mengenal Gambaran Gangguan Skizofrenia
Tuesday, January 9, 2024
Makan Berlebihan dan Memaksa Mengeluarkannya? Kenali Bulimia Nervosa!
| Sumber: https://www.mghclaycenter.org/parenting-concerns/what-is-bulimia-nervosa/ |
Pernahkah kalian mendengar tentang gangguan makan bulimia
nervosa? Bulimia nervosa sendiri merupakan gangguan pola makan yang
ditandai dengan usaha untuk memuntahkan kembali secara terus-menerus apa yang
telah dimakan sebelumnya. Bulimia nervosa terjadi apabila seseorang
memiliki kebiasaan makan berlebihan yang terjadi berulang atau fase binge eating
kemudian dirinya memaksa untuk memuntahkan makanan yang telah dimakan
sebelumnya atau yang lebih dikenal sebagai pembersihan. Gangguan makan ini
menjadi suatu bentuk penyiksaan terhadap diri sendiri karena seseorang dengan bulimia
nervosa merasa bersalah dengan makanan yang dimakan berlebihan sebelumnya.
Oleh karena itu, seseorang dengan bulimia nervosa langsung melakukan
pembersihan untuk mencegah kenaikan berat badan dari makanan tersebut.
Pembersihan dapat dilakukan dengan cara membuat diri muntah, berpuasa,
penggunaan obat pencahar seperti laksatif, enema, ataupun diuretik sehingga
dapat merangsang seorang penderita bulimia nervosa untuk memuntahkan
makanan yang telah dimakan sampai melakukan olahraga yang berlebihan.
Faktor Penyebab
Terdapat beberapa faktor
yang mempengaruhi terjadinya bulimia nervosa, yaitu sebagai
berikut:
1. Faktor psikologis,
beberapa pengidap bulimia nervosa memiliki tingkat harga diri yang
rendah, merasa tidak mampu, memiliki sisi perfeksionis yang berlebihan, serta
kecemasan sosial.
2. Tekanan sosial dan
kultural, tak jarang individu yang mengalami bulimia nervosa memiliki
tuntutan tinggi terhadap gambar diri mereka, yang tentu saja dipengaruhi oleh
media sosial, iklan, maupun norma sosial yang tidak realistis.
3. Faktor genetik, tak
dapat dipungkiri faktor genetik juga dapat menjadi salah satu faktor yang tidak
dapat dilewatkan. Riwayat kesehatan keluarga yang memiliki gangguan makan atau
gangguan mental memiliki risiko yang cenderung lebih tinggi untuk mengalami bulimia.
4. Lingkungan, seseorang
yang memiliki tingkat stres yang tinggi ataupun orang-orang dengan pengalaman
hidup yang berat, seperti pernah mengalami pelecehan seksual maupun fisik juga
dapat mempengaruhi berkembangnya bulimia.
5. Kebiasaan diet ekstrem, saat seseorang sudah terbiasa dengan diet ketat hal tersebut akan mempengaruhi pola makan serta perilaku muntah.
Tanda-tanda Bulimia
Nervosa
Berikut ini adalah
tanda-tanda seseorang mengalami bulimia nervosa, antara lain yaitu
1.
Sangat terpaku pada
berat badan dan bentuk tubuh.
2.
Selalu memiliki anggapan
yang negatif pada bentuk badan sendiri.
3.
Merasa gemuk dan takut
gemuk.
4.
Sering lepas kendali
pada saat makan.
5.
Seringkali pergi ke
kamar mandi setelah makan.
6. Memaksakan diri untuk
muntah, terutama dengan memasukkan jari ke kerongkongan.
Cara
pengobatan/penanganan Bulimia Nervosa
Terdapat berbagai macam cara dan penanganan yang dapat dilakukan untuk mengatasi bulimia nervosa. Seseorang dengan bulimia nervosa dapat diberikan psikoterapi, farmakoterapi, hingga konseling nutrisi. Penanganan ini perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien bulimia nervosa sendiri. Terapi psikoterapi yang dapat diberikan kepada pasien dengan bulimia nervosa umumnya dapat dilakukan melalui rawat jalan seperti Enhanced Cognitive Behaviour Therapy (CBT-E), pengobatan berbasis keluarga atau Family Based Treatment (FBT), maupun terapi intrapersonal. Selain itu, pemberian obat-obatan seperti fluoxetine dapat membantu pengobatan bulimia nervosa. Pemberian terapi nutrisional atau terapi gizi yang mengatur jadwal, jumlah, dan jenis makanan dapat diberikan kepada pasien dengan bulimia nervosa bertujuan untuk mencukupi kebutuhan gizi pasien. Penting untuk mengawasi dan memperhatikan asupan kalori yang masuk, keseimbangan elektrolit dan dehidrasi sehingga mencegah terjadinya komplikasi medis lainnya. Dalam upaya pemulihan pasien bulimia nervosa, pemberian suplemen multivitamin dan mineral juga sangat dianjurkan.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan diatas, bulimia nervosa merupakan
gangguan makan yang ditandai dengan adanya kebiasaan makan berlebihan secara
berulang dan adanya tindakan yang dilakukan secara paksa untuk mengeluarkan
makanan yang dimakan. Seseorang yang mengalami bulimia nervosa akan
sangat terpaku pada berat badan namun sering lepas kendali saat makan. Mereka
memiliki pemikiran negatif terkait bentuk badan sendiri, bahkan merasa gemuk
dan takut untuk gemuk. Pemikiran ini menyebabkan seseorang dengan bulimia
nervosa setelah makan berlebihan, akan memaksakan diri untuk muntah dan
mengeluarkan makanan melalui berbagai cara. Adapun beberapa faktor yang
menyebabkan seseorang mengalami bulimia nervosa antara lain faktor
psikologis, faktor sosial dan kultural, faktor genetik, faktor lingkungan,
maupun kebiasaan diet yang ekstrem. Bulimia nervosa sendiri dapat
ditangani dengan cara pemberian terapi maupun obat-obatan yang disesuaikan
dengan kondisi pasien.
Daftar Pustaka
Hasna, A. (2021).
Diagnosis dan tatalaksana bulimia nervosa. Jurnal Medika Hutama, 2(4),
h1218–1222. http://jurnalmedikahutama.com
Krisnani, H., Santoso,
M. B., & Putri, D. (2017). Gangguan makan anorexia nervosa dan bulimia
nervosa pada remaja. Prosiding Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat,
4(3), h390–447.
Shabah, Z. M., & Dhanny,
D. R. (2020). Persepsi tubuh dan bulimia nervosa pada remaja putri. Muhammadiyah
Journal of Nutrition and Food Science (MJNF), 1(2), h60–69. https://doi.org/10.24853/mjnf.1.2.60-69
Makarim, R.F. (2023).
Apa itu Bulimia? Gejala, Penyebab dan Pengobatan. Retrieved December 30,
2023. https://www.halodoc.com/kesehatan/bulimia
Thursday, December 7, 2023
Gangguan Makan Pica
Sumber: https://res.cloudinary.com/dk0z4ums3/image/upload/v1700014416/attached_image/gangguan-makan-pica-kebiasaan-mengonsumsi-benda-benda-bukan-makanan-2.jpg Gangguan makan adalah rangkaian dari gangguan mental yang ditandai dengan adanya pola makan yang tidak wajar. Hal tersebut dapat berdampak bagi kesehatan fisik, mental, dan emosional. Selain itu, gangguan makan juga dapat memengaruhi kemampuan tubuh seseorang untuk mendapatkan gizi. Apabila dibiarkan begitu saja, maka gangguan makan ini bisa memberikan dampak negatif bagi organ-organ tubuh lainnya bahkan memberikan risiko komplikasi yang serius sampai kematian. Manusia membutuhkan gizi yang berasal dari makanan sehat. Makanan sehat terdiri dari kumpulan macam makanan yang seimbang sehingga dapat membuat tubuh kita terpenuhi nutrisinya. Tetapi, pernahkah kalian melihat seseorang yang suka mengonsumsi hal yang tidak bisa disebut sebagai makanan? Jika pernah, hal tersebut dapat dikatakan sebagai pica eating disorder. Pica berasal dari bahasa latin yaitu murai yang dimana adalah seekor burung yang hampir memakan apa saja dan dengan itu pica disebut sebagai hasrat seseorang untuk memakan barang yang bukan makanan. Pica eating disorder adalah kelainan makan dimana seorang individu memakan makanan yang biasanya tidak dianggap sebagai makanan dan makanan yang memiliki gizi. Selain itu, pica juga dapat diartikan sebagai kelainan psikobehavioral yang melibatkan keinginan yang sifatnya abnormal untuk memakan sesuatu yang tidak layak untuk dikonsumsi. Pica memiliki banyak macam yang berbeda yaitu trichophagia (memakan rambut), geophagia (memakan tanah) atau bahkan coprophagia (memakan kotoran). Hal tersebut tergantung dengan apa yang dikonsumsi. Penyebab gangguan pica masih belum diketahui lebih lanjut, tetapi ada beberapa hal yang menjadi faktor pertimbangan gangguan ini yaitu faktor budaya atau lingkungan dan keluarga, stres, status sosial ekonomi rendah, dan kelainan biokimia. Tetapi kebanyakan gangguan pica ini disertai oleh gangguan-gangguan lain seperti orang-orang yang mengalami obsesif kompulsif, mereka menggunakan pica sebagai coping mechanism serta orang-orang yang mempunyai gangguan skizofrenia juga mengalami delusi barang-barang itu sebagai makanan, maka dari itu mereka memakannya. Penderita pica juga dapat mengembangkan gejala fisik seperti sakit perut, gigi patah atau rusak, keracunan timbal, hingga tinja berdarah, selain itu beberapa penderita juga terdiagnosa mengalami kadar zat besi atau hemoglobin yang rendah. Bagi penderita pica, dampak yang
didapatkan tergantung dengan apa yang dikonsumsi oleh penderita, berikut
diantaranya: 1. Mengonsumsi tanah atau pasir akan membuat nyeri lambung dan
pendarahan. 2.
Mengunyah es batu akan menimbulkan gigi yang abnormal. 3.
Memakan tanah liat dapat menimbulkan sembelit. 4.
Menelan benda-benda logam dapat menyebabkan perforasi usus. 5.
Memakan kotoran akan menimbulkan penyakit infeksi. 6. Memakan timah dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal dan mengakibatkan keterbelakangan mental. Gejala utama dari gangguan ini adalah keinginan
untuk terus-menerus memakan benda-benda yang bukan makanan. Benda-benda yang
suka dimakan biasanya adalah tanah liat, kertas, kulit telur, kapur tulis,
bedak bayi, abu rokok, lem, sabun mandi, koin, dan sebagainya. Adapun beberapa
faktor risiko yang dapat meningkatkan gangguan makan ini seperti: 1.
Tekanan 2.
Faktor budaya 3.
Epilepsi 4.
Status sosial ekonomi rendah 5.
Penelantaran anak 6.
Psikopatologi keluarga 7.
Gangguan kesehatan mental 8. Kekurangan nutrisi |
Jadi dapat disimpulkan bahwa pica eating disorder adalah
gangguan makan yang dimana seorang individu memakan makanan yang biasanya tidak
dianggap sebagai makanan dan makanan yang memiliki gizi. Pica juga
mempunyai banyak jenis yaitu trichophagia (memakan rambut), geophagia
(memakan tanah) atau bahkan coprophagia (memakan kotoran). Adapun
gejala fisik dari gangguan ini seperti patah gigi, sakit perut, tinja berdarah
hingga keracunan timbal, tetapi gejala utama dari gangguan makan ini adalah
keinginan untuk terus-menerus memakan benda-benda yang bukan makanan. Penyebab
dari gangguan ini belum diketahui pastinya tetapi ada beberapa faktor yang bisa
meningkatkan gangguan makan ini seperti tekanan, kekurangan nutrisi, gangguan
kesehatan mental, dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Indriyani. (2021).
Gangguan Makan Pica: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan. Retrieved November 30,
2023. https://www.idntimes.com/health/medical/indri-yani-4/gangguan-makan-pica-c1c2
Katyusha, W. (2023).
Eating Disorder (Gangguan Makan). Retrieved November 30, 2023. https://hellosehat.com/mental/gangguan-makan/eating-disorder/
Mukarromah, T.T. (2021).
Behavior Modification in Children with Eating Behavior Disorder (Pica
Disorder): A Literature Study. VISI : Jurnal Ilmiah Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Pendidikan Non Formal, 16(2), 95-108.
Rada. (2022). Makan
Adalah. Retrieved November 30, 2023. https://dosenpintar.com/makan-adalah/
Wednesday, November 8, 2023
Saat Obsesi Terhadap Penampilan Menjadi Gangguan: Memahami Body Dysmorphic Disorder
![]() |
| Sumber: https://149349029.v2.pressablecdn.com/wp-content/uploads/2022/10/bdd-980x551.jpg |
Setiap individu mengalami obsesi pribadi mereka sendiri, dan di antara berbagai jenis obsesi tersebut, salah satunya adalah kecenderungan terobsesi dengan penampilan pribadi. Obsesi ini berkaitan dengan keinginan untuk terlihat sebaik mungkin, terlepas dari segala ketidaksempurnaan yang mungkin terlihat dalam penampilan individu atau fokus pada aspek fisik dari diri mereka. Berdasarkan data statistik terkini, dapat disimpulkan bahwa sebanyak 93% wanita dan 87% pria di Amerika Serikat memiliki kepedulian terhadap penampilan diri dan berupaya untuk meningkatkannya. Hasil data ini mencerminkan tingginya tingkat ketidakpuasan terhadap body image. Ketidakpuasan terhadap penampilan secara berlebihan dapat berkembang menjadi gangguan yang dikenal sebagai body dysmorphic disorder.
Pengertian
Body dysmorphic disorder merupakan suatu kondisi
yang dicirikan dengan preokupasi berlebihan terhadap ketidaksempurnaan atau
kecacatan dalam penampilan fisik seseorang, yang pada akhirnya menimbulkan distress
dan mengganggu fungsi sosial (Adlya & Zola, 2019). Body dysmorphic
disorder didefinisikan sebagai kecenderungan pikiran negatif individu
mengenai perasaan kurangnya kepuasan terhadap penampilan fisik yang berdampak
pada gangguan psikologis yang menghambat kemampuan mereka untuk menjalani
kehidupan sehari-hari dengan optimal. Ketika terdapat kekurangan kecil dalam
penampilan fisik, individu yang mengalami body dysmorphic disorder
cenderung mengalami kecemasan yang sangat berlebihan. Gejala ini seringkali
berhubungan dengan kebiasaan-kebiasaan yang memakan banyak waktu, seperti
sering menatap diri sendiri di cermin dan membandingkan penampilan mereka
dengan orang lain.
Pasien yang mengalami body dysmorphic
disorder cenderung memiliki risiko menjadi pasien yang memerlukan perawatan
di rumah sakit jiwa, dengan angka mencapai 48%. Sebanyak 31% dari mereka
mengalami pengangguran, sementara 22-24% menghadapi resiko bunuh diri. Body
dysmorphic disorder termasuk dalam kategori gangguan mental yang cukup
langka, dengan hanya sekitar 1 hingga 1,5% dari populasi yang terkena
dampaknya. Prevalensi tertinggi terjadi pada pasien psikiatri dan pasien bedah
rekonstruksi serta estetika (Nurlita & Lisiswanti, 2016).
Body dysmorphic disorder cenderung muncul ketika seseorang memasuki masa remaja, khususnya sekitar usia 16-17 tahun, dengan gejala pertama yang biasanya muncul pada usia sekitar 12 atau 13 tahun. Dalam perkembangannya, perhatian berlebihan terhadap penampilan ini akan menjadi lebih menonjol hingga memenuhi kriteria diagnostik gangguan tersebut.
Kriteria
Ada beberapa gejala yang dapat diperhatikan pada
body dysmorphic disorder, yang mencakup perilaku berulang pasien dalam
mengkonfirmasi ketidakpuasan diri mereka, seperti melakukan pemeriksaan diri di
cermin, menghindari cermin, menyisir rambut, mencabuti rambut, atau menerapkan
tata rias, serta melakukan perbandingan berulang antara diri mereka dan tubuh
individu lainnya. Umumnya, individu yang mengalami body dysmorphic disorder
seringkali menghabiskan waktu yang cukup lama setiap harinya, yakni sekitar 1
hingga 8 jam, untuk merenungkan dan memperhatikan setiap aspek ketidaksempurnaan
diri mereka. Selain itu, mereka juga cenderung sering mengunjungi klinik
kecantikan guna mencoba memperbaiki segala kekurangan fisik yang mereka
rasakan. Keadaan ini seringkali disertai oleh perasaan cemas, ketidaknyamanan,
ketidakamanan, kurang percaya diri, serta kurangnya rasa menghargai diri
sendiri. Hal-hal ini kemudian dapat menghambat perkembangan dan berdampak
negatif pada kehidupan sehari-hari mereka.
Menurut Watkins, Thompson (dalam Nourmalita, 2016) ada beberapa perilaku yang dapat mengidentifikasi body dysmorphic disorder antara lain:
1.
Secara berkala mengamati bentuk penampilan lebih dari satu jam per
hari atau menghindari sesuatu yang dapat memperlihatkan penampilan.
2. Mengukur atau menyentuh kekurangan yang dirasakannya secara
berulang-ulang.
3.
Meminta pendapat yang dapat memperkuat penampilannya.
4.
Menyamarkan kekurangan fisik yang dirasakannya.
5.
Menghindari situasi dan hubungan sosial.
6. Mempunyai sikap obsesi terhadap selebritis atau model yang
mempengaruhi penampilan fisiknya.
7.
Berpikir untuk melakukan operasi plastik.
8.
Selalu tidak puas dengan diagnosis dermatologist atau ahli
bedah plastik.
9. Mengubah gaya dan model rambut untuk menutupi kekurangan yang dirasakannya.
10. Mengubah warna kulit yang diharapkan memberi kepuasan pada penampilan.
11. Berdiet secara ketat dengan kepuasan tanpa akhir.
Penyebab
Body dysmorphic disorder dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor genetik dan lingkungan. Meskipun belum ada kepastian ilmiah mengenai peran faktor genetik, riset menyatakan bahwa body dysmorphic disorder lebih sering terjadi pada individu yang memiliki riwayat keluarga dengan masalah serupa. Sementara itu, faktor lingkungan juga memiliki peran penting. Penilaian terhadap penampilan diri dalam lingkungan sosial dapat berdampak pada pola pikir seseorang, serta pengalaman traumatis atau peristiwa buruk di masa lalu individu juga dapat memengaruhi perkembangan gangguan ini.
Cara penanganan
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk
mengatasi body dysmorphic disorder, seperti terapi non-farmakologis,
yang melibatkan intervensi psikologis, seperti menggunakan pendekatan cognitive
behavioral therapy. Dalam beberapa kasus, pasien juga memerlukan dukungan
sosial untuk membantu mereka merasa lebih percaya diri dan mengatasi
kekhawatiran mereka, seperti interaksi dengan individu yang mendukung pasien,
membantu mereka meyakinkan diri bahwa persepsinya tentang kekurangan adalah
tidak realistis, dan membantu mereka melihat bahwa perbedaan fisik adalah hal
yang umum dalam keragaman manusia.
Gejala khusus juga mungkin memerlukan teknik tertentu, seperti pelatihan untuk mengubah kebiasaan perilaku kompulsif yang mungkin muncul. Dengan pendekatan yang tepat dan dukungan yang tepat pula, individu yang mengalami body dysmorphic disorder memiliki kesempatan untuk mengelola body dysmorphic disorder dengan lebih baik.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa body dysmorphic disorder adalah suatu gangguan yang ditandai oleh preokupasi berlebihan terhadap ketidaksempurnaan fisik individu, yang dapat mengganggu fungsi sosial dan psikologis mereka. Gangguan ini umumnya muncul pada usia remaja dan berkaitan dengan perilaku kompulsif, seperti memeriksa diri di cermin, menghindari situasi sosial, dan mencari perbaikan fisik yang tidak realistis. Body dysmorphic disorder memiliki dampak serius, termasuk resiko pengangguran dan bahkan bunuh diri. Faktor genetik dan lingkungan dapat memengaruhi perkembangan gangguan ini. Pengobatan melibatkan terapi psikologis, seperti cognitive behavioral therapy dan dukungan sosial untuk membantu individu mengatasi ketidakpuasan terhadap penampilan mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Adlya, S. I., & Zola, N. (2019). Kecenderungan Body Dysmorphic Disorder pada Remaja. Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy. 4(2), h59-62.
Nurlita, D., Lisiswanti, R. (2016). Body Dysmorphic Disorder. Jurnal Majority. 5(5), h80-85.
Philip Zimbardo - Stanford Prison Experiment
Edisi Mei 2026 PHILIP ZIMBARDO - STANFORD PRISON EXPERIMENT Sumber: Foto Penulis: G...
-
Edisi September 2025 Ivan Pavlov : Dog Experiment Sumber : https://www.communicationtheory.org/wp-content/uploads/2022/09/ivan-pavlovs-dog-...
-
Edisi Januari 2025 Demofobia? Ketakutan Berada di Tempat Ramai Penulis : Gabriella Jocelyn & Uday Fauzan Demofobia, atau yan...
-
Edisi Oktober 2025 LITTLE ALBERT Sumber : https://www.newscientist.com/article/dn26307-baby-used-in-notorious-fear-experiment-is-lost-no-m...
